Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 157


__ADS_3

...***...


“Kenapa? Kenapa foto ini ada disini? Kenapa bisa?”


“Eva ... tenang sayang, tarik nafas dulu biar Zeen bisa menjelaskannya kepada kita,” ucap Sigit membawa istrinya kedalam pelukannya, mencoba untuk menenangkan wanita itu yang terlihat terkejut sampai menangis.


Zeen bahkan dibuat iba melihat itu.


Eva yang sudah terlanjur penasaran, ia pun langsung mengalihkan atensinya kepada Zeen.


“Zeen ... tolong jelaskan semuanya kepada tante, tante mohon padamu ....” ucap Eva melirihkan suaranya.


“Tante tak perlu memohon seperti itu, tujuan saya datang kemari memang ingin menjelaskan tentang ini kepada kalian.” jawabnya.


Eva langsung mengelap sisa air matanya, dengan raut yang serius ia kembali menatap Zeen.


“Jelaskan semua tanpa ada yang tersisa Zeen. Ini menyangkut putri pertamaku! Aku tak ingin ada yang disembunyikan dan tak ingin sedikitpun informasi yang tertinggal.” Ucap Eva dengan suara tegas. Bahkan sifat lemah lembutnya itu sampai tak kelihatan.


Sigit tau jika istrinya saat ini tengah gelisah, selama ini istrinya itu selalu menutupi kelemahannya dengan senyum ramahnya itu. Dan sekarang, biarkan istrinya sekaligus wanita yang telah melahirkan anaknya mengeluarkan semua kegundahannya hari ini.


“Iya Zeen, jelaskanlah semua informasi yang kau dapat itu kepada kami sekarang.” Timpal Sigit dengan tegas. “Kenapa bisa kau mendapatkan informasi itu hanya dalam lima hari saja? Bahkan aku yang mencari kesana kemari dengan bertahun-tahun lamanya, tak mendapatkan informasi setitik pun dan sampai tak mengetahui jika putriku masih hidup selama ini.”


Dibalik sikap tegasnya itu, Sigit merasa sedikit menyesal karena baru sekarang ia mengetahui jika putrinya itu masih hidup. Bahkan selama lima belas tahun ia mencari, sedikit pun ia tak mendapatkan informasi penting seperti itu. Bahkan sampai membuat ia frustrasi dan menghentikan pencariannya itu setelah genap enam belas tahun. Ia bahkan sampai menganggap jika putrinya itu telah tiada. Betapa frustrasinya ia saat itu bahkan menganggap dirinya tak becus menjaga keluarga kecilnya dan merasa telah gagal menjadi seorang kepal keluarga sekaligus gagal menjadi ayah dan suami.


Itu sebabnya ia sudah trauma dengan namanya bisnis dikalangan para kolega terkenal. Ia sampai tak mengikuti tender apa saja setelah hilangnya putrinya. Biarlah ia menjalani kehidupan perkantorannya biasa-biasa saja, dan tak ikut mengikut saat para pembisnis berebutan sebuah tender yang menguntungkan perusahaan mereka. Padahal dirinya selama ini selalu memenangkan tender apa saja, karena berkat kecerdasannya yang ia miliki.


Itu semua ia lakukan untuk melindungi keluarga yang ia cintai dan satu-satunya ia miliki, karena ia tak memiliki keluarga lain selain istri dan anaknya yang hilang setelah kedua orangtuanya meninggal. Dan tekat itu semakin tinggi saat mendengar kenyataan membahagiakan menghampiri keluarga kecilnya, kebahagiaan itu bermula saat mendengar jika istrinya telah mengandung kembali. Tentu hal itu membuat Sigit bahagia sekaligus terharu sampai menangis dan sujud diatas lantai yang kotor menandakan jika ia sangat berterima kasih kepada sang pencipta yang telah memberikan kepercayaan kepadanya lagi untuk memiliki momongan.


Saat itu pula, hatinya begitu terenyuh saat disela-sela kebahagiaan mereka, istrinya pernah mengatakan kepadanya.

__ADS_1


“Seandainya putri kecil kita itu masih berada ditengah-tengah kita, mungkin dia juga merasakan kebahagiaan yang sama saat putri pertama kita akan segera mendapatkan adik.”


Begitu yang diucapkan oleh istrinya, sambil mengelus perutnya yang masih datar. Dan hal itu tentu tak akan pernah Sigit lupakan sampai sekarang.


Tanpa ia ketahui Sigit sampai menitikan air matanya, saat mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan itu.


“Zeen ... apapun yang kau sampaikan, kami akan mendengarnya dengan sungguh-sungguh. Karena informasi itulah yang selama ini kami tunggu.” Jelas Sigit.


“Baik om, saya akan menjelaskan sekarang.” Ujar Zeen sejenak menjeda perkataannya. “Sesuai yang tadi om baca, bahwa putri anda memang benar-benar masih hidup dan saat ini putri anda berdua telah tumbuh dewasa dengan sangat sehat.”


Eva kembali menutup mulutnya dan kembali menitikan air matanya. “Benarkah itu? Putri saat ini tumbuh sangat sehat?” ucapnya bertanya.


Eva lalu mengalihkan pandangannya kearah suaminya, tanpa aba-aba ia langsung memeluk suaminya itu kembali. Ia benar-benar merasa lemah ketika mendengar pertanyaan tentang masalah putrinya yang hilang.


“Mas ... kamu dengar itu kan? Putri kita sudah benar ....” lihirnya sambil tersedu-sedu didalam pelukan itu.


“Bagaimana kau bisa tahu semua itu Zeen? Apakah kau pernah bertemu dengannya? Dimana keberadaan putriku sekarang?” sangking tak sabarannya, Sigit tanpa sadar memberikan pertanyaan yang banyak kepada Zeen itu.


Zeen mengulas senyum dibibir tipisnya. “Jika om mau, saya bisa membawa om dan tante langsung kehadapan putri anda berdua.” Jawab Zeen dengan tegas.


Eva yang semula masih didalam pelukan suaminya, langsung bangkit dari duduknya dengan wajah yang penuh binaran.


“Benarkah? Apakah kau sungguh-sungguh Zeen? Kita bisa bertemu putri kami sekarang?” tanyanya dengan raut penuh harapan.


Zeen langsung mengangguk, “Iya tante, jika tak keberatan saya sendiri yang akan mengantar anda berdua sekarang.”


Kemudian Sigit juga ikut berdiri dari duduknya. “Tentu saja kami tak keberatan sama sekali Zeen. Sekarang juga kau harus mengantar kami kepada putri kami, jika jauhnya sampai kekutup Utara pun aku akan tetap ingin menemui putriku!” jawabnya dengan sangat tegas.


Zeen sampai mengeleng kepala mendengar itu. “Baiklah, aku akan mengantar anda berdua kepada putri anda.” Ucap Zeen kemudian bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Apakah kita perlu menyiapkan baju juga? Bukankah perjalanan ini akan memakan waktu lama?” tanya Eva.


Zeen nampak tersenyum tipis kembali. “Tidak perlu merepotkan diri tante. Perjalanan ini tak akan memakan waktu lama, percayalah padaku, hanya beberapa menit saja kalian akan langsung berhadapan dengan putri kalian.” Jelas Zeen lalu berjalan lebih dulu keluar dari rumah besar itu.


Eva dan Sigit saling berpandangan dengan kening yang berkerut.


“Bagaimana mas?” tanya Eva.


“Sebaiknya kita ikuti saja perkataan Zeen.” lalu kemudian Sigit menggiring istrinya untuk mengikuti langkah Zeen yang sudah mendahului mereka.


°°°


“Apakah kita akan benar-benar menemui putri kami Zeen? Mengapa kita hanya berjalan kaki? Dan tak menaiki mobil?” tanya Sigit yang kebingungan.


“Tenanglah om, saya akan benar-benar membawa anda kehadapan putri anda. Anda berdua tak perlu merasa khawatir jika ucapan saya bohong atau tidak. Yang pasti saya tak akan pernah berbohong jika menyangkut hal yang penting seperti ini!” Tegas Zeen.


“Tapi kenapa kita berjalan kearah rumahmu Zeen?” kini Eva yang bertanya karena merasa penasaran.


Zeen tak menjawab ucapan itu dan lebih masuk dahulu kedalam rumahnya.


Eva dan Sigit hanya mengekor saja kemana Zeen melangkah.


“Mungkinkah putri kita berada dirumah Zeen?” tanya Eva semakin penasaran.


“Entahlah sayang. Yang terpasti aku sudah sangat gugup membayangkan berhadapan langsung dengan putri kita.” Timpal Sigit.


Eva mengangguk, “Iya mas, sama aku juga merasakan hal yang sama.”


TBC.

__ADS_1


__ADS_2