Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 185


__ADS_3

...***...


“Astaga Yuna!!”


Teriak mereka, dengan bersamaan berlari menghampiri Yuna. Mereka begitu syok dengan kejadian itu, karena mereka tak pernah memperkirakan jika hal itu akan terjadi.


Semua nampak panik melihat Yuna yang memejamkan matanya, dengan darah yang terus keluar dari bagian pinggang wanita hamil itu. Beda halnya dengan Zeen yang diam dengan ekspresi tenang sambil memeluk erat tubuh istrinya, entah apa yang sedang pria itu pikirkan.


“HAHAHAHA!!! RASAKAN ITU! HAHAHAHAHA!”


Laura kembali tertawa, seper orang yang kesetanan.


Hal itu membuat keluarga Yuna mengeram marah.


“Wanita iblis! Aku akan memusnahkanya sekarang juga!” teriak Yudas yang sudah tak tahan lagi, ingin sekali segera menembakan pistolnya tepat dikepala wanita itu.


Slurp!!


Sebuah panah kecil tajam menancap tepat dileher Laura, membuat wanita langsung ambruk ditempatnya.


“Seharusnya aku melakukan ini sejak tadi,” gumam Antoni lalu mengarahkan pandangannya pada keluarga Yuna dan Zeen. “Kalian cepat pergi! Cepat urus kakak ipar agar cepat mendapatkan pertolongan!!”


Yang dimaksud Antoni, kakak ipar itu Yuna ya... dia memanggil Yuna dengan sebutan kakak ipar.


“Biar aku yang mengurus wanita jahat ini!!”


Yudas mendesah kasar, kali ini ia tak bisa melampiaskan kemarahannya. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh Antoni jika saat ini Yuna lah yang benar-benar penting.


“Ayo kita cepat bawa Yuna ke–”


“Beraninya dia melukai istriku!!!”


Tiba-tiba Zeen berteriak, sehingga membuat orang langsung terperajat karena terkejut.


Zeen menatap nyalang kearah Laura yang saat itu tergeletak tak sadarkan diri. Bahkan Antoni yang melihat dibuat bergidik ngeri.


“Ku pastikan kau tak akan pernah hidup dengan tenang!” geramnya dengan penuh ketekatan, entah apa yang akan ia lakukan pada wanita itu hanya Zeen yang tau.

__ADS_1


Kemudian tanpa basa-basi lagi, Zeen langsung mengedong tubuh istrinya dan berjalan tergopoh-gopoh masuk kedalam mobil.


“Pah! Tolong bawa Papa yang bawa mobilnya!” pintar Zeen yang langsung dianguki kepala oleh Albaret.


“Kalian berdua juga cepat masuk kedalam mobil kalian! Beri tahu orang rumah untuk datang kerumah sakit.”


“Baik!” jawab Firo dan Yudas bersamaan.


Lalu setelah Albaret masuk kedalam mobil, pria paru baya itu langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Dirinya juga merasa khawatir sejak tadi, namun ia berusaha untuk menutupinya.


Sesekali Albaret juga melirik kaca sepion, untuk melihat menantu dan putranya. Disana ia melihat betapa kalutnya Zeen sambil terus menekan darah dipingang Yuna agar tak keluar terus, karena jika dibiarkan maka Yuna akan kehabisan darah.


Beruntung Zeen mengerti cara mengatasinya, tentu saja mengerti karena Zeen adalah seorang dokter. Zeen merasa sangat bersyukur dirinya menjadi dokter, karena ia jadi bisa mengetahui kondisi istrinya saat ini.


“Aku akan menyelamatkanmu apapun yang terjadi,” gumamnya yang terus mengecup jemari tangan Yuna.


Namun disaat itu, Yuna tiba-tiba membuka matanya walau nampak sayu. Hal itu tentu tak luput dari pandangan Zeen.


“Sayang ...? Apa kamu mendengar suaraku?” ucap Zeen sambil mengusap lembut pipi istrinya. “Aku janji akan menyelamatkanmu sampai akhir! Ini adalah janji seorang dokter!” tegas Zeen.


Samar-samar Yuna menyingingkan senyumnya, menatap suaminya sambil ikut mengelus pipi suaminya yang sedikit tirus.


“Ya sayang? Apa ada yang sakit? Atau kamu membutuhkan sesuatu?”


“Tidak ... aku hanya ingin memberitahu kamu, jika kamu disuruh memilih antara aku dan anak-anak kita. Maka utamakanlah anak-anak kita! Kamu bisa berjanji kan?”


Yuna menatap Zeen dengan penuh harapan.


Zeen yang mendengar itu, seperti dihantam beberapa paku didalam hatinya. Kemudian ia kembali mengecup tangan Yuna kemudian mengecup lambat kening istrinya.


“Kamu tak perlu memikirkan itu sayang ... aku akan tetap menyelamatkanmu dan anak-anak kita bagaimanapun caranya. Asal kamu tau, tidak ada yang namanya pilih memilih. Karena bagiku, kamu dan anak-anak kita sama-sama penting.”


Ingin sekali Zeen menitikan air matanya yang sejak tadi ia tahan. Namun apalah dayanya yang harus tetap kuat didepan istrinya, yang dirinya sudah tau, jika resiko ibu hamil yang terkena tembakan. Kemungkinan sangat kecil untuk diselamatkan namun Zeen tetap tak akan menyerah hanya karena mengetahui hal itu. Dirinya merasa yakin jika mukjizat pasti akan datang menghampiri istrinya.


Yuna yang mendengar perkataan suaminya, lagi-lagi hanya bisa menyungigkan senyumnya. Kemudian perlahan mata cantik itu kembali tertutup.


“Tidak lagi Yuna ... tidak! Jangan tutup matamu lagi, aku benar-benar tak ingin kehilanganmu. Jadi tetaplah bertahan dan kuat agar kita bisa berkumpul kembali bersama keluarga kecil kita,” gumam Zeen sambil memejamkan matanya dan terus menggenggam tangan Yuna dengan erat.

__ADS_1


°°°


Sesampainya dirumah sakit besar milik Albaret. Yuna kini langsung dibaringkan dibrangkar untuk mempermudah wanita hamil itu untuk segera ditangani. Para dokter dirumah sakit segera berbodong-bondong menghampiri Yuna saat menerima kabar dari sang pemilik rumah sakit, jika menantu keluarga Albaret telah mengelami sebuah kecelakaan. Itu sebabnya banyak dokter muda dan tua atau bisa dikatakan senior turut membantu untuk menangani keadaan Yuna.


Keluarga Yuna yang juga sudah mendapatkan kabar, langsung menuju rumah sakit. Dan lebih dulu sampai disana. Mereka begitu syok mendengar kabar itu apalagi Eva yang sebagai seorang ibu kandung tentu tak bisa mengontrol kepanikanya sehingga wanita itu jatuh pingsan beberapa menit lamanya.


Kini para keluarga itu tengah menunggu diluar ruang operasi dengan harap-harap cemas.


Ya, Yuna langsung dilarikan diruang IGD. Karena para dokter senior mengatakan jika Yuna harus segera dioperasi untuk mengelurkan peluru yang saat itu masih betah didalam tubuh Yuna.


Zeen ikut andil membatu proses operasi itu, begitu pula dokter yang dikenal Yuna yaitu Fadli dan Mita ikut juga kedalam ruang operasi. Walau Mita adalah seorang dokter kandungan, namun perannya itu pun sangat penting mengingat Yuna saat ini tengah hamil dua orang bayi didalam tubuhnya.


Sedangkan Papa Albaret juga ikut masuk kedalam, untuk mengawasi masa operasi itu. Dirinya akan siap siaga jika ada hal yang kurang dari misi operasi yang sudah berjalan beberapa menit yang lalu itu.


Mita yang jarang melihat proses operasi walau ia juga seorang dokter, merasa sangat merinding sampai meneguk ludahnya beberapa kali.


“Aku kasihan sekali padamu kakak Yuna ... seharusnya dimasa kehamilanmu sekarang kau menjalaninya dengan perasaan bahagia. Tapi tak kusangka takdir terus membolak-balikan kehidupanmu! Kehamilanmu penuh dengan tantangan!” gumam Mita terus menggigit kukunya karena juga ikut merasa ketakutan.


Mita pun merasa kagum dengan banyaknya para dokter senior yang tengah serius membantu operasi Yuna. Bahkan peluh keringat terus bercucuran, tapi jangan lupakan para suster yang ada disana juga siap siaga untuk mengelap keringat mereka dengan telaten.


Pandangan Mita kini beralih pada sosok Fadli, ia juga melihat dokter muda itu tengah berkeringat dan tak ada yang mengelap keringat dokter itu. Sehingga membuat dokter muda itu mau tak mau mengelap keringatnya menggunakan lengan bajunya.


Hal itu tentu langsung dimanfaatkan Mita. Yang langsung berjalan menghampiri Fadli, kemudian mengelap keringat dokter itu menggunakan sapu tangannya.


Awalnya Fadli sangat terkejut, namun saat melihat siapa yang mengelapinya, ia langsung tersenyum ramah pada Mita.


“Terimakasih dokter Mita, anda sangat membantu!” setelah mengatakan itu Fadli kembali fokus pada Yuna.


Mita yang mendapati senyuman itu, tentu langsung menjerit kesenangan didalam hatinya. 'Kyaaa ... mimpi apa aku semalam?'


Namun tak disangka-sangka, salah satu dokter didepanya terus memanggil-manggil namanya. Sehingga membuat ia terperajat kaget saat mendapati sebuah tepukan dibahunya.


“Dokter Mita! Saya memanggil anda sejak tadi! Mohon prepesionalnya dulu!” tegas dokter itu.


“Eh? Baik dok!” jawab sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.


“Sudahlah, anda harus tetap fokus. Dan tolong periksa keadaan janin nona Yuna! Karena sepertinya ada sesuatu yang menganjal.”

__ADS_1


Mita yang mendengar itu langsung mengangguk paham, kemudian ia mendekati Yuna dan mulai memeriksa keadaan janin itu.


TBC.


__ADS_2