
...***...
Yuna tampak terkejut ketika mendapati Zeen yang membuka matanya secara tiba-tiba itu. Bagaimana tak terkejut jika dirinya saja sejak tadi bermain-main diwajah lelaki itu sambil mengamati wajah tampan itu secara diam-diam, karena lelaki itu masih tengah terlelap dalam tidurnya.
“M-as sudah bangun?” tanya Yuna merasa gugup, dan mencoba menarik jarinya yang berada didalam gengaman tangan Zeen. Namun bukannya terlepas, jarinya malah semakin digenggam oleh Zeen. Bahkan seperti tak mengizinkan dirinya untuk melepas jarinya sendiri.
Zeen tersenyum teduh menatap Yuna, “Aku bahkan sudah terbangun saat kamu tengah mengamati wajah tampanku ini!” ujar Zeen terkekeh pelan.
“Apa?!” pekik Yuna terkejut, ia tak menyangka jika Zeen yang ia kira tidur dengan sangat nyenyak, ternyata diam-diam mengetahui jika dirinya tengah menatap wajah lelaki itu. “M-as ... sudah tau ya sejak tadi?” tanya Yuna kembali merasa gugup plus malu.
Tiba-tiba Zeen tertawa kencang, “Hahaha, yaampun sayang ... aku tadi hanya bercanda ... tapi kamu malah menanggapinya dengan wajah serius?” tampak Zeen menggeleng melihat wajah polos Yuna yang langsung melongo.
“Apa? Mas hanya bercanda?” bertambah malu lah Yuna, ketika dengan bodohnya ia termakan oleh ucapan itu dan tanpa ia sengaja, ia memberi tahu lelaki itu jika ia tengah mengamati wajah Zeen. Sungguh rasa malu itu langsung meninggi dan menjalar keseluruh tubuhnya sehingga membuat ia langsung memejamkan matanya. Tak ingin menatap sosok yang ada didepannya itu.
“Hahaha, iya aku tadi hanya bercanda saja, aku terbangun karena merasakan jarimu yang menyentuh wajahku.” Ungkap Zeen. “Oh! Atau jangan-jangan kamu beneran lagi mengamati wajahku ya?” selidik Zeen sambil mencoel-coel hidung mancung Yuna.
Yuna yang masih memejamkan matanya itu langsung menggeleng, “Tidak! Aku tidak lagi mengamati wajah mas kok! Mana mungkin aku melihati wajah orang yang lagi tidur.”
Dalam diamnya Zeen tersenyum, ternyata wanita yang ada dihadapannya dan tengah berbaring disampingnya itu benar-benar mengamati wajahnya. Betapa konyolnya jika cara berbohongnya sangat kentara sekali dimatanya.
'Gemas sekali Rasanya! Ingin aku makan lagi!' gumam Zeen dalam hati, yang merasakan miliknya seperti akan terbangun. Dirinya pun tak mengira, jika hanya menatap wajah mengemaskan dari Yuna. Jiwa lelakinya langsung terangsang.
Apalagi jika pikirannya tak sengaja menggingat malam syahdu yang sudah dilewatkannya dengan Yuna. Walau dirinya masih belum merasa puas, namun didalam hatinya merasa tenang dan bahagia. Tanang karena Yuna sudah menjadi miliknya seutuhnya, senang karena mengetahui jika dirinyalah yang mengambil mahkota yang telah lama dijaga oleh Yuna.
Mengingat itu membuat Zeen tersenyum-senyum sendiri, hingga tak menyadari jika sejak tadi Yuna tengah menatapnya dengan tatapan aneh. Karena sejak tadi Yuna sudah membuka matanya yang semula terpejam, karena merasakan jika lelaki yang ada didepannya itu terdiam selama beberapa menit.
“Kenapa mas senyum-senyum?” tanya Yuna yang sudah penasaran.
Zeen langsung tersadar ketika mendengar suara Yuna, ia pun langsung mengalihkan pandangannya pada gadis yang sudah resmi menjadi seorang wanita seutuhnya.
__ADS_1
Zeen terdiam sejenak terus menatap wajah sayu Yuna, dan tanpa sadar tangan yang semula menggenggam jari telunjuk Yuna kini ia lepaskan dan langsung ia gerakan untuk menyentuh wajah Yuna, dengan mengelus wajah itu dengan perasaan tulus.
“Bagianmana kalau kita mengulanginya kembali?” bisik Zeen, tepat didekat telinga Yuna, yang membuat Yuna bergidik ngeri ketika merasakan nafas hangat Zeen yang menerpa ke area lehernya.
Yuna sedikit memundurkan dirinya, “Mengulangi apa?” tanya Yuna berpura-pura seolah tak tahu.
Zeen yang melihat wajah kalut dari wanitanya itu tersenyum miring, lantas ia langsung mengecup bibir Yuna sejenak dan menangkup wajah Yuna untuk menatap matanya.
“Mengulangi proses pembuatan Zeen dan Yuna junior,” jawab Zeen dengan santai.
“Zeen dan Yuna junior?” tampak Yuna kebingungan dengan ucapan Zeen.
Zeen terkekeh sejenak melihat kebingungan dari wajah Yuna, ia lantas kembali mengecup bibir Yuna karena entah mengapa, mengecupi bibir Yuna sudah menjadi hobingnya mulai dari sekarang. Karena bibir mungil itulah yang membuatnya jatuh hati dan mulai candu padanya.
“Ya! Zeen dan Yuna junior!” ulang Zeen dengan nada penekanan, “Kamu masih ingatkan? Jika nenek meminta kita untuk membuat cucu yang banyak-banyak? Katanya itu untuk hukuman kita, yang terlambat menjenguk nenek dirumah sakit waktu itu.” Jelas Zeen yang masih mengingat betul akan ucapan konyol dari Rima. Sang nenek.
Yuna yang mendengar penjelasan itu langsung membulatkan kedua bola matanya, ia begitu terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Zeen yang dengan gamblangnya mengatakan soal cucu atau anak diantara mereka. Bagaimana tak terkejut? Jika sudah membicarakan soal anak padahal mereka baru melakukannya.
“Tapi mas ... bagaimana jika aku tak hamil dalam waktu sebulan ini? Apakah nenek akan merasa kecewa?” tanya Yuna dengan raut sedih.
“Tidak ... nenek tidak akan kecewa kok. Nenek memang menantikan kehadiran seorang cucu, tapi nenek juga tahu, bahwa memiliki anak harus menunggu waktu yang lama. Dan tak akan langsung jadi ketika kita mulai mengolahnya.” Jelas Zeen yang langsung terkekeh diakhir kalimatnya.
Yuna yang mendengar itu, hanya menanggapinya dengan tersenyum kikuk.
“Oleh sebab itu ....”
Yuna terkejut ketika melihat Zeen merangkak, dan menindihnya seperti sebelumnya, yang sekarang ia berada dibawah kekuasaan Zeen. Dengan pria itu yang berada diatasnya.
“A-apa yang sedang mas lakukan?” tanya Yuna kembali merasa gugup.
__ADS_1
Zeen menyerigai pasti, “Tentu saja membuat Zeen dan Yuna junior. Apalagi kalau bukan itu? Hem?” ucap Zeen dengan suara serak dan lembut. Yang tentu langsung mengalun diindra pendengaran Yuna.
“Ta-tapi mas ... semalam kan kita sudah melakukannya ... apakah kita akan melakukannya lagi? Pagi-pagi buta begini?” tanya Yuna lagi, dengan suara hati-hati.
Zeen tiba-tiba mencubit pelan hidung Yuna, “Tentu saja sayang ... kan aku sudah bilang, kalau kita akan membuat Zeen dan Yuna junior. Itu sebabnya kita harus bekerja ekstra keras! Agar cepat jadi baby-baby nya ... walau pun pagi, siang, sore dan malam pun. Kita akan melakukannya setiap waktu yang kita punya ....” jelas Zeen dengan panjang lebar. Yang tentu mampu membuat Yuna tercengang dibawah kungkungan Zeen.
“Ta-tapi ....” Yuna mulai berkeringat karena dibuat gugup setengah mati. Padahal ia belum melakukan olahraga panasnya, namun entah mengapa keringatnya bercucuran begitu saja tanpa ia minta.
Saat Zeen hendak mencium bibir Yuna kembali, dengan segera Yuna langsung bangkit dari tidurnya, yang tentu langsung menyebabkan Zeen terjungkal kebelakang dan hampir saja jatuh dari kasurnya itu.
“Aw ... Yuna ....” Zeen memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat terkena sundulan kepala dari Yuna.
“Ma-maf mas ... tapi aku harus mandi dulu, karena sejak tadi badanku terasa lengket dan tak nyaman. Itu sebabnya aku akan mandi terlebih dahulu ....”
Yuna yang hendak berdiri dari duduknya, tiba-tiba merasakan perih yang teramat pada sekitar area pahanya. Sehingga membuat tubuhnya refleks oleng kebelakang dan hampir saja terjatuh jika Zeen tak sigap dengan cepat menangkap tubuh Yuna.
“Akkk!!”
Yuna berteriak saat tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Zeen, dan dingendong oleh pria itu dengan posisi briday stiyle.
“Aku akan membantumu, masuk kekamar mandi. Aku tahu jika kamu masih merasakan kesakitan,” ucap Zeen lalu mulai berjalan mendekati pintu kamar mandi.
“Tapi mas ... aku bisa–”
“Sstt ... tak apa ... aku akan mengantarmu masuk kedalam kamar mandi, karena ini keinginanmu maka aku akan menurutimu.”
Yuna tampak merasa ragu ketika menatap wajah Zeen, namun dirinya tak bisa memberontak lagi, karena memang benar jika dirinya masih merasakan kesakitan dibagikan bawahnya itu. Sehingga dirinya membutuhkan bantuan dari seseorang untuk berjalan masuk kekamar mandi.
Sedangkan Zeen yang sejak tadi terdiam mengendong Yuna, diam-diam tanpa sepengetahuan Yuna, pria itu tersenyum miring penuh arti seperti ada yang tengah dipikirkan oleh pria itu.
__ADS_1
TBC.