
...***...
Setelah mencari kesana kemari disepenjuru ruangan, kini Zeen dan Papanya berhasil menemukan para wanita yang saat ini tengah duduk bersantai ditanam dekat kolam berenang.
Kelimanya saat ini terlibat percakapan tentang acara yang akan mereka adakan besok malam, yaitu acara ulang tahun Zeen sekaligus acara syukuran atas kehamilan Yuna.
“Jadi? Besok Zeen cuti kerja dong Pa?”
Albaret langsung mengalihkan pandangannya pada Zeen, “Enak aja kamu minta cuti? Pagi-pagi kamu datang kerumah sakit selesaikan pekerjaan yang tertunda tadi dan pulang sampai setengah enam!” Jelas Albaret panjang lebar.
Zeen memberengut kesal. “Yaampun Pa? Masa gak ada cuti sih? Besok siapa yang menyiapkan acaranya kalau aku tak bantu-bantu dirumah?”
“Alasan aja kamu Zeen? Masih ada para pekerja kita disini, dan para pekerja kita itu tak hanya satu dua orang saja! Tapi banyak sampai dua puluh orang! Belum lagi nanti kita menyewa para desain pendekor rumah nanti. Makin banyak kan yang ngebantu? Emang kamu mau ngebantu apa dirumah ha? Ngebantu habiskan makanan?” Albaret mengoceh dengan suara mengebu-gebu.
“Astaga para pria ini mulai lagi ....” celetuk Rima sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
“Nenek gak papa?” tanya Yuna membantu Rima yang sedang memijiti kepalanya.
Sedangkan Zeen yang mendengar ucapan Papanya itu langsung terdiam bungkam tak tahu harus menjawab apa, karena apa yang dikatakan Papanya itu memang benar, jika ia akan ngebantu menghabiskan makanan dirumah sekaligus berniat untuk mengusili istrinya.
“Tapi kan Pah ....” rengek Zeen dengan pupil eyesnya.
“Tak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus berangkat kerja besok. Titik!” tekan Albaret dengan suara tegasnya.
“Ah Papa ....”
“Sudahlah Zeen turuti saja apa kata Papamu, jangan buat kami pusing hanya karena mendengar suara ocehan kalian.” Sela Vina menatap tajam kedua prianya itu.
Kedua pria itu langsung terdiam bungkam.
“Baiklah nek, Yun, kita balik aja kedalam. Udaranya mulai dingin takutnya nanti kita masuk angin.” Ajak Vina lalu membantu mertuanya itu berdiri dari tempatnya.
“Loh? Kita berdua gak diajak?” tanya Albaret tiba-tiba.
__ADS_1
Ketiga wanita itu saling menoleh kebelakang.
“Ya ayok!” ajak mereka dengan suara serentak. Dan alhasil membuat para pria langsung kegirangan seperti anak kecil.
°
°
°
°
°
Malam ini, tepatnya dikediaman Albaret. Pukul 18:00 acara yang diadakan dirumah besar itu telah dilaksanakan.
Banyak para tamu undangan yang berdatangan, tentunya para kerabat jauh dari pihak keluarga Zeen dan juga pihak keluarga Yuna yaitu paman dan tantenya ikut datang diacara yang cukup besar itu. Tak hanya itu saja, para pekerja hospital terbesar dijakarta tentunya sang pemilik adalah tuan rumah itu juga turut diundang. Dan tentunya membuat rumah itu hampir penuh diisi oleh para tamu undangan yang baru saja berdatangan.
Malam ini pun Yuna tampak seperti seorang putri yang disulap dengan sempurna oleh sang mertua. Membuat Yuna yang jarang berdandan apalagi tak pernah memegang alat makeup itu, langsung terlihat memukau saat warna-warna indah itu menghiasi wajah Yuna yang sedari awal sudah cantik dan makin terlihat cantik ketika wanita itu berdandan. Bahkan gaun yang dipilihkan langsung oleh sang nenek tampak cocok ketika dikenakan oleh Yuna, gaun panjang berwarna hitam berkelip dengan sedikit rendahan pada bagian depan membuat Yuna tampak **** saat ini.
Tak jauh berbeda dengan Zeen, pria itu juga dibuat terpukau dengan tampilan Yuna malam ini karena Zeen pun baru pertama kali melihat istrinya berdandan. Apalagi mengenakan pakaian yang **** menurutnya.
Semakin panas diginlah Zeen, saat mengetahui jika saat ini Yuna dijadikan bahan cuci mata oleh para pria muda yang ada disana.
Dengan tangan gemetaran menahan emosi, ia terus mengengam tangan mungil Yuna tak berniat untuk melepaskan tangan itu dari gengamannya.
“Kapan acara ini selesai sih? Aku gak rela jika Yuna dipandang oleh para pria hidung belang yang ada diacara ini.” Gumam Zeen mengerutu kesal. Padahal acara saja baru mau dimulai tapi pria itu terus tampak tergesa-gesa dan ingin cepat-cepat beranjak dari tempat itu.
“Kenapa mas? Mas sedang sakit? Kenapa tangan mas gemetaran?” tanya Yuna secara beruntun ketika merasakan tangan Zeen yang gemetaran.
Zeen menoleh kesamping, “Tidak ... aku–”
Zeen menghentikan ucapannya saat sebuah ide muncul diotak berliannya.
__ADS_1
'Aha! Aku punya ide ....' batin Zeen nampak menyinggung senyum membuat Yuna kembali kebingungan.
“Mas?” Yuna melambaikan tangannya tepat didepan wajah Zeen.
“Ah, ya cantik?”
Pipi Yuna langsung bersemu merah ketika mendengar ucapan frontal dari sang suami.
“Enggak, ngak apa-apa.” Jawab Yuna beralasan.
Zeen yang menyadari tingkah malu-malu Yuna dibuat tersenyum. 'Makin gak sabar bawa dia kedalam kamar.' celetuk Zeen hanya mampu didalam hati.
Setelah menyambut para tamu telah selesai, kini acarapun dimulai dengan pemotongan kue yang dilakukan oleh Zeen karena hari ini merupakan hari kenaikan usia Zeen. Setelah acara itu selesai kini diganti dengan rasa syukur yang dirasakan oleh keluarga besar itu dengan diisi kajian islam yang dibintangi oleh ustad dari pondok pesantren terbesar dijakarta.
Bahkan keluarga besar Albaret juga melakukan sedekah pada para anak yatim-piatu, serta para orang-orang yang sangat membutuhkan.
Setelah serentetan acara usai, kini diganti dengan makan malam bersama, semua tamu tampak menikmati hidangan yang disediakan membuat suasana menjadi hangat dan tenteram.
Acara begitu sangat lancar hingga akan sampai puncak membuat keluarga pemilik kediaman itu dibuat senang dan merasakan kelegaan didalam hati. Karena awalnya merasa sangat khawatir jika acara mereka tak berjalan semulus yang diharapkan.
Tentu saja hal itu membuat Zeen kesenangan, ketika acara inti sudah selesai dan dilewatkan dengan gembira. Kini saatnya pria itu melaksanakan aksinya yaitu membawa Yuna kabur dari acara itu.
Zeen menoleh kesana kemari mencari sosok sang Mama karena hanya Mamanya lah yang akan memuluskan rencananya itu.
Ketika pandangannya mendapati sosok yang ia cari Zeen pun tersenyum sumringah, lalu berjalan cepat menuju Mamanya dan tak lupa menarik Yuna yang kala itu tepat berada disampingnya.
“Mas?!” pekik Yuna terkejut.
“Mama ....” Zeen memeluk pundak Mamanya dengan gerakan pelan.
“Ya Zeen? Ada apa?” tanya Vina ketika ia menghentikan cakap-cakapnya kepada kerabat jauhnya.
“Begini Ma ... Yuna kurang enak badan, jadi Zeen ingin membawa Yuna lebih dulu masuk kedalam. Soalnya nanti sakitnya tambah parah ....”
__ADS_1
“Hah?” beo Yuna begitu terkejut mendengar ucapan suaminya.
TBC.