
...***...
Sejak tadi, Eva dibuat heran melihat tingkah putri keduanya yang sejak tadi tersenyum-senyum seperti remaja yang tengah kasmaran. Bahkan ia sampai melirik kearah suaminya, ketika saat itu suaminya tengah membaca koran karena itu sudah menjadi rutinitas suaminya yang dimana saja pria paru baya itu akan selalu membaca koran. Padahal masa sekarang sudah canggih jarang orang membaca koran dan kebanyakan orang-orang membaca berita lewat Android. Mungkin suaminya itu sudah ketinggalan jaman batin Eva.
“Pah! Papah,” panggil Eva pada suaminya dengan suara dilirihkan.
Sigit yang merasa terganggu dengan istrinya yang terus memanggil itu, menolehkan kepalanya. “Apa Mah?” tanyanya.
“Tuh! Tuh! Lihat anak wedok mu!” ucap Eva sambil menunjuk-unjuk putrinya dengan lirikan mata.
Sigit mengerutkan alisnya merasa heran, namun tak ayal ia tetap menuruti perkataan istrinya.
Sigit melihat kearah putrinya yang saat itu masih belum merubah raut wajahnya. Sigit pun merasa bingung ketika melihat putrinya yang sejak tadi tersenyum dan kadang-kadang berbicara sambil tertawa sendiri.
“Kenapa anak wedokmu Mah?” tanya Sigit menoleh kembali kearah istrinya.
“Anak wedok kita Pah!”
“Iya itu maksudnya. Kenapa putri kita? Kok senyum-senyum bahagia begitu?” tanyanya lagi.
“Papa gak sadar sejak tadi? Anak wedok kita dari tadi senyum-senyum terus Pah, sejak Yuna putri kita pulang.” Jelas Eva, yang sekarang mengganti panggilan nama putri tertuanya dengan nama Yuna bukan nama Putri Sanjaya. Nama Yuna ini yang diberikan oleh almarhum Santi yang merawat Yuna sejak kecil. Menurut mereka nama itu sangat bagus itu sebabnya Eva dan Sigit setuju merubah nama putri pertama mereka dengan nama Yuna Saily Sanjaya dan sekarang nama belakang itu menjadi Yuna Saily Albaret. Karena sekarang putri mereka sudah memiliki keluarga sendiri.
“Oh ya? Wah ... sepertinya anak kita lagi kesurupan Mah, bagaimana kalau kita bacaan doa ayat kursi? Tidak mengherankan kan? Jika dirumah sakit rawan dengan hantu bergentayangan, apalagi disini juga tempatnya orang meninggal.”
Hal itu membuat Eva merinding mendengarnya, “Yaampun sepertinya apa yang dikatakan Papa memang benar, jika Diana putri kita sedang kesurupan.” Tutur Eva.
“Kalau begitu mari kita bacaan ayat kursi bersama-sama!”
Eva mengangguk menyetujui ajakan suaminya. Dan kemudian mereka berdua mulai membaca surah ayat kursi bersama sehingga membuat suara mereka memenuhi ruangan itu karena mereka membaca tak didalam hati melainkan secara langsung.
Dan hal itu tentu membuat Diana langsung membuyarkan lamunanya ketika mendengar suara kedua orangtuanya.
“Astaga! Mama Papa! Kenapa kalian baca surah ayat kursi kencang sekali? Kalau mau berdoa minta kesembuhan, baca didalam hati saja Mama Papa. Biar doanya kusyuk dan diterima oleh yang maha pencipta!” jelas Diana dengan bijaknya.
Eva dan Sigit yang kala itu sudah menyelesaikan doa mereka, saling berpandangan.
“Sepertinya kita berhasil Pah? Anak kita sudah tak kesurupan lagi.”
__ADS_1
“Benar Mah, ternyata anak kita benar-benar kesurupan,” timpal Sigit yang lagi-lagi membuat Diana tercengang mendengar pembicaraan kedua orangtuanya itu.
“Jadi Mama sama Papa ngiranya aku lagi kesurupan? Astaga ....” Diana menepuk jidatnya seketika.
“Lah? Iya sayang, kamu sejak tadi tersenyum-senyum sendiri, Mama sampe heran loh ngilahtnya.” Jawab Eva.
Diana kembali menatap Mamanya. “Emang iya? Kalo aku sejak tadi senyum-senyum sendiri?” tanyanya.
Eva mengangguk menanggapi ucapan anaknya.
Sejenak Diana menghela nafas, lalu ia mengingat bagian-bagian yang membuatnya tersenyum geli sejak tadi.
“Ah! Mama sama Papa sudah salah sangka! Aku sejak tadi senyum-senyum bukan karena kesurupan. Melainkan sedang kasmaran,” timpal Diana dengan senyum malu-malu.
“Apa?!”
“Kasmaran?!”
Teriak sepasang suami istri itu tak percaya.
“Mah!”
“Pah!”
Kedua pasutri itu kembali saling memandang dengan mulut yang mengangga.
“Siapa lelaki jahat itu Diana! Berani-beraninya dia sudah membuat putri kecil kami jatuh cinta! Ini namanya kejahatan, Papa gak setuju anak Papa yang masih kecil dibuat kasmaran! Bisa-bisa otak polos kamu terganggu dan membuat belajar kamu nanti terganggu.” Cecar Sigit dengan mengebu-gebu. Bahkan dirinya sampai mengerjakan tangannya yang sedang patah. Alhasil tangannya merasakan nyeri seketika.
“Adu du duh tanganku!” ringis Sigit memeganggi tangannya.
“Hati-hati Papah ....” Eva sampai menggeleng melihat suaminya.
Sedangkan Diana yang melihat itu hanya bisa mendengus kesal. “Aku tak sepolos itu kali! Aku bahkan sudah tahu caranya buat kecebong.” Gumam Diana sampai tersenyum-senyum sendiri saat mengingat jika dirinya selalu diam-diam menonton vidio biru saat dirinya sedang dikamar sendiri.
Author pov; Jangan dicontoh ya gaes^_^ ini tak patut dicontoh!
Tapi bukan berarti dirinya pernah melakukannya, karena dirinya tahu batasan-batasan mana yang tidak diperbolehkan karena kedua orangtuanya pernah mengingatkanya.
__ADS_1
“Diana ... siapa orangnya nak?” tanya Eva dengan lembut. “Mama sama Papa sudah mengingatkan ya? Jika kamu boleh dekat dengan laki-laki, tapi hanya sekedar berteman sama dan tak boleh berpacaran! Kami memberitahumu seperti itu karena kami hanya mau kamu fokus pada belajarmu saja. Karena kalo kamu berpacaran pasti fokusmu terbelah dua! Dan pasti akhirnya belajarmu jadi berantakan.” Jelas Eva dengan bijaknya yang mana membuat Diana terdiam merenung.
“Tapi Mah! Mama pernah bilang juga, kalau Diana sudah dewasa, Diana bisa memilih pria yang akan menjadi pendamping hidup Diana! Itu berarti Mama sama Papa mengizinkan Diana dong! Kalau nanti Diana sudah dewasa Diana boleh berpacaran?”
“Ya ... benar apa kata kamu, tapi jika laki-laki itu bertanggung jawab ya? Mama sama Papa pasti mengizinkan.”
Yang mana membuat Sigit mengerutkan bibirnya menatap sang istri. “Mamah ....”
“Sudah ya Papa ....” Eva memberikan pengertian kepada sang suami.
Diana kembali terdiam kala otak kecilnya tengah berpikir, 'Tentu pasti orangnya bertanggung jawab! Orangnya saja kelihatan sudah sangat matang begitu,” batin Diana sambil membayangkan wajah Firo yang baru pertama ia lihat.
“Lantas? Siapa lelaki itu sayang?” tanya Eva lagi.
Diana nampak menyungingkan senyumnya. “Adalah Mah, Mama pasti tau orangnya.”
Eva nampak bingung mendengar jawaban ambigu dari putrinya.
“Oh ya Mah? Rumahnya kak Yuna diaman sih? Soalnya aku pengen ketemu sama kak Yuna nanti, kami kan belum saling mengenal dengan dekat.”
“Rumahnya kakakmu dekat kok dengan rumah kita, nanti kita kesana bersama-sama setelah Mama sama Papa keluar dari rumah sakit.”
“Oh ya? Beneran dekat?” Diana nampak berbinar mendengarnya, “Wah asyik dong, bisa kesana sering-sering ....” ucapnya dengan antusias.
Eva menggeleng mendengar itu, “Ya jangan sering-sering dong sayang, gak enak sama mertuanya.”
“Heheheh ....” Diana cengegesan mendengarnya.
“Asal kamu tau sayang, rumah sakit ini milik mertua kakakmu loh ....” jelas Eva dengan sedikit menyombongkan.
“Wah? Keren banget mertuanya kak Yuna, Mah? Jadi ikut bahagia kalo kakak hidup nyaman.”
“Yap! Kamu benar sekali,” timpal Eva yang juga ikut merasa bahagia ketika melihat putri pertamanya hidup dengan damai dengan keluarga mertuanya.
Diam-diam, Diana tersenyum miring. 'Wah ... ternyata semesta sudah merestuiku. Jika jodohku adalah pria gagah nan tampan itu! Aku jadi gak sabar pengen ketemu jodohku itu lagi,' batin Diana tersenyum kesenangan.
TBC.
__ADS_1