Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 136


__ADS_3

...***...


“Sayang?” Zeen langsung bangkit dari duduknya ketika melihat istrinya yang sudah siuman dari pingsannya.


“Kamu sudah sadar sayang? Apa, apa ada yang sakit? Atau ada yang terasa jangal, a-atau yang kurang nyaman gitu?”


Baru sampai dihadapan istrinya, Zeen langsung memberikan serentetan pertanyaan membuat dua orang berseragam putih itu mengeleng dibuatnya.


“Putranya dokter Albaret,” celetuk Elena sambil terkekeh pelan.


Albaret tampak mengedikan kedua bahunya, “Entahlah, dia putranya istriku.”


Elena langsung memandang atasannya dengan pandangan cengoh dan aneh. “Dasar keluarga aneh.” Gumam Elena bersuara lirih.


“Kamu mengatakan sesuatu Elena?” tanya Albaret sedikit mendengar gumaman Elena.


Elena mengedikan kedua bahunya acuh, “Entahlah dokter.” Jawab Elena santai.


“Dasar! Anak-anak muda yang aneh?” gumam Albaret mengeleng kepala.


Elena hanya tersenyum miring mendengar gumaman itu.


“Apa yang barusan aku dengar mas? Kenapa kalian membicarakan tentang hamil? A-apakah aku tengah hamil mas?” tanya Yuna mengabaikan pertanyaan Zeen.


Zeen yang melihat raut tak percaya dari wajah istrinya itu tersenyum manis, ia lalu mendekatkan dirinya pada Yuna dan langsung meraih kepala istrinya guna sekedar mengecup kening istrinya itu.


“Iya sayang ... kamu hamil, kamu hamil anakku. Juniornya Zeen Albaret.” Jelas Zeen alhasil membuat Yuna langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, menatap mata suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.


“I-ini beneran mas? Mas gak bohongkan?” tanya Yuna sekali lagi.


“Iya sayang ... kamu hamil, jika kamu masih tak percaya, kamu bisa bertanya pada Papa dan dokter Elena.” Jelas Zeen sambil menunjuk Papanya dan dokter Elena yang duduk tepat dibelakangnya.


Yuna menoleh kesamping dimana ada Papa mertuanya dan seorang dokter wanita cantik berada tak jauh dari keberadaannya.


Seolah tau dengan tatapan mata Yuna, kedua orang itu saling mengganggu untuk mengiyakan ucapan dari Zeen.


Mendapati angukan kepala dari dua insan berbeda genre itu membuat Yuna seketika menangis dengan deras, tak tahu harus menanggapinya dengan bagaimana, mungkin karena merasa terharu sekaligus bahagianya.

__ADS_1


Zeen langsung memeluk istrinya dan membawa wanitanya kedalam dekapan hangat itu, menyalurkan rasa penenang sekaligus rasa amat haru.


“Terimakasih sayang, terimakasih ....” Zeen mengucapkan rasa terimakasihnya pada Yuna, karena berkat Yuna ia merasakan kebahagiaan yang teramat hingga sulit untuk dijabarkan. Karena menurut dirinya kebahagiaan teramat inilah yang baru saja ia rasakan selama ia hidup bertahun-tahun didunia.


'Beginikah yang dirasakan oleh para suami ketika mendengar istrinya hamil untuk pertamakalinya? Ternyata sangat membahagiakan.' Gumam Zeen dalam hati sambil terus memancarkan senyum lebarnya.


“Ehem!”


Terdengar suara deheman yang sangat keras berasal dari Elena.


“Lanjutkan nanti saja acara sayang-sayangnya. Karena aku tak ingin ditahan disini dengan waktu yang lama ... kalian semua membuatku tak bisa menikmati masa-masa cutiku.” Kilah Elena langsung menampakkan wajah masamnya.


Zeen langsung menoleh kebelakang dengan wajah kesalnya, karena momen indahnya harus terganggu oleh dokter cantik itu.


“Siapa yang menahan anda disini? Anda bisa pergi karena sekarang istri saya sudah baik-baik saja, jadi anda bisa melanjutkan masa cuti anda yang indah itu.” Jelas Zeen dengan nada ketus.


Elena yang mendapati jawaban ketua itu langsung emosi, ia lalu mengebrak menjanya dengan kencang.


“Hei anak kecil! Bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku? Karena aku sudah datang kesini hanya untuk memeriksa keadaan istrimu?” tanya Elena dengan suara ditinggikan.


Zeen tak menanggapi ucapan itu dan lebih memilih acuh sambil menatap sayang wajah istrinya.


Albaret memilih untuk mengalihkan pandangannya, karena ia juga merasa malu sekaligus kesal dengan sikap putranya.


“Mohon dimaklumi Elena, Zeen memang seperti itu. Dia itu hanya pria gengsian yang tak tahu cara mengucapkan terimakasih kepada orang lain.”


“Saya benar-benar tak percaya ini,” gumam Elena memijit pangkal kepalanya sambil menyandarkan tubuhnya dikursinya itu.


“Maaf ya Elena karena membuatmu harus kesini karena ulah putra pungutku itu. Setelah ini aku akan memberimu cuti selama sebulan dan juga bonus gaji buatmu sekaligus untuk rasa terimakasih ku karena kamu sudah menyampaikan berita yang sangat berharga ini.” Jelas Albaret dengan sungguh-sungguh.


Elenak terdiam nampak berfikir.


“Saya juga mengucapkan terimakasih dan mohon maaf atas kelakuan tak sopan suami saya dokter Elena,” timpal Yuna dengan tulus.


“Kok pada maaf-maafan sih? Kan bukan hari raya–”


“Mas ....” Yuna langsung memelototi suaminya dengan tajamnya, agar mulut suaminya itu tak terus-terus mengoceh.

__ADS_1


“Hemm, baiklah aku menerima permintaan maaf kalian dan juga bonus gaji dari dokter Albaret.” Jawab Elena dengan senyum kesenangan.


“Cih! Giliran soal gaji aja cepet.”


“Mas Zeen!”


“Zeen!”


Albaret dan juga Yuna secara bersamaan menegur Zeen yang terus mengeluarkan kata-kata tak sedapnya itu.


“Baiklah. Karena urusan saya sudah selesai maka saya akan langsung pamit undur diri, mungkin setelah ini saya tak akan menerima panggilan dari siapapun karena saya akan menikmati liburan panjang saya tanpa memikirkan gangguan!” jelas Elena dengan nada sindiran yang tentu ditunjukkan kepada Zeen.


Elena segera bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Albaret yang juga ikut bangkit dari duduknya.


“Sekali lagi, saya mengucapkan terimakasih padamu Elena, sebagai orangtua dari Yuna.” Ucap Albaret sambil menyodorkan tangan kanannya pada Elena.


Elena langsung jabatan tangan itu dengan gerakan elegannya. “Sama-sama dokter Albaret, saya senang karena bisa membantu.”


Setelah selesai berbincang sedikit dengan dokter Albaret, Elena mulai melangkahkan kakinya berniat untuk keluar dari ruangannya itu.


Namun saat melewati brangkar Yuna, ia menghentikan langkahnya sejenak. “Saya ucapkan selamat atas kehamilanmu Yuna ... semoga kehamilan pertamamu ini dilancarkan sampai melahirkan.” Ucap Elena bersungguh-sungguh.


Yuna langsung tersenyum menanggapi ucapan itu, “Terimakasih doanya dokter Elena, saya akan terus mengaminkan doa itu didalam hati saya.” Tutur Yuna dengan suara lembut.


Elena yang mendengar itu ikut tersenyum. Lalu menatap Zeen dengan pandangan masam dan tak suka.


'Bagaimana bisa seorang wanita lembut sepertinya bisa mendapatkan suami bermukan menyebalkan seperti itu?' batin Elena bertanya-tanya.


“Apa ada yang ingin anda sampaikan?” tanya Zeen yang memang merasakan jika Elena terus menatapnya.


Elena sejenak tersenyum, “Saya hanya ingin bilang, tolong jangan terlalu memperlakukan istri anda dengan sangat posesif dan menuntut. Bisa-bisa istri anda kabur karena bosan dengan anda.”


Setelah mengucapkan kata itu, Elena berlalu pergi sambil tertawa terbahak dengan kencang sampai terdengar dari luar. Tentu saja tawa itu ditunjukkan oleh Zeen, yang bisa dibilang tengah mengejek pria itu.


“Apa dia bilang?!” teriak Zeen melotot bahkan sampai berdiri dari duduknya.


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa komen, like and vote ya😉


__ADS_2