
...***...
“Berhenti dulu mas!” teriak Yuna yang mana membuat Zeen langsung mengerem mobilnya, karena merasa terkejut dengan teriakan Yuna.
Bahkan pengendara mobil yang saat itu berada dibelakang mobil Zeen sampai mengklakson mobilnya.
“Woy! Bawa mobil yang bener dong!” teriak pengendara mobil itu yang langsung melajukan mobilnya begitu saja setelah pengendara itu meneriaki Zeen.
Zeen menghela nafas panjang, mencoba meredakan rasa terkejutnya. Kemudian setelah dirasa tenang dirinya langsung menoleh kesamping melihat sang istri.
“Sayang ....” tegur Zeen menatap tajam Yuna.
Yuna menundukkan kepala, merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan. “Maaf mas ... aku mengagetkan mu, aku tadi lihat gerobak es kelapa itu sebabnya aku refleks berteriak.” Cicitnya sambil melilit ujung bajunya merasa tak sanggup menatap mata tajam Zeen yang mengarahkan padanya.
Zeen mengubah tatapan tajamnya menjadi tatapan melembut, ia ingin memarahi Yuna namun saat melihat wanita itu yang ingin menangis dirinya jadi merasa tak tega.
Zeen pun segera meraih tangan mungil Yuna, lalu ia mengecup telapak tangan itu untuk menyalurkan rasa ketenangan.
“Yaudah tidak papa, lain kali jangan teriak begitu ya? Bahaya kalau lagi berkendara.” Tutur Zeen yang mana kala diangguki kepala oleh Yuna.
“Oh ya, kamu tadi mengatakan sesuatu? Apa itu sayang? Apa ada yang kamu inginkan?” tanya Zeen beruntun.
Yuna yang ditanya itu langsung menoleh kearah Zeen, “Aku ingin es kelapa yang ada disana mas!” ujar Yuna sambil menunjukkan sebuah gerobak kecil yang tadi membuat ia sampai berteriak.
Zeen melihat arah tunjuk Yuna, setelah melihatnya Zeen pun dengan gemas mengacak-acak rambut Yuna. “Baiklah, sesuai permintaan tuan putri.” Ujar Zeen yang langsung mendapat pukulan dari Yuna karena merasa malu dengan perkataan Zeen barusan.
Yuna langsung keluar dari mobil saat mobil milik suaminya sudah terparkir tepat disamping gerobak penjual es kelapa itu.
Tanpa basa-basi lagi Yuna pun langsung memesan es kelapa tanpa menunggu Zeen yang masih memarkirkan mobilnya, agar aman tak ditilang oleh polisi yang berpatroli dijalan.
“Bang es kelapanya satu ya bang,” pesannya.
“Siap non.” Sahut pedagang itu.
Yuna pun mendudukan dirinya disalah satu meja disana, ia pun tersenyum manis melihat suaminya yang berjalan kearahnya.
“Suamiku makin tampan.” Gumam Yuna yang masih dapat didepan oleh Zeen yang kebetulan juga mendudukan dirinya disamping Yuna.
__ADS_1
“Wah, kamu mau mengodaku ya sayang, hem?” tanya Zeen lalu dengan rasa gemasnya Zeen menyentuh kedua pipi Yuna kemudian ia mengecup satu per satu setiap inci wajah istrinya itu. Bahkan mereka tak menyadari jika disana jug ada orang lain yang tengah menikmati es kelapa.
“Udah mas ... ini ditempat umum malu tau diliatin orang.” Ucap Yuna yang langsung mendorong wajah Zeen agar menghentikan aksi cium-ciun itu.
Zeen terkekeh melihat wajah masa istrinya. “Gak papa lah, kan sama istri sendiri ngapain malu?” ucap Zeen dengan gamblangnya yang seketika membuat Yuna mendengus kesal mendengar ucapan itu.
“Ini es kelapanya non,” ucap pedagang itu yang menyerahkan satu es kelapa yang dipesan oleh Yuna.
Yuna yang melihat itu tersenyum sumringah. Lantas dirinya langsung menyeruput es kelapa itu dengan perasaan kidmat membuat Zeen yang melihat merasa keheranan dan meneguk ludahnya sendiri.
“Sayang? Kamu gak mesenin aku?” tanya Zeen yang sejak tadi terdiam melihat Yuna.
Yuna langsung menghentikan acara minumnya, dan langsung menatap Zeen dengan tatapan malu sekaligus keluar kekehan kecil dari bibir Yuna.
“Maaf mas, aku lupa ... aku juga gak tau jika kamu ingin es kelapa juga ....” jelasnya sambil tersenyum kikuk menatap mata sang suami.
Zeen mengeleng kepala mendengar itu, “Sungguh tega sekali kamu sayang. Suaminya sendiri sampai dilupakan.”
Yuna menanggapi itu dengan kekehan kecil kembali.
“Kalau gitu mas pesan aja mumpung kita masih ada disini,” usul Yuna. “Atau mau aku pesankan?” tanya Yuna ketika tak mendapati respon dari lelaki yang ada didepanya.
Tanpa Yuna duga, Zeen langsung menyambar bibirnya dan ******* bibir itu dengan lembut membuat Yuna yang belum siap menerima hanya bisa membulatkan matanya merasa syok.
Setelah selesai mencium bibir Yuna, Zeen pun melepas pangutan itu dan sejenak mengusap bibir Yuna sambil tersenyum manis tanpa merasa bersalah.
“Aku sudah meminumnya dari dirimu.” Ucap Zeen sambil mengerlingkan matanya menggoda Yuna.
Plak!
Yuna kembali memukul lengan Zeen dengan sangat keras, dirinya dibuat kesal untuk kedua kalinya.
“Jangan mulai lagi deh ... mas ini gak tahu tempat kalau mau main mesum-mesuman.” Ujar Yuna menatap Zeen dengan jengkel.
Zeen kembali terkekeh, “Ihh ... kan mas gak ada niat main mesum-mesuman.”
“Itu tadi apa mas? Yang cium-cium tadi kalo gak mesum?” Yuna sampai dibuat mengeleng melihat tingkah sang suami.
__ADS_1
“Itu bukan main mesum-mesuman sayang ... itu hanya kecup-kecupan manis saja,” elak Zeen yang mana kala membuat Yuna sambil memberengut sebal.
Dengan membawa es kelapa ditangannya, Yuna pun segera bangkit dari duduknya. “Sudah ah mas, mending kita pulang aja. Aku malu orang-orang pada liatin kita.”
Memang benar apa yang dikatakan Yuna, jika semua atensi mengarah kearah mereka. Tentu hal itu disebabkan oleh Zeen yang beromantisme tak tahu tempat.
“Eh? Kok pergi gitu aja? Gak mau lanjut pacaran disini nih? Lumayan masih ada waktu makan siangku sayang jadi kita masih bisa berkencan untuk beberapa menit.”
Yuna yang sudah berdiri dari duduknya itu mengelengkan kepala. “Gak dulu deh mas, aku pengen cepat pulang kerumah, pengen rebahan sambil ngemil didepan televisi.”
Yang mana membuat Zeen mendengus sambil terkikik geli. Pasalnya Yuna terus aja menolak ajakannya dan lebih memilih tidur-tiduran dirumah sehingga membuat wanita hamil itu tambah berisi.
“Yaudah deh, kalau itu permintaan istriku tercinta.” Ucap Zeen pada akhirnya menuruti permintaan Yuna dan ia pun ikut berdiri dari duduknya. Kemudian ia mengapai tangan mungil Yuna untuk digengamnya.
“Yuk! Let's go!” ajak Zeen dan langsung melangkahkan kakinya, namun saat hampir mendekat pada mobilnya berada tiba-tiba penjual es kelapa itu meneriaki mereka.
“Oi mba, mas! Jangan pergi dulu! Belum dibayar loh itu es kelapanya, masa nyelonong gitu aja setelah pesan?”
Penjual es kelapa itu berjalan tergopoh-gopoh kearah mereka. Yang membuat Zeen menatap Yuna kembali dengan tatapan intens.
“Kamu belum bayar sayang?”
Yuna langsung mengeleng, “Kan ada kamu mas.” Jawab Yuna menyengir kuda, yang mana membuat Zeen kembali menghela nafas panjang.
“Kamu ini ya,” Zeen menyentil kening Yuna dengan gemasnya. Lalu ia berjalan mendekati sang penjual es kelapa dan memberikan dua lembar uang merah kepada penjual itu.
“Maaf ya mang, istri saya lupa, sebagai permintaan maaf saya memberikan bonus kepada mangnya.” Jelas Zeen.
Penjual itu tentu dibuat sumringah. “Terimakasih masnya, lain kali sering-sering mampir kesini biar sayanya dapat bonus lagi.” Ucapnya tanpa rasa malu dan berlalu begitu saja dari hadapan Zeen.
Zeen kembali mengeleng, kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menghampiri istrinya.
“Yaudah yuk kita pulang,”
Namun saat Zeen ingin mengapai istrinya, tiba-tiba pengendara sepeda motor menyambar dengan kecepatan maksimal dan membuat Zeen terpental dan terperosok didekat mobilnya akibat terserempet oleh pengendara sepeda motor itu.
“Aksss ....” Zeen meringis kesakitan saat merasakan kakinya terkilir dibagikan tulang ekornya.
__ADS_1
TBC.