
...***...
“Pergilah dari sisinya sebelum aku menghancurkan hidupmu dengan tanganku sendiri.”
“Aku tak tahu apa arti dari kalimat ini? Apa yang dimaksud dengan pergi disisinya?” Yuna yang tak tahu tentang kalimat itu lebih memilih mengabaikan dan meletakan kertas kecil itu pada laci. Lalu kemudian ia berjalan kembali menuju kasurnya dan mendudukan diri disana.
Tepat saat ia kembali mengambil buku novelnya, Zeen baru saja memasuki kamar dan tak lupa jika ditangan pria itu sudah ada segelas susu dan beberapa buah-buahan dinampan itu.
“Maaf ya sayang? Mas lama ya?” Zeen langsung mendudukan dirinya dikasur tepat disamping Yuna.
Yuna mengeleng dengan cepat, “Tidak lama kok mas, aku baru aja mau baca novelku ini.” Ujar Yuna sambil tersenyum manis.
“Oh ... yaudah kamu minum dulu susu ini habis itu makan buah-buahan biar dedek bayinya makin sehat disana.” Jelas Zeen kembali mengusap dengan gemas perut Yuna.
“Makasih ya mas? Kamu udah mau repot-repot bikinin aku susu sama dibawakan buah, padahal aku bisa ambil sendiri,” kata Yuna saat sudah menghabiskan susu itu dan juga buah-buahan yang hanya tersisa sedikit saja.
“Ehhh? Kok bilang begitu? Kamu gak perlu merasa terbebani sayang, mulai sekarang apa yang kamu butuhkan akan aku penuhi dan kamu tak boleh kerja lagi, jika butuh sesuatu tolong beritahu aku sekecil apapun itu!” jelas Zeen dengan tegas dan sangat percaya diri jika ia akan sanggup memenuhi semua kebutuhan Yuna.
“Bener mas? Apapun itu?” selidik Yuna sambil memicingkan matanya pada pria itu.
Zeen langsung menganguk pasti, “Ya! Apapun itu!” jawab Zeen dengan sangat tegas.
“Hmmm, Yuna percaya itu,” Yuna langsung memeluk suaminya dengan erat yang langsung ditanggapi Zeen dengan tak kalah eratnya.
🍂🍂
Pagi-pagi sekali, tiba-tiba Zeen terbangun dari tidurnya dan ia langsung melarikan diri masuk kedalam kamar mandi.
Yuna yang mendengar pergerakan Zeen itu juga ikut terbangun, dengan gerakan perlahan Yuna bangkit dari baringnya dan menatap pintu kamar mandi dengan kening berkerut.
“Ada apa dengan mas Zeen?”
Namun sedetik kemudian ia dibuat terkejut saat mendengar suara Zeen yang mengema didalam kamar mandi.
Yuna pun segera turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. “Mas Zeen? Ada apa mas?!” teriak Yuna sambil mengedor-gedor pintu itu dengan sangat kencang.
Hoek! Huk, hoekk ...!!
Begitulah yang didengar oleh Yuna, pria itu saat ini tengah muntah-muntah entah apa penyebabnya.
__ADS_1
“Mas Zeen! Buka pintunya ma–”
Yuna kembali tersentak saat pintu itu tiba-tiba terbuka dan menampakan sosok lelaki yang saat ini sudah sangat berantakan penampilannya.
“Ada apa mas? Kenapa mas muntah-muntah?” tanya Yuna dengan wajah khawatir.
Zeen mengeleng samar, “Aku juga gak ta–”
Dengan secepat kilat Zeen kembali berlari masuk kedalam kamar mandi, dan kembali muntah-muntah seperti tadi. Yuna yang tak mau diam saja ditempat itu lebih memilih ikut masuk kedalam dan langsung mengusap dan memijit leher suaminya agar bisa meredakan rasa mual itu.
“Sudah gak muntah lagi mas?” tanya Yuna ketika melihat pria itu berhadapan dengannya sambil sesekali mengelap mutulnya yang masih basah setelah ia basuh dengan air.
Zeen kembali mengeleng, “Engak bisa muntah sayang ... tapi didalam rasanya eneg banget.” Cicit Zeen dengan wajah yang sudah puncat nan lemas.
Yuna yang melihat sampai kasihan dibuatnya, “Yaudah, mending kita kembali kekamar biar Yuna bisa kasi oleh minyak kayu putih agar enegnya hilang.” Tutur Yuna sambil membantu suaminya berjalan menuju kasur.
“Tunggu disini ya? Biar Yuna ambilkan minyaknya.”
Saat Yuna hendak berbalik, tiba-tiba tangannya dicekal oleh tangan besar milik Zeen.
“Jangan pergi sayang, rasanya enegnya ilang saat kamu berada didekatku ....” cicit Zeen kemudian menampilkan pupi eyesnya dengan sangat imut.
“Sayang ....” rengek Zeen saat merasakan tangannya dilepas oleh Yuna.
“Sayang! Aku ingin muntah lagi!” teriak Zeen padahal posisi Yuna saat ini tak berada jauh darinya tapi entah mengapa pria itu begitu manja sekali, hanya ditinggal beberapa jengkal saja sudah merengek.
“Sebentar mas ... aku masih mencari ini.”
Saat Yuna tengah fokus pada pencariannya tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipingangnya. Membuat dirinya hampir saja berteriak jika saja ia menahan rasa terkejutnya itu.
“Mas ....”
“Gak mau Yuna ... maunya sama kamu ....” rengek Zeen sambil terus mendusel-ndusel leher Yuna.
“Yaampun geli mas! Tolong jangan begini ...!”
Namun Zeen menulikan telinganya, dan lebih memilih memperdalam duselannya dileher itu.
“Hahhh ....” helaan nafas keluar dari mulut Yuna menandakan jika wanita pasrah saja menerima tingkah kekanakan dari suaminya.
__ADS_1
“Ah! Ini dia.” Yuna begitu sumringah ketika apa yang ia cari akhirnya dapat juga, sebuah minyak kayu putih sudah berada didalam gengamannya.
“Ayok mas kita kekasur lagi,” ajak Yuna kembali menggiring Zeen menuju kasur.
“Coba angkat bajunya sedikit,” pinta Yuna.
Namun bukanya dibuka sedikit, pria itu malah melepaskan bajunya lalu melempar baju itu kesembarang arah.
“Kan aku cuman minta mas buka sedikit bajunya ....” ujar Yuna menatap suaminya dengan tatapan heran.
“Biar enak sayang ... aku juga agak gerah sekarang,” jawab Zeen santai, lalu mendekatkan dirinya pada Yuna dan langsung memeluk pinggang wanitanya hingga membuat dua insan itu menjadi sangat dekat.
“Ayo sayang oleskan,” pinta Zeen sambil mengerlingkan matanya pada Yuna.
Yuna tak menjawab ucapan itu dan lebih memilih mengusap perut Zeen dengan minyak kayu putih itu. Setelah selesai mengusap perut, kini Yuna beralih memijit kepala Zeen dengan lembut hingga membuat pria itu merasa kenakan sampai-sampai memejamkan matanya.
“Ah ... enak banget sayang, yah ... disana enak banget ... kamu memang benar-benar jago,”
Zeen terus mengoceh tak jelas, bahkan sampai mengeluarkan de**han yang membuat Yuna malu mendengarnya.
“Selesai mas.”
Zeen membuka matanya perlahan, lalu menatap Yuna dengan pandangan sayu. “Kenapa cepat banget? Padahal enak banget loh. Bahkan lebih enakan dari pada bercint–”
Plak!
Refleks Yuna menampol mulut Zeen agak keras.
“Ngomongnya mas!” Yuna berkecak pinggang sambil menatap tajam suaminya.
“Ngomong apa sih sayang, hemm?” goda Zeen sambil mengelus lembut bibir Yuna.
“Sekarang tangannya yang gak dikondisikan?” Yuna berdecak kesal menatap suaminya.
“Yaampun sayang ...? Kamu kok sensitif banget ya?”
Yuna mengedikan kedua bahunya acuh, “Entahlah mas, sekarang mas cepat mandi setelah itu kita sarapan. Mas kan nanti ada jadwal operasi jam delapan. Jadi cepat siap-siap biar gak terlambat.”
Kini Zeen yang berdecak kesal, lalu membaringkan tubuhnya dikasur. “Ah~ rasanya males banget!”
__ADS_1
TBC.