
°°°°°
"Aku pulang..."
Zeen baru saja kembali dari rumah sakit tempatnya bekerja, alias rumah sakit milik papanya.
"Eh? Sudah pulang nak... Tumben malam banget pulangnya." ucap Vina yang saat ini berada diruang tengah, beserta dengan suaminya yang tengah merangkul dirinya. Disamping sofa mereka juga ada Yuna yang tengah menonton tv diruangan itu.
"Iya mah... Tadi ada jadwal praktek dadakan." jawab Zeen.
"Sudah selesai prakteknya Zeen?" tanya papanya, Albaret.
"Lanjut besok pah." Zeen kemudian melirik Yuna yang bangkit dari duduknya, dan berjalan kearahnya.
"Mari mas... Tasnya biar saya bawakan. Mas kekamar dulu aja, setelah itu kebawah buat sarapan, mas pasti capek habis pulang dari kerja." ucap Yuna, lalu mengambil alih tas yang tengah dipegang oleh Zeen.
"Cieee... Enak banget ya? Yang udah punya istri, ada yang perhatiin sekarang." ucap Albaret, mencoba menggoda anaknya.
Vina menepuk bahu suaminya. "Jangan digodain dong pah, nanti mereka malu." ujar Vina.
Yuna menanggapi ucapan itu hanya dengan senyuman, sedangkan Zeen hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan orangtuanya itu.
"Sudah Zeen, sekarang kamu cepat bersih-bersih aja. Setelah itu kamu sarapan." ujar Vina yang tengah menyuruh putranya.
"Iya mah.."
__ADS_1
Setelah selesai dari ritual mandinnya, Zeen berjalan kebawah untuk menuju dapur. Karena perutnya saat ini tengah meronta-ronta ingin dikasi asupan. Zeen melirik kearah ruang tengah dimana orangtuanya masih setia menonton tv disana, namun ia mengerutkan keningnya kala tak mendapat Yuna disana.
Zeen hanya mengangkat bahunya acuh, ia lebih memilih berjalan kedapur dan ingin sekali cepat-cepat mengisi perutnya. Saat ia hampir memasuki area dapur, tiba-tiba ia mencium bau-bau sedap dari dalam dapur itu. Ia pun mengikuti aroma itu yang entah mengapa membuat cacingnya tambah meronta.
"Enak banget! Bau apaan sih ini?" gumamnya sambil terus mengendus bau sedap itu.
Langkahnya terhenti, kala mendapat bau itu dari arah meja makan. Dan benar saja, disana sudah ada hidangan makanan yang sungguh membuat liurnya akan menetes begitu saja.
Zeen berjalan cepat kearah meja itu, demi apa ia langsung mendudukan diri. Dan dengan tergesa-gesanya mengambil nasi dengan kecepatan tak tertentu, setelah itu mengambil lauk yang disana sudah ada sayur oseng dan juga ikan goreng.
Zeen tentu saja memakannya dengan lahap, bahkan ia sampai tak tahu jika disana sudah ada Yuna yang baru saja keluar dari toilet. Yuna yang melihat Zeen itu tanpa sadar bibirnya melengkung memperlihatkan senyuman yang indah.
"Demi apa ini enak banget! Gak mungkin kan yang masak mama? Aku tau sendiri masakan mama gak seperti ini, apa jangan-jangan bibi yang masak?" raucau Zeen, yang masih setia mengunyah makanannya.
"Yang banyak makannya mas... Jika merasa kurang, biar saya masakkin lagi." ucap Yuna yang berjalan kearah Zeen dan membawa secangkir teh manis untuk diberikan kepada pria tengah hikmatnya memakan makanannya.
"Ini tehnya, makannya jangan terburu-buru ya mas? Takutnya tersedak." ucap Yuna, setelah itu ia menlangkahkan kakinya keluar dari dapur itu. Dan meninggalkan Zeen yang tengah melongo itu.
"Jadi dia yang masak ini?" tanya Zeen pada diri sendiri. Ia lalu melirik piringnya yang sudah habis dengan sempurna itu, bahkan satu sisa nasi pun tak ada.
Zeen memberengut. "Sialan aku kecolongan, aku akui jika masakkannya enak. Tapi dilain kali lagi, aku tak akan kecolongan seperti ini." ucapnya, setelah itu bangkit dari duduknya.
Baru beberapa ia melangkah, tiba-tiba ia berhenti. Dan melirik secangkir teh yang masih mengepul itu, bisa dilihat teh itu masih panas dan baru saja dibuat.
Zeen tengah berperang dengan dirinya sendiri, ia yang ingin melangkah keluar dari dapur itu seperti tengah meragu. Ia lantas berdecak kesal dan dengan perasaan kesalanya, berjalan kembali menghampiri meja makan itu.
__ADS_1
Diambilnya segelas teh itu, kemudian ia hirup sebentar, setelah itu meminumnya dengan nikmatnya.
"Sialan! Tehnya pas banget lagi." lagi-lagi Zeen mengumpati apa-apa yang tengah dibuat oleh Yuna. Dari mulai makanan sampai ke teh pun rasanya sungguh membuatnya nikmat.
Zeen menyeruput teh itu hingga tandas, lagi-lagi ia tak menyisakanya. Seperti ia yang tengah memakan nasi dan lauk tadi.
Zeen meletakkan cangkir itu diposisi semula, ia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari dapur itu dengan gaya santainya.
🍂🍂
Kini Zeen tengah berada ruang tengah, dimana ia tengah bergabung dengan kedua orangtuanya serta Yuna yang juga ada disana.
"Pah... Zeen sempet denger dari orang-orang rumah sakit, katanya disana kekurangan perawat, atau orang untuk mengawasi pasien. Zeen juga butuh asisten buat nemani Zeen yang tengah jadwal cek up, atau pas lagi jadwal praktek pah." ucap Zeen, setelah beberapa deti terjadi keheningan.
Albaret mengerutkan keningnya. "Bukannya disana sudah banyak perawat ya Zeen? Kenapa bisa kekurangan?" tanya Albaret bingung.
Zeen menghela nafas. "Papa ini, yang punya rumah sakit kok malah gak tau. Kalau sebagian pegawai papa kan ada yang resing dari pekerjaan, alasannya hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dan ada yang ingin melahirkan juga, setelah itu mengurus anaknya yang baru lahir. " jelas Zeen, sambil mengelengkan kepalanya mendapati ketidak tahuan papanya itu.
Albaret tertawa kecil,"Oh iya papa sampai lupa... Papa kan banyak kerjaan juga dirumah sakit. Ya maklum lah papa kan bosnya.." ucap Albaret sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Zeen memutar matanya malas. "Trus bagaimana pah? Mau rekrut pegawai lagi, kapan?" tanya Zeen.
"Hemm.." Albaret tak langsung menjawab pertanyaan putranya itu, ia saat ini tengah berfikir. Kemudian pandangannya mengarah kearah Yuna yang masih anteng menonton tv itu.
"Hemm, kalo mau rekrut pegawai baru pasti membutuhkan waktu lama Zeen. Tapi papa sarankan, bagaimana kalau Yuna yang sementara menggantikan, trus Yuna juga bisa jadi asisten kamu untuk sementara. Papa pernah denger dari Bram jika Yuna pernah jadi perawat didesanya, jadi gak ada salahnya deh... Kalau Yuna untuk sementara bekerja, bersama dengan kamu Zeen." jelas Albaret. Yang kemudian membuat kedua mata Zeen melotot, tak berbeda dengan Yuna yang juga kaget mendengar penuturan dari mertuanya itu.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys. Sematkan Vote, like and komen. Seiklasnya saja🐼🐹