Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 31


__ADS_3

°°°°°


Yuna yang asyik berbincang dengan dokter yang baru saja ia kenal itu, tak menyadari jika Zeen tengah berjalan kearahnya.


"Kamu ini... Bukanya ngikutin saya dari belakang malah asik ngobrol disini. Kamu benar-benar niat kerja gak sih!" ucap Zeen yang baru saja sampai tepat disamping Yuna, dan dengan santainya ia mengomeli Yuna.


Yuna pun kaget mendengar suara Zeen yang tiba-tiba saja muncul itu. Yuna menghadap kearah Zeen sambil menundukkan kepalanya.


"Hemm, maaf dokter Zeen saya lupa." jawab Yuna.


Zeen menghela nafas kasar, kemudian ia menepuk keningnya sejenak. "Yaampun... Apakah saya harus mengajarimu berulang kali? Disini saya yang menjadi atasanmu, tapi kamu malah berleha-hela ketika saya tengah bekerja." lanjut Zeen mengomeli Yuna.


Dokter Fadli melirik sebentar kearah Yuna, ia melihat Yuna yang hanya diam saja seperti enggan menjawab ucapan itu.


"Maaf dokter Zeen jika saya menyela ucapan anda, nona ini sebenarnya tak bersalah dalam hal ini. Saya lah yang bersalah, karena mengajak nona Yuna mengobrol sebentar. Jadi, marahi saya saja, karena saya yang membuat pekerjaannya terhambat sebentar." jelas dokter itu dengan raut santai.


Zeen mengalihkan pandanganya dan menatap dokter itu. Ia lalu berdehem sejenak dan menetralkan ekspresinya


"Ehemm, baiklah kalau begitu. Kita lanjutkan nanti saja pekerjaannya, kau boleh istirahat sekarang." ucap Zeen, tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya itu, ia langsung bergegas dan meninggalkan mereka berdua.


"Apakah dokter Zeen memang bersikap seperti itu terhadapmu?" tanyanya.


Yuna tersenyum kecil, "Bukankah hal yang wajar seorang bawahan mendapatkan ucapan seperti itu?"


Dokter Fadli menatap Yuna agak lama, kemudian ia terkekeh sebentar. "Hemm, kalau saya jadi dia. Saya akan memperlakukan bawahan saya dengan baik dan tak menegurnya didepan umum."


"Haha, semua atasan pasti memiliki sifat yang berbeda-beda dokter." ucap Yuna sambil tertawa.


"Benar apa kata kamu. Hemm, kamu belum makan kan? Jika belum, kita kekantin sekarang mumpung jam istirahat."


"Anda mengajak saya untuk makan bersama?" tanya Yuna.


"Yap! Saya mau mengajak kamu makan bersama."


"Maaf dok, tapi saya membawa bekal, jadi saya mungkin akan makan diruangan saya." jelas Yuna.


"Hemm, begitu ya? Kalau begitu, mending bawa saja bekal kamu itu. Gak enak loh... Makan sendiri diruangan, apalagi pas malem-malem."


Yuna kembali tertawa. "Astaga dok, anda mencoba menakut-nakuti saya? Kalau anda mencoba menakuti saya... Maka anda salah orang, karena saya tidak pernah takut dengan hal-hal yang seperti itu." jelas Yuna.

__ADS_1


"Oh! Benarkah? Disini rumah sakit dan pasti banyak yang meninggal disini. Kamu beneran gak takut?" tanya dokter itu lagi.


"Iya... Bener."


"Hemm, kalau begitu gak bisa makan bareng dong... Ayolah makan bersama saya... Dokter ini memohon padamu hem, hemm?" dokter itu mengantupkan kedua tangannya didepan, dengan raut wajah yang dibuat-buat memelas.


Yuna menghela nafas sejenak. "Yasudah kalau begitu, saya akan mengambil bekal saya sebentar." ucap Yuna yang pada akhirnya menyetujui ajakan itu.


"Yeyy gitu dong." kata dokter Fadli sambil tersenyum senang.


🍂🍂


Sampai dikanti rumah sakit besar itu, Yuna dan dokter Fadli tengah makan bersama disalah satu meja yang terletak dipojok, dekat jendela yang dapat melihat pemandangan diluar rumah sakit itu.


Yuna tersenyum menatap pemandangan diluar itu, Rasa lelahnya hilang seketika, ketika ia membuka bekal yang ia bawa itu.


Yuna menghirup masakannya dengan hikmat, ia kembali tersenyum. Pun, kemudian ia mengambil sendok makan dan menyuapi masakan yang ia buat itu masuk kedalam ronga mulutnya, Yuna mengunyahnya dengan rasa nikmat. Ia sungguh bangsa dengan apa yang ia masak sendiri itu, dan merasa puas ketika masakannya sungguh nikmat dilidahnya itu.


Sejenak Yuna terdiam ketika teringat, jika masakan yang ia buat khusus untuk Zeen itu tak dimakan oleh pria yang sudah bersetatus sebagai suaminya itu. Ia mendengar percakapan antara Zeen dan juga Laura itu, bahwa masakannya telah diberikan kepada orang lain dan Zeen tak memakannya sedikit pun.


"Loh? Kok diam aja?" ucap Fadli ketika berada tepat disamping Yuna.


Fadli hanya mengangukan kepalanya. "Hemm, sepertinya dilihat-lihat bekalmu kayaknya menggoda banget. Bolehkah saya mencicipinya sedikit saja?"


"Oh! Boleh-boleh, silahkan dicicipi. Dimakan pun boleh." ujar Yuna meledek.


"Dicicipi dan dimakan, bukanya sama ya?" tanya Fadli dengan polosnya.


"Hahaha, emang sama..." ujar Yuna tertawa.


"Yaampun kamu ini."


Fadli menyendok makanan yang dibawa oleh Yuna itu, kemudian ia memakannya.


"Hemm, enak banget. Ini masakan kamu sendiri?" tanyanya.


Yuna menjawab pertanyaan itu dengan mengangukan kepala.


"Wah... Hebat banget kamu ya... Saya jadi pengen makan terus nih..."

__ADS_1


"Silahkah saja dok. Jika memang suka." ujar Yuna.


"Nanti kalo saya makan semuanya, kamu gak jadi makan dong? Oh atau gini saja."


Yuna merasa bingung ketika bekalnya ditarik oleh dokter Fadli dan membawa nampan makanan yang masih utuh itu dihadapan Yuna.


"Loh? Ini kan sarapannya dokter. Kok dikasi disini?" tanya Yuna dibuat semakin bingung.


"Iya... Itu kamu makan aja, masi utuh kok belum saya sentuh. Jadi gak papa kamu makan aja..." jelas Fadli sambil tersenyum manis menatap Yuna.


"Hah? Ya jangan gitu dong dok, trus dokter nanti makan apa?" tanya Yuna merasa tak enak hati.


"Saya makan bekal kamu dong... Makanan kamu jauh lebih enak dari pada makanan mewah dikanti ini."


"Lah? Ini kan makanannya lebih lengkap dan kelihatannya lebih enak-"


"Udah... Kamu makan aja yang itu, aku makan yang ini aja. Boleh kan?" ucapnya sambil memakan masakan Yuna dengan nikmat.


"Sudah dimakan kok malah bertanya." ucap Yuna mengelengkan kepalanya merasa heran.


Fadli hanya bisa tertawa ketika mendengar ucapan Yuna, entah mengapa pria itu terus menebar senyum jika berada didekat Yuna, padahal dirinya baru beberapa jam mengenal sosok wanita yang ada disampingnya itu.


Kebetulan Albaret pemilik rumah sakit itu juga berada dikantin itu, alasannya untuk menyatap makanan bersama rekan-rekan kerjanya. Tak lupa Zeen juga ikut serta disana.


Saat Albaret ingin menuju kesalah satu meja dikantin itu, pandanganya tak sengaja melihat Yuna yang tengah makan bersama dengan dokter Fadli.


"Loh, Zeen? Itu kan Yuna?" ucap Albaret sambil menepuk bahu putranya.


Zeen mengalihkan pandanganya menatap sosok yang ditunjuk oleh papanya itu.


"Katamu Yuna sudah makan... Kamu ini main bohongi papa aja..." gerutu Albaret sambil menatap putranya dengan tatapan sinis.


Zeen mengaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya tadi memang sudah makan pah..."


"Alasan aja kamu, yasudah kalau begitu. Mending kita duduk bersama dengan Yuna saja, mumpung kursi disana kosong." ujar Albaret, tanpa mendengar jawaban dari putranya ia pun langsung melangkahkan kakinya menuju meja Yuna.


Zeen melongo dibuatnya, "Hahhh.... Kenapa harus disana sih?" gerutu Zeen, mau tak mau ia mengikuti papanya yang sudah lebih dulu berjalan mendahuluinya. Ia juga terpaksa, karena meja dikantin itu sudah tak tersisa lagi, yang kosong.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2