
Masih berada dilestoran, Yuna dan Zeen saat ini tengah fokus pada menu mereka masing-masing, tak ada percakapan diantara mereka setelah Zeen mengakhiri percakapan dengan jawaban yang sangat tajam membuat orang lain yang mendengar, pasti akan merasa tersinggung. Begitu pula dengan Yuna, ia pasti merasa tersinggung dengan ucapan itu.
Saat terjadinya keheningan itu, sesekali Zeen mencuri-curi pandangan pada Yuna, bahkan Yuna sendiri tak tau jika Zeen tengah melihati dirinya.
'Apa yang spesial dari gadis desa ini? Kenapa dokter seplantaranku sampai ingin terus menempel padanya? Padahal masih banyak wanita-wanita cantik dirumah sakit papa, bahkan sudah menjadi dokter seniornya pula.' gumamnya bertanya-tanya dalam hati, orang yang disebut seplantaran dengannya adalah dokter 'Fadli' dokter muda tampan yang tengah dekat dengan Yuna.
"Zeen...?"
Zeen seketika tersentak kala mendengar namanya disebut, buru-buru ia langsung mengalihkan pandangannya ketika Yuna tengah ingin melihat kearahnya.
"Ya, La-Laura?" gagapnya ketika ia melihat sosok wanita seksi itu berada tepat dihadapnya. Ternyata yang memanggil namanya itu adalah Laura, kekasihnya sendiri.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Zeen bingung, sedangkan Yuna hanya diam mengamati, ternyata sudah dua hari ia tak bertemu pandang dengan kekasih Zeen dan baru sekarang wanita itu muncul ketika ia dan Zeen tengah makan bersama.
"Kebetulan aku juga sedang makan malam disini, bersama teman-temanmu. Tuh, mereka disana." jawabannya, lalu menunjukkan arah dimana teman-teman wanitanya berada.
Zeen mengangguk paham. "Hemm, kebetulan sekali ya..."
Laura tiba-tiba menarik salah satu kursi yang berada tepat disamping Zeen. "Bolehkan aku makan disini?" tanyanya sambil menatap kekasihnya dengan wajahnya yang dibuat-buat imut.
Zeen terkekeh mendengarnya, "Tentu saja, silahkan pesan makanan yang kamu mau, nanti aku akan membayarnya." ucapnya dengan santai.
Mereka berdua seolah melupakan keberadaan Yuna.
"Yeyy, asyik banget ditraktir sama dokter ganteng..." Laura memeluk lengan kokoh Zeen dengan gestur manjanya.
__ADS_1
"Lucu banget sih..." Zeen tersenyum hangat memandang kekasihnya sambil mengelus rambut kepirangan milik Laura. Pergerakan tangannya tiba-tiba terhenti, ia baru teringat jika ada Yuna diantara mereka. Ia pun kembali menarik tangannya yang tengah mengelus rambut itu dan melirikan matanya kearah Yuna yang hanya bersikap acuh seolah tak ada apa-apa yang terjadi.
Zeen berdehem sejenak, dengan gestur kikunya ia kembali menyantap makanannya yang hampir habis. "Pesanlah makanan Laura,"
"Baiklah sayangku... Pelayan!" ia memanggil pelayan lestoran itu dengan suara agak kencang.
"Tolong pesan ini! Sama yang ini ya..." Laura salah satu menu dibuku itu.
"Baik nona, dimohon tunggu sebentar saya akan segera kembali membawa hidangannya."
Laura mengibas-ngibaskan tangannya, pertanda menyuruh pelayan itu untuk cepat pergi.
"Wah... Aku baru tau jika ada perawat Yuna disini? Maafkan saya Yuna... Jika saya tak sempat menyapa anda tadi." ucapnya beralasan, padahal sudah sejak tadi ia melihat keberadaan Yuna, tapi memang pada dasarnya ia tengah malas menyapa Yuna ketika mendatangi meja itu.
"Mungkin kebenaran saya tak terlalu penting dimata anda sehingga anda hanya melihat dokter Zeen saja," jawab Yuna dengan nada santainya.
Laura tersenyum semirk mendengar ucapan itu, 'Ucapanmu memang benar gadis bodoh.' gumamnya dalam hati.
"Ouh, ucapan anda kasar sekali, jangan menganggap anda tak penting disini. Karena anda merupakan asisten dari kekasih saya, tentu saja anda adalah orang yang sangat penting. Betulkan sayang?" jelas Laura, tak lupa tersenyum manis sambil memeluk lengan Zeen masih dengan gestur manjanya.
Zeen hanya mengangguk menanggapinya, tak tahu harus menjawab apa ucapan itu.
"Eh? Atau keberadaan saya disini mengganggu anda berdua ya?" tanya Laura dengan raut yang dibuat tak enak.
"Tentu ti-"
__ADS_1
"Tentu saja tidak nona Laura, anda kan kekasih dokter Zeen!" Yuna menyalip ucapan Zeen dengan cepat membuat Zeen langsung membungkam mulutnya.
"Ouh, terimakasih atas perhatiannya Yuna... Oh! Maaf jika sejak tadi saya memanggil anda dengan nama langsung dan tak ada embel-embel, maaf jika itu terkesan tak sopan." ujarnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tak apa-apa, panggilah saya dengan nama saja, jika memang itu membuat anda nyaman." jawab Yuna.
🍂🍂
"Akhirnya aku jadi makan ditraktir kamu deh... Padahal aku tadi lagi makan bareng sama teman-temanku." jelas Laura, ketika mereka bertiga sudah berada diparkiran karena makan malam mereka telah usai dan berniat untuk langsung pulang saat ini.
"Haha, i-ya." Zeen mengaruk tengkuknya yang tak gatal, ia kembali melirik Yuna dengan pandangan cangungg.
"Tolong antarkan aku sampai apartemen ya sayang.... Aku sekarang tak bawa mobil soalnya." ia kembali merangkul lengan Zeen dengan manja.
"Hem, yasudah setelah mengantarmu-"
"Kamu menginapkan kan? Malam ini? Kamu sudah lama loh tak menginap diapartemenku... Hem?" tanya Laura langsung memotong ucapan Zeen.
Serasa sudah tak tahan berada diantara mereka, Yuna pun segera mendekati Zeen dan berucap. "Kalau begitu saya akan pulang lebih dulu dokter Zeen! Selamat malam, dan sampai jumpa besok dirumah sakit." tanpa menunggu jawaban dari Zeen, Yuna pun langsung bergegas pergi dari sana. Membuat Zeen yang ingin mencegah Yuna terlambat karena ia kalah cepat dengan Yuna yang sudah meninggalkan mereka dengan taksi yang ia tumpanggi.
"Ayo sayang kita juga pulang..." ajak Laura dengan nada merengek.
Zeen menghela nafas pasrah, "Baiklah..."
TBC.
__ADS_1