Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 93


__ADS_3

...—☘️Selamat Membaca☘️—...


...***...


“Baiklah, karena kalian datang terlambat menjengukku, maka kalian harus mendapatkan hukuman!” jelas Rima sambil melipat kedua tangannya didada.


“Hukuman? Hukuman apa nek? Kayak anak kecil aja dikasi hukuman segala ....” gerutu Zeen sedikit kesal. Ia saat ini sudah duduk dikursi sofa tak dan lupa tangannya yang menganggur itu, ia sampirkan dipingang Yuna dengan erat. Yang menandakan jika gadis itu miliknya tak ada yang boleh menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya. Dan itu sudah mutlak.


“Iya lah! Kalian itu pantas mendapatkan hukuman!” kata Rima sambil mengangkat dagunya, dengan angkuh.


“Tapi nek–”


“Sudahlah Zeen ... itung-itung buat nyenengin nenekmu ....” ucap Vina menyela.


“Tapi mah ....” rengek Zeen, sedangkan Yuna yang melihat raut wajah dari suaminya itu hanya bisa terkikik geli.


“Apanya yang tapi ha? Minta dijewer?” tukaa Vina, dengan memasang wajah galaknya tak lupa dengan kedua tangan yang berrendeng dipingangnya.


Zeen meringis melihat itu, “Engak jadi deh ....” cicit Zeen mengalah.


“Kalo ngerengkek lagi! Siap-siap telingamu jadi bundar!” acam Vina mengebu-gebu.


Zeen tak menjawab, ia malah bersembunyi dibalik tubuh Yuna. “Selamatkan aku istriku ....” gumam Zeen memeluk erat tubuhnya dari belakang.


Vina mengeleng sambil mendengus, “Dasar kayak anak kecil! Mentang-mentang udah baikan ama istrinya, mintanya manja-manja terus ....” gerutu Vina lagi.

__ADS_1


“Biarin Zeen dong ... istri, istri Zeen, Zeen berhak melakukan apa aja ama istri Zeen.” Cicit Zeen. Namun terkesan mengejek.


“Yaampun anak ini sama mamanya kok begitu ....” Vina yang ingin menjewer Zeen, namun ia urungkan kala suara Rima menghentikan pergerakannya.


“Sudah, sudah! Kalian ini malah ribut. Aku disini belum selesai bicara, malah disela.” Rima mengerutu.


“Iya Mah, maaf, silahkan dilanjutkan.” Timpal Vina.


Rima mengeleng sejenak, lalu beralih menatap Zeen dan Yuna.


“Kalian berdua, dengarkan baik-baik hukuman yang aku berikan pada kalian!” intruksinya.


“Iya nek, ayok bilang, Zeen masih setia menunggu.” Ucap Zeen bercanda.


Rima menatap sinis Zeen, lalu ia lebih memilih melihat kearah Yuna, “Hukuman kalian ... Buatan aku cucu yang banyak!” ucapnya dengan santai sambil menyadarkan tubuhnya dibadan kamar itu.


“Hah? Cucu?” beo Yuna yang masih belum hilang rasa terkejutnya.


“Ya, aku memberi hukuman pada kalian. Agar memberiku cucu, dalam waktu ini. Memang jika pernikahan kalian masih satu bulan. Tapi umur kalian itu sudah sangat diwajibkan untuk memiliki anak.” Jelasnya dengan mata yang penuh harap.


“Dan aku sungguh sangat menantikannya, mengendong cicit kembali setelah sekian lamanya ....” lanjutnya dengan penuh binaran pada matanya.


Yuna yang mendengar penuturan Rima itu sungguh dibuat sedikit tertekan, bagaimana mungkin tak tertekan? Jika dirinya baru saja memulai kehidupan pernikahannya kembali. Bagaimana mungkin ia mengabulkan permintaan itu jika didalam dirinya saja masih ragu akan Zeen dan perubahannya itu, ia masih butuh waktu sedikit saja lagi untuk mempercayai Zeen dan memberikan seluruh dirinya pada lelaki itu. Termasuk memberikan mahkotanya yang selama ini ia jaga.


Yuna yang terdiam itu, mengalihkan pandangannya pada Zeen yang berada tepat disampingnya. Ia ingin mendengar pendapat Zeen akan hal itu, namun saat ia melihat wajah lelaki itu. Tiba-tiba hatinya terenyuh ketika melihat wajah penuh binaan dan juga wajah yang sangat menginginkan.

__ADS_1


Ternyata pria itu juga tengah menginginkan hal yang sama seperti neneknya.


Yuna yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang.


“Bagaimana? Apa kalian setuju?” tanya Rima, “Jika kalian tak setuju pun. Aku akan tetap memaksa kalian untuk membuatkanku cucu.” lanjutnya.


“Aku setuju!” jawab Zeen langsung dengan penuh semangat.


Yuna yang mendengar itu tentu saja terkejut, apalagi posisinya yang berada tepat disamping Zeen membuatnya agak berjingkrat, karena Zeen berteriak begitu saja membuat telinga Yuna sedikit pegang.


“Ya gak usah teriak juga kamunya ... lihat istri kamu, kaget gara-gara kau berteriak kayak gita,” ucap Rima menggeleng.


“Eh?” Zeen tersadar, ia pun langsung membawa Yuna kedalam pelukannya. “Maaf ya sayang ... aku gak refleks tadi ....” ucapnya merasa bersalah.


'Sayang?' gumamnya dalam hati.


“Memang benar-benar kamu ya Zeen ....” timpal Vina menggeleng.


Zeen mengaruk kepalanya yang tak gatal, “Hahaha, maaf ....” cicitnya.


“Jadi, sudah setuju ya? Jika memang begitu, besok kalian akan langsung terbang ke Bali.” Jelas Rima santai.


“Hah? Besok? Tapi kita belum siap-siap nek ... lagian Zeen juga belum izin cuti ....”


“Tak usah memikirkan itu! Yang perlu kau pikirkan hanya fokus pada pembuatan cucuku nanti,” jelas Rima lagi, berada santai.

__ADS_1


Entah kenapa, Yuna yang mendengar kata 'Pembutan' merasa malu sendiri. Kesannya seperti membuat adonan roti.


TBC.


__ADS_2