
Pada akhirnya Zeen ikut bersama Yuna dan Fadli duduk bersama dalam satu meja, namun masih ada kursi kosong yang tersisa disana, tapi entah mengapa orang yang melihat kursi kosong itu tak mau mendudukinya. Mungkin mereka tak ingin duduk berhadapan dengan anak pemilik rumah sakit itu, atau bisa jadi mereka takut kepada Zeen yang terus memperlihatkan wajah datar yang menahan kesal terksena menyeramkan bagi orang yang melihatnya.
"Wah! Yun, bekal kamu kayaknya banyak sekali. Terlihat dari rantang yang kamu bawa, biasanya kamu membawa kota bekal berukuran agak kecil. Tapi ini berbeda?" Fadli tampak mengamati rantang berwarna biru milik Yuna.
Yuna terkekeh mendengarnya, "Anda benar dok, saya memang agak membawa banyak makanan dirantang saya." ujar Yuna sambil membuka rantangnya yang terpisah dua bagian, yang atas diisi dengan nasi sedangkan yang bawah lauk pauknya.
"Wah... Baunya saja enak banget, ini kamu yang buat Yun?" tanya Fadli lagi, dengan liur yang hampir menetes.
Sedangkan Zeen yang masih belum menyentuh makannya itu memutar bola matanya jengah, ia sungguh terganggu dengan dua insan yang ada didepannya.
"Haha, sebenarnya saya tadi tak sempat masak dokter. Ini masakan bibi dirumah, bibi yang menyiapkan rantang ini, saya bahkan baru tau jika isinya banyak seperti ini." katanya sambil mengelengkan kepala.
"Ohhh kirain masakan kamu, hemm, bisakah saya mencicipi makanya Yun?" tanya Fadli dengan raut sedikit memohon.
"Oh! Boleh tentu sa-"
Ucapan Yuna terhenti kala melihat rantang yang ia bawa ditarik begitu saja oleh pria berjas putis didepannya, siapa lagi kalau bukan Zeen?
"Dokter Zeen?" Yuna tampak bingung.
"Bibi tadi berpesan, katanya bekal ini buat saya." ucapnya berbohong, padahal bi Mina tak pernah berpesan seperti itu padanya.
"Hah? Betulkah?" tanya Yuna mengangkat satu alisnya, namun mata Yuna langsung dibuat melongo ketika melihat Zeen langsung melahap nasi dan lauk dirancang itu.
Yuna pun menggigit bibirnya, lalu melirik Fadli yang tengah menatap Zeen dengan tatapan datar. Ia merasa tak enak hati dengan dokter tampan itu.
"Maaf ya dokter Fadli..." ucapnya bersuara lirih.
Fadli kembali mengalihkan pandangannya pada Yuna, ia lalu mengeleng dan tersenyum. "Tak apa-apa kok.... Yasudah, kamu makan aja punya saya nih! Saya akan memesan makanan la-"
"Tak perlu memesan lagi dokter Fadli, biar Yuna memakan makanan punya saya, kebetulan saya belum menyetuhnya, jadi masih utuh. Tak mungkin kan saya membuang makanan ini?"
Zeen memberikan nampan berisikan makanan yang ia pesan itu kepada Yuna, ia pun kembali menyedok masakan yang ada dirantang itu dengan hikmat.
Fadli yang tadi sempat berdiri, kini kembali lagi duduk sambil menatap Zeen dengan tatapan yang sulit diartikan.
Yuna terbengong-bengong melihat tingkah Zeen yang menurutnya sangat aneh, dirinya mengaruk kepalanya yang tak gatal merasa cangungg melanda dirinya. Ia pun mengedikan kedua bahunya dan lebih memilih fokus pada makanannya, ia tak ingin memikirkan hal-hal aneh dan membuat dirinya membuang waktu istirahatnya.
__ADS_1
"Apakah dokter Zeen dan Yuna ada suatu hubungan? Kalian berdua seperti terlihat sudah saling mengenal dekat?"
"Uhuk!"
Yuna tiba-tiba terbatuk, nasi yang ia makan tiba-tiba menyangkut ditengorokan.
"Ini Yuna! Minumlah!" Fadli menyodrkan segelas air putih pada Yuna, kebetulan Zeen yang juga ingin memberikan gelas airnya tak jadi karena ia kalah cepat oleh Fadli yang berada disamping Yuna.
Yuna menerima gelas air putih itu lalu meminumnya dengan sekali tegukan.
"Kamu tak apa-apa Yun? Pelan-pelan saja makannya agar kamu tak keselak." ucap Fadli, tak lupa menenangkan Yuna dengan cara mengelus punggung gadis itu.
Zeen yang melihatnya diam-diam mengeram tertahan, urat pada lehernya pun hampir terlihat.
"Ehem, tak apa-apa dokter, saya baik-baik saja sekarang. Terimakasih dan maaf air minum anda tak sengaja saya habiskan," Yuna kembali meletakkan gelas itu pada meja, lalu mengelap bibirnya dengan tisyu.
"Tak apa-apa Yuna.... Asal kamu baik-baik saja, air minum segalon pun saya rela berikan padamu." ucapnya, yang masih mengelus punggung Yuna dengan halus.
Yuna langsung menatap dokter tampan itu dengan pandangan terkejut. Yang dipandang itu malah tersenyum padanya.
Sendok yang ia genggam tiba-tiba ia jatuhkan dengan sengaja. Tingg!
Bunyi yang agak nyaring itu, membuat kedua insan yang ada didepannya langsung menengok kearah Zeen. Zeen tersenyum miring melihatnya.
"Upss, sendokku jatuh." ucapnya, lalalu mengambil sendok itu kembali.
"Mari lanjutkan makannya." ucap Zeen dengan nada coolnya.
"Tunggu sebentar dokter Zeen!"
Zeen mengangkat satu alisnya ketika Yuna menghentikan pergerakannya yang ingin memakan makanannya. Ia pun bingung ketika melihat Yuna bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pantry.
"Ini! Ganti sendoknya dokter, tidak baik makan dengan sendok yang sudah terjatuh." Yuna mengambil sendok itu dari penjual makanan dikantin itu.
"Oh! Baiklah terimakasih Yuna..." ucap Zeen sambil melirikan matanya kearah Fadli yang hanya terdiam saja.
Yuna mengangguk menangapinya, "Baiklah, kita lanjutkan makannya, sebentar lagi jam istirahat akan usai."
__ADS_1
"Ya... Kamu benar." jawab Zeen, lalu terkekeh pelan, merasa senang ketika melihat keterdiaman Fadli.
🍂🍂
Kini Yuna baru saja keluar dari ruangannya, hari pun sudah malam dan jam kerja pun telah usai. Karena sudah tak ada urusan, dia pun berniat langsung pulang kerumah.
"Yuna...."
Mendengar namanya disebut, ia pun membalikkan tubuhnya dan melihat sosok lelaki berbadan tegap dan wajah tampan yang sangat mendominasi, tengah berlari kecil kearahnya.
"Iya dokter Fadli?"
"Kamu mau pulang kan? Kalau begitu biarkan saya mengantarmu pulang." ucap Fadli dengan senyum yang terus terbit dibibir tipisnya, dan semakin manis ketika lensung pipi itu terlihat.
"Maaf menyelam, tapi Yuna akan pulang bersama saya. Karena ada urusan yang ingin saya bicarakan pada Yuna."
Tiba-tiba Zeen muncul dari belakang Yuna.
Fadli langsung menatap Zeen dengan tatapan menyelidik, "Benarkah?" ia kembali lagi menatap Yuna.
Yuna tak menjawab, ia hanya bingung karena Zeen tak pernah bilang padanya jika ada yang ingin dia bicarakan. Ia pun melirikan matanya pada Zeen yang ada disampingnya, namun yang dilirik itu malah memberikan kode alisnya yang diangkat-angkat, pertanda jika ia yang harus menjawab pertanyaan dokter Fadli.
Yuna pun menghela nafasnya pasrah, "Maafkan saya dokter Fadli, sepertinya lagi-lagi saya harus menolak ajakan anda." ucap Yuna dengan raut wajah tak enak hati.
Terlihat raut kekecewaan dari Fadli, namun ia berusaha menutupinya dengan senyuman. "Hemm, baiklah. Sepertinya lain kali saja kita pulang bersama."
"Terimakasih, kalau begitu kami permisi dulu."
"Mari dokter Fadli." Zeen memberi salam yang ditanggapi anggukan kepala oleh Fadli. Kemudian Yuna dan Zeen berjalan bersama meninggalkan Fadli yang masih terdiam ditempatnya.
Diam-diam Zeen kembali tersenyum kecil sambil melirik Fadli yang ada dibelakangnya.
"Ada apa dengan dokter Zeen? Mengapa dia aneh sekali? Apa mereka berdua mempunyai hubungan? Tapi yang aku tau... Dokter Zeen memiliki kekasih.." Fadli tampak bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
TBC.
Jangan lupa komen ya gaes, biar othor semangat ngetiknya🐯
__ADS_1