
...***...
“Hari ini kita mau jalan-jalan kemana sayang?” tanya Zeen ketika mereka berdua tengah bersantai dikursi sofa dan tengah menikmati sarapan pagi mereka berdua.
Yuna yang mendengar kata 'Sayang' dari Zeen itu hanya bisa terdiam, ia masih belum terbiasa dengan panggilan itu. Mungkin karena ia pernah mendengar perkataan Zeen yang pernah memanggil nya dengan sebutan 'Gadis desa' dan hal itu hampir sering ia mendengar panggilan itu, sehingga membuat dirinya menjadi terbiasa dan malah merasa asing dengan panggilan baru itu.
“Sayang? Kok diam?” tanya Zeen mengerutkan alisnya.
Yuna menggeleng sambil tersenyum, “Hemm, terserah mas aja. Aku akan ikut ke manapun mas pergi,” ujarnya.
Tiba-tiba Zeen memeluk Yuna dari samping, “Astaga ... aku terharu sekali ....”
“Tapi untuk hari ini, aku mau mendengar permintaanmu saja. Aku ingin buat kamu seneng selama disini, jadi ... kamu bisa tentukan mau pergi kemana hari ini.”
“Tapi mas ....”
“Sst ... gak ada tapi-tapi,” sela Zeen.
“Hemm ....” Yuna tampak berfikir sejenak. “Ada sih yang pingin aku kunjungi disini ....”
“Hem, apa itu?” Zeen berucap sambil mengendusi leher jenjang milik Yuna, ia terus mengendus aroma itu sehingga membuat Yuna agak kegelian.
“Hem, tapi untuk itu, aku bingung. Apa aku masih harus terus memakai baju ini? Bajunya belum aku cuci loh dari kemarin.” Ujar Yuna sambil melihat dres yang ia kenakan.
Zeen tampak berfikir, “Kamu memakai apapun, tetap cocok padamu Yuna ... biarpun itu belum dicuci selama beeminggu-minggu.” Jelas Zeen dengan nada menggoda.
Yuna menggeleng, “Mas bisa aja.” kekehnya.
“Yah ... kalau kamu memang merasa risih, nanti kita mampir ditokoh baju. Tapi untuk itu, kita pergi ketempat yang kamu mau dulu. Aku penasaran tempat apa itu?”
Yuna kembali tersenyum, “Nanti juga mas tahu sendiri.” Yuna bangkit dari duduknya dan meninggalkan Zeen begitu saja sendirian.
Zeen terkekeh pelan, “Dasar gadis itu ....”
🍂🍂
“Oh, jadi ini tempat yang mau kamu kunjungi?” tanya Zeen ketika mereka berdua telah sampai pada tempat tujuan yang Yuna inginkan.
Yuna mengangguk antusias, sambil menyelipkan rambutnya yang terus bertebrangan akibat hembusan angin yang cukup kencang.
__ADS_1
“Iya mas, dari dulu aku pengen kesini.”
“Oh ya?” Zeen mengamati Yuna yang terus memancarkan senyum.
“Ya ... disini tempatnya adem, rame pula.” celetuk Yuna.
'Sebenarnya aku tak suka keramaian dipantai ... tapi melihat dia yang terus tersenyum seperti ini, membuatku ingin terus membawanya diberbagai pantai manapun agar senyuman itu tak memudar dari bibir cantiknya itu,' gumam Zeen dalam hati.
“Yasudah, kamu sekarang mau kemana lagi? Kita sedari tadi hanya berdiri disini saja loh,” ujar Zeen.
“Hem, kita kesana aja mas!” kata Yuna sambil menunjukkan arah, dimana ada sebuah payung besar yang digunakan untuk berteduh dibawah sinar matahari. Beserta menikmati air pantai yang sangat sejuk dipandang.
Zeen mengangguk, “Oke kalau begitu, dimana pun tuan putri pergi. Maka hamba akan selalu menemani tuan putri ....” Jawab Zeen ngasal, yang malah mengundang gelak tawa bagi dirinya sendiri. Tapi tidak dengan Yuna yang hanya menggeleng saja melihat tingkah Zeen.
“Yuk mas!” ajak Yuna yang langsung berlalu lebih dulu, meninggalkan Zeen yang masih cekikikan.
“Eh! Tungguin mas!” terikat Zeen menyusul Yuna.
🍂🍂
“Nih, es kepala!” Zeen yang baru saja singgah dipenjual kelapa itu kembali menghampiri Yuna, yang tengah berbaring dikursi panjang khusus untuk bersantai.
Zeen terkekeh, “Yah ... memang semua itu benar,”
“Permisi ...!”
Sebuah suara membuat mereka berdua menoleh kesamping secara bersamaan.
“Maaf kak mengganggu waktunya,” dua wanita berpakaian bikini tengah berada disamping Zeen dan tengah menatap pria itu dengan tatap kagum.
“Ada apa ya?” tanya Zeen binggug.
“Kyaa ... suaranya seksi banget ....”
Pekik salah satu wanita disana, yang tengah berbisik pada temannya.
Zeen menghela nafas panjang ketika mendengar bisikan itu, inilah yang tak disukai Zeen, selalu saja ada wanita aneh yang mengganggu ketenangannya.
“Kak, boleh minta nomernya gak?” tanya salah satu wanita disana.
__ADS_1
“Maaf, saya sudah punya istri!” Zeen tanpa basa-basi lagi, langsung merangkul pundak Yuna. Guna untuk menunjukan pada dua wanita itu, siapa istri dari Zeen Albaret.
Dua wanita itu saling memandang satu sama lain. Dan melihat Zeen dengan perasaan malu.
“Oh! Kirain masih single, soalnya kakak ganteng banget sih, yasudah kalau begitu kami pergi dulu ya kak ....”
Zeen acuh saja, ia tak memperdulikan dua wanita itu dan memilih memandang pantai yang ada didepannya.
“Ditunggu dudanya ya kakk ...!!” pekik mereka saat sudah jauh dari jangkauan Zeen.
“Astaga mereka?” Zeen emosi mendengar teriakan itu, ia lalu mengalihkan pandangannya pada Yuna yang ada disampingnya.
“Sayang ... gak usah diperdulikan ucapan mereka, aku memang tampan sehingga membuat mereka terpincut padaku! Tapi semua ketampananku ini hanya kuberi kan untukmu! Dan tak akan ada orang lain yang bisa memilikinya.” Jelas Zeen dengan tegas.
“Semua ketampanan?” Yuna tampak bingung.
“Ya! Semua yang ada pada tubuhku! Organku! Semuanya sangat tampan.” Ucap Zeen dengan penuh percaya diri.
Hal itu membuat Yuna menyemburkan tawanya, ia tak menyangka jika sifat narsis lelaki ini sudah mendarah daging. Sehingga membuat lelaki yang ada disampingnya itu terus memancarkan kepercayaan dirinya itu.
“Jangan terlalu narsis mas, terlalu narsis tak baik untuk kesehatan.” Ucap Yuna bercanda.
“Hah? Emang bisa begitu ya?” tampak Zeen menyatukan alisnya, “Dalam ilmu kedokteran, tak ada hal yang seperti itu. Itu bukanlah sebuah penyakit, melainkan memang sifat dari manusia yang sudah ada sejak mereka lahir.” Jelas Zeen dengan segala kepintarannya.
“Hem? Benarkah?” goda Yuna sambil cekikikan.
“Iya dong ... kamu gak percaya sama aku?” Zeen bertanya sambil melipat kedua tangannya didada.
“Aku percaya kok! Buktinya ada disamping aku.” Yuna menatap Zeen.
“Emang siapa orangnya?” tampak Zeen celingak-celinguk mencari seseorang yang diucapkan oleh Yuna.
Yuna menepuk keningnya seketika, “Orangnya tuh ada disini, yang sedang celinguk-celingukan.”
Zeen menghentikan pergerakannya dan menatap Yuna dengan mata yang menyipit, “Kamu ....”
Sejurus kemudian, Yuna langsung tertawa kencang saat Zeen dengan teganya mengelitiki perut Yuna tanpa henti.
TBC.
__ADS_1
Maap ya, agak monoton chapter ini😄