
Sudah beberapa menit dalam perjalanan, namun didalam mobil itu tampak hening hanya suara deru mobil yang mengisi keheningan itu dan suara radio yang menyala.
Yuna tampak melirikan matanya kearah Zeen, ia pun mulai membuka suaranya. "Katanya anda ingin mengatakan sesuatu yang penting? Hal penting apakah itu?" tanya Yuna langsung pada intinya, karena sudah dilanda penasaran.
Zeen tertegun, ia pun juga melirikan matanya kearah Yuna yang tengah menatap dirinya. 'Kukira dia bakalan lupa, ternyata masih ingat.' gumamnya dalam hati.
"Ehem, besok saya ada operasi, jadi.... Besok kita akan berangkat pagi. Siapkan dirimu, karena jadwal operasi akan memakan waktu yang lama dan mungkin kita akan melewatkan waktu istirahat kita." jelasnya beralasan, namun alasan itu tak sepenuhnya bohong. Karena memang dirinya besok akan dijadwalkan pemeriksaan pada pasien yang mengalami usus buntu. Namun pasien itu sudah dioperasi oleh dokter lain bukan dirinya. Jadi, ia setengah berbohong dan setelah jujur.
Yuna yang mendengar penjelasan itu menganggukan kepalanya, "Ohh.. Begitu, baiklah saya akan bangun pagi-pagi besok." ucapnya, lalu kembali mengalihkan pandangannya kedepan, menatap ramainya jalanan.
Zeen yang mendengar jawaban dari Yuna itu, seketika menghela nafas lega. "Akhirnya dia tak bertanya lagi..." gumamnya.
"Ya? Apa anda bilang sesuatu?" Yuna kembali melihat Zeen.
"Eh? Tidak... Aku tak bilang sesuatu tuh." sangkalnya dengan wajah sedikit panik.
"Ohh... Saya kira anda bilang sesuatu tadi, mungkin saya yang salah dengar."
"Ya... Bisa jadi," jawab Zeen, kembali bernafas lega.
*Kruuukkk*...
Zeen sedikit terperanjat ketika mendengar suara aneh yang entah berasal dari mana. "Suara apa itu?" tanya Zeen pada Yuna, dan tepat pada saat itu lampu mereh disamping jalan raya itu menyala.
Zeen masih menatap Yuna yang hanya terdiam.
"Sepertinya cacing saya tengah kelaparan dokter..." cicit Yuna dengan suara lirih, namun masih didengar oleh Zeen. Yuna pun melirik Zeen yang hanya terbengong melihatnya, ia pun kembali mengalihkan pandangannya dengan menundukkan kepala, ia merasa malu saat ini.
Zeen menggigit bibir bawahnya seketika, ia mencoba menahan tawanya. Ia merasa lucu ketika melihat Yuna yang malu-malu kucing itu.
"Baiklah, lebih baik kita mampir dulu disebuah lestoran. Kita isi dulu perut kita." ujar Zeen.
Yuna yang tadi menundukkan kepalanya, langsung mengalihkan pandangannya kembali menatap Zeen. "Sebaiknya tidak perlu dokter, lebih baik kita langsung pulang saja. Dan makan saja dirumah." tolak Yuna secara halus.
Zeen tak langsung menjawab ucapan itu, ia kembali menghidupkan mobilnya dan menjalankannya, karena warna lampu lalu lintas itu berganti kewarna hijau.
"Tapi aku ingin pergi dulu kelestoran, karena aku juga tengah kelapar saat ini." jawab Zeen tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ohhh, begitu, kalau memang begitu yasudah terserah anda." ucap Yuna lirih, dan kembali merasa malu karena ia kira Zeen mengajaknya kelestoran hanya karena dirinya yang tengah kelaparan, namun ternyata batinnya itu salah dan membuat rasa kepercayaan dirinya itu menciut seketika.
"Kenapa? Apa kamu mengira saya mengajak kelestoran hanya karena dirimu?"
__ADS_1
"Eh?" Yuna terkejut, ucapan Zeen itu tak salah. Pria yang ada disampingnya itu seperti bisa membaca isi pikirannya.
"Hahaha, jangan salah. Saya mengajak kamu kelestoran karena saya juga merasa lapar, dan tak ingin menunda waktu makan saya." ucap Zeen, dan tiba-tiba mobil yang ia kendarai langsung ia hentikan. "Turunlah, kita sudah sampai." katanya, tak lupa melepas sabuk pengamannya.
"Hah? S-sudah sampai?" gagap Yuna.
"Iya, aku memilih lestoran tak jauh dari rumah." jawab Zeen, langsung turun dari mobilnya. "Kau mau melamun disitu saja? Atau mau ikut masuk kedalam bersamaku?"
Suara Zeen langsung menyadarkan Yuna dari lamunnya. "Ah, iya baiklah." Yuna pun juga turun dari mobil milik Zeen.
"Yasudah, kita masuk sekarang." ajaknya.
"Iya..."
Keduanya langsung masuk kedalam lestoran itu. Dan langsung mendudukan diri pada salah satu meja didalam lestoran.
"Mbak!" Zeen memanggil pelayan lestoran itu.
"Ya tuan!" pelayan bersetelan baju hitam berdasi kupu-kupu itu menghampiri Zeen.
"Berikan buku menunya."
Yuna yang duduknya tepat berhadapan dengan Zeen itu tengah memfokuskan dirinya pada interior mewah lestoran itu, dirinya berdecak kagum melihat isi perabotan disana. Ia seperti orang kampungan yang tak pernah masuk diruangan serba mewah, karena memang pada dasarnya ia baru pertama kali datang kesebuah lestoran, dan hanya bisa datang kewarung makan sederhana ketika ia masih berada didesa.
"Wah.... Ini toh yang namanya lestoran?" decaknya.
"Yuna!" tiba-tiba Zeen memanggilnya, dan tentu membuat ia terkejut.
"Eh? Iya?" beonya.
"Nih, pesanlah." ucap Zeen menyerahkan buku menu itu pada Yuna.
Yuna menerimanya, lalu perlahan membuka buku menu itu. Sampai lima menit terlewat ia terus membalik-balikan isi buku itu, dan masih belum memutuskan makanan apa yang akan ia pesan.
Zeen mendesah panjang, "Kau akan sampai kapan memilih makanan? Apakah sesudah itu memilihnya?" tanya Zeen dengan intonasi kesal.
Yuna mengaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sebenarnya saya merasa bingung dokter.... Saya tak tau jenis makanan apa disini." cicitnya malu-malu.
"Yaampun!" Zeen menepuk jidatnya seketika. "Kenapa tak bilang dari tadi? Kau membuat pelayan lestoran ini menunggu..." lanjutnya sedikit mengeram.
Yuna menengok kesamping. "Maaf mbaknya...." Yuna melihat pelayan itu dengan perasan bersalah.
__ADS_1
Pelayan itu tertawa, "Haha, tidak apa-apa nona."
"Baiklah, bawakan menu yang sama sepertiku." putus Zeen pada pelayan itu.
"Baik tuan! Mohon tunggu sebentar." jawab pelayan perempuan itu, dan berlalu meninggalkan meja.
"Lain kali jika tak tau, bertanyalah." tegur Zeen.
"Iya dokter..." jawab Yuna merasa malu.
Beberapa menit mereka menunggu dan akhirnya pesanan yang mereka pesan, tepatnya Zeen yang memsankan, akhirnya datang dan menyediakan makanan itu dimeja dengan tatanan yang rapi.
"Selamat menikmati, tuan dan nona." setelah mengantar pesanan itu, pelayan itu kembali meninggalkan meja menyisakan Zeen dan Yuna kembali berdua.
Yuna terdiam menatapi makanan yang ada didepannya.
"Ayo makan jangan dipelototin aja." ucap Zeen ketus.
"Iya.." Yuna mengangguk menjawab ucapan itu.
*Tang! Tang! Tang*!
Belum sempat Zeen menyuapkan makanannya. Ia kembali menatap Yuna dengan tatapan malas.
"Kenapa lagi?" tanyanya dengan dengan raut datar.
"Eh?" Yuna terkejut, lalu meringis seketika. "Saya tak tau cara memotong daging tebal itu." ucapnya dengan jujur.
"Hahhh, sinih. Lihatlah cara memotongnya, agar kau tak kampungan lagi.." Zeen mengambil piring Yuna dan membawanya kehadapannya.
Yuna menatap Zeen dengan tatapan serius, ia lalu menggangguk-anggukan kepalanya.
"Pahamkan?" Zeen kembali menyerahkan piring itu pada Yuna setelah ia memotong daging itu dengan rapi.
"Paham dokter! Terimakasih sudah mau mengajarkan saya."
"Baguslah jika kau sudah paham, setelah ini cobalah untuk belajar hal-hal yang belum kau pahami. Agar nanti tak merepotkanku lagi, jika saat kau bersamaku."
Yuna tak menjawab ucapan itu, ia merasa sedikit tersinggung dengan apa yang diucapkan Zeen.
'Apa aku terlalu kasar mengatakannya?' gumamnya melirikkan matanya pada Yuna, kemudian ia mengedikan kedua bahunya acuh, seakan tak perduli dengan itu.
__ADS_1
**TBC**.