Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 141


__ADS_3

...***...


Yuna menatap tajam suaminya yang ada disampingnya itu, bisa-bisanya suaminya itu berbohong tentang kondisinya padahal dirinya saja masih sangat sehat dan kuat. Hal itu membuat Yuna tahu jika suaminya itu tengah merencanakan sesuatu.


“Mas apa yang mas katakan?” ucap Yuna kemudian menarik-narik lengan baju suaminya.


Zeen menangkap tangan mungil Yuna, lalu membawanya kedalam gengamannya. “Sudah sayang ... aku tak perlu merasa tak enak, biar mas yang urus ini.” Ujar Zeen sambil mengerlingkan matanya didepan Yuna.


“Apanya yang merasa tak enak?” bingung Yuna yang hanya ditanggapi senyuman oleh sang suami.


“Beneran Yuna lagi sakit? Kalau memang sakit kita bawa kerumah sakit aja Zeen, atau–”


Zeen lantas langsung memegangi kedua bahu Mamanya yang saat ini tengah kalut dan khawatir.


“Tenang Mah ... Yuna gak sakit parah kok, hanya kecapean saja, lagian kan masih ada Zeen yang bisa memeriksa kondisi Yuna? Mama gak ingat kalau aku ini juga seorang dokter?” jelas sambil tersenyum manis didepannya Mamanya, padahal saat ini ia tengah membuat alasan.


“Mas Zeen ....” Yuna begitu kesal saat suaminya berbohong tentang kondisinya, bagaimana tak kesal jika pria itu membawa-bawa dirinya didalam rencananya itu, padahal dirinya saja tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Zeen.


“Ssstt sayang ... jangan banyak gerak ya sayang, hem? Nanti baby kita semakin kelelahan ....” sela Zeen sambil berpura-pura mengusap perut Yuna yang masih sangat datar itu.


'Astaga pria satu ini?!' batin Yuna dibuat melongo melihat akting suaminya yang sangat natural cocok dijadikan bintang pilem disetasiun ditv.


Vina yang mendengar kata 'Baby' semakin merasa khawatir. “Ya sudah Zeen, bawa istrimu kedalam, biar acaranya yang Mama handel. Mama khawatir jika Yuna berlama-lama disini akan mengakibatkan pada bayi yang ada didalam perutnya juga. Mama gak mau sampai cicit Mama kenapa-napa.” Vina menatap menantunya dengan raut sendu lantas langsung mengelus rambut Yuna dengan perasaan sayang.


“Oke Mah, kalau begitu Zeen dan Yuna balik dulu kedalam.” Setelah mengucapkan itu Zeen langsung menarik pingang Yuna dengan sangat erat.


“Yasudah kalian masuk sekarang, ingat ya Zeen! Jaga mantu Mama baik-baik!” timpal Vina dengan suara tegas.


Zeen memberikan hormat bendera pada Mamanya, “Siap nyonya. Ayo sayang kita masuk sekarang,” ajak Zeen pada Yuna dengan senyum merekah terus terbit dibibir tipisnya itu.


“Ta-tapi mas ...? Mama?” Yuna menoleh kebelakang saat Zeen sudah mengiringnya berjalan menjauh dari sosok mertuanya.


Vina memberikan lambaian tangan dan senyuman pada menantunya. “Gak papa Yuna ... kamu ikut saja suamimu, jangan khawatir tentang acaranya.” Ucap Vina sedikit mengeraskan suaranya.

__ADS_1


“Istirahat yang banyak! Jaga cicit Mama baik-baik ya?!” lanjutnya lagi berteriak.


Nampak Zeen tersenyum tipis saat rencananya berjalan begitu lancar. Karena sejak acara awal dimulai dirinya sudah dibuat gerah, yang disebabkan oleh sang istri yang begitu cantik nan ****. Membuat dirinya ingin sekali membubarkan acara malam ini jika saja ia tak ingat tentang martabat keluarga besarnya.


Namun senyum tipis itu seketika luntur kala merasakan nyeri yang menyengat dipingangnya membuatnya langsung mengaduh kesakitan.


“Aw, aw, sayang ... kenapa aku dicubit sih?” gerutu Zeen sambil mengusap-usap pingangnya yang terasa panas.


“Ini buat mas yang udah bohongin Mama padahal aku tak merasa sakit apapun.” Gerutu Yuna mencebik kesal.


“Eyy~ nona manis ini ngambek ya?” Zeen kembali merangkul pingang Yuna dengan erat lalu mengecupi pipi wanita itu dengan sangat mesra.


“Mas Zeen! Kenapa cium-cium sih? Ini didepan umum, malu tau dilihatin.” Yuna benar-benar merasa kesal menghadapi tingkah usil suaminya itu.


“Kenapa harus malu? Kita kan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta?” Zeen mengangkat-angkat kedua alisnya dengan gerakan yang menggoda. Bahkan Yuna yang melihat itu dibuat menahan tawa.


Mereka tak tahu saja sejak tadi interaksi mereka terus dipandangi oleh Mama dan neneknya.


“Mereka mau kemana Vina?” tanya Rima yang membuat Vina langsung memekik keget.


Rima pun menganguk paham, “Yasudah biarkan saja mereka istirahat, mungkin karena bawaan bayi jadi cucu menantu merasa kelelahan.” Timpal Rima.


“Iya bu, sebaiknya ibu juga kembali kedalam. Ibu pasti juga merasa kelelahan apalagi acaranya masih lama selesainya, jadi ibu kembali dulu aja trus istirahat.”


Rima kembali menganguk, “Yasudah aku juga sudah merasa lelah mungkin karena faktor umur jadi langsung kelelahan.”


“Ibu mau Vina antar?” tawarnya.


“Tidak, tidak, kamu disini aja. Kamu tuan rumah jadi harus menyambut para tamu penting kalian biar aku menyuruh para pelayan untuk menemaniku.” Jelas Rima.


“Baiklah ibu, kalau begitu hati-hati ketika berjalan ya bu ....”


“Ya ....”

__ADS_1


Setelah melihat mertuanya berjalan menjauh, Vina pun kembali berbaur dengan para tamu-tamu undangan.


Disatu sisi, ditempat ramai namun tepatnya dipingir sudut ruangan, seorang berpakaian serba hitam misterius tampak tersenyum sinis ketika melihat pancaran kebahagian pada keluarga besar itu. Seolah dimatanya mengatakan jika dirinya tak akan membiarkan keluarga itu hidup dengan tenang dan bahagia disaat ia sedang merasa menderita ketika orang yang pernah menjalin kedekatan dengannya bahagia bersama wanita lain.


“Tak akan kubiarkan kalian hidup dengan tenang!” gumam sosok itu, lalu menghilang tiba-tiba saat para tamu tengah melewati kearahnya.


🍂🍂


“Baiklah sayang kamu berbaring dulu, aku akan membuatkanmu susu jadi tunggu aku sebentar ya?” ucap Zeen pada Yuna.


Yuna lantas menganguk dan tersenyum. “Iya mas, aku tunggu.” Jawabnya.


Setelah itu Zeen keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.


“Senang sekali rasanya ketika mas Zeen berubah menjadi lebih lembut kepadaku. Apalagi saat diantara kami tumbuh malaikat kecil, sikapnya benar-benar menjadi sangat lembut dan penuh perhatian.” Gumam Yuna kembali tersenyum lantas mengelus perutnya dengan perasaan sayang.


“Terimakasih ya nak? Kamu sudah hadir membawa kebahagiaan diantara kami dan keluarga.”


Yuna membaringkan tubuhnya dikasur itu, berniat menunggu suaminya sambil membaca buku novel yang baru-baru ini ia beli. Saat terhanyut didalam bacaanya itu tiba-tiba hpnya bergetar menandakan jika ada sebuah pesan yang terkirim dibenda pipihnya itu.


Yuna mengerutkan alisnya ketika melihat yang mengirim pesan kepadanya adalah nomor asing atau nomor tak dikenal. Yuna pun membaca pesan itu dalam diam dan semakin dibuat bingung ketika pesan itu tertulis jika ia harus melihat kearah sisi samping.


“Apa maksudnya pesan ini? Apa orang salah sambung ya?” gumam Yuna bertanya-tanya.


Yuna sedikit penasaran itu, turun dari kasur dan berjalan kearah yang ditunjuk oleh pesan itu yaitu tepatnya dimeja rias miliknya.


Saat sudah sampai pada tujuan, dirinya dibuat bingung lantaran tak ada hal aneh yang ada dimeja riasnya itu.


“Mungkin memang benar, jika nomor itu salah kirim pesan.”


Yuna yang hendak membalikan tubuhnya terhenti saat melihat sebuah kertas kecil yang berada didekat sisir rambutnya.


“Apa ini?” Yuna pun langsung membuka kertas kecil itu yang terlipat sangat rapi. Dia pun segera membacanya.

__ADS_1


“Pergilah dari sisinya sebelum aku menghancurkan hidupmu dengan tanganku sendiri”


TBC.


__ADS_2