
...***...
Setelah masa sesar, para dokter mulai menjahit bagian perut Yuna. Namun saat masa penjahitan telah usai entah mengapa keadaan Yuna tiba-tiba menjadi drop, semua dokter tentu dibuat panik.
“Sepertinya keadaan pasien mulai melemah, ini mungkin penyebab kekurangan darah saat terjadi penembakan! Sepertinya kita perlu beberapa kantung darah yang bergolongan A!” jelas salah satu dokter yang tengah memeriksa Yuna.
Albaret yang mendengar itu langsung keluar dari ruangan. Pria paru baya itu langsung menghempaskan pintu ruangan itu.
“CEPAT BAWAKAN BEBERAPA KANTUNG DARAH! CEPAT YANG BERGOLONGAN A! CEPAT!! MENANTUKU SAAT INI SANGAT MEMBUTUHKANNYA!”
Para suster dan perawat yang kebetulan tengah berjalan dilorong rumah sakit, bersama-sama saling menghentikan langkahnya. Mereka semua menatap pemilik rumah sakit itu dengan tatapan bingung dan linglung.
“Kenapa kian malah diam saja?!! Cepat bawakan kantung darah yang banyaaaakkk! Ingat yang bergolongan darah A! Jika kalian membawakannya secepat mungkin maka kalian akan mendapatkan bonus,”
Bagai disengat mahnet, semua langsung berhamburan saat mendengar kata bonus dari mulut pemilik rumah sakit itu. Bahkan semua para perawat dan suster langsung berlari menuju ruang kantung darah berada.
“Cepat! Cepat! Ini demi bonus!”
“Bonus! I coming!”
Semua nampak mengambil kantung darah yang letaknya digantung-gantung didinding. Bahkan mereka tak melihat terlebih dahulu golongan darah apa yang mereka ambil, karena demi bonus mereka mengambilnya secara asal.
Sesampainya tepat didepan Albaret, semua orang yang tadi tengah mengambil kantung darah langsung menyerahkannya pada pria paru baya itu.
Tentu kantung darah itu diletakkan dikursi agar Albaret sendiri bisa melihatnya.
Albaret melihat satu per satu kantung darah itu, namun baru beberapa ia melihat. Kantung darah itu bukanlah kantung darah yang ia inginkan, hal itu membuatnya langsung memijit pelipisnya.
Ia pun langsung menghela nafas yang sangat panjang, dan tentu dapat didengar oleh para perawat dan suster yang sedang berhadapan dengan pemilik rumah sakit itu.
“Apa kaiam bisa membaca?” tanya Albaret setelah terdiam sejenak.
Mereka semua mengangguk menanggapi ucapan itu.
“Lantas mengapa kalian mengambil darah A-B-C-D-E-F-G?”
Semua perawat dan suster saling bertatapan karena merasa bingung dengan pertanyaan dokter Albaret.
__ADS_1
Namun salas satu diantara mereka mengangkat tangan dan mulai bertanya. “Maaf dokter, tapi bukankah tak ada golongan darah yang berjenis C-D-E-F-G?”
“Nahh ....” Albaret langsung menentukan jarinya tepat dikening perawat pria itu yang tadi bertanya kepadanya.
“Lantas kenapa kalian membawa berbagai jenis kantung darah? Bukankah saya hanya meminta kantung dara A?” Albaret bertanya dengan menahan raut emosinya.
Sedangkan yang ditanya hanya diam tak menagapi, mereka semua nampak gugup dan menundukkan kepala karena takut jika terkena amarah dari pemilik rumah sakit itu.
Albaret yang melihat itu lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang, ia kemudian mengambil kantung darah bergolongan darah A.
“Siapa tadi yang mengambil kantung darah bergolongan A?” tanya Albaret.
“Saya dokter!” jawab seorang perawat pria yang terlihat sangat muda.
“Kamu perawat baru disini?” tanyanya lagi.
Perawat itu mengangguk, “Iya dokter, saya baru bekerja disini dua minggu yang lalu.”
“Baiklah, tapi apakah kantung darahnya hanya tersisa dua saja?”
Albaret nampak terdiam, “Apakah ini cukup?” gumamnya.
“Yasudah! Karena hanya kamu yang benar membawa kantung darahnya. Maka kamu akan saya berikan bonus saat gajian nanti!” jelas Albaret yang langsung membuat perawat muda itu sumringah.
“Terimakasih dokter!” ucap perawat itu langsung membungkukan badannya dengan hormat.
“Ya, ya! Sekarang kalian kembali lagi ketugas masing-masing! Bagi yang salah membawa kantung darah, mohon dikembalikan keempat asalnya lagi!”
“Jadi, kami tak mendapat bonus dokter?” tanya seorang suster.
“Ya iya dong! Mana ada orang dapat bonus kalau pekerjaannya saja salah! Sudah, kalian cepat kembali keempat masing-masing.” Usir Albaret dengan galak.
Semua nampak beranjak satu per satu, dengan badan yang diloyo kan karena tak mendapatkan bonus yang menggiurkan bagi mereka.
Albaret yang melihat itu hanya bisa mengelengkan kepala. “Dasar aneh-aneh saja!” ucapnya lalu segera masuk kedalam ruang operasi, namun ia dibuat terkejut saat melihat para keluarganya yang sudah berada disana. Sambil memandangi wajah Yuna dengan raut yang murung.
“Kalian? Mengapa ada disini? Disini bukan ruang tunggu!” Albaret langsung mendekati mereka dan menggiring mereka semua untuk keluar dari ruangan.
__ADS_1
“Pah ... apakah putri kita akan sembuh?” tanya Vina yang kini sudah berada diluar ruangan. Mereka semua nampak terkejut saat mendengar kondisini Yuna yang tiba-tiba melemah, apalagi detak jantung Yuna juga ikut melemah.
Albaret memegang kedua bahu istrinya, “Berdoalah! Agar menantu kita selamat melawan mautnya, dan terus percaya bahwa menantu kita akan selamat dan sehat kembali agar bisa berkumpul bersama para keluarganya.”
Vina langsung mengangguk, “Ya ... Mama akan terus berdoa,”
Tibalah Eva menghampiri Albaret dengan wajah yang sangat sembam akibat terus menangis. “Dokter Albaret, tolong selamatkan putriku, berikan perawatan yang ekstra agar putriku bisa lebih cepat sembuh! Soal biaya tidak perlu dikhawatirkan. Saya akan berapapun agar anak saya selamat!”
“Tidak ada kata biaya diantara besan ibu Eva! Dia juga menantu keluarga kami, yang sudah kami anggap sebagai putri kamu sendiri. Jadi jangan permasalahan soal biaya, tanpa diminta pun saya akan memberikan perawatan yang super ekstra kepada putri ibu Eva!” jelas Albaret yang terdengar sangat meyakinkan.
Eva yang mendengar itu menjadi terharu, “Terimakasih, terimakasih dokter Albaret.” Ucap Eva dengan tulus.
“Sepertinya saya perlu golongan darah A! Karena saat ini Yuna pasti membutuhkan darah yang banyak, apakah diantar kalian berdua adalah yang bergolongan darah tersebut?” tanya Albaret.
“Kebetulan suami saya bergolongan darah A!”
“Bagus kalau begitu! Bapak Sigit mohon ikut dengan saya untuk pengambilan darah anda!” ujar Albaret pada Sigit Papa kandung Yuna.
Sigit langsung mengangguk, “Baik pak dokter!”
Kemudian mereka langsung saja berjalan masuk kedalam ruang operasi lagi, karena darah akan langsung disalurkan kepada Yuna.
°
°
Selama penyaluran darah, Zeen yang enggan beranjak dari ruangan terus menggenggam erat tangan istrinya. Bibir pria itu tampak bergerak-gerak seperti mengumamkan sesuatu, entah apa yang digumamkan.
Bahkan pria itu sedari kemarin belum mengisi perutnya, para dokter lain sudah menawari Zeen makan tapi ia tetap saja menolak dan ingin terus berada disisi istrinya. Padahal dokter lain saja sudah mengisi perut mereka walau harus diruang operasi karena mereka harus tetap stay untuk melihat perkembangan tubuh Yuna. Bahkan para keluarga yang menunggu sejak kemarin pun sudah pulang satu per satu untuk membersihkan diri dan mengisi perut mereka walau terasa hambar dimulut, tapi mereka tetap memaksakan diri agar mereka bisa memiliki tenaga kembali untuk menunggu Yuna dan menjaga bayi-bayinya.
“Penyaluran darah berjalan lancar dan hasilnya sangat cocok! Kita hanya tunggu perkembangan dari pasien,” jelas dokter Fadli yang saat itu bertugas menyalurkan darah kepada Yuna.
Zeen menatap Fadli sejenak, ia tau jika pria itu masih memiliki perasaan pada istrinya, terlihat sekali dengan raut penuh khawatir yang terpancar pada wajahnya.
“Lihatlah sayang? Bahkan saat kamu tak sadar diri banyak orang yang menghawatirkanmu? Apakah kamu tak ingin cepat bangun? Dan menyapa anak-anak kita nanti?” gumam Zeen dalam hati.
TBC.
__ADS_1