Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 97


__ADS_3

...***...


Malam harinya, Yuna yang memiliki waktu luang itu, tengah bersantai dikursi sofa. Pikirannya yang terus tertuju pada baju yang diberi tahu oleh Zeen jika itu adalah baju dinas. Membuat Yuna terus kepikiran.


Dengan insiatifnya, Yuna pun membuka Google, ingin mencari tahu tentang baju apa itu? Mengapa baju itu sangat tipis. Bahkan jika dicuci pake sikat saja pasti baju itu akan langsung hancur berkeping-keping. Itulah yang ada dipikirkan Yuna.


“Hem, baju dinas ....” Yuna mulai mengetik kata itu yang sempat diucapkan oleh Zeen.


Namun Yuna tampak mengerutkan keningnya, ketika melihat pencarian itu malah menunjukan baju orang-orang kantoran. Yuna sejenak memijit pelipisnya, lalu kembali mengetik dipencarian dengan kata yang berbeda yaitu 'Baju Lingeren'.


Saat menunggu beberapa detik, akhirnya pencarian itu berhasil ketika Yuna melihat baju yang sama, ketika ia lihat siang tadi itu. Yuna pun senang ketika tak gagal lagi ketika mencari digoglenya itu.


“Baju lingerie? Bukan baju lingeren yang dikatakan mas Zeen tadi?” gumam Yuna bingung, ketika melihat perbedaan kata dari Google dengan kata yang diucapkan oleh Zeen.


“Ah, itu gak penting, mending aku coba baca penjelasanya disini. Mungkin sedikit dipahami jika melihat dihp.”


Yuna mula fokus pada hpnya, ia mulai membaca kata demi kata yang tertera pada layar pipihnya itu. Dan saat membaca, pipi Yuna tiba-tiba bersemu merah hampir keseluruh lehernya.


“Jadi ini yang dimaksud mas Zeen? Baju dinas buat malam pertama? Astaga Yuna ... betapa malunya aku tak pernah mengetahui adanya baju seperti ini. Bahkan aku menganggap ini adalah baju tren masa kini? Benar-benar kuno kamu Yun!” Yuna memekik tertahan, sembari menepuk kedua pipinya karena merasa malu dengan dirinya yang tak tahu apa-apa.


Yuna meletakkan hpnya diatas nakas, lalu ia mulai menekuk kedua kalinya dan menyembunyikan wajahnya diantara lututnya itu.


“Apakah aku harus memakai baju tipis itu? Bahkan baju itu seperti tak nyaman dipakai ... uh aku belum siap ....” gumam Yuna terus saja menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba telinga Yuna mendengar suara derap langkah kaki dari arah kamar mandi, Yuna yang tak ingin menatap wajah Zeen akibat rasa malunya itu, langsung berjalan cepat menuju kasur. Setelah sampai dikasur ia langsung merebahkan dirinya disana dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut tebal itu.


Yuna mulai memejamkan matanya dan berpura-pura untuk tidur, agar bisa menghindari dari tatapan maut dari seorang Zeen Albaret, yang mana artinya adalah suaminya sendiri.


Zeen baru saja selesai dari panggillan alamnya itu, berjalan kearah lemari dan mengganti bajunya dengan baju santai. Setelah selesai, ia mulai berjalan kearah kasur dimana Yuna telah meringkuk didalam selimut itu.


Merasakan pergerakan dari sisi kasur, Yuna semakin merapatkan matanya dibalik selimut yang menutupinya itu. Ia dibuat gugup setengah mati.

__ADS_1


Sedangkan Zeen yang sudah duduk diatas kasur, mengamati Yuna dalam diam, ia lalu sedikit menyentuh pundak Yuna. “Yuna ... apa kamu sudah tidur?” tanya Zeen bersuara lirih.


Namun hening, saat tak ada jawaban dari sosok yang telah meringkuk itu.


“Apa dia benar-benar tertidur?” gumam Zeen, yang sedikit merasa kecewa.


Namun ia yang sangat penasaran itu, mulai membuka dengan perlahan selimut yang tengah menutupi wajah Yuna.


Zeen berharap-harap, jika Yuna hanya berpura-pura tidur, namun harapannya itu pupus ketika melihat mata Yuna yang telah terpajam dengan nyaman dan mulut kecilnya yang sedikit terbuka. Yang menandakan jika Yuna benar-benar tidur.


Memang kenyataan jika Yuna tak jadi berpura-pura tidur, dikarenakan rasa lelah yang menghantamnya membuat gadis itu langsung terlelap begitu saja, dan melupakan rasa gugup yang tadi melanda dirinya.


Zeen menghela nafas panjang, pupus sudah harapannya yang ingin beromantisme bersama dengan gadis itu. Ingin membangunkan, tapi ia tak tega ketika melihat wajah gadisnya yang sudah sangat lelap dalam tidurnya.


“Tak apalah Zeen ... masih ada hari esoknya ....” gumam Zeen yang meyakinkan dirinya sendiri.


Zeen pun langsung ikut membaringkan tubuhnya disamping Yuna, ia lalu memiringka posisi tidurnya menghadap pada gadisnya, dan memeluk Yuna dengan eratnya.


“Selamat tidur sayangku ....” gumam Zeen tersenyum, lantas mengecupi kening Yuna sekilas.


Detik berganti menit, menit berganti jam. Sudah sangat malam sekali, Yuna yang tadinya sangat nyaman dalam tidurnya itu tiba-tiba merasa terganggu dengan suara-suara aneh yang entah dari mana asalnya itu.


Yuna merasa sedikit kesal ketika mimpi indahnya harus terhenti ditengah-tengah akibat suara aneh itu.


Yuna mulai bangkit dari baringnya dan mengucek sejenak kedua matanya, agar bisa melihat jam yang tertera pada sebuah meja kecil tepat disampig kamar itu.


“Jam satu?” gumam Yuna, merasa kaget jika ternyata ia terbangun tengah malam sekali.


“Uh ....”


“Suara apa itu?” gumam Yuna merasa dikagetkan dengan suara yang tadi ia dengar, bahkan sampai kemimpinya.

__ADS_1


Mata Yuna terus tertuju kedepan, dimana ia melihat ada seseorang yang tengah duduk disofa tepat dihadapannya, walau sedikit jauh jaraknya.


“Siapa itu?” gumam Yuna lagi, ketika tak bisa melihat jelas bayangan sosok yang ada digelap malam itu, “Jangan-jangan itu hantu?” gumamnya lagi. Mulai mengada-ngada.


“Mas ... mas Zeen ....” Yuna mulai mencari sosok suaminya dengan mengerayai sisi kasurnya. Namun pergerakannya terhenti ketika tak merasakan sosok itu disampingnya.


Yuna menengok kesamping, “Dimana mas Zeen?” gumam Yuna merasa kalut.


“Uhh ... Yuna ....”


Yuna tersentak, ia merasa kaget mendengar suara itu semakin jelas, tak seperti tadi yang hanya samar-samar dipendengaranya.


“Yuna Saily ... Ah ....”


“Mas Zeen?” gumam Yuna melotot, ketika menyadari jika suara aneh itu merupakan suara dari suaminya sendiri. Seketika Yuna merasa lega ketika orang itu bukanlah orang aneh yang ada didalam pikirannya.


Namun perasaan leganya itu sirna, ketika mendengar suara Zeen yang semakin meracau tak jelas, seperti orang yang tengah mendesah. Hal itu Yuna tentu tau. Jika suara itu seperti suara seseorang yang tengah bercinta.


Yuna semakin menajamkan penglihatannya kedepan, ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu. Namun seketika mata Yuna kembali membola, ketika melihat benda panjang yang tengah digengam oleh Zeen.


“Apa yang sedang dilakukan mas Zeen?” pekik Yuna tertahan, sambil menutup mulutnya agar tak berteriak.


“Ah, Yuna ... Yuna ... Yuna Saily ....” racau Zeen, tak lupa tangannya yang terus ia naik turunkan pada benda kokoh itu dengan sangat cepat. Hingga membuat pria itu tak menyadir jika suara yang ia keluarkan sungguh sangat keras, sehingga Yuna yang awalnya tidur terlelap itu sampai terbangun.


“Yunah ....”


Akhirnya Zeen menghentikan pergerakannya ketika ia sudah merasa lega. Dan sesekali mengelap keringatnya, yang terus terjatuh dikeningnya itu.


Zeen menatap kedepan, memastikan jika Yuna tak terbangun, dan akhirnya pun ia merasa lega saat melihat Yuna yang masih berbaring dikasur itu.


“Hahh ... Yuna ... kau membuatku frustrasi ....” gumam Zeen menghela nafas panjang.

__ADS_1


TBC.


Haduyy, abang Zeen... 🤣


__ADS_2