
"Hari ini seru sekali bercerita dengan kalian, saya yang orangtua ini berasa jadi muda lagi. Hahahaha..." ucap Albaret ketika mereka sudah selesai makan dikantin itu.
"Hahaha, menurut saya anda ini masih muda. Bahkan anda lebih tampan dari saya dokter." timpal Fadli, yang membuat Yuna mengelengkan kepala ketika mendengarnya.
Sedangkan Zeen yang mendengar itu, memutar bola matanya malas.
Albaret tertawa keras, ia pun menepuk bahu Fadli dengan sedikit kencang."Hahaha, dasar anak muda. Yang namanya sudah tua itu keriput, mana ada orangtua yang masih tampan."
"Loh? Justru saya ini berkata jujur dokter Albaret. Anda ini memang masih tampan, pasti anda tak pernah mengira jika orang-orang rumah sakit ini terus membicarakan anda, karena ketampanan anda itu." jelas Fadli.
"Benarkah? Mungkin mereka berbicara begitu karena statusku yang pemilik rumah sakit ini." jawab Albaret, sambil mengetuk dagunya seolah tengah berfikir.
Fadli sejenak tertawa, "Hahaha, mungkin sebagian begitu dokter. Karena anda pemilik rumah sakit ini, mereka tak akan berani berbicara tentang kejelekan anda." ujar Fadli.
"Termasuk kamu ya?" tanya Albaret pada Fadli, bercanda.
"Eh? Tentu saja saya tak begitu. Saya ini orangnya tak begitu mementingkan omongan-omongan orang, buat apa? Gak ada untung juga." ucap Fadli, jujur dan percaya diri.
Albaret kembali menepuk punggung Fadli, merasa lucu dengan ucapan dokter muda itu."Kamu pandai sekali berbicara ya? Saya suka sekali sifat kamu ini, percaya diri dan tak neko! Neko, beda sekali dengan sifat Zeen sukanya emosional dan membesarkan gengsinya. Hahahaha...." tawa Albaret mengelegar, ia bahkan tak perduli dengan wajah putranya yang sudah masak itu.
"Hahaha, karena sifat orang pasti berbeda-beda dokter..." timpal Fadli.
"Iya, benar apa kata kamu. Lain kali kita makan bersama seperti tadi ya, seru juga nongkrong sama anak muda."
"Saya mah selalu bersedia." jawab Fadli, yang mengundang gelak tawa dari Albaret.
Zeen kembali memutar matanya malas mendengar percakapan dua insan yang ada didepannya itu, namun berbeda usia.
Zeen melirik Yuna yang ada disampingnya sejenak, "Setelah ini kita akan ada jadwal pemeriksaan, ingat! Jangan sampai kau ketiduran lagi seperti sebelumnya. Jika tidak! Mending kau tak usah bekerja saja." ucap Zeen berada ketus. Namun suaranya tak dikeraskan, agar papanya tak mendengar ucapannya itu. Jika pria paru baya itu mendengar, pastilah ia mendapat omelan yang tiada habisnya.
"Baik dokter Zeen!" jawab Yuna.
🍂🍂
__ADS_1
Hari sudah semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 22:17 dan pekerjaan Yuna sebagai asisten Zeen baru selesai pada jam itu juga, Yuna merengangkan otot-otot tangannya untuk menghilangkan rasa pegal dari bagian tubuhnya itu. Sungguh capek yang dirasakan Yuna pada hari ini juga, namun Yuna tetap menjalaninya tanpa keluhan dan terus menebar senyum. Karena menganggap pekerjaan itu sebagai kesenanganya tersendiri.
Yuna merogoh tas kecilnya yang ia bawa itu, kemudian ia mengeluarkan hanponenya dan ikon utama pada layar pipih itu.
Seulas senyum terbit dibibirnya, ia saat ini tengah memandangi sebuah foto dirinya yang masih kecil dan digendong oleh neneknya, yang sudah pergi meninggalkannya tepat beberapa minggu berlalu itu.
Ia mengelus foto itu, "Nek... Sekarang nenek pasti sudah bahagia disana, nenek pasti sekarang tengah bersama kakek disana." gumam Yuna yang masih mengulas senyumnya itu. "Yuna akan selalu mengirimkan doa dari sini, agar nenek selalu bahagia disana...." lanjutnya lagi.
Setelah puas memandangi foto itu, ia kembali meletakkan hanponenya ditas. Kemudian ia membereskan beberapa dokumen yang ada dimejanya itu.
Tiba-tiba pintu diketu, dan membuat Yuna mengalihkan pandangannya.
"Yuna..."
"Eh? Iya dokter." jawab Yuna, ketika melihat Albaret masuk kedalam ruangan itu.
"Papa disini mau ajakin kamu pulang, kamu sudah selesai kan pekerjaannya?" tanya Albaret.
"Ah, biarin aja si Zeen, udah malem juga pasti pekerjaan hari ini sudah selesai. Mending kamu pulang bareng sama papa aja, yuk!" ajak Albaret.
"Eh! Papa duluan aja, biar Yuna tungguin dokter Zeen disini. Yuna gak mau dibilangi gak perfesional saat bekerja." tolak Yuna dengan suara sopan.
"Beneran kamu gak mau ikut papa pulang?" tanya Albaret lagi.
Yuna menjawabnya dengan menganguk.
"Yasudah kalau itu mau kamu, kalau begitu papa pulang dulu ya..."
"Iya pah..." jawab Yuna tersenyum.
Setelah kepergian Albaret itu, Yuna kembali membereskan berkas-berkas yang ada dimejanya itu.
Yuna pun kembali melirik jam yang ada ditanganya, "Kenapa dokter Zeen lama sekali? Apa urusannya begitu serius?" gumam Yuna tengah bergelut pada pikirannya.
__ADS_1
"Hemm, lebih baik aku susulin aja kali ya? Siapa tau dokter butuh bantuan." gumamnya lagi, ia pun bergegas melangkahkan kakinya keluar untuk mencari keberadaan Zeen. Tak lupa tas kecilnya yang selalu ia bawa itu.
Sudah beberapa menit Yuna mencari keberadaan Zeen namun tak kunjung ketemu, ia pun berinsiatif menanyakan pada suster yang tengah berjalan berdelisihan dengannya itu.
"Permisi suster." panggil Yuna.
Suster itu menengok, "Ya?"
"Begini, suster ada lihat dokter Zeen tidak?" tanya Yuna langsung.
"Hemm, dokter Zeen ya? Tadi saya liat dokter Zeen lagi berbincang dengan dokter disana! Coba saja cari disana, mungkin dokter Zeen masih ada." jawab suster itu sambil menunjukan arahnya.
Yuna menganguk, "Oke, kalau begitu terimakasih suster sudah diberi tahu." ucap Yuna dengan ramah.
"Sama-sama." jawab suster itu, dan pergi meninggalkan Yuna yang masih ada disana.
"Coba kucari kesana deh, siapa tau ada." kata Yuna, yang juga bergegas menuju tempat yang ditunjuk oleh suster itu.
Saat Yuna hampir sampai pada tujuannya, tiba-tiba ia melihat punggung Zeen yang berjalan agak jauh darinya. Ia pun mengikuti langkah Zeen dengan berlari kecil.
Yuna mengerutkan keningnya kala Zeen berjalan keluar dari area rumah sakit itu dan malah menuju ketempat parkiran.
"Apa dokter Zeen mau pulang? Kok gak bilang dulu ya?" gumam Yuna yang masih mengikuti langkah Zeen itu.
Yuna melihat Zeen menuju sebuah mobil yang tadi pagi Yuna tumpang itu. Yang mana artinya merupakan mobil milik Zeen.
"Beneran mau pulang ternyata, aku ikuti aja deh. Ikut pulang bareng, dari pada disini sendiri sendirian, udah malem lagi." gumamnya, yang kemudian berjalan cepat menyusul Zeen yang sudah masuk didalam mobil itu.
Tiba-tiba langkah Yuna terhenti, sejenak ia mematung menatapi mobil Zeen. Pandangannya melihat jika dimobil Zeen itu sudah ada seorang wanita yang tengah duduk dikursi penumpang itu.
Walau jaraknya agak jau, namun Yuna dapat melihatnya dari kaca depan mobil milik Zeen itu.
TBC.
__ADS_1