
Dentingan suara sendok beradu dimeja makan itu, mereka berempat Albaret dan juga istrinya. Juga Zeen, Yuna tengah sibuk pada piring mereka.
Vina yang sudah selesai pada sarapan paginya itu, mengalihkan pandangannya menatap sang menantu.
"Yuna..." panggilnya.
Yuna mengalihkan pandangannya menatap Vina. "Ya mah?"
"Bagaimana dengan pekerjaanmu dirumah sakit? Ada gak, yang bikin kamu kesulitan?" tanya Vina.
"Hemm, gak ada kok mah... Yuna malah seneng kerja dirumah sakit." jawab Yuna.
Vina tersenyum, "Wah.... Baguslah kalau memang begitu, kita gak akan maksa kamu Yuna... Kalo kerja dirumah sakit membuatmu tak nyaman atau merasa memberatkan diri kamu." ujar Vina.
Yuna ikut tersenyum. "Engak merasa berat kok mah... Yuna malah merasa bahagia bisa membantu para pasien disana."
Albaret pun tersenyum mendengarnya. "Emang gak salah kita memilih Yuna sebagai menantu kita, ya gak mah?" tanya Albaret.
Vina menganguk cepat, "Iya pah... Bener apa kata papa, kita merasa beruntung memilih Yuna sebagai menantu kita, udah cekatan. Pinter masak, baik lagi..." ucap Vina yang membuat Yuna merasa malu.
"Jangan terlalu memuji Yuna mah... Yuna jadi merasa besar kepala sekarang." cicit Yuna malu-malu.
Albaret dan juga Vina tertawa bersama mendengar itu.
"Apa yang dikatakan mama kamu emang bener kok Yuna, papa pun juga merasa begitu." ujar Albaret.
"Iya Yun... Mama bilang begitu, apa adanya dari lubuk hati mama..." timpal Vina.
Mereka bertiga pun tertawa bersama, menyisakan Zeen yang melihat itu hanya berdecih malas.
"Oh ya... Papa hampir lupa mau kasi tau kalian..."
"Akhir pekan ini nenek mau berkunjung, jadi kalian berdua harus tetap dirumah ya? Soalnya nenek mau lihat kalian sekaligus ada yang mau dikasi sama beliau." jelas Albaret.
Zeen yang mendengar itu melongo. "Hah? Yang bener nenek mau kesini pah?" tanya Zeen dengan wajah masamnya.
"Iya Zeen, nenek kamu kesini karena rindu sama cucunya yaitu kamu... Sekaligus ingin melihat istri dari cucunya, beliau waktu acara pernikahan kamu kan gak dateng kesini, itu sebabnya nenek kamu akhir pekan nanti datang kerumah kita." ucap Vina.
Zeen menghela nafas panjang,"Tapi kan, Zeen ada janji..." gumam Zeen.
"Jangan berfikir kamu mau melarikan diri ya Zeen! Tempo lalu nenek kamu datang kesini, kamunya malah diluar kota. Nenek kamu kesini tujuannya ya hanya pengen liat cucu kesayangannya, kamu gak kasian apa? Sama nenek kamu, nyariin kamu pas kamu gak ada." ucap Albaret menatap tajam putranya.
Zeen memasamkan wajahnya sambil mengaduk, aduk makanan yang ada dipiringnya.
"Zeen tuh cuman mau menghindari nenek pah... Nenek tuh cerewet banget, selalu ngatur Zeen ini dan itu, Zeen tuh bosen dengernya....." gerutu Zeen.
"Zeen..." tegur Albaret menatap putranya dengan tatapan tajam.
Vina mengelus punggung suaminya, untuk menenagkannya. Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap Zeen.
"Dengerin apa kata papa kamu ya sayang? Nanti kalo kamu gak ada dirumah lagi, pasti nanti nenek kamu langsung marah-marah trus ngancem mau ambil surat tanah rumah sakit papa kamu. Kamu gak mau kan? Kalo kamu nanti gak ada kerjaan lagi... Trus jadi gelandangan dijalanan."
Zeen kembali menghela nafasnya."Iya, iya deh.... Zeen gak akan pergi...." ucap Zeen dengan lesu, dan memilih untuk menuruti perkataan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Vina tersenyum senang, "Nah... Gitu dong.... Itu baru putra mama." ucap Vina, setelah itu mengelus rambut anaknya dengan rasa sayang.
Zeen memanyungkan bibirnya. "Mama ini... Emang sebelumnya Zeen bukan putra mama?"
Vina menyengir. "Kamu masih putra mama kok.... Tapi kalo kamu lagi bandel, mama gak akan anggep kamu putra mama... Karena mama gak mau mengakui jika mama punya putra yang membangkang." jawab Vina dengan percaya dirinya.
Zeen pun mendengus mendengarnya, "Mama ini... Bikin Zeen jadi sebel aja..." gerutu Zeen membuat Vina tertawa.
"Udah, udah... Habisin makanan kamu itu, biar gak kesiangan datang kerumah sakit nanti." tegur Vina.
"Kan itu rumah sakit papa... Papa aja yang dateng kesiangan masih bersantai, jadi Zeen boleh dong datang kesiangan."
"Ehh... Jangan salah kamu... Kamu tetep harus kerja tepat waktu, karena kamu masih bekerja dibawah naungan papa. Jadi, kamu gak boleh datang kesiangan, yang boleh itu hanya papah..." ucap Albaret dengan angkuhnya.
"Papa ini... Atasan tak patut dicontoh, nanti pekerja papa pada males kerja dirumah sakit papa, gara-gara papa yang suka datang seenaknya." ucap Zeen dengan santai, sambil menyuapkan makanan dimulutnya.
"Iya pah... Jangan gitu... Gak boleh itu." tegur Vina, yang membuat Albaret hanya bisa terkekeh pelan.
Yuna yang melihat keharmonisan itu, ikut merasa senang. Ia jadi merindukan sosok neneknya yang sudah hampir sebulan tak ada disisinya.
Albaret bangkit dari duduknya,"Papa sudah selesai sarapannya, papa berangkat dulu ya mah..." ucap Albaret pada istrinya.
Vina pun ikut bangkit dari duduknya, "Iya pah..." ucap Vina, langsung mengambil telapak tangan suaminya dan menciumnya.
"Zeen juga sudah selesai sarapan." ucap Zeen yang juga bangkit dari duduknya, diikuti Yuna yang langsung saja mengambil bekal yang ia letakkan disampingnya itu.
"Eh? Kalian berdua sudah selesai, berangkat papa aja sekalian." ujar Vina.
"Yasudah kalau begitu..." ucap Vina dan mengelus rambut putranya.
"Yuna juga berangkat ya mah.... Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..." jawab Vina seraya tersenyum, dan memandang mereka bertiga yang sudah keluar dari dalam rumah.
Sesampainya diteras menuju garansi, Albaret menengok kerah Yuna. "Yuna... Kamu berangkat sama papa apa sama suami kamu?" tanya Albaret pada Yuna.
Yuna yang sempat ingin menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba sebuah klakson mobil mengangetkan dirinya.
Tinnn... Tinn...
Semua pandang mata, mengalihkan pandangannya, menatap sebuah mobil yang sudah terparkir diluar gerbang.
"Mobilnya siapa itu?" tanya Albaret dibuat bingung.
Yuna pun bertanya-tanya, siapa geranga pemilik mobil tersebut. Namun pandangannya seperti familiar pada mobil mewah itu, otaknya terus berfikir sebelum ia dikejutkan pada seorang pria berbadan tegap yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.
"Bukanya itu dokter Fadli?" gumam Yuna pada diri sendiri.
"Hai Yuna!" sapa Fadli dari balik gerbang besar itu.
Yuna yang sempat terdiam itu, langsung berlari menghampiri Fadli yang tengah tersenyum kearahnya.
Ia pun langsung membuka gerbang itu, "Dokter Fadli, ada apa datang kemari?" tanya Yuna.
__ADS_1
Fadli tersenyum manis, "Saya kemari untuk mengajakmu berangkat bersama Yuna." jawabannya.
Yuna terdiam.
"Kenapa Yuna?" tanya Albaret berjalan mendekat pada dua insan itu.
Yuna tersentak. "Eh? Ini pah... Ada dokter Fadli." jawab Yuna.
Fadli mengerutkan keningnya, "Papa?" gumamnya bingung.
"Eh? Ada dokter Fadli disini... Ada apa kamu datang kesini pagi-pagi anak muda? Apakah ada urusan mendesak yang ingin kamu sampaikan kepada saya?" tanya Albaret.
Fadli yang mendengar ucapan Albaret itu tersenyum, "Sebelumnya saya meminta maaf pada anda yang datang pagi-pagi kesini dokter Albaret, saya pun tak tahu jika rumah ini merupakan kediaman anda. Yang saya tau, ini merupakan tempat tinggal Yuna.... Itu sebabnya saya datang kemari, berniat untuk mengajak Yuna berangkat bersama dengan saya." jawab Fadli dengan sopannya.
"Ohh... Begitu, kukira anak muda sepertimu datang untuk menemuiku, ternyata orangtua ini salah sangka, hahaha..." ujar Albaret diselingi tawanya.
"Haha maaf kan saya, jika membuat anda salah sangka. Hemmm kalau begitu, apakah saya boleh berangkat bersama dengan Yuna, dokter Albaret?" tanyanya.
"Kau bisa bertanya pada Yuna, keputusan ada pada dirinya." jawab Albaret menatap sang menantu, untuk memberikan jawaban pada Fadli yang sudah jauh-jauh menjemput Yuna untuk mengajaknya berangkat bersama.
Yuna yang mendengar perkataan itu pun tengah berfikir, ia pun sedang dilanda kebingungan.
Yuna melirik sebentar kearah Zeen yang tengah memalingkan pandangannya, sebuah helaan nafas keluar dari bibir kecilnya.
'Apa yang kamu harapkan Yuna...' batinnya.
"Baiklah, saya akan berangkat bersama dengan dokter Fadli. Saya juga merasa tak enak karena anda sudah jauh-jauh datang kemari." jawab Yuna yang pada akhirnya menerima ajakan itu.
Fadli yang mendengar itu pun tersenyum cerah.
"Hahaha, jika itu jawaban kamu. Yasudah... Kamu berangkat saja sama Fadli." ucap Albaret yang dianguki oleh Yuna.
"Yasudah kalau begitu, saya dan Yuna pamit berangkat dulu, dokter Albaret." pamit Fadli, yang dianguki kepala oleh Albaret.
Fadli berlari kecil untuk membukakan pintu untuk Yuna. Ia seperti pangeran yang siap siaga pada tuan putrinya.
"Terimakasih dokter." ucap Yuna, langsung masuk kedalam mobil itu.
Fadli tersenyum, "Sama-sama."
Mobil milik Fadli, yang ditumpanggi oleh Yuna itu sudah melaju meninggalkan kawasan elit itu. Lantas menyisakan Zeen yang masih setiap ditempatnya itu.
Hati Zeen bergemuruh, entah mengapa ia merasa kesal hari ini.
Albaret yang melihat raut masam dari putra satu-satunya itu dibuat tertawa. Ia pun berjalan mendekat pada anaknya, lantas ia langsung menepuk bahu kokoh milik putranya itu.
"Makanya Zeen... Kalo gak mau kecolongan ya kamu harus bergerak cepat." setelah mengatakan itu, Albaret meninggalkan anaknya sambil tertawa keras.
Zeen berdecih sebal, "Cih... Mau dia berangkat sama beberapa pria pun aku tak akan perduli." gerutunya kesal. Dan berjalan sambil menghentakan kakinya, menuju mobil miliknya.
TBC.
Jangan lupa untuk selalu dukung Author, agar Author semangat terus updatenya. Dan jangan tinggalkan komen-komen kalian, karena Author sangat menantikannya🤩
__ADS_1