Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 102


__ADS_3

...***...


Dua kali Zeen memukul wajah pria itu, dirinya bahkan tak menyempatkan untuk melihat wajah dari korban bogemannya. Sedangkan Yuna yang sempat terkejut sejenak itu langsung tersadar dan tanpa ba bi bu, ia langsung menghampiri Zeen dan menarik lengan suaminya untuk menjauh dari pria yang sudah terduduk dilantai dengan wajah yang agak memar dan sedikit mengeluarkan darah.


“Sudah mas ... jangan diteruskan ....” cegah Yuna, berusaha untuk mengeratkan tarikannya dari tangan Zeen saat pria itu ingin melanjutkan aksinya lagi.


“Lepaskan aku Yuna ... aku mana bisa diam, ketika melihat milikku disentuh oleh pria hidung belang!” sarkasnya, menekan kata terakhirnya.


Yuna sempat terhenyak ketika mendekat kata yang terucap dari mulut Zeen, “Yaampun mas ... dia bukan pria hidung belang, mas jangan terlalu mengambil kesimpulan sendiri seperti itu ....” ucapnya mengeleng.


Zeen menatap Yuna tak percaya, “Kenapa kamu malah membela dia Yuna ...? Dia itu sudah menyentuh kamu. Apa kalo gak disibut pria hidung belang? Aku tak terima kalau ada orang yang berani menyentuh!”


“Mas ... dengarkan aku dulu–”


“Wah, saya tak menyangka jika saya akan mendapatkan sambutan yang mengejutkan seperti ini ....”


Zeen langsung mengalihkan pandangannya, menatap pria itu yang tengah berdiri dari duduknya.


“Apa masud– kau?” Zeen tampak membelalakan matanya. “Dokter Fadli. Kenapa anda bisa ada disini?” Zeen tampak bingung.


Pria yang tak lain adalah Fadli itu tampak terkekeh pelan, “Pertanyaan anda sama persis dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Yuna ....” ucapnya.


Zeen menoleh kearah Yuna yang hanya diam ditempatnya.


“Saya disini kebetulan ada urusan. Saya juga sempat meminta izin pada dokter Albaret selama setengah bulan untuk menetap di Bali, dan saya tak menyangka jika saya bertemu Yuna dan anda disini. Sebuah kebetulan yang tak pernah terpikirkan oleh saya,” Jelas Fadli yang kembali terkekeh pelan. Dan dirinya juga mengabaikan pukulan yang ia dapat dari Zeen beberapa menit yang lalu.


Zeen tampak terdiam sejenak, menatap Fadli dengan ekspresi datar.


“Oh ya? Kalau boleh tau, anda kesini apa juga melakukan suatu urusan?” tanya Fadli berucap santai.


“Ya! Saya disini juga memiliki urusan. Tapi urusan itu tentunya berbeda dengan anda ....” jelas Zeen yang juga berucap santai seperti tak merasa bersalah sama sekali dengan kejadian yang ia perbuat.


“Karena sudah sangat malam, kami berdua pamit dulu ....”


Saat Zeen tengah berjalan mendekat Yuna, suara Fadli kembali menghentikan pergerakannya.


“Tunggu dulu dokter!”


Zeen berbalik menghadap Fadli kembali, “Ya?”


“Apa anda akan kembali ke penginapan? Jika iya, kita bertiga bisa kembali bersama karena tujuan saya serah dengan anda berdua.” Tawar Fadli.


“Tidak!” tolak Zeen langsung dengan nada ketus, “Sebenarnya kami kepenginapan yang agak jauh dari sini ... jadi anda bisa pulang sendiri. Permisi kami pamit dulu,”

__ADS_1


Tak ingin berbasa-basi lagi, Zeen langsung menarik Yuna dari tempat itu tanpa mendengar jawaban dari Fadli dan tanpa meminta maaf atas kelakuan yang tadi ia perbuat itu.


Sempat Yuna menengok kebelakang dan mendapati wajah Fadli yang cukup menyedihkan namun tetap tersenyum kearahnya, Yuna sedikit merasa bersalah meninggalkan pria itu yang sudah menjadi temannya dirumah sakit ketika ia bekerja. Yuna pun hanya mampu membalas senyuman itu dari kejauhan, namun hanya sekilas saja karena Zeen dengan cepatnya membawa dirinya masuk kedalam mobil taxi.


Mobil yang ia tumpang mulai berjalan dengan kecepatan sedang, dan mulai meninggalkan area tempat itu.


🍂🍂


Selama perjalanan munuju penginapan, Zeen hanya diam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Bahkan saat Yuna memanggilnya, pria itu tak bergeming dan tak bergerak sama sekali.


Bahkan sampai ketempat penginapan, pria itu tetap diam dan malah meninggalkan Yuna dengan berjalan cepat dan langsung masuk kedalam penginapan itu.


Tak sampai disana, Zeen yang sudah masuk kedalam kamar penginapan mereka, malah langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dan sekilas Yuna mendengar pintu itu dikunci dari dalam. Padahal biasanya pria itu tak pernah mengunci pintu itu dan membiarkannya terbuka sedikit.


Yuna yang menyadari itu sejak tadi hanya mampu menggelengkan kepalanya saja, “Apa dia marah hanya karena hal-hal kecil?” gumam Yuna kembali menggeleng.


Saat Yuna tengah duduk disofa, akhirnya Zeen keluar dari kamar mandi, dan hampir satu jam lamanya Yuna menunggu pria itu keluar.


Yuna pun langsung bangkit dari duduknya saat melihat Zeen naik keatas kasur. Ia pun juga ikut naik kekasur dan menatap Zeen yang malah berbaring memunggungginya dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal sampai kelehernya.


Yuna menghela nafas panjang sejenak.


“Mas ....” panggil Yuna sedikit mengoyangkan tubuh Zeen, namun Zeen tetap tak bergeming.


Zeen yang mendengar ucapan Yuna itu langsung bangkit dari duduknya, tak lupa menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.


Ia duduk menghadap pada Yuna dengan jarak yang hampir sangat dekat, ia pun menatap Yuna dengan tatapan kesal bercampur marah.


“Kamu bilang hal kecil? Dia itu sudah menyentuh kamu Yuna! Kenapa kamu malah membela dia ....” kesalnya.


“Mas ... bukan dia, tapi dokter Fadli rekan kerja mas sendiri juga.” Yuna mengeleng melihat kelakuan Zeen.


“Tuhkan, kamu malah bela dia, kamu seneng ya? Kalo disentuh sama dia?” Zeen langsung membuang pandangannya kedepan tak lupa melipat kedua tangannya didada.


Yuna memijit pelipisnya seketika, “Yaampun mas ... bukan menyentuh, tapi cuman menepuk kepala Yuna saja ....” bela Yuna.


“Tetap saja itu sama. Kamu disentuh dia tapi kamu malah diam,” gerutunya.


“Aku mana tahu mas, kalau dia mau menepuk kepalaku. Aku bahkan kaget menerima tepukan dari kepalaku,” jelas Yuna dengan jujur.


Zeen hanya diam, ia masih saja tak ingin menatap Yuna yang ada disampingnya. Dan hal itu, lagi-lagi membuat Yuna menghela nafas untuk kesekian kalinya.


Yuna mulai mendekatkan diri pada Zeen dan mengambil telapak tangan pria itu, lalu mengelusnya dengan lembut ketika sudah berada didalam gengamannya.

__ADS_1


“Jangan marah ya ... Yuna minta maaf kalau memang Yuna benar-benar salah... mas juga salah disini, dokter Fadli tak melakukan hal aneh padaku, tapi mas sudah keburu emosi dan langsung menghajar dokter Fadli. Mas apa gak kasihan melihatnya? Bahkan mas tak meminta maaf dokter Fadli ....” jelas dengan suara yang melbut.


Zeen masih belum menatap Yuna, “Aku tak merasa kasihan padanya, itu hukuman sentimpal karena dia sudah menyentuh kepala istriku yang berharga. Suami mana yang tak kesal melihatnya?” ocehnya.


Yuna memang kesal ketika mendengar ucapan tak berperasaan dari suaminya, namun ada kalanya bibirnya dibuat berkedut ingin tersenyum kala mendengar perkataan yang manis yang terucap dari suara milik pria dihadapannya itu.


Yuna kembali mengelus tangan besar Zeen yang ada digengamannya.


“Yasudah kalau begitu ... Yuna minta maaf sekali lagi kalau Yuna sudah buat mas kesal, mas mau memaafkan Yuna kan?” ujar Yuna bertanya dengan wajah yang ia hadapkan kearah Zeen.


Zeen menoleh kearah Yuna dengan ekspresi biasa, “Aku akan memaafkanmu, asal kamu mau menuruti permintaanku ini.”


“Hm? Permintaan apa mas?” tanya Yuna penasaran.


Dalam hati, Zeen menyerigai ketika melihat wajah polos dari Yuna. Dan entah mengapa, ketika Yuna melihat wajah Zeen seperti itu. Perasaannya seketika menjadi tak enak.


“Aku mau kamu memakai salah satu baju yang diberikan oleh Mama,” pinta Zeen.


“Baju?” tampak Yuna masih belum peka.


“Ya, baju lingeren yang dibawakan oleh Mama.” Balas Zeen dengan santai, sambil menyandarkan punggungnya dibadan kasur itu.


Yuna yang memang sudah memahami arti dari baju yang disebutkan oleh Zeen, seketika membelalakan matanya terkejut.


“A-apa? Baju i-tu?” gagap Yuna, merasa gugup.


Zeen mengangguk menjawab ucapan Yuna.


“Aku tidak mau mas!” tolak Yuna langsung.


Zeen kembali menolehkan kepalanya kearah Yuna, “Kenapa tidak mau? Kamu kan sudah menyetujui permintaanku.”


'Aku bahkan belum menyetujuinya,' batin Yuna.


“Bajunya terlalu terbuka mas, aku tak suka,” kata Yuna sambil menggeleng.


Zeen mendengus dan kembali menyandarkan bahunya, sambil melipat kedua tangannya didada.


“Jika memang begitu. Maka aku akan tetap marah padamu!” tekan Zeen, sambil memajukan bibirnya sedikit kedepan karena dibuat kesal.


'Biarkan saja aku merajuk seperti anak kecil,' batin Zeen sekenanya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2