Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 58


__ADS_3

Kini Yuna dan Zeen telah menyelesaikan tugas mereka, tugas seperti biasa yaitu memeriksa keadaan perkembangan pasien, dan ada dua pasien yang ia periksa telah diperbolehkan untuk pulang setelah menjalani perawatan selama hampir sebulan.


"Dokter Zeen!"


Seorang suster berjalan kearah mereka, Yuna yang melihat suster itu berjalan tergesa mengerutkan alisnya bingung.


"Ya? Kenapa suster?" tanya Zeen, yang juga diliputi kebingungan ketika melihat raut tak enak dari suster itu.


"Itu dokter! Pasien yang dirawat diruangan lantai dua nomor 205 mengalami kejang-kejang, sepertinya pasien mengalami keracunan makanan." jelas suster itu dengan raut kepanikan.


Zeen pun terkejut mendengar penjelasan itu, "Bagaimana bisa seperti itu? Pada jam delapan tadi saya baru saja memeriksa pasien itu, namun tak ada kesalahan. Tapi kenapa sekarang bisa terjadi keracunan makanan, makanan apa yang kalian berikan pada pasien?!" ia sampai berteriak, membuat orang-orang yang berlalu lapang menatap kearah mereka.


Suster itu tampak gemetar, kepalanya ditundukan tak berani melihat wajah Zeen yang diliputi kemarahan.


"Kenapa tidak jawab?!" tekan Zeen lagi-lagi dengan suara meninggi.


"I-itu d-dokter.."


"Ayo jawab! Kenapa pasien sampai seperti itu? Bagaimana dengan kerja kalian selama ini, hah?!"


Yuna yang tadinya diam mengamati itu, kini berjalan mendekati Zeen. "Sebaiknya kita bahas ini nanti dokter Zeen! Lebih baik kita segera keruangan pasien, sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan." tutur Yuna dengan suara tenang.


Zeen mengalihkan pandangannya menatap Yuna, ia kemudian meraup wajahnya sambil menghela nafas panjang. "Hahhh... Yasudah, kita kesana sekarang." putusnya, langsung melangkahkan kakinya dengan berjalan tergesa. Meninggalkan Yuna dan suster itu masih berada dibelakangnya.


Yuna menepuk bahu suster itu yang masih menundukkan kepalanya, "Ayo suster," ajak Yuna, tak lupa menunjukan senyum menenangkan terulas dari bibirnya.


Suster itu menatap Yuna dengan tatapan haru, "Terimakasih Yuna, kamu telah menyelamatkanku dari amukan dokter Zeen." ucapnya dengan rasa terimakasih yang amat tulus diberikan kepada Yuna.


Yuna terkekeh. "Hahah, sama-sama, kalau begitu lebih baik kita menyusul dokter Zeen. Dari pada kita diamuk nanti," ajak Yuna dengan cengiran.


Suster itu mengangguk, "Yasudah ayo." jabawnya, lantas kemudian mereka berdua berjalan bersama menyusul Zeen yang telah lebih dulu berjalan menuju ruang rawat pasien.

__ADS_1


🍂🍂


Setelah keadaan pasien itu lebih tenang dan mengistirahatkan tubuhnya dengan nyaman, barulah Zeen bisa bernafas lega setelah dirinya dibuat kalang kabut mendengar pasiennya kejang-kejang karena keracunan makanan.


Ternyata pasien itu memiliki riwayat alergi pada sayuran brokoli, Suster yang menangani pasiennya itu tak tau jika sang pasien memiliki alergi, dan memberikan bubur ayam serta terdapat campuran sayur brokoli disana. Membuat pasien juga tak tau jika makanan itu terdapat sayur brokoli, karena bubur itu tercampur dengan rata dan tak bisa menebak isi dari campuran bubur itu.


Terlihat Zeen saat ini tengah memasang cairan infus pada pasien itu, setelah selesai memasang alat infus itu ia langsung menghela nafasnya lega. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada seorang suster yang tadi ia marahi.


"Lain kali, jika memberikan makanan pada pasien, bilang dulu pada orangnya apakah memiliki alergi atau tidak. Atau kamu bisa menanyakanya pada saya atau asisten saya, ingat ya! Jangan sampai kejadian ini terulangi lagi." jelas Zeen dengan nada teguran.


Suster tampak mengangukan kepala,"Baik dokter saya mengerti."


"Bagus, awas terus perkembangan pasien." timpalnya lagi.


"Baik dokter."


Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, Zeen kini membalikkan tubuhnya kearah Yuna yang masih mencatat keadaan pasien itu.


Yuna menutup buku catatanya, "Baik dokter." jawabannya seadanya.


Zeen masih belum beranjak dari tempatnya, ia menatapi Yuna dalam diam. Yuna yang mendapat tatapan itu merasa bingung.


"Dokter Zeen?" panggilnya membuat pria itu tersadar dari lamunnya.


"Yasudah, kita pergi sekarang."


Setelah berucap, Zeen kembali melangkahkan kakinya lebih dulu meninggalkan Yuna yang lagi-lagi berjalan dibelakangnya.


Tampak suasana kantin begitu ramai, membuat Yuna yang membawa rantang berukuran agak kebesaran itu merasa bingung, bingung ingin menempati meja yang mana karena semua meja dikantin itu sudah tak ada yang kosong. Bisa dilihat, begitu banyaknya pekerja dirumah sakit besar itu, membuat kantin yang luasnya hampir dua puluh meter itu tetap saja tak muat menampung semua orang yang berada dirumah sakit.


Biasanya ketika ia datang kekantin, ia pasti kebagian meja, mungkin karena ia bersama dengan dokter Fadli ya mungkin itu alasannya.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Apa aku kembali saja diruangan?" gumamnya tampak berfikir. "Tapi aku tak mungkin balik lagi keruangan, bisa-bisa aku akan melihat adegan tak senonoh itu lagi." yang dimaksud Yuna adalah, dirinya yang tak ingin melihat adegan romantis antara Zeen dan juga Laura.


"Kenapa kamu berdiri saja disitu?"


"Ya?" Yuna tersentak kaget, dan refleks membalikkan tubuhnya menghadap kebelakang dan mendapati Zeen yang sudah berada tepat dihadapannya, tak lupa pria itu tengah membawa sebuah nampan berisikan makanan ditangannya.


"Kenapa kamu tak makan? Dan malah berdiri saja disini?" tanyanya beruntun.


"Karena.... Sepertinya tak ada lagi kursi kosong.." jawab Yuna.


"Benarkah?" tanyanya, kemudian pandangannya mengamati meja-meja dikantin itu, dan dirinya juga langsung berpendapat jika tak ada kursi kosong lagi dikantin itu. "Sepertinya memang benar tak ada lagi kursi kosong disini. Lebih baik kita kembali keruangan dan sarapan saja disana."


Saat hendak membalikkan tubuh, tiba-tiba suara seseorang menghentikan pergerakan mereka.


"Loh Yuna? Kamu disini? Saya mencarimu loh dari tadi."


Zeen membalikkan tubuhnya kembali, dan mendapati Fadli yang sudah ada dihadapan Yuna.


"Saya sebenarnya mau makan diruangan saja dokter, karena kursi disini sepertinya tak ada yang kosong." jawab Yuna.


"Oh? Kebetulan sekali, kursi yang aku duduki saat ini kosong, lebih baik kamu ikut bersamaku saja. Dari pada bolak-balik keruangan kan?" ucap Fadli dengan wajah seperti bisa, tersenyum dengan ceria membuat siapa saja pasti akan terpesona melihatnya.


"Tapi aku bersama dengan dokter Zeen saat ini..." ucap Yuna lalu melirikan matanya pada Zeen yang hanya memasang wajah datarnya.


"Oohhh, kalau begitu dekter Zeen juga bisa bergabung dengan saya, mari dokter Zeen. Ayo Yun.."


Fadli langsung mengajak Yuna untuk masuk kekantin itu dan mengajaknya disebuah meja yang sudah ia pesankan pada temannya agar tak ada yang mendudukinya. Seperti layaknya seseorang yang telah mempersiapkan meja itu pada orang istimewahnya.


Sedangkan Zeen yang belum sempat menjawab ajakan itu mengeram tertahan, ia seperti diabaikan oleh dokter Fadli yang seumuran dengannya. Ia pun mengertakan giginya menahan kekesalan. "****!"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2