Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 109


__ADS_3


...***...


Masih diacara pijit memijit, kedua insan itu masih asyik berendam didalam air hangat, tepatnya didalam bathtub. Dengan Yuna yang masih nyaman memejamkan matanya. Sedangkan Zeen yang tengah asyik memijit pundak Yuna dan berpindah memijit diarea punggung mulus Yuna yang tak memakai kain sehelai pun.


Mereka melakukan kegiatan itu selama beberapa menit lamanya, dan bukanya cepat mandi atau membersihkan diri, mereka malah membuat isi dari bathtub itu menjadi busa dan hampir saja melumer kemana-mana.


Zeen melirik Yuna yang masih memejamkan matanya, ia pun kemudian tersenyum miring, merasa jika rencana utamanya telah berhasil. Kini ia akan melancarkan rencana selanjutnya yang sudah tersusun rapi diotaknya.


Tangan Zeen yang semula memijit punggung Yuna, kini ia arahkan tangannya sedikit mendekat dipingir area bagian tubuh sensitif Yuna. Yaitu dua gundukan yang semalam membuatnya candu ingin segera memainkannya lagi sekarang juga.


Yuna yang merasakan itu tentunya langsung tersentak dan membuka matanya yang tadinya tengah terpejam. “Ma-mas ....” Yuna merasa kegelian dengan tangan Zeen yang tengah memijit dipingir area intinya itu. Ia sedikit memajukan tubuhnya kedepan agar tangan itu terlepas dari tubuhnya. Namun bukanya terlepas, tangan Zeen justru semakin mendekat dan mengerayau area sensitif Yuna.


Hal itu langsung membuat Yuna langsung menepis kedua tangan itu.


“Geli mas ....” ucap Yuna, yang tak tahan dengan rasa gelinya sekaligus rasa aneh yang menjalar pada dirinya. Yang juga sempat merasakan, dimana untuk pertama kalinya ia merasakan surga dunia mengarungi bersama suaminya.


Zeen nampaknya tak mengidahkan ucapan Yuna, terbukti bahwa Zeen dengan keberanianya langsung menangkap dua gundukan itu dengan posisi dirinya yang masih berada dibelakang Yuna.


“Mas?!” pekik Yuna terkejut. “Mas! Lepaskan tanganmu– uhm!” Yuna menutup mulutnya ketika merasakan hal aneh yang menjalar pada tubuhnya itu semakin memuncak, ketika kedua tangan besar Zeen memainkan dua asetnya dengan perasaan mengebu.


Bahkan mulutnya yang sejak tadi ia bungkam itu, tak tahan lagi menahannya sehingga keluarlah suara aneh yang sebelumnya ia keluarkan juga ketika mereka tengah mengarungi nikmatnya surga dunia.


Hal itu tentu membuat Zeen yang mendengarnya semakin bersemangat untuk mempermainkan area sensitif Yuna. Dan tak hanya disana, ketika ia melihat leher putih milik Yuna, ia tentu tak diam saja. Bibirnya kini ia tempelkan pada leher putih itu dan mulai mengecupnya dengan gerakan sensual sehingga membuat Yuna kembali mengeluarkan suara desa***nya.


“Yuna ... kau benar-benar membuat gila ....” gumam Zeen dengan suara berat khas menahan sebuah gejolak. Dan bergumam tepat didaun telinga Yuna.


“Ma-mas ... jangan diteruskan lagi! Aku masih tak sanggup untuk melakukannya lagi,” ucap Yuna dengan suara terengah-engahnya, yang juga mendongakan kepalanya tepat bersandar pada bahu kokoh milik Zeen.


Lagi-lagi Zeen tak mendengarkan ucapan itu, karena suatu desakan yang ada dibawah sana, membuat pikirannya kosong dan berkeinginan untuk terus melanjutkan aksinya.

__ADS_1


Sedangkan Yuna tiba-tiba membelalakan matanya, saat merasakan sesuatu yang menganjal tepat dibawah pantatnya. Yuna yang tau benda apa yang menganjal itu, bertambahlah rasa gugupnya dan jantungnya yang terus berdebar kencang tak karuan. Membuat dirinya yang ingin menghentikan aksi Zeen tak bisa atau tak mampu. Sebab Zeen sudah berhasil membuatnya kembali terbang melayang seperti berada dilangi ketujuh.


Puas bermain dengan benda yang sudah menjadi faforitnya, kini Zeen beralih memindahkan posisi Yuna menjadi menghadapnya, tentu dengan cara mengganggkat tubuh wanita itu dengan perlahan namun pasti.


“Mas!!” pekik Yuna terkejut, ketika merasakan tubuhnya berpindah posisi. Yuna pun langsung menghela nafas panjang karena Zeen lagi-lagi membuatnya jantungan, bagaimana tak jantungan jika lelaki itu terus saja membuat terkejut.


“Mas ... sebaiknya kita jangan melakukan ini. Sebab kita belum juga sarapa–” belum selesai Yuna melanjutkan ucapannya, lagi-lagi Zeen dengan tak sabarannya langsung merampas bibir Yuna sehingga membuat wanita itu tak jadi berbicara.


“Uhm!!”


Yuna berusaha melepas ciuman itu dengan memukul keras dada bidang Zeen, tak hanya itu, ia sengaja mencakar punggung Zeen agar pria itu mau melepaskannya. Namun usahanya itu agaknya tak berhasil. Karena Zeen tak berkutit sama sekali dengan tindakan Yuna. Bahkan lelaki itu malah memperdalam ciuman mereka dengan melu**t bibir Yuna saat bibir itu sedikit terbuka.


Tak hanya mel***t, Zeen pun juga mempermainkan rongga mulut Yuna dengan membelit lidah itu dan menyusuri isi dari rongga mulut itu.


Yuna yang sempat memberontak itu, tentu saja terbuai, ia pun refleks mengikuti permainan Zeen dengan membalas ciuman itu. Yuna yang sudah mempelajari cara berciuman itu sedikit mengimbanggi cara bermain Zeen. Sehingga membuat permainan itu semakin mengebu dan membuat atmosfer didalam kamar mandi yang dingin itu menjadi panas.


Zeen melepas ciuman diantara mereka, ketika mereka berdua sama-sama kehabisan oksigen akibat berciuman yang berdurasi agak lama, dari sebelumnya saat mereka baru pertama kali saling menautkan bibir.


“Mas, sebaiknya kita jangan melakukannya sekarang. Lebih baik kita segera membersihkan tubuh kita dan segera sarapan, karena kita sudah terlalu lama berada disini.” Yuna masih bersikukuh membujuk rayu Zeen.


Zeen langsung menggeleng, “Tidak Yuna ... aku mau bermain disini bersamamu, sebentar saja.”


Zeen mulai mencenkram pingul Yuna dan mulai mensejajarkan miliknya tepat didepan milik Yuna.


Agaknya Zeen sudah tak sabaran, mengingat dirinya yang sudah menahan gejolak lelakinya, yang sejak tadi sudah berdiri dengan tegak nan kokohnya.


“Tapi mas!” pekik Yuna berteriak, ketika lagi-lagi dikejutkan dengan melihat kembali benda sakral itu.


“Mas! Jangan seperti in– akh!!” Yuna menjerit tertahan ketika merasakan miliknya kembali terasa nyeri.


Begitu pula dengan Zeen yang mendongakan kepalanya, ketika miliknya baru sampai ujungnya saja yang masuk, namun rasanya terasa susah dan sempit untuk memasukinya kembali. Padahal malam kemarin ia sudah memasukinya.

__ADS_1


“Akhm!!” Zeen mengeram mulai kembali memajukan pingulnya sedikit demi sedikit, dan akhirnya ia kembali berhasil memasukinya.


Zeen langsung meraup kembali bibir Yuna, ketika melihat wanitanya yang meringis kesakitan. Menenagkannya dengan cara melu**t, menghi**p dan mempermainkan bibir itu dengan sangat dalam.


Zeen yang merasakan wanitanya yang berangsur tenang itu, tersenyum senang seketika namun bibirnya masih bertaut pada bibir Yuna. Ia merasakan jika Yuna membalas ciuman itu dengan tak kalah mengebunya, membuat gejolak lelakinya bertambah semangat.


Saat dirasa Yuna memukul dadanya, ia pun segera melepas ciuman itu karena tahu jika Yuna kembali kehabisan pasokan oksigen.


Setelah Zeen melihat ketenangan dari Yuna, ia pun segera melanjutkan aksinya yang sempat tertunda, yaitu dengan kembali mengarungi kenikmatan surga dunia.


Dengan Zeen yang mulai melajukan tempo permainannya dengan memaju-mundurkan pingulnya dengan irama yang sungguh bergelora. Dan mampu membuat Yuna yang berada dibawah kekuasaannya itu hanya bisa pasrah dan mengikuti permainan dari seorang Zeen Albaret.


TBC.


Sampai disini dulu ya gaes, jangan lupa untuk komen, like, vote dan beri Author poin sesuka kalian😉


°


°


°


°


Bonus visual Zeen ♡ Yuna




__ADS_1


__ADS_2