Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 133


__ADS_3

...***...


Pagi ini entah mengapa tubuh Yuna terasa lemas dan tak seperti biasanya yang selalu fit ketika pagi yang menjemputnya untuk beraktifitas.


Yuna yang baru saja keluar dari kamar mandi itu langsung memegangi pinggiran pintu, saat kepalanya sedikit berdenyut dan sedikit membuatnya ingin terjatuh.


“Sayang ... kemejaku yang warna biru nafi dimana ya? Apa kamu tau letaknya?” tampak Zeen berteriak memanggil Yuna, namun memfokuskan dirinya pada isi lemari itu.


Yuna tak menjawab langsung ucapan itu, ia lebih memilih terdiam sejenak dengan mengerjab-gerjabkan matanya agar rasa pusing itu segera menghilang dari dirinya.


“Sayang?” Zeen membalikkan tubuhnya saat tak mendapati jawaban dari istrinya.


Yuna yang sedikit menetralkan rasa pusingnya itu mulai berjalan mendekati Zeen, “Sudah dicari dengan benar Mas?” tanya Yuna pada suaminya dengan tatapan selidiknya.


Zeen langsung mengangguk yakin, “Iya ... aku udah cari sejak tadi, hampir setengah jam aku mencarinya sayang ....” rengek Zeen sambil mengerucutkan bibirnya.


“Benar?” Yuna mengangkat alisnya dan lagi-lagi dijawab angukan oleh Zeen.


Yuna menghela nafas sejenak lalu mulai memfokuskan pandangannya pada isi lemari itu. “Terakhir kali mas juga begini, waktu itu mas mencari kemeja mas sampai mengobrak-abrik isinya, tapi sekarang ...?” Yuna menengok kebelakang menatap mata Zeen.


“Lumayan rapi tak seperti waktu itu,” lanjut Yuna lalu kembali mencari kemeja suaminya.


Zeen yang mendengar itu dibuat terkikik geli, kemudian dengan rasa gemasnya ia berjalan mendekati istrinya dan langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang.


Yuna sedikit tersentak saat merasakan pelukan hangat dari suaminya, namun itu tak terlalu lama karena dirinya kembali memfokuskan dirinya.


“Ya ... dari dulu aku juga suka begitu, selalu mengobrak-abrik semua isi lemari. Bahkan Mama dulu sampai memarahiku habis-habisan karena waktu itu aku malah membiarkan baju-bajuku berserakan dilantai.” Zeen yang teringat kisah itu tertawa geli.


Sedangkan Yuna dibuat mengelengkan kepala, “Kamu bandel sih mas, kalo dibilangin.” Dengus Yuna.


Zeen kembali tersenyum, ia lalu meletakkan dagunya dibahu milik Yuna. Lalu menghirup dalam-dalam wangi sampo yang masih melekat pada rambut Yuna.


“Tapi itu dulu sayang, sekarang aku tak begitu, karena omelan dari istriku ternyata lebih menakutkan.” Jelas Zeen kembali tertawa geli.


Yuna langsung membalikkan tubuhnya ketika mendengar ucapan itu. “Emang omelan Mama tak menakutkan?” tanya Yuna sambil mengangkat satu alisnya.

__ADS_1


“Sebelas dua belas, hehehe.” Jawab Zeen sambil mengaruk belakang kepalanya.


Yuna yang mendengar itu kembali mengeleng, “Ini mas, kemeja mas ada ditengah-tengah kemeja milik mas yang lainnya. Lain kali kalau mencari tolong dilihat betul-betul.”


Setelah mengatakan itu, Yuna beranjak dari tempatnya menuju kasurnya untuk membereskan selimut yang masih terlihat kusut itu.


Zeen memandang kemejanya dengan kening berkerut, “Tadi aku sudah mencarinya disana? Tapi kok gak ketemu?” monolog Zeen bertanya-tanya. “Memang mata istri sangat jeli ketika mencari benda-benda.” Lanjutnya sambil tertawa.


“Sayang ....” beberapa menit berlalu Zeen kembali memanggil istrinya.


“Iya mas?” Yuna segera menghampiri suaminya saat dirinya sudah selesai berberes.


“Tolong pasangin dasiku sayang ....” pinta Zeen dengan nada manja.


Yuna mengangkat sebelah alisnya, “Bukankah mas biasanya selalu pasang sendiri?” tanyanya.


“Iya ... tapi mulai sekarang aku pengen kamu yang pasangin dasi mas, kayak dicerita filem-filem gitu.” Jelas Zeen sambil mengerlingkan matanya pada Yuna.


Yuna tersenyum, lalu mendekat kearah suaminya dan mulai melakukan apa yang disuruh oleh suaminya itu.


Zeen tersenyum senang kala dirinya melihat wajah cantik natural istrinya dari dekat. Ia sungguh betah berlama-lama menatap wajah istrinya itu, entah mengapa, semua yang ada pada diri Yuna selalu membuatnya candu.


“Kamu sakit sayang? Kok muka kamu kayak pucat gitu?” tanya Zeen dengan kening berkerut.


Yuna mengelengkan kepala. “Engak kok mas, aku gak sakit kok.”


“Jangan bohong ... aku ini seorang dokter loh, aku tau ciri-ciri orang yang lagi sakit?”


Yuna diam sejenak, “Aku cuma pusing saja kok mas ... itu pun cuman sebentar habis itu ilang ....”


“Gak ada lagi yang lain? Kayak badan kamu terasa gak enak gitu?” tanya Zeen lagi tampak memasang mimik wajah khawatir.


Yuna kembali mengeleng, lalu dengan cepat ia merangkul lengan Zeen. “Sudah mas ... jangan dipikirkan, mungkin aku hanya masuk angin saja tadi. Jadi bukan hal yang parah kok.”


“Beneran ya? Kalau ada yang sakit cepat bilang sama mas, nanti mas sendiri yang periksa kamu. Atau sekarang aja kita periksanya?”

__ADS_1


“Engak mas, aku udah gak papa kok, sudah ah! Jangan dipikirkan terus mending kita kebawah buat sarapan. Pasti semua orang lagi nungguin kita.”


“Hahhh ... yaudah kalau gitu, kita kebawah sekarang.”


Keduanya berjalan bersama dan keluar dari kamar itu untuk menuju ruang makan keluarga.


🍂🍂


Kini Zeen dan Yuna sudah sampai dirumah sakit. Kemarin Yuna tak ikut kerja bersama suaminya karena Mama mertuanya yang mengajak dirinya untuk menemani arisan.


Dan sekarang Yuna kembali ikut bekerja bersama Zeen, namun sedikit perdebatan karena Zeen sempat melarang dirinya untuk ikut saat melihat wajahnya yang masih terlihat pucat. Namun Yuna yang terus menyangkal dan bersikukuh untuk ikut bekerja, itu sebabnya Zeen akhirnya menyerah dan memperbolehkan Yuna untuk ikut bekerja.


Disepanjang koridor Yuna terus tersenyum saat para suster dan para dokter menyapa dirinya padahal mereka semua belum saling kenal, mungkin karena semua sudah tau? Jika ia merupakan istri dari Zeen Albaret anak dari pemilik rumah sakit besar itu.


“Selamat pagi dokter Zeen.”


Langkah Yuna terhenti kala melihat punggung suaminya didepan yang juga menghentikan langkahnya. Yuna pun sedikit menyembulkan kepalanya kesamping untuk melihat siapa geranga yang sedang menyapa Zeen itu.


“Ya pagi,” Zeen menjawab sapaan itu dengan wajah datar.


Sedangkan Yuna tampak sedikit kaget saat melihat wajah wanita yang bertemu dengannya dan Zeen saat berada di Bali.


Yuna kembali tersentak saat mata mereka saling bertemu.


“Oh? Ada istri dokter Zeen juga? Selamat pagi kakak ....” sapa Mita pada Yuna sambil tersenyum.


Yuna yang mendapati sapaan itu hanya membalas dengan senyuman, 'Waktu itu adik? Sekarang kakak?' gumam Yuna terkekeh geli.


“Kakak disini mau–”


“Istriku kerja bersamaku, sebagai asisten pribadiku.” Jawab Zeen menyela ucapan Mita. “Kalau begitu kami permisi dulu.”


Setelah mengatakan itu, Zeen langsung beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Mita dengan Yuna yang mengikutinya dari belakang.


Mita yang melihat itu hanya bisa mengaruk kepalanya, dan juga sedikit terkejut saat mengetahui jika istri dari orang yang ia sukai bekerja dirumah sakit yang sama.

__ADS_1


“Mungkin akan sangat susah jika aku berniat untuk dekat dengannya ....” gumam Mita tersenyum sendu menatap punggung dua insan itu yang sudah menjauh.


TBC.


__ADS_2