Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 23


__ADS_3

*****


Yuna yang baru saja menyiram bunga itu, masuk kedalam rumah. Guna untuk membasuh tangannya yang terkena tanah ketika ia tengah mencabut rumput pada pot bunga yang ada ditaman itu, kebiasaan ia ketika tengah menyiram bunga maka ia menyempatkan untuk mencabuti rumput itu agar terlihat rapi, jika dipandang.


Berselangan dengan itu, Zeen juga baru memasuki rumah. Karena ia juga habis selesai dari joging paginya, Vina yang kebetulan diruang tengah itu melihat keberadaan mereka yang bersama-sama baru saja masuk dari rumah itu.


"Wah... Kalian habis dari mana? Kok masuknya bisa bareng-bareng gitu?" tanya Vina dengan nada menggoda.


Zeen dan Yuna menghentikan langkahnya bersamaan, kemudian mereka berdua saling berpandangan.


"Yuna habis nyiram bunga mah.... Kebetulan mas Zeen juga habis dari jogingnya." jelas Yuna.


"Ooo begitu..." ucap Vina memangut-mangut mengerti.


"Iya mah, kalau gitu Yuna tinggal dulu ya mah. Yuna mau ketoilet sebentar." ujar Yuna.


"Iya Yun." jawab Vina sambil mengangukan kepala.


Setelah Yuna pergi, akhirnya tinggal Zeen dan mamanya yang masi setia menyesal teh manisnya itu.


"Aku keatas dulu ya mah..." ucap Zeen yang baru saja mau melangkahkan kakinya, tiba-tiba suara mamanya itu menghentikannya.


"Eh, tunggu dulu Zeen!" cegat Vina.


Zeen berbalik kembali menghadap mamanya. "Iya mah, ada apa?" tanyanya.


"Pagi ini kamu mau kerumah sakit kan?" tanya Vina.


Zeen menganguk. "Iya, emang ada apa mah?"


"Gini... Lebih baik Yuna bareng sama kamu aja berangkatnya, kebetulan Yuna mulai kerja hari ini. Jadi kamu berangkat sama Yuna ya sayang? Biar Yuna gak tersesat nantinya." jelas Vina.


"Tapi kan mah, kan ada sopir. Kenapa haru Zeen sih!" gerutunya.

__ADS_1


Vina berdecak mendengar penolakan putranya itu, "Apa salahnya sih Zeen kalo Yuna berangkat sama kamu? Kan tujuan kalian searah, jadi bareng ajalah... Dari pada nanti Yuna kerepotan ngak tau harus berbuat apa setelah sampai dirumah sakit nanti." kesal Vina.


"Tapi kan mah..."


"Gak ada tapi-tapian, turut aja apa kata mama. Jangan jadi anak durjana kamu!" tekan Vina, lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar.


Zeen yang mendengar ucapan pemaksaan dari mamanya itu, berdecak kesal. Entah mengapa sejak kedatangan Yuna dirumahnya itu, ia berasa dianak tirikan. Yuna seperti selalu dimanja oleh kedua orangtuanya, sedang dirinya yang anak kandungnya sendiri pun dijadikan babu untuk menuruti kemauan orangtuanya itu. Mulai dari Yuna, Yuna dan yuna. Memikirkannya pun membuat batin Zeen menjadi jengkel teramat.


"Sial! Kenapa sih? Harus ada makhluk satu yang muncul dihidup aku? Rasanya hidupku jadi gak tenang jika ada dirinya." kesal Zeen, dengan rasa frustrasinya ia mengusar rambutnya. Hanya dengan cara itulah ia bisa menyalurkan rasa jengkelnya itu.


🍂🍂


Setelah dirasa sudah siap dan rapi, Yuna pun keluar dari kamarnya yang mana kala merupakan kamar Zeen sebelumnya. Ia berjalan menyusuri tangga dan kebetulan melihat mertuanya yang tengah berjalan sambil mengemil roti ditangannya itu.


"Mah..."


Vina menengok kearah Yuna. "Iya yun? Oh! Kamu udah siap mau pergi?" tanya Vina yang melihat penampilan Yuna yang sudah begitu rapi, walau hanya dipoles make up sedikit saja diwajahnya itu. Namun kesan ayu gadis desa masih melekat pada wajahnya naturalnya itu.


Yuna menganguk, "Iya mah... Sesuai permintaan mama sama papa kemarin." ucap Yuna tak lupa senyum manisnya yang terukir dibibir kecilnya itu. Bahkan senyumannya bertambah manis ketika gigi gingsulnya terlihat dari beberapa jejeran giginya itu.


"Jalani aja sesuai hati kamu ya sayang? Jangan hanya karena permintaan papa dan mama, kamu jadi terpaksa melakukannya." ujar Vina.


"Iya mah, Yuna malah seneng kok. Diajak kembali kerumah sakit, rasanya Yuna sudah rindu akan suasana rumah sakit. Walau pasti berbeda dengan suasana didesa." ucap Yuna.


"Iya... Nanti kalo udah terbiasa pasti kamu betah kok disana."


Yuna menganguk antusias mendengar ucapan mertuanya itu.


"Yasudah, yuk! Mama anter sampe teras, kebetulan Zeen nunggu kamu diluar!" ucap Vina, ia pun menggiring Yuna menuju keteras. Walau Yuna sedikit linglung mendengar ucapan mertuanya itu.


"Dokter Zeen nungguin aku? Bukanya dia sendiri ya yang gak mau dekat sama aku?" batin Yuna bertanya-tanya pada dirinya sendiri itu.


Sesampainya diteras, apa yang dikatakan oleh mertuanya itu benar adanya. Yuna melihat mobil Zeen yang masih terparkir digaransi itu, yang berarti belum berangkat kerumah sakit.

__ADS_1


"Itu mobilnya Zeen! Samperin gih..." ucap Vina menunjuk mobil Zeen, yang dimana Zeen sudah setia duduk dimobil itu.


Yuna menganguk, ia pun meraih tangan mertuanya dan tak lupa mengecupnya. Seperti biasa jika ia tengah bepergian.


"Yaudah, Yuna berangkat ya ma... Assalamualaikum!" ucap Yuna.


"Waalaikum salam...." jawab Vina. Kemudian ia melihat menantunya yang sudah masuk kedalam mobil, setelah itu mobil yang dikendarai mereka berjalan keluar dari pekarangan kediaman itu.


🍂🍂


Sudah beberapa menit, mereka duduk disatu mobil itu. Dimana Zeen yang mengemudi mobil itu, sedangkan Yuna berada tepat dikursi penumpang.


Terjadi keheningan, tak ada percakapan yang memulai diantara mereka. Keheningan itu tak berselang beberapa lama, ketika mobil itu dihentikan oleh Zeen, didekat sebuah bangunan yang bisa dikatakan jika itu adalah sebuah apartemen mewah dikota besar itu.


Zeen menatap Yuna yang ada disampingnya dengan tatapan datar.


"Duduklah dibelakang!"


Yuna sedikit tersentak kala Zeen yang tiba-tiba berucap, ia refleks menatap Zeen yang ada disampingnya.


"Tuli ya?" ucapan itu begitu sinis dipendengaran Yuna.


"Mengapa pindah?" tanya Yuna yang sudah dilanda kebingungan.


"Sudahlah... Tak usah banyak bertanya, cepat pindah kebelakang! Atau kau mau kuturunkan disini sendirian?" tekan Zeen, mengalihkan pandangannya kedepan.


Yuna menghela nafas, ia tak tahu apa alasannya Zeen menyuruhnya pindah kekursi belakang. Namun ia tak mau bertanya lagi, dari pada terjadi adu mulut diantara mereka.


Setelah Yuna pindah kebelangkan, mobil masih belum dijalankan oleh Zeen. Namun tiba-tiba Yuna melihat, jika pintu mobil itu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita seksi yang langsung saja masuk kedalam mobil itu. Dan duduk dikursi penumpang, yang sebelumnya diduduki oleh Yuna.


"Sayang..."


Wanita itu, seakan tak tahu keberadaan Yuna yang ada disana. Yuna begitu jelas melihat wanita yang asing dimata Yuna itu, mengecup pipi Zeen begitu saja.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa untuk sematkan Vote, like, komen. Atau kirimkan author setangkai bunga seiklasnya saja🐨🦥


__ADS_2