Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 82


__ADS_3

...—☘️Selamat Membaca☘️—...


...***...


Yuna tampak berlari tergesa-gesa, tak lupa payung yang sudah ada ditangannya.


Kebetulan sekali, Yudas yang baru saja mengambil minum dari dapur itu melihat Yuna yang tengah berlari. Ia mengerutkan keningnya merasa bingung dengan gadis itu.


“Hei! Yuna! Ada apa? Kenapa kamu berlari-lari?” tanya Yudas sedikit berteriak.


Yuna sejenak menghentikan langkahnya dan menatap Yudas, “Yuna mau keluar sebentar, kak.”


“Apa? Mau keluar? Diluar sedang hujan Yuna! Jangan keluar, nanti kamu sakit.” Tegasnya.


“Tapi ....”


“Tak ada tapi-tapi, cepat masuk kedalam!” perintahnya.


Yuna masih terdiam ditempatnya, pikirannya saat ini tengah melayang-layang. Bahkan setelah melihat Zeen jatuh pingsan membuat isi kepalanya hanya tertuju pada pria itu.


“Oh! Atau jangan-jangan kamu mau menghampiri pria bajingan itu ya? Jika iya, maka aku benar-benar tak akan mengizinkan!” ucap Yudas sambil melipat kedua tangannya.


“Cepat Yuna! Kembali kekamarmu. Dan tidur,” perintahnya lagi.


“Maaf kak ... tapi Yuna tak mau dia saja,”


Setelah mengucapkan itu, Yuna benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan Yudas yang terdiam melongo.


Yudas menepuk jidatnya seketika, “Hahh ... begitukah yang namanya cinta mati?” gumamnya sambil mengeleng kepala.


Tak ingin berdiam diri disana, Yudas pun menyusul Yuna berniat untuk menghentikan lagi, gadis itu.


🍂🍂


Ditengah hujan deras, Yuna masih berlari mencari sosok pria yang terus mengganggu pikirannya. Ia sungguh sangat kalut saat ini, ia terus membayangkan. Bagaimana keadaan pria itu? Didepan matanya sendiri pria itu jatuh pingsan saat hujan deras langsung menerpa tubuh pria itu. Memikirkannya saja membuat dirinya langsung menambah kecepatan larinya.


“Pasti dia belum sempat makan, itu sebabnya dia langsung jatuh pingsan seperti itu,” gumam Yuna mengeleng.


Sesampainya dihalaman samping rumah, ia mulai mengedarkan pandangannya. Ketika matanya menangkap sebuah objek yang ia cari, ia pun langsung bergegas menghampiri tempat itu.


“Mas Zeen!” Yuna menutup mulutnya ketika melihat wajah Zeen yang sudah pucat, terlihat dengan wajahnya yang sudah memutih. Bahkan saat Yuna menyentuh tangan Zeen ia dibuat tersentak, ketika merasakan kedinginan dari kulit itu.

__ADS_1


“Astaga! Aku harus cepat membawanya kedalam,” ucapnya lalu mulai mencoba mengangkat tubuh Zeen, namun sekuat apapun dia mencoba ia tak akan bisa menganggkat tubuh seorang pria. Yang beratnya jauh lebih berbeda dengan perempuan.


Lagi-lagi Yuna merasa kalut, ia bingung bagaimana cara membawa Zeen kedalam.


“Sebaiknya aku cari bantuan,” ucapnya, langsung bangkit dari duduknya. Namun kebetulan lagi Yudas yang bertujuan menyusul Yuna sudah berjalan tepat dihadapannya.


Merasa kakaknya itu seperti dewa penolong, Yuna pun memberikan senyum cerah pada kakaknya itu.


“Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Yudas, merasa aneh dengan tingkah Yuna.


“Kebetulan sekali kakak ada disini, Yuna minta tolong kak! Tolong bantu Yuna angkat tubuh mas Zeen. Kasihan dia sudah kedinginan seperti ini,” ucap Yuna dengan nada memohon pada kakaknya.


“Hah?” Yudas melongo, lalu mengalihkan pandangannya kebawah. Ia pun mendesah seketika, “Hahh ... dasar biang ngerepotin.” Kesalnya


“Tolong ya kak ... takutnya nanti mas Zeen sakit parah jika tak segera ditolong,” mohon Yuna lagi.


“Udahlah Yuna ... biarin aja dia disini, itung-itung buat pembalasan ....” ucap Yudas dengan entengnya.


“Tapi kak ... tubuhnya sudah kaku ... sepertinya gara-gara hujan tubuhnya jadi kedinginan, dia juga pasti belum makan ....” jelas Yuna memelas.


“Ukh ... Yuna ....”


Terdengar gumaman suara dari Zeen, Yuna yang mendengar itu tentu saja terkejut, ia refleks kembali berjongkok dan melihat keadaan Zeen kembali.


Yuna kembali menatap Yudas dengan tatapan memohon, “Kak ... tolong bantu Yuna, Yuna ....”


Yudas yang merasa tak tega dengan wajah memelas dari Yuna itu, lagi-lagi menghela nafas panjang. “Yasudah! Yasudah! Aku akan membantumu, hanya demi kamu! Bukan dia, ingat itu!” tekan Yudas, merasa tak ikhlas saat ingin menolong Zeen.


“Iya kak, terimakasih ....” ucap Yuna merasa senang.


Yudas pun mulai mengangkat tubuh Zeen, dengan perasaan ogah-ogahan ia mulai membawa tubuh Zeen masuk kedalam rumah.


Yuna yang mengikuti dari belakang itu tak diam saja, ia memayunggi Yudas agar tidak kehujanan, ia pun membantu membukakan pintu agar Yudas yang kesusahan membawa tubuh suaminya bisa langsung masuk kedalam rumah.


“Bawa saja kekamarku kak ....” usul Yuna.


“Tidak! Kita bawa saja dia kerang tamu, enak saja mau dimasukin ke kamarmu.” Tolak Yudas sambil mengerutu.


“Hah? Tapi kak?”


“Udah dengerin kakak aja,” tekannya tak mau mengalah.

__ADS_1


Yuna pun hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Yudas.


Saat sudah sampai pada tujuan, Yudas pun langsung berjalan cepat kearah kasur. Dan menghempaskan tubuh Zeen begitu saja bak seperti seseorang yang sedang membuang sampah pada tempatnya.


“Kakak ....” pelik Yuna terkejut, ia meringis kala melihat Zeen kembali mengeliat seperti merasakan kesakitan pada bagian tubuhnya.


Mungkin karena terlalu lama diluar, tubuhnya itu menjadi kaku dan tersengol sedikit saja pasti akan merasakan sakit.


“Sudah ya ... kakak sudah berbaik hati padanya, lebih baik kita kembali kekamar saja. Biarkan dia istirahat disini,” ucap Yudas beranda malas.


“Kakak kembalilah kekamar dulu, Yuna akan kembali setelah mengganti baju mas Zeen ....” jawab Yuna.


“Hahh ... kamu ini terlalu baik banget sih Yuna? Buat apa sih nolongin pria bajingan ini?!” sungut Yudas kesal.


“Masa Yuna membiarkan orang yang lagi sekarat kak?”


Yudas menatap Yuna sejenak, lalu menghela nafas panjang, “Hahhh ... terserah kamu aja deh, suka-suka kamu. Diomongin kok ngeyel banget.” Gerutunya, lalu kembali melangkahkan kakinya munuju pintu.


“Kak!” panggil Yuna tiba-tiba.


Yudas membalikkan tubuhnya, “Apa?”


Yuna menyengir, “Pinjem bajunya boleh?” tanyanya sambil malu-malu kucing.


“Apa?” teriak Yudas melongo.


🍂🍂


Yuna dengan hati-hati menyelimuti tubuh Zeen dengan selimut tebal dan tentunya sangat hangat. Ia sudah mengganti baju yang dikenakan oleh Zeen sebelumnya, tentunya baju dari Yudas kakaknya. Awalnya Yudas tak mau memberikan, namun ia terus membujuk-bujuk pria itu. Dan akhirnya pria itu mau juga walau Yuna tau jika pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu. Sebenarnya tak ikhlas ketika memberikan bajunya.


Untuk kedua kalinya Yuna mengomperes kening Zeen dengan air hangat dan handuk. Pria yang bersetatus sebagai suaminya itu kembali mengalami demam tinggi, dan hal itu benar-benar membuat Yuna dilanda kekhawatiran.


“Kenapa kamu malah menyiksa tubuhmu seperti ini sih, mas ....” gumam Yuna, menatap wajah Zeen yang sudah terlelap dengan tenangnya.


“Seharusnya kamu itu menemani nenek dirumah sakit, bukanya hujan-hujanan seperti ini demi aku ....” gumamnya lagi, diselingi helaan nafas dari mulutnya.


“Karena kamu lebih penting, untukku Yuna ....”


Tubuh Yuna tersentak mendapati respon ucapan dari Zeen, padahal ia kira pria itu sudah terlelap.


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa komen🤎


__ADS_2