Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 172


__ADS_3

...***...


“Apa?!” teriak Yuna merasa tak percaya. “Bagaimana bisa Mah? Mama gak bercanda kan?” Yuna semakin dibuat resah, belum hilang rasa resah akibat memikirkan suaminya yang terserempet motor, kini musibah baru datang tanpa diketahui.


“Mama serius sayang, sekarang kedua orangtua kamu sedang dirawat diruangan VIP tepatnya dinomor 702 dilantai delapan.”


Setelah mendengar penuturan itu, Yuna pun langsung bergegas dari ruangan dengan berlari dan menerobos pintu begitu saja.


Semuanya pun panik melihat itu, apalagi Yuna yang juga sedang membawa keturunan keluarga Albaret dengan berlari.


“Mama ... seharusnya Mama bilangnya nanti aja pas Yuna siuman cukup lama ....” tegur Zeen merasakan frustrasi.


“Aduh ... bibir Mama sudah kegatelen, jadi tanpa sadar Mama bilang begitu aja,” Vina yang merasa bersalah itu terus menepuk-bepuk bibirnya dengan perasaan gemas dan kesal.


“Sudah-sudah! Cepat atau lambat Yuna juga pasti akan mengetahuinya, apalagi mereka adalah kedua orangtua Yuna.” Timpal Albaret menengahi, yang membuat ibu dan anak itu mengangguk membenarkan ucapan Albaret.


“Sekarang kita susul Yuna, takutnya menantu kita kenapa-napa,” lanjutnya lagi.


“Benar apa kata putraku! Mari kita semua kesana bersama-sama,” timpal Rima lalu mengiring keluarganya menyusul Yuna.


Firo yang tertinggal dibelakang itu hanya bisa mendengus kesal. “Kenapa keluargaku dipenuhi dengan macam-macam drama?” gerutunya, dengan perasaan malas ia pun mengikuti langkah mereka dari belakang.


°°°


Saat Yuna melihat pintu ruangan yang ia tuju, ia pun langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk. Alhasil ia langsung disuguhkan dengan pemandangan kedua orangtuanya yang tengah terbaring diranjang yang berbeda namun bersisihan.


“Mama! Papa!” teriak Yuna langsung berlari menuju ranjang yang ditempati oleh Eva, kemudian ia langsung memeluk Mamanya dengan penuh derai air mata.


“Putrinya Mama kok bisa disini? Siapa yang beritahu kamu nak?” tanya Eva mengelus lembut suara rambut Yuna.


Yuna mendongak menatap Eva, “Itu–”


“Siapa dia Mah?”


Seseorang menyela ucapan Yuna dari arah pintu membuat semua atensi mengarah pada seseorang itu.


“Sayang ....”


Yuna tersentak lantaran Eva memanggil seorang gadis muda dengan sebutan sayang, ia pun seketika dibuat bingung.


“Siapa dia Mah? Kok dia tiba-tiba nangis trus meluk Mama?” tanya gadis itu saat sudah mendekati ranjang Eva.

__ADS_1


Eva tak langsung menjawab, ia mengambil tangan mungil gadis muda itu lalu beralih mengambil tangan Yuna.


“Sayang ... dialah orang yang Mama ceritakan tadi, dia kakak mu yang hilang.”


Lantas gadis muda itu menatap Yuna dengan tatapan tak percaya, sedangkan Yuna masih diam mencerna ucapan itu.


“Jadi ....” ucapan gadis itu menggantung kala melihat sang Mama menganggukan kepala.


Kini Eva beralih menatap sang anak pertama, ia lalu mengelus pipi Yuna dengan lembut. “Kamu pasti bingung kan? Yah ... dialah adik kamu Yuna, adik kandung kamu yang pernah Mama ceritakan sebelumnya.”


“Adik?” ulang Yuna.


Eva mengangguk, “Ya ... dialah Diana! Diana Sanjaya!”


Yuna membungkam mulutnya seketika, ia merasa terkejut sekaligus bahagia dipertemukan langsung oleh sang adik yang tak pernah dilihat olehnya. Dan kini adiknya itu sudah besar dan tumbuh menjadi seorang gadis cantik mirip dengan Mamanya.


“Adiknya Yuna?” tanya Yuna pada diri sendiri.


Diana yang melihat Yuna tengah terharu berkepanjangan itu mendengus sebal. “Ck! Kau mau begitu terus?” ketusnya.


Yuna mengangkat satu alisnya bingung, “Maksudnya?” tanyanya dengan wajah polosnya.


Diana kembali mendengus. “Kakak mau nangis lagi? Gak mau peluk aku gitu? Kakak gak rindu apa sama adik tercantik kakak ini?” ujarnya sambil menunjukan senyum manisnya, dan alhasil membuat kedua orangtuanya terkekeh melihat tingkah anak bungsunya yang sangat usil entah mirip siapa.


“Ehhh? Jangan lari-lari!” pekik Diana merasa kaget.


Namun Yuna tak mengidahkan, ia dengan rasa haru yang mengebu langsung merengkuh tubuh adik kecilnya kedalam pelukannya.


“Adik kecil kakak sangat cantik! Kakak rindu ....” ucap Yuna sambil mengelus-ngelus rambut sang adik.


“Kakak ... aku sudah kelas tiga SMA ... jadi jangan panggil aku dengan sebutan anak kecil! Sebentar lagi aku sudah mau memasuki dunia orang dewasa kakak ....” jelas Diana sambil mengerucutkan bibirnya. Namun tak bisa ia pungkiri dirinya juga merasa bahagia ketika dipertemukan dengan sang kakak yang telah ia rindui sejak ia masih kecil.


“Diana juga rindu, kakak ....” pungkas Diana yang kemudian membalas pelukan Yuna tak kalah eratnya.


Pemandangan itu tentu tak luput dari pandangan Zeen dan juga keluarganya. Mereka nampak saling memandang dengan perasaan haru dan bahagia ketika melihat pancaran yang berbeda dari wajah Yuna sang menantu sekaligus istri tercinta Zeen Albaret.


°°°


Kini para keluarga besar tengah bercengkrama. Ruangan nampak ramai dengan suara-suara mereka, sampai salah satu perawat datang dan memberitahu mereka bahwa jadwal kunjung telah usai karena pasien dianjurkan untuk beristirahat.


Kalian pasti bingung mengapa kedua orangtua Yuna sampai dirawat dirumah sakit dan tiba-tiba terjadinya kecelakaan. Jawabannya karena kedua orangtua Yuna itu sempat ingin menjemput putri keduanya yang pulang dari desa tempat tinggal neneknya atau orangtua dari Eva.

__ADS_1


Namun kejadian tak terduga menimpa mereka, pasalnya ketika mereka tengah diperjalanan tiba-tiba seorang pengendara sepeda motor lewat begitu saja padahal pada saat itu jalanan nampak sepi, dan entah dari mana asal pengendara motor itu mereka berdua pun tak tahu.


Untungnya mobil yang dijalankan oleh Sigit tak terlalu kencang, jadi mereka hanya mengalami luka ringan saja dan dianjurkan untuk menginap dirumah sakit selama seminggu. Sigit mengalami patah tulang pada tangannya, sedangkan Eva mengalami patah tulang pada kakinya dan beberapa lecet sedikit pada bagian tubuh mereka namun luka-luka itu hanya luka ringan saja.


“Yuna disini saja ya Mah? Pah? Yuna pengen jagain kalian.” Cicit Yuna yang sedari terus merengek tak mau diajak pulang dan malah ingin terus berada dirumah sakit.


Eva dan Sigit saling mengulum senyum melihat tingkah putri pertama mereka.


“Engak sayang, Mama menolak! Kamu lagi hamil jadi kamu gak boleh capek-capek, itu sebabnya kami harus pulang dan cepat istirahat. Besok baru kamu boleh kesini lagi.” Ujar Eva menjelaskan.


“Tapi mah ....”


“Kamu gak kasihan lihat suami kamu? Suami kamu juga perlu perhatian kamu sayang ....” sela Eva sambil melihat menantunya yang hanya diam sambil nyengir kuda.


Yuna pun juga terdiam, yang dikatakan oleh Mamanya memang benar, pasti suaminya itu juga membutuhkannya karena suaminya itupun juga mengalami kecelakaan kecil yang mengakibatkan tulang ekornya mengalami patah tulang. Tentu hal itu membutuhkan waktu cukup lama agar patah tulang itu segera pulih.


“Iya sayang ... kamu juga harus istirahat, kamu gak kasihan sama baby-baby kita yang sudah kelelahan itu, hem?” bujuk Zeen dengan rayuan mautnya. “Kamu juga gak kasihan apa? Sama suami kamu ini–”


“Yasudah, Yuna pamit pulang ya Mah,” dengan cepat Yuna menyela perkataan dari sang suami. Ia tak mau jika harus mendengar rayuan-rayuan yang berunjung akan mempermalukanya lagi didepan keluarganya.


Eva tersenyum menanggapi, lantas ia memeluk putrinya. Kemudian setelah itu Yuna beralih memeluk sang Papa dan terakhir adiknya.


“Kakak titip Papa dan Mama padamu ya dik.” Pinta Yuna.


“Tenang aja kak, Ana pasti jagain Mama dan Papa kok,” balas Diana menyengir kuda.


Yuna tersenyum sambil mengusap rambut adiknya dengan gemas.


“Yaudah mas, kita pulang sekarang.” Ajak Yuna.


“Tunggu sebentar!” teriak Diana yang membuat mereka semua menghentikan langkahnya.


“Untuk kakak ipar!” Diana menunjuk Zeen yang membuat sang empun bingung dibuatnya. “Jaga kakak ku baik-baik, dan keponakanku! Ingat ya kakak ipar jika kakakku sampai kenapa-napa kakak ipar akan langsung berhadapan denganku biarpun kakak ipar sakit, tapi tanggung jawab seorang suami tetaplah berjalan.” Tekan Diana dengan suara tegas membuat Eva dan Sigit menegur dirinya namun Diana mengabaikanya.


Zeen yang mendengar itu tersenyum semirk. “Walau tak kau beritahu pun, aku akan terus menjaganya adik ipar! Karena kakakmu itu adalah istriku! Istriku tercinta dan duniaku.” Jelas Zeen membuat Diana ikut tersenyum mendengarnya.


“Bagus!” jawab Diana, lantas pandangannya kemudian ia arahkan pada Firo yang sejak tadi lelaki itu hanya diam mengamati dengan wajah acuhnya.


Diana kemudian membatin. 'Aku harus tanya pada kakak! Siapa nama pria tampan itu, dia benar-benar tipeku!' batinnya meronta-ronta sambil tersenyum usil.


TBC.

__ADS_1


Hayoloh😆 gak selesai-selesai ini nanti ceritanya! Banyak kisah baru yang berdatangan.


__ADS_2