
"Sayang... Kamu udah nungguin lama disini ya?" tanya Zeen, pada kekasihnya, Laura. Ketika ia sudah masuk kedalam mobilnya itu.
Laura tersenyum, lalu mengelus pipi lelaki yang ada didepannya itu. "Engak kok sayang baru aja sampai."
"Tumben kamu nyusul aku kesini? Biasanya juga nungguin aku dibar clup." ucap Zeen sambil mengecup tangan wanitanya itu.
"Emang kenapa? Gak boleh ya... Sesekali lah, kekasihmu ini jemput kamu kerja." ucap Laura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh? Tentu saja boleh dong... Aku malah seneng banget kalo kamu jemput aku kesini, lelahku serasa hilang ketika melihatmu sayang..." jawab Zeen, setelah itu ia menarik tubuh Laura dan merengkuh tubuh itu, masuk kedalam pelukannya.
Yuna yang masih belum beranjak dari tempat itu, tentu saja melihat semua interaksi mereka.
Laura membalas pelukan Zeen dengan erat, sudut matanya tak sengaja melihat bayangan seseorang yang seperti tengah memperhatikannya itu.
Sudut bibir Laura tersenyum miring, ketika ia melihat Yuna yang memang jauh dari keberadaannya itu. Namun Laura masih dapat mengenali sosok Yuna itu.
Sebuah ide muncul dikepala Laura, ia pun menjalankan aksinya. Ia menguraikan pelukannya itu, dan langsung menyambar bibir Zeen untuk dicumbunya.
Laura kembali melirik Yuna, ia merasa senang ketika Yuna masih melihatnya itu.
"Sayang... Kita pulang keapartemen aja yuk!" ajak Laura, ketika mereka menyudahi acara cium**n itu.
"Yuk, aku juga udah capek banget. Pengen dipeluk kamu." jawab Zeen, dengan mentoel dagu Laura.
Zeen kemudian memasang sabuk pengamannya dan mulai menghidupkan mobilnya itu, saat ia ingin menjalankan mobilnya itu ia seperti tengah melupakan sesuatu. Dan itu soal Yuna yang masih berada didalam rumah sakit.
"Ada apa sayang?" tanya Laura.
Zeen tersadar, "Eh? Engak, Engak ada apa-apa." jawab Zeen.
'Bodo amat deh, mungkin dia sudah pulang.' gumam Zeen dan langsung menjalankan mobilnya, melewati Yuna yang sepertinya Zeen tak melihat keberadaannya itu.
Yuna tersenyum sendu ketika mobil itu melewatinya. Ia pun melihat Laura menebarkan senyum dengan merangkul lengan Zeen dengan mesranya.
Yuna menghela nafas, "Seharusnya aku tadi mau aja diajak pulang, bareng sama papa." gumam Yuna tersenyum miris.
"Loh? Yuna, belum pulang."
__ADS_1
Yuna tersentak kaget, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan mendapati dokter Fadli yang tengah berjalan kearahnya.
"Eh! Dokter Fadli, iya dok saya belum pulang." jawab Yuna, tersenyum canggung.
"Loh? Kenapa gak pulang, udah malem banget loh ini." ucap Fadli mengangkat satu alisnya.
Yuna kembali tersenyum kikuk, "Hehe, nungguin ojol soalnya dokter..." jawab Yuna, berbohong.
"Oh... Yaudah, kalau begitu. Bareng sama saya saja, kebetulan saya juga mau pulang." kata Fadli, menawari Yuna.
"Eh! Gak perlu dok, saya ndak mau merepotkan." tolak Yuna merasa sungkan.
"Gak ngerepotin kok, udah yuk! Bareng aja pulangnya, udah malem ini gak baik cewek pulang sendiri. Nanti ditengah jalan ada cowok aneh ganguin kamu."
"Hahaha, dokter kan juga seorang cowok." ucap Yuna tertawa sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau saya ini bukan cowok aneh, dijamin aman kalau sama saya... Udah, percaya aja sama saya. Saya gak akan aneh-aneh kok. Kalo emang saya aneh-aneh nanti, kamu tinggal pukul kepala saya saja nanti." ujar Fadli dengan percaya dirinya.
Yuna kembali tertawa, kali ini tawa itu menular pada Fadli. Dan membuat dokter itu sejenak terpesona padanya.
"Gimana? Mau pulang bareng kan? Saya memaksa loh..." tanyanya lagi dengan nada menggoda.
Fadli tertawa keras mendengar jawaban Yuna, "Ada-ada aja kamu... Yasudah, ayo masuk kedalam, itu mobil saya disana." ucapnya, sambil menunjuk mobil hitam mengkilap diantara mobil-mobil disana.
Yuna menganguk, dan melangkahkan kakinya mengikuti langkah dokter Fadli. "Mobil dokter bagus juga ya." kata Yuna, saat ia sudah duduk dikursi mobil itu. Yuna mengambil sabuk pengaman dan memasangnya, namu ada aja kendala yang membuat dirinya kesusahan memasang sabuk itu.
"Sini, biar saya bantu." ucap Fadli, memasang sabuk pengaman itu pada Yuna.
"Beres..."
Yuna mengeruk kepalanya. "Makasih dok..."
"Sama-sama, oh iya... Kamu tadi bilang mobil saya bagus ya? Jawaban dari saya memang iya jika mobil saya ini bagus dan keren, gini-gini saya buka usaha loh." ujar Fadli membanggakan diri, namun diselingi ucapan candaan.
"Hahaha, dokter narsis ya..."
"Saya emang gitu, suka bercanda." jawab Fadli, dengan fokus menyetir mobilnya itu. Karena jalanan yang cukup ramai membuat ia harus tetap stay menatap kedepan.
__ADS_1
"Oh, iya emang dokter usaha apa? Dokter kan udah punya kerjaan. Apa gak capek kalau nambah pekerjaan begitu." tanya Yuna.
"Usaha saya cuma buka klinik kecil-kecilan Yuna. Dan alhamdulillah bisa beli mobil saya ini, bisa dibilang mobil impian hahaha..." jawabnya. "Emm... Kalau ditanya capek sih emang iya saya sangat capek, tapi saya ngejalani klinik saya itu gak sendiri. Saya dibantu adik saya, semua yang urus klinik itu adik saya. Jadi saya cuman ngecek soal keuangan dan obat-obatan yang kurang diklinik." jelasnya.
Yuna menganguk-angukan kepalanya mengerti,"Jadi dokter jarang datang keklinik, ya?"
"Yap! Betul sekali, jadi saya tak perlu bolak-balik, trus jadi kecapean deh...." ucapnya sambil terkekeh.
Yuna pun ikut tertawa mendengarnya.
"Oh, iya.. Jalan rumah kamu yang mana Yun?" tanya Fadli.
Yuna menepuk keningnya seketika. "Oh iya, sampe lupa dok!" ucap Yuna sambil mengeleng.
"Hahaha, santai aja. Keasikan ngobro jadi lupa mau nanyain alamat rumah kamu."
Yuna tersenyum kikuk. "Emm.. Alamat rumah saya jalan mawar, kawasan elit dokter." jawab Yuna yang dianguki kepala oleh Fadli.
🍂🍂
"Sampai disini saja dokter." ucap Yuna saat sudah berada tepat didepan gerbang.
Fadli menganguk, dan menghentikan mobilnya.
"Makasih banyak dokter atas tumpanganya, ndak mau mampir sebentar dulu?"
"Emm, kapan-kapan aja Yun. Udah malem juga saya langsung pulang aja." jawab Fadli, sambil menampilkan senyumnya.
"Oh, yasudah kalau begitu. Saya masuk dulu ya dok! Sekali lagi terimakasih atas tumpanganya."
"Hahaha, iya Yun. Sama-sama."
Saat Yuna sudah masuk kedalam gerbang, sejenak Fadli mengamati rumah besar nan mewah itu. Ia merasa familiar dengan kawasan rumah itu, namun ia tak mengingat rumah siapa yang ada dihadapannya itu.
Fadli mengangkat bahunya acuh, kemudian ia menyalakan mobilnya dan meninggalkan area, kawasan rumah elit itu.
"Yang penting sudah tau rumahnya Yuna." gumam Fadli tersenyum, sambil mengelengkan kepalanya merasa aneh dengan ucapannya itu.
__ADS_1
TBC.
Doubel up, semoga suka dan jangan lupa komennya...