
...***...
Disatu sisi Yuna yang baru saja bangun dari tidur siangnya itu mulai berjalan kearah kamar mandi bertujuan untuk membasuh wajahnya, kemudian setelah selesai membasuh wajah ia berjalan keluar untuk menemui mertua dan juga neneknya yang kebetulan dua wanita itu tengah berada diruang keluarga. Dimana mereka berdua terlihat saling berbincang dengan televisi yang menyala namun tak ditonton oleh dua wanita itu.
Namun saat Yuba baru keluar dari kamar itu, ia tiba-tiba begitu terkejut saat melihat laki-laki berbadan kekar tengah berada disamping kiri dan kanan pintu kamarnya.
“Siapa kalian?” refleks Yuna memundurkan sedikit tubuhnya.
Salah satu pria berbadan kekar itu menunduk hormat didepan Yuna.
“Maaf nyonya, kami disini untuk menjaga nyonya kemanapun nyonya berada. Kami mendapat perintah itu dari atasan kami, dan atasan kami mendapatkan perintah tersebut dari tuan Zeen Albaret!” jelas pria itu yang langsung membuat Yuna menghela nafasnya. Yuna pun sampai memijit pangkal kepalanya karena sampai lupa jika para orang-orang berjas hitam dilengkapi kaca mata hitam itu menghampirinya dengan dalih ingin menjaganya.
“Hmm, baiklah saya tadi hanya lupa. Karena keberadaan kalian masih begitu asing bagi saya.” Ujar Yuna.
“Kamu mengerti nyonya!” ucap mereka berlima bersamaan.
Yuna yang mendengar kata nyonya itu merasa tak biasa dan tak cocok bagi dirinya.
“Kalian tidak perlu memanggilku nyonya, kalian bisa memanggilku dengan sebutan nama saja.” Pinta Yuna.
“Tidak bisa nyonya. Nyonya merupakan kliyen kami! Jadi kami tak bisa memanggil kliyen kami dengan panggilan tak terhormat!” tegas salah satu pria berbadan kekar itu.
“Tapi ....” tampak Yuna kembali menghela nafasnya, ketika melihat orang-orang itu hanya memasang wajah datar tak berekspresi.
“Yasudah lah, terserah kalian saja.”
Akhirnya Yuna pasrah saja dan lebih memilih melanjutkan langkahnya kembali, dan sesekali melirikan matanya melihat orang-orang berjas hitam itu mengikuti dirinya.
Yuna kemudian membatin. 'Sepertinya aku juga ingin mendengar penjelasan ini dari mas Zeen.'
Kemudian Yuna terus berjalan, dan menampaki langkahnya menuju ruang tengah dimana ia melihat jika Vina sang mertua dan Rima sang nenek berada disana.
“Mama, nek ....”
Kedua wanita itu tampak mengalihkan pandangannya secara bersamaan.
“Eh? Menantuku sudah bangun? Sini sayang.”Ujar Vina, sambil menepuk-nepuk sisi sofa disampingnya.
__ADS_1
Yuna mengangguk menagapi ucapan itu, kemudian sedikit mempercepat langkahnya menuju sang mertua dan neneknya.
Namun langkahnya terhenti saat melihat sesosok lelaki yang baru saja ia pikirkan dari dalam hatinya muncul dari arah pintu utama.
“Sayang ....” pekik Zeen langsung berlari dan memeluk istrinya tanpa sungkan dan tak tahu malu.
“Mas?” Yuna sudah tak merasa heran lagi ketika mendapati suaminya yang pulang cepat dari rumah sakit. Karena pria itu kadang-kadang pulang cepat dengan dalih ingin cepat bertemu dengannya jika berjauhan dengannya maka hati dan pikiran Zeen tak tenang, jika berada didekatnya maka lelaki itu tak ingin beranjak dari tempat dan ingin terus menempel padanya. Begitulah apa yang dikatakan oleh lelaki itu yang mana artinya adalah suaminya sendiri. Yang sudah menjelma menjadi bocah manja ingin terus menempel pada induknya.
“Mas pulang cepat lagi hari ini ....” ucap Yuna kemudian mengeleng saja melihat tingkah suaminya.
“Pasti Papa mertua kualahan menghadapi mas, trus pekerjaan mas jadi menumpuk banyak pastinya.” Lanjutnya lagi.
Zeen mengurai pelukan itu dan mengangkat kedua bahunya acuh.
“Biarin,”
“Ini dia orang yang ditunggu dari tadi ... untung kau pulang cepat ya Zeen ....” Vina berjalan mendekat kearah putranya lantas langsung menari telinga Zeen dengan kencang.
“Aaaa ... Maah, sakit ...! Nanti dulu acar jewer-jewernya. Aku tak sendiri datang kerumah, aku datang membawa om Sigit dan tante Eva kesini.” Jelas Zeen mencoba melepaskan jeweran maut itu dari telinganya.
Namun saat mendengar suara seseorang, baru Vina melepaskan jeweran itu.
“Selamat siang nyonya Albaret.” Sapa Sigit yang membuat Vina langsung mengalihkan atensinya.
“Kamu bener bawa tentanga kita Zeen?” selidik Vina memicingkan matanya pada anak lelakinya itu.
“Iyalah Mah, kan Zeen tadi udah bilang. Mama aja yang gak percaya.” Jawab Zeen sambil mengelus telinganya yang sedikit terasa panas.
Vina tak mengubri ucapan dari putranya dan lebih memilih menyambut kedua sepasang suami istri yang merupakan tetangganya dengan malu-malu.
“Eh ... siang pak Sigit dan bu Eva.” Sapanya, menjawab sapaan dari Sigit tadi walau ia sedikit terlambat. “Mari-mari silahkan masuk.” Ajak Vina membawa keduanya untuk duduk diruang tengah.
“Maafkan kami yang tiba-tiba datang kemari, bu Vina.” Ujar Eva dengan sopan saat mereka semua telah duduk disana.
“Oh? Tidah apa-apa bu Eva ... kami juga jarang kedatangan tamu. Jadi kami senang masih ada yang mau bertamu dirumah kami ini.” Jawab Vina tertawa kecil.
Eva dan Sigit juga membalas dengan senyuman.
__ADS_1
“Kedatangan kami disini, karena putra anda, Zeen yang mengajak kami kesini. Kami pun tak tahu dan mengikuti saja langkah Zeen sampai kesini.” Jelas Sigit yang membuat Vina terheran-heran sambil menatap putranya.
“Emang ada apa ya? Apa putra bandelku ini buat masalah dirumah anda berdua?” tanya Vina dengan raut harap-harap cemas.
Zeen yang mendengar kata bandelku dari Mamanya itu sedikit merasa kesal dan mencoba menahan kekesalannya itu.
“Yaampun Mama ini, bikin malu aja.” Gumam Zeen mengerutu.
“Oh! Tentu saja tidak bu Vina.” Ucap Eva menyangkal ucapan sang nyonya rumah. “Justru kedatangan Zeen dirumah kami tadi malah membawa kebrkahan bagi kita berdua.” Lanjutnya sambil mengadeng erat lengan suaminya dan sesekali melirik suaminya dengan senyum beebinar.
“Kebrkahan? Saya baru tahu jika putraku pembawa keberkahan. Biasanya putraku itu pembawa keusilan.” Sarkas Vina bingung.
“Yaampun Mama ....” Zeen akhirnya mengeram tak menyembunyikan kekesalannya lagi.
Namun Vina kembali mengabaikan itu. Yang mana kala membuat Zeen tambah kesal.
“Haha,benar apa kata istri saya tadi nyonya Albaret. Bahwa putra anda membawa keberkahan bagi kami, karena berkat putra anda, kami jadi mengetahui jika putri kami yang hilang masih hidup didunia ini. Dan kami kesini karena ingin menemui putri kami yang telah lama hilang dan membuat kami merasa rindu.”
Deg!
Tiba-tiba saja, ada getaran aneh dari dalam diri Yuna. Entah apa itu, yang pasti Yuna berpikiran jika akan terjadi sesuatu pada hari ini.
“Putri?” ulang Vina, lalu melirik putranya kembali dengan pandangan bertanya-tanya.
“Iya, putri kami. Zeen sudah berjanji pada kami ingin mempertemukan kami pada putri kami yang sudah lama menghilang.” Timpal Sigit.
“Zeen? Siapa itu Zeen?” tanya Vina dengan pandangan penuh selidik. Bahkan Rima yang sedari tadi diam itu juga ikut dibuat penasaran.
Zeen tersenyum, mana kala melihat semua insan itu melihat kearahnya dan dia langsung menjadi pusat perhatiannya.
Zeen melirik Yuna yang saat itu, istrinya juga tengah menatapnya.
Zeen kemudian mengelus sayang tangan mungil milik Yuna, lalu mengalihkan kembali atensinya kearah dua pasutri itu.
“Putri anda sekarang berada didepan anda saat ini.” Sarkas Zeen, membuat keadaan itu hening seketika. “Dialah Putri Sanjaya! Putri pertama anda berdua yang selam ini kalian cari-cari.” Lanjutnya dengan suara lantang.
TBC.
__ADS_1