Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 161


__ADS_3

...***...


“Zeen? Dimana Yuna?” tanya Vina saat melihat putranya yang hanya sendiri menghampiri mereka.


Ya, saat ini Sigit dan Eva masih berada disana. Ditemani Vina dan juga Rima yang kembali nibrung bersama mereka, sempat Rima tadi pergi karena ingin memberi ruang antara pertemuan keluarga yang sudah lama tak berjumpa itu.


“Ya Zeen? Dimana cucu menantu?” Rima bertanya.


“Sepertinya Yuna perlu membutuhkan waktu Mah ... aku melihat, Yuna tampak lelah dan langsung tertidur ketika kubaringan dikamar. Mungkin karena dia masih sangat terkejut karena mengetahui kebenaran itu secara mendadak.” Jelas Zeen.


Sigit dan Eva yang mendengar itu tampak menghela nafas, dan raut wajah mereka tampak begitu sendih.


“Sepertinya Putri memang benar-benar membutuhkan waktu.” Ujar Eva dengan wajah yang murung.


Sigit dengan sigap langsung merangkul pundak istrinya, “Tidak apa-apa sayang, yang penting kita sudah tau jika putri pertama kita masih hidup dan sangat sehat. Bukankah hal itu sudah lebih dari cukup bagi kita?”


Eva menatap suaminya, lalu mengangguk mengiyakan ucapan itu. “Kamu benar mas. Kita tak boleh menyerah begitu saja, walau Putri masih belum percaya jika kita adalah orangtuanya kita masih bisa berjuang mendapatkan hatinya dilain waktu. Dan waktu itu masih begitu panjang mengingat jika kita begitu dekat dengan putri kita sekarang.”


“Nah, ini baru bener.” Timpal Sigit tersenyum manis kepada istrinya.


Lalu keduanya kembali memandang Zeen yang masih berdiri ditempatnya.


“Zeen ... terimakasih sudah membawa kami kepada putri kami. Kami tidak tahu harus membalas jasa bagaimana, jika tidak ada kamu maka kami selamanya tak akan pernah bisa bertemu dengan putri kami.” Tutur Eva bersungguh-sungguh.


“Ya Zeen, jika bukan karena bantuan kamu. Maka selamanya kami tak akan bisa mengetahui putri kami yang masih hidup. Bahkan mungkin kami juga tak akan menyadari jika selama ini, putri kami sudah berada diantar kami yang berwujud Yuna sosok wanita ceria yang selalu mengunjungi rumah kami.” Lanjut Sigit merasa terharu.


“Mungkin suatu saat, kami akan membalas jasamu itu Zeen–”


“No! No! No! Paman, Saya tak perlu balas budi. Saya sudah cukup dengan Yuna yang berada disisiku. Saya pun berterimakasih kepada om dan tante, yang sudah bekerja keras membuat Yuna yang membuat seorang Zeen Albaret terbang melayang. Saya benar-benar sudah jatuh didalam pesonanya sampai-sampai saya tak ingin direbut oleh siapapun.” Ucap Zeen dengan tegas.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah timpukan bantal mengenai wajahnya.


Zeen menoleh kearah Mamanya yang merupakan sang pelaku pelemparan bantal.


“Ngadi-ngadi bicaramu Zeen! Dasar budak bucin!” seru Vina mengelengkan kepala.


Zeen yang mendengar itu hanya bisa mendengus sebal.


Sigit dan Eva yang melihat keharmonisan didalam keluarga itu, juga ikut bahagia. Diaman mereka merasa tenang jika putrinya mendapatkan keluarga yang kocak namun penuh dengan perhatian.


“Kami juga berterimakasih kepada anda sekeluarga yang sudah mau menerima putri kami. Memberikan sebuah cinta keluarga dan perhatian yang penuh, kami tau, jika putri kami pasti sangat senang mendapatkan perhatian yang begitu besar seperti ini. Mengingat dirinya yang dulu pasti membutuhkan sosok untuk menopang kesedihannya.” Tutur Eva.


“Itu tugas tugas kami jeng– eh? Bolehkah aku memanggilmu jeng? Mengingat kita berbesanan, jadi lebih baik memiliki panggilan seperti itu kan?” tanya Vina.


Eva terkekeh pelan, “Boleh dong. Asal jeng Vina nyaman saya mah pasti mau aja.”


“Wah ... makasih jeng besan.” Pekik Vina kegirangan. “Oh? Tadi aku sempat bilang apa ya? Oh! Iya benar tenang Yuan bahwa sudah tugas kamu jika kami memberikan sebuah kenayaman keluarga pada menantu kami. Oh bukan! Sekarang Yuna sudah kami anggap keluarga sendiri dan putriku sendiri.” Lanjutnya.


°°°


Ruang tengah saat ini sudah tampak sepi ketika Eva dan Sigit memutuskan untuk pulang kerumah, mereka juga akan datang kembali dikediaman Albaret, karena mereka akan berusaha terus untuk mendapatkan hati putrinya.


Sedangkan Zeen saat ini memutuskan untuk dirumah saja, dan tak ada niatan untuk kembali kerumah sakit. Biarlah rumah sakit yang urus Papanya karena Zeen saat ini ingin menemani istrinya yang sempat memperlihatkan wajah pucatnya yang membuatnya langsung tak ingin pergi dari rumah.


Zeen berjalan sambil membawa susu kehamilan untuk Yuna dengan bersiul-siul disepanjang perjalanan. Bahkan ia merasa santai sekali tak memikirkan keadaan rumah sakit dan pekerjaannya yang selama ini ia tinggal begitu saja. Mungkin berkas-berkas yang belum terselesaikan menumpuk seperti gunung.


“Biarlah nanti ku selesaikan, hari ini aku ingin menjaga istriku yang tengah hamil. Rasa-rasanya aku tak ingin jauh darinya.” Gumam Zeen sambil mesem-mesem sendiri.


Namun saat ia menapaki tangga menuju kamarnya, tiba-tiba suara Mamanya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Tunggu dulu putraku!” Pekik Vina berteriak sambil berlari menghampiri Zeen.


Zeen sampai mendesah melihat itu. “Yaampun Mah, ya gak usah pake lari segala dong.” Dumelnya mengerutu.


Vina yang sudah sampai tepat dihadapan Zeen itu terdiam sejenak untuk menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan.


“Mama ingin tanya sesuatu yang penting padamu.” Ucap Vina dengan raut serius.


“Besok aja ya Ma? Zeen–”


“Tidak, Mama sudah terlanjur kepo.” Sela Vina langsung.


“Hahhh ... yasudah apa Ma? Cepet ya Zeen buru-buru nih mau kasi susu pada istriku tersayang.”


Vina tampak tak perduli. “Mama mau tanya! Kenapa kamu pake sewa orang-orang nyeremin itu? Trus kenapa Yuna harus dijaga? Emang apa ada kasus penculikan ibu hamil akhir-akhir ini?” tanya Vina sampai tak menjeda ucapannya.


“Mama ini tanya kok banyak banget kan Zeen bingung mau jawab yang mana.” Gerutu Zeen.


“Jawab yang pertama dulu aja.”


“Oke, jawabannya adalah ... besok aja, Zeen ngantuk pengen bobok manis disamping ayang istri.”


Tanpa mendengar jawaban dari Mamanya, Zeen melanjutkan langkahnya begitu saja dan tak memperdulikan teriakan Mamanya yang terus memanggil-manggil namanya.


Zeen membuka pintu kamarnya, dan pemandangan yang pertama ia lihat adalah istrinya yang masih terlelap dikasur seperti kepompong karena wanita itu membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.


“Sayang ... bangun Yuk,” Zeen menepuk pipi Yuna dengan pelan, namun wanita itu nampaknya enggan untuk sekedar membuka matanya. Terlihat dengan jelas bahwa wanita itu hanya melenguh saja dan membalikkan tubuhnya sehingga memungunggi Zeen saat ini.


Zeen yang kadar kegemasannya yang sudah memuncak itu. Langsung ikut membaringkan tubuhnya dan kembali memeluk Yuna dari belakang. Setelah itu ia melajukan aksinya dengan mengendus leher jenjang Yuna sambil mengelitik sedikit ketiak Yuna.

__ADS_1


Alhasil ulah Zeen itu mampu membuat Yuna terbangun, kemudian Yuna menimpuk Zeen begitu saja menggunakan bantalnya karena merasa kesal dengan keusilan Zeen yang selalu menganggu tidur lelapnya.


TBC.


__ADS_2