
...***...
“Bagaimana keadaan janin istriku?” tanya Zeen dengan raut ketegangan, namun raut itu tak nampak karena dirinya saat ini tengah memakai masker satu set dengan baju khusus dokter untuk beroperasi.
Mita diam sejenak, dirinya terus memeriksa janin Yuna dengan serius dan teliti. Bahkan saat ia tengah memeriksa wajahnya terus berubah-ubah sekaligus alis yang terus mengernyit.
Mita sejenak menghela nafas, lalu memberanikan diri untuk menatap Zeen. “Mungkin sebaiknya kita mengeluarkan dua janin nona Yuna, dokter Zeen!” jelas Mita yang langsung membuat keadaan diruangan itu menjadi riuh.
“Apa maksudnya dokter Mita? Tolong jelaskan yang lebih jelas lagi!” ucap Zeen dengan nada yang meninggi.
“Mungkin dokter tak akan percaya dengan ucapan saya ini karena saya yang masih baru disini! Tapi percayalah dokter Zeen! Pasti dokter yang lebih berpengalaman dari saya juga akan mengatakan ini!”
“Langsung keintinya saja!” sela Albaret dengan wajah datarnya. Sebenarnya dirinya juga merasakan ketegangan yang dirasakan oleh putranya.
Mita mengangguk, “Baik! Keadaan janin nona Yuna saat ini bisa dikatakan tidak memungkinkan, karena akibat pengaruh tembakan yang dialami nona Yuna. Membuat keadaan bayi yang ada dikandungan menjadi lemah ... atau bisa dikatakan jika jantung kedua bayi melemah. Itu sebabnya saya sarankan untuk mengeluarkan bayi yang ada dikandungan nona Yuna.”
“Memang jika kandungan bisa dibilang masih terlalu awam! Tapi jika tak ditindak lanjuti, maka kedua bayi yang ada didalam kandungan akan mengakibatkan resiko yang berat! Dan....” Mita menggantung perkataannya karena merasa tak sanggup melanjutkannya.
“Dan apa?” tanya Albaret lagi.
“Dan mungkin akan mengalami kelumpuhan total!”
Deg!
Bagai disambar petir, dada Zeen terasa sangat sesak mendengar pernyataan itu. Dirinya tak menyangka jika tumbuh kembang kedua bayinya dipertaruhkan dalam hal ini.
Kaki Zeen terasa sangat lemas, dirinya memeganggi kepalanya yang terasa berdenyut. “Tidak, ini tidak mungkin terjadi ... bayiku tak mungkin mengalami hal ini.”
Pada saat itu Zeen langsung terjatuh dan terduduk dilantai. Membuat suasana menjadi semakin riuh.
“Dokter Zeen anda tak apa-apa? Jika anda merasa sakit anda bisa beristirahat sejenak, kami yang akan melanjutkan operasi ini!”
Zeen diam tak menanggapi.
Lalu Albaret sang Papa berjalan menghampiri putranya. Ia kemudian menepuk bahu putranya. “Bagaimana Zeen? Semua sekarang ada ditanganmu, jika saran Papa, memang kita harus segera mengeluarkan bayimu agar tak menangung resiko itu....” jelas Papa Albaret dengan bijak.
Zeen mendongak menatap sang Papa, “Tapi Pah? Jika sekarang maka bayi Zeen akan terlahir prematur? Bukankah itu juga beresiko?” tanya Zeen yang sangat dilanda kebingungan.
__ADS_1
Albaret menghela nafas, “Ya, Papa tau. Tapi lebih baik begitu dari pada kau akan melihat bayimu yang akan menderita kecacatan. Bukankah kau akan semakin tersiksa jika bayi-bayimu yang tak bersalah menanggung semua itu?”
“Dan asal kamu tau, jika rumah sakit Papamu ini sangat canggih. Papa akan memberikan perawatan yang terbaik bagi kedua cucu Papa, jadi kamu tak perlu khawatir jika mereka terlahir sedikit tak sempurna. Karena jalan satu-satunya adalah melahirkan mereka sekarang juga!” tegas Albaret penuh dengan keyakinan.
Zeen kembali menundukkan kepala sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dirinya kemudian melirik istrinya yang masih memejamkan matanya, bahkan disaat seperti ini Zeen sangat ingin melihat istrinya tersenyum lebar kearahnya seperti dulu.
Zeen memejamkan matanya sejenak, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati brangkar istrinya. Ia kemudian menatap lekat wajah pucat Yuna, setelah itu ia menundukkan kepala dan mencium kening Yuna dengan penuh ketulusan.
“Izinkan aku melakukan ini sayang, ini demi anak-anak dan kamu,” gumam Zeen membisikan kata-kata itu tepat ditelinga Yuna.
Bahkan tanpa diduga, Yuna memberikan respon berupa setitik air mata. Karena ia mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
Zeen kemudian menegakan tubuhnya, dan menatap satu per satu dokter-dokter disana.
“Baiklah! Kita akan memulai misi ini!” ucap Zeen dengan tegas, yang langsung disambut senyuman oleh mereka.
“Kita semua akan berusaha semaksimal mungkin dokter Zeen!” ucap salah satu dokter disana.
“Ya benar! Kita akan bekerja dengan ekstra tanpa kenal lelah. SEMANGAT!!”
Mereka bersorak dengan penuh ketekatan. Membuat Zeen tersenyum haru melihatnya.
Zeen kembali menoleh kearah istrinya, “Lihat mereka sayang? Mereka sangat penuh semangat. Jadi, tolong kamu juga harus ikut bersemangat dan berjuang seperti mereka.” Gumamnya.
Kemudian setelah itu, para dokter langsung memulai operasi yang penuh dengan ketegangan. Bagaimana tak tegang? Jika mereka harus mengeluarkan sebuah peluru sekaligus mengeluarkan kedua bayi yang sebenarnya belum waktunya untuk menampakkan didunia. Namun yang namanya takdir tak ada tau.
Alat-alat kedokteran semuanya sudah berlumuran darah, begitu pun alat berbentuk kotak persegi menyerupai tv juga ikut bekerja, maka menandakan jika jantung Yuna terus berdecak dengan kencang.
Memakan waktu yang lama, akhirnya masalah satu telah dilewatkan yaitu peluru yang menancap tepat dipingang Yuna telah berhasil dikeluarkan. Semua nampak menghela nafas lega.
Kini sisalah kedua bayi Yuna yang harus dikeluarkan. Tentu hal itu terus membuat para dokter deg-deg kan setengah mati. Yang mana saat mereka telah berhasil membuka jalan untuk mengeluarkan bayi, tentu hal itu harus menggunakan jalan sesar karena Yuna yang tak sadarkan diri jadi tak bisa melahirkan dengan cara yang normal.
Para keluarga yang sejak tadi menunggu diluar dengan berjam-jam lamanya, nampak tak ada yang ingin beranjak dari sana. Semuanya tak akan tenang jika operasi yang ada didalam belum nampak usai.
“Semoga putri kita baik-baik saja Pah ....” ucap Eva yang terus melafalkan doa-doa untuk putrinya.
Sigit yang setia menemani istrinya itu langsung memberikan ketenangan. “Putri kita pasti baik-baik saja Mah, putri kita itu sangat kuat. Yakinlah jika putri kita pasti akan berhasil melawan maut.” Tutur Sigit.
__ADS_1
Kembali lagi diruangan operasi, para dokter kembali menampakkan helaan nafas lega, saat berhasil mengeluarkan bayi pertama yang dinyatakan berjenis laki-laki. Bayi itu langsung diserahkan kepada Zeen yang membuat pria itu menuturkan air matanya merasa terharu.
“Putraku,” Lalu Zeen mengecup kening bayi itu yang masih penuh dengan darah.
Albaret yang melihat itu langsung berjalan mendekati putranya, “Lanjutkan operasinya lagi Zeen, biar bayimu Papa berikan kepada suster untuk dibersihkan.” Jelas Albaret yang langsung dianguki kepala oleh Zeen.
Zeen pun langsung memberikan bayinya kepada sang Papa yang langsung menerimanya dengan penuh kehati-hatian.
“Cucu kakek....” Gumam Albaret yang juga ikut terharu.
“Suster... tolong bersihkan–”
“Permisi dokter!” Mita menyela ucapan Albaret.
“Ya?” Albaret menoleh kearah Mita.
“Bolehkah saya yang membersihkan bayinya? Oh! Saya tak akan melakukan apa-apa, saya murni ingin membantu sampai akhir!” terang Mita dengan keyakinan.
Albaret menatap Mita sejenak.
“Baiklah! Kuserahkan tugas ini kepadamu!” Albaret memberikan bayi itu kepada Mita.
“Terimakasih sudah memberikan kepercayaan kepada saya.”
Kemudian Mita mulai mengerjakan tugasnya dengan dibantu para perawat lainnya, tentu mereka melakukan tugas itu masih diruangan yang sama karena alat-alat yang memang sudah disediakan disana sedari awal.
Kini lima menit berlalu, bayi kedua telah lahir. Hal itu menjadi titik terakhir perjuangan operasi mereka.
“KITA BERHASIL!”
Sorak semuanya merasa bahagia tiada tara.
Zeen kembali mengecup kening bayi keduanya, yang ternyata berjenis laki-laki lagi.
“Jagoan-jagoan daddy....” gumam Zeen, kemudian menangis terharu.
TBC.
__ADS_1