
Pada hari ini, tepat satu minggu Yuna dan juga neneknya berada dijakarta. Tepatnya tinggal dirumah paman Yuna, yaitu Bram. Yuna dan juga Santi belum memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, dikarenakan masalah pernikahan antara Yuna dan juga Zeen. Ya! Tanggal pernikahan itu sudah ditetapkan oleh para orangtua, yaitu jatuh pada dua minggu lagi, yang artinya Yuna dan juga Zeen akan segera menyandang suami istri.
Kenapa pernikahannya begitu cepat? Padahal mereka baru beberapa minggu membahas tentang perjodohan itu, namun mereka berdua langsung dinikahkan dengan hari yang begitu cepat. Hal itu, tentu saja bukan kemauan mereka berdua. Tapi para orangtua lah yang mendesak mereka untuk segera menikah.
Seperti hari ini, dikediaman Bram saat ini begitu sibuk mempersiapkan pernikahan. Karena acara repsesi akan diadakan dikeluarga mempelai wanita, sedangkan dikediaman pria tepatnya dikediaman Albaret tak kalah sibuknya. Karena setelah repsesi dikediaman pengantin wanita, maka pengantin wanitanya akan digiring dikediaman mempelai prianya yang disana juga akan diadakan pesta besar.
Biasanya, jika seseorang yang akan menikah akan sangat bahagia dan menanti-nantikannya. Namun tidak dengan Yuna! Ia sedari tadi hanya merenung diam dikamarnya, seperti ada yang tengah ia pikirkan.
Tok... Tok.. Tok..
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunanya itu.
"Yuna.." panggil seorang wanita, yang tak lain adalah istri dari Bram, tantenya yang bernama Winda.
Yuna bangkit dari kasurnya. "Ya tante.." jawab Yuna, ia lalu berjalan kearah pintu. Dan ia pun membukanya.
Pintu dibuka dan memperlihatkan sosok wanita berkepala empat, namun terlihat masih awet muda. Ya tantenya, saat ini tengah menatapnya dengan senyum yang begitu teduh membuat siapa saja yang melihat akan sangat damai dan nyaman.
"Ada apa tan?" tanya Yuna.
"Ini... Tante cuma mau kasi kamu sarapan... Sepertinya kamu belum sarapan dari tadi." jawab Winda.
"Yaampun tante... Tante gak perlu repot-repot, kan Yuna jadi ngerasa gak enak." tutur Yuna.
Winda tersenyum melihat Yuna. "Ngak repot kok Yuna... Yuna kam udah tante anggep anak sendiri, jadi jangan merasa gak enak begitu." kata Winda yang membuat hati Yuna mendamai. Bagaimana tidak, sosok ibu yang sangat Yuna butuhkan saat ini tak ada. Namun digantikan dengan sosok Winda yang lembut seperti malaikat bagi Yuna, Yuna sangat menghormati tantenya itu seperti ia menghormati neneknya. Ia tentu saja sangat menyayangi keduanya karena Yuna sudah menganggap mereka berdua seperti ibu kandungnya sendiri.
"Yuna boleh peluk?" tanya Yuna dengan nada yang dibuat manja.
__ADS_1
Winda yang mendengar itu terkekeh pelan. "Boleh dong... Apa sih yang enggak buat anak bunda." kata Winda dengan senyuman.
Tak mau lama-lama, Yuna langsung memeluk tubuh Winda dengan perasaan tenang dan damai. Yuna begitu merasakan kasih saya ibu dalam diri Winda itu, Yuna tentu saja sangat bahagia.
"Bunda... Bunda tau? Yuna sangat sayang sama bunda saat kecil, sampai sekarang pun masih sayang... Makasih ya bunda, mau nerima Yuna dengan lapang hati yang luas.. Padahal Yuna bukan darah daging bunda." ucap Yuna yang masih memeluk Winda itu.
Winda mengelus rambut panjang milik Yuna dengan rasa sayangnya itu."Yuna... Walau kamu bukan darah daging bunda, tapi bunda tetep anggap kamu sebagai putri satu-satunya bunda. Walau bunda punya anak laki-laki, tapi bunda hanya ngerasa punya anak satu saja yaitu kamu... Putri kesayangan bunda." jelas Winda dengan kekehan.
Yuna mengurai pelukannya,"Yaampun bunda... Bunda tega banget... Terus kak Yudas anaknya siapa dong kalo bukan anak bunda?" tanya Yuna dengan diiringi tawanya.
"Emmm, anaknya siapa ya..." kata Winda yang seolah tengah berfikir, sedetik kemudian mereka saling berpandang dan melempar tawa dengan rasa bahagianya.
Saat mereka tengah tertawa didepan pintu kamar itu, tiba-tiba Santi datang dan menghampiri mereka.
"Ehh... Ada apa ini? Kok ketawa-ketawa didepan kamar? Bukanya makan malam malah gosip didepan pintu." ucap Santi bertanya, dengan raut yang senang ketika ia melihat menantunya dan juga cucunya saling tertawa bersama.
"Yaampun.... Kak Yudas nya lagi diluar negri kok malah digosipin, nanti dia keselek lo kalau kalian bicarain." kata Santi sambil mengeleng kepala.
"Biarin aja bu... Biar tau rasa, masa udah bertaut-taun diluar negri gak mau pulang jenguk ibunya... Emang itu anak, sangkin asyiknya bermain diluar gak ingit kalo punya keluarga disini." ucap Winda malah menyumpahi anaknya.
"Sudah-sudah, nanti aja dilanjutin pembahasan itu. Mending kita kebawah makan malam bersama, setelah perut kenyangkan kita bisa ngobrol banyak." tutur Santi.
"Yaudah deh... Yuk kita makan sekarang, yuk Yun. Ini tante bawa lagi, kamu makan bareng kami dibawah ya..." ucap Winda yang dianguki oleh Yuna.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan menuju kerang makan, dimana disana sudah ada Bram yang tengah menunggu mereka.
🍂🍂
__ADS_1
Disisi lain, Zeen yang tengah banyak pikiran itu. Lagi-lagi datang ketempat haram, yaitu bar clup tempat dimana banyak pengunjung di alah harinya. Mereka yang datang disana bertujuan untuk berpesta fora, bersenang-senang bersama dengan pasangannya.
Laura, yang berada tepat disamping Zeen itu mengerutkan alisnya. Kala melihat sang kekasih hanya diam tak seperti biasanya.
Laura menepuk pundak Zeen. "Sayang.." panggilnya.
"Eh!" Zeen tersadar.
"Kamu kenapa?" tanya Laura.
Zeen mengusap keningnya sebentar, setelah itu ia mengalihkan pandangannya menghadap Laura. "Engak... Cuman banyak pikiran aja." jawab Zeen, setelah itu ia mengelus lembut pipi kekasihnya itu.
"Hemm, kamu lagi mikirin pernikahan kamu itu?" tanya Laura yang membuat Zeen tertegun.
Laura membalikkan tubuhnya kedepan, seolah ia tengah merajuk. "Ternyata benar ya?" katanya.
Zeen menghela. "Sayang..." panggil Zeen namun Laura tak mengubrisnya.
Zeen yang melihat dirinya diacuhkan itu, tanpa aba-aba langsung mencekal dagu sang kekasih dan mencium bibirnya, ia tanpa basa-basi langsung mel**mat bibir itu dengan irama yang lembut. Laura yang awalnya terkejut itu, mulai memejamkan matanya dan mengikuti irama yang dibuat oleh sang kekasih.
Zeen melepas sebentar ciumannya itu. "Bagaimana kalau kita bermain sebentar?" tanya Zeen dengan suara seraknya. Sedangkan Laura menjawabnya dengan sekali anggukan.
Zeen tersenyum sebentar, sedetik kemudian ia langsung melanjutkan aksinya dengan mel**at bibir sang kekasih, yang awalnya lembut menjadi sangat bruntal.
TBC.
Jangan lupa komen...
__ADS_1