Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 27


__ADS_3

Yuna mendesah pelan. "Jadi bekal yang aku berikan tadi, gak dimakan sama dokter Zeen? Padahal aku sudah menyiapkan bekal itu, agar dokter Zeen tak susah-susah lagi pesan makanan diluar. Tapi yasudahlah jika memang dokter Zeen tak suka." gumamnya, hatinya merasa sedikit kecewa ketika masakan yang ia siapkan setelah azan subuh itu malah diberikan kepada orang lain. Tapi Yuna bisa apa? Jika kotak bekal itu sudah tak ada lagi ditangan Zeen.


"Lebih baik diberikan kepada orang lain, dari pada masakanku terbuang sia-sia." lanjutnya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Yuna sedikit tersentak kala dirinya yang memang berada tepat didepan pintu itu. Dan membuat dirinya menjadi cangung saat merasa ketahuan tengah mengitip dua insan itu.


"Eh? Ada Yuna.." ucap seorang wanita yang tak lain ada Laura.


Yuna tersenyum cangungg.


"Kenapa?" tanya Zeen yang ikut keluar dari ruangan itu.


"Engak... Aku cuman kaget, karena ada Yuna didepan pintu ruangan kamu." jelas Laura.


Zeen yang mendengar ucapan Laura itu, mengalihkan pandangannya kearah Yuna. "Kenapa? Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan?" tanya Zeen pada Yuna.


"Iya dokter! Saya ingin membahas tentang saya yang akan jadi asisten anda!" jawab Yuna.


"Yasudah, tunggu saja dirunaganku. Aku akan mengantar Laura sebentar."


Yuna menganguk. "Baik!" ia pun masuk kedalam ruangan itu.


"Yaudah yuk, aku antar kamu sampai depan." ucapnya, lalu mengiringi Laura keluar rumah sakit.


Sesampainya dihalaman parkiran, mereka berdua saling berhadapan.

__ADS_1


Zeen menangkup kedua pipi Laura, "Maaf ya... Gak bisa antar kamu, sampai kerumah." ucapnya.


"Gak papa ko sayang... Aku tau kalau kamu lagi sibuk, tapi aku boleh tau tanya sesuatu gak?"


"Hemm? Mau tanya apa?" Zeen menautkan kedua alisnya.


"Itu.. Yang cewek tadi itu bilang, jika dia mau jadi asisten kamu..."


"Ohh... Tentang tadi? Emang benar kata dia, jika dia akan jadi asisten aku. Mengingat belum ada yang menggantikan posisi asisten aku sebelumnya, sebenarnya aku tak berniat merekrut dia jadi asisten aku... Tapi karena papaku yang menyarankan dan memaksa, akhirnya mau tidak mau aku menerimanya." jelas Zeen.


"Oh gitu... Hemm." Laura tampak berfikir, membuat Zeen kembali mengerutkan alisnya.


"Kenapa? Kok kayak gak tenang gitu? Coba, bilang sama aku! Apa yang membuat sayangku ini jadi lesu wajahnya." ucap Zeen, dan tak lupa mengelus wajah itu dengan sayang.


"Hemm, aku takut jika kamu dekat-dekat sama dia. Nanti kamu jadi jatuh cinta sama istri muda kamu itu." jawab Laura.


Laura menganguk, "Iya dong... Orang aku juga datang keacara pernikahan kamu, tentu saja aku masih ingat wajahnya."


"Trus? Tadi kok pas pertama ketemu sama dia, kamu kok malah nanyain namanya dan kayak gak kenal gitu?"


"Hemm, ya tadi tuh emang hampir lupa. Trus waktu ngeliat wajahnya aku ngerasa familiar, ya jadi aku inget deh kalau itu istri dari kekasihku ini." jawab Laura, kemudian bergelayut manja dilengan kekar milik Zeen itu.


"Oh gitu... Hemm, yaudah kamu gak perlu khawatir sayang jika aku akan terpincut denganya. Soal aku nanti yang akan lebih banyak bertatapan wajah dengannya karena terlibat sebuah pekerjaan, karena semua itu tak akan ngaruh padaku dan tak akan pernah terjadi. Karena cintaku ini hanya milikmu seorang... Laura ku sayang. " ujar Zeen tak lupa mengerlingkan satu matanya, menggoda kekasihnya itu.


Laura kemudian memeluk Zeen dengan eratnya yang dibalas tak kalah erat oleh Zeen.

__ADS_1


"Hemmm, aku makin cinta deh, sama kamu." gumam Laura dalam pelukan itu.


"Aku lebih mencintaimu Laura." balas Zeen.


Laura mengendurkan pelukannya, ia lalu mengecup singkat bibir itu.


"Yaudah, aku percaya sama kamu, kalau kamu tak akan kepincut sama istri muda kamu itu! Karena selamanya kamu hanya milik aku!" ucap Laura dengan percaya dirinya.


"Iya sayang, tentu aku hanya milik kamu seorang." Zeen membalas kecupan ini dengan ******* kecil, membuat mereka terhanyut suasana itu dalam beberapa detik.


"Yaudah, aku pamit pulang dulu ya sayang." ucap Laura saat mereka sudah melepaskan ci***n itu.


"Iya, hati-hati dijalan ya sayang..." jawab Zeen.


Kemudian Laura berlalu meninggalkan rumah sakit itu. Dan tinggallah Zeen yang ada disana.


🍂🍂


Ceklek...


Zeen baru saja memasuki ruanganya, dan kebetulan ada Yuna yang sudah duduk disofat itu dan tengah menunggu Zeen.


Zeen berjalan menghampiri Yuna dengan tatapan datar yang menghiasi wajah tapannya itu. Untuk beberapa detik, Yuna dibuat terpesona ketika melihat pahatan wajah yang sangat sempurna itu. Namun, seketika ia segera menyadarkan pikirannya itu.


Zeen mendudukan dirinya disofat itu dan menghadap kearah Yuna, hanya saja ada sebuah meja kecil ditengah-tengah, sebagai penghalang mereka.

__ADS_1


"Jadi? Apakah kau siap! Bekerja denganku! Mulai dari sekarang?" tanyanya dengan intonasi dingin.


TBC.


__ADS_2