Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 103


__ADS_3

...***...


Yuna tak membalas ucapan Zeen, ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan kekamar mandi tanpa menengok kearah suaminya.


Zeen melongo melihatnya, “Dia bahkan mengacuhkan ku?” ucapnya tak percaya.


Zeen kembali memberengut kesal dan memajukan bibirnya kembali, “Terserahlah, suka-suka dia saja. Mending main game aja!” ia yang kesal langsung mengambil ponselnya. Menghidupkan layar ponsel itu dan mulai menyibukkan pikirannya pada permainan yang ia mainkan.


Bahkan saat ia mendengar suara pintu terbuka dari arah kamar mandi itu, pun tak mau mengalihkan pandangannya sama sekali.


Zeen yang tau jika Yuna tengah berjalan kearahnya, memilih untuk abai dan mengacuhkan Yuna kembali, seperti yang dilakukan oleh gadis itu kepadanya.


Yuna yang sudah berada tepat disamping Zeen mengerutkan alisnya kala melihat wajah pria itu ditekuk, menandakan pria itu tengah menahan kekesalan.


“Mas ....” akhirnya Yuna memanggil Zeen setelah terjadi keheningan beberapa menit, saat ini Yuna tengah gugup, bahkan memanggil nama Zeen saja itu sudah gugup tak karuan. Merasakan malu pada dirinya apabila Zeen akan menoleh kearahnya. Namun rasa malunya yang tadi tengah menjalar itu tak berlangsung lama ketika ia tak mendapatkan respon apapun dari pria itu.


“Mas Zeen, apa mas akan tetap fokus pada hp mas? Apa mas memang berniat untuk mengabaikan istri mas seperti ini?” tanya Yuna secara beruntun. Mencoba memancing kefokusan Zeen pada hpnya.


Zeen menghela nafas seketika, sebenarnya bermain game hanya alasannya saja, karena sejak tadi fokusnya terganggu ketika mendengar suara Yuna yang sedikit memelas.


“Aku sedang marah padamu Yuna ... jadi jangan ganggu aku sekarang ....” jelas Zeen tanpa mengalihkan pandangannya pada hpnya.


“Benarkah? Kenapa mas tak menoleh kearahku ketika berbicara? Apakah sekesal itu mas sampai tak ingin melihat istri mas sendiri?”


Masih belum mengalihkan pandangannya, Zeen menghela nafas panjang kembali. “Yuna ... aku kan tadi sudah mengatakan jika aku masih sedikit kesal mengingat tentang dia yang mengelus kepalamu–”


“Bukan dia mas, tapi dokter Fadli.” Sangah Yuna.


Zeen berdecak, semakin kesal ia ketika mengingat kejadian satu jam lebih yang lalu, apalagi mendengar nama yang keluar dari bibir Yuna. Sudah tak bisa dipungkiri lagi. Kesalnya sekarang sudah menjalar keubun-ubun.


“Sudahlah Yuna ... aku mau tidur saja, mungkin dengan cara tidur kesalku akan menghilang,” ujar Zeen bersiap memposisikan dirinya.


“Benar mas mau tidur sekarang? Mas gak mau lihat Yuna dulu sebelum tidur?” tanya Yuna lagi, menatap Zeen sedikit kecewa.

__ADS_1


Zeen yang sempat ingin memposisikan tubuhnya, tak jadi dan mulai menoleh kearah Yuna, “Apa lagi–”


“Yasudah, kalau memang mas mau tidur, Yuna balik ke kamar mandi lagi aja.”


Zeen terdiam membeku ketika melihat Yuna berjalan memungungginya, sebenarnya bukan hanya itu yang membuatnya terdiam seribu bahasa. Ia seperti itu karena melihat Yuna yang mengenakan pakaian yang bisa dibilang 'Baju haram' jika orang-orang menyebutnya.


“Tunggu dulu Yuna!” Zeen yang langsung tersadar dari rasa terkejutnya, langsung bangkit dari duduknya dan berdiri diatas kasur sambil berteriak menghentikan pergerakan Yuna.


“Apa mas ...?” Yuna yang kepalang kesal karena diabaikan oleh Zeen, refleks membalikkan tubuhnya dan tak menyadari jika pakaian yang ia kenakan sungguh sangat transparan dan membuat lekuk tubuh yang semula tertutup oleh pakaian yang longgar, kini terlihat begitu jelas ketika ia mengenakan lingerie yang berasal dari mertuanya.


“Ada apa mas? Jika tak ada yang ingin mas katakan, Yuna mau balik lagi ke kamar mandi.” Yuna yang sudah dikuasai oleh kekasalan kini berbalik kembali dan berniat untuk melanjutkan langkahnya, sebelum Zeen menghentikan langkahnya ketika lelaki itu kembali menyebut namanya.


“Tunggu! Tunggu Yuna!” teriak Zeen, lalu turun dari kasur itu dan berlari mendekati Yuna, setelah mendekat kearah gadis itu. Ia pun segera membalikkan tubuh Yuna yang semula memungungginya kini merubahnya menjadi menghadap kearahnya.


“K-kenapa mas?” gagapnya, terkejut ketika mendapati tindakan Zeen.


Zeen tak langsung menyahut, ia diam sambil mengamati penampilan Yuna yang seketika membuat jakun nya naik turun, “Kamu mendengarkan permintaanku?” tanyanya.


“Maksudnya mas?” tampak Yuna kebinggunggan dengan maksud ucapan Zeen.


Yuna yang langsung mengerti arah pembicaraan Zeen, kembali dibuat gugup ketika rasa kesalnya sudah berangsur-angsur hilang entah kemana.


“Bukan lingeren mas, tapi lingerie.”Jelas Yuna.


“Iya itu maksud aku, tapi aku tak menyangka jika kamu akan mengenakan pakaian ini, karena tadi kamu sempat menolaknya ketika aku meminta.” Ucap Zeen beruntun.


“E-emm, kan tadi mas bilang, kalau aku tak memakai pakaian ini. Mas tak akan memaafkan aku ....” cicit Yuna lantas langsung menundukkan kepala.


Zeen seketika dibuat tersenyum sumringah, pun ia langsung menetralkan ekspresinya dengan berdehem pelan. “Ya ... memang benar aku bilang begitu, karena itu aku memberimu hukuman seperti ini sebagai balasan karena kamu sudah membuatku marah.” Ucap Zeen sambil melipat kedua tangannya didada.


“Hukuman?” tanya Yuna.


Zeen langsung mengangguk, “Ya ... itu hukaman kamu, sekaligus permintaan maafmu untukku.” Jelas Zeen dengan ekspresi yang dibuat angkuh.

__ADS_1


Yuna samar menggaggukkan kepalanya paham dengan ucapan Zeen, “Hemm ... itu berarti mas sudah memaafkan ku kan? Jika memang begitu, aku akan mengganti pakaianku karena sangat tak nyaman mengenakan pakaian tipis ini.”


Saat Yuna ingin berbalik kembali, Zeen lagi-lagi menahanya, namun dengan cara yang berbeda. Yaitu dengan memeluk pinggang Yuna dengan erat sehingga membuat keduanya berdempetan tak ada jarak sedikitpun.


“M-as? Kenapa–”


“Karena kamu sudah berpakaian seperti ini. Maka aku tak akan menyia-nyiakanya,” seulas senyum miring tampak terlihat dibibir tipis Zeen.


Yuna yang sedikit paham kemana arah ucapan itu, meneguk ludahnya seketika, pun kemudian ia mencoba mengerakan tubuhnya untuk melepaskan diri dari belitan Zeen.


“Mas, sebentar, lepaskan aku dulu ... rasanya aku sesak.”


“Hemm? Sesak ya?” tanya Zeen dengan raut wajah penuh arti.


Yuna mengangguk samar menjawab perkataan itu.


“Kalau begitu, aku akan membuatmu tambah sesak. Tapi sesaknya dalam artian lain.”


Tiba-tiba Zeen mengangkat tubuh Yuna, dan langsung membawa gadis itu menuju kasur.


Setelah Zeen memposisikan tubuh Yuna dalam keadaan berbaring, Zeen yang tanpa basa-basinya langsung ikut naik keatas kasur dan menindih Yuna yang ada dibawah kungkunggan nya.


“Apa yang mas lakukan?” tampak Yuna yang kalut dan ketakutan.


“Kenapa masih bertanya? Tentu saja ini bagian dari hukuman mu.” Jelasnya.


“Apa?” pekik Yuna, “Tapi kata mas hukumanku hanya mengenakan pakaian ini saja?”


Zeen terkekeh sejenak, lalu tersenyum miring. “Siapa bilang hanya itu saja? Aku tak pernah bilang seperti itu, tuh?”


Seketika Yuna menahan nafasnya, ketika melihat wajah Zeen semakin dekat kearahnya. “Mas ... aku masih belum siap ....”


TBC.

__ADS_1


Tungguin next partnya ya .... Nanti Author bikinya gak nanggung-nanggung lagi😆


__ADS_2