Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 42


__ADS_3

"Beneran kamu gak kenapa-kenapa Firo?" tanya Vina saat mereka semua sudah berada dimeja makan, karena makanan yang telah disiapkan oleh Yuna sudah mantang, padahal hanya setengah jam saja Yuna memasak. Tapi, masakan itu telah tersedia begitu banyak. Dan tertata rapi dimeja.


"Iya Firo, nenek khawatir kamu kenapa-napa, lebih baik kami mengantarmu kerumah sakit. Atau kalau kau tak mau, biar pamanmu menghubungi dokter pribadi rumah ini." timpal Rima, yang membuat sang cucu langsung memijit pelipisnya. Sedangkan Zeen yang melihat itu, terus tertawa kesenangan. Bahkan Yuna yang tengah menatap piring dan sendok itu dibuat kebingungan saat melihat tingkah Zeen, yang menurut Yuna sangat aneh.


Albaret langsung bangkit dari duduknya, "Oh! Biar aku ambil hp dulu, buat telfon dokter."


"Tunggu paman!" cegah Firo.


"Ya? Kenapa Firo?" tanya Albaret mengerutkan alisnya.


"Paman tak perlu menelfon dokter, aku benar-benar tak apa. Kenapa kalian sangat heboh! Hanya karena candaan dari kak Zeen?" Firo berucap, sambil mengelengkan kepala.


"Loh? Aku tak pernah bercanda adik! Aku melihat wajahmu yang seperti pucat, jadi, kupikir kau sedang sakit." ucap Zeen dengan nada santai.


Firo menatap Zeen dengan tatapan kesal. "Tapi dugaanmu itu salah kak Zeen! Aku tak pernah sakit sekali, kau ini kan sebagai dokter kenapa tak bisa membedakan?"


Zeen menutup mulutnya seketika, "Oh! Iya aku kan seorang dokter, kok aku sampai lupa?" beo Zeen.


Tak beda jauh dengan Zeen, Albaret pun seketika menepuk jidatnya. "Loh? Papa juga seorang dokter, kenapa papa sampai, mau susah-susah nolfon dokter pribadi? Emang kita punya dokter pribadi?" tanya Albaret merasa bingung pada diri sendiri.


Rima dan juga Vina itu langsung saling berpandangan.


"Aku juga kok sampai lupa... Apa mungkin karena faktor pikunku ini." Rima menghela nafas, sambil mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sama aja sama Vina mah... Aku saja yang punya suami seorang dokter, bahkan lupa suamiku berprofesi sebai bos dirumah sakitnya." Vina terkekeh pelan sambil mengelengkan kepalanya.


Yuna yang masih berdiri didekat meja itu, juga ikut tertawa kala melihat tingkah absur mereka.


Firo pun dibuat semakin kesal, lantaran dirinya seperti dipermainkan oleh keluarganya sendiri. Bahkan neneknya sendiri pun ikut-ikutan seperti mereka.


Masih dengan menutup mulutnya, Zeen sudah tak tahan ingin tertawa lebar, namun ia berusaha untuk menahanya. Jika ia tertawa sekarang, maka dipastikan dirinya tak akan bisa berhenti tertawa.


"Yasudah, yasudah... Kita lupa saja itu, karena Firo cucuku bilang sendiri bahkan dia tak sakit. Maka kita semua tak perlu khawatir lagi." jelas Rima, sambil menetralkan wajahnya yang sempat ingin tertawa. Namun ia masih bisa menahanya, karena ia tak mau citra angunya hilang akibat dirinya yang akan tertawa.


Albaret yang tadinya berdiri itu, kembali mendudukan diri disamping Firo. Sejenak ia menepuk bahu lelaki muda disampingnya. "Maafin ya Firo, paman malah lupa. Kalo paman juga seorang dokter." ucap Albaret sambil tertawa kecil.


Firo menghela nafas sejenak. "Sudahlah paman, tak perlu dibahas lagi." ucapnya acuh, yang langsung membuat Albaret mengelengkan kepala.


"Kau itu memang tak bisa berubah, sifatmu yang dulu dan sekarang sama saja." gumam Albaret, lagi-lagi mengelengkan kepala.


Rima menatap Yuna yang masih berdiri didekat meja, tepat disampingnya. "Kau sendiri yang memasak ini?" tanya Rima.


Yuna yang ditanya itu mengangguk. "Iya nek.." jawabnya.


"Tapi... Kenapa bisa sebanyak ini? Aku tak percaya jika kau yang memasak sendiri." ucap Rima, tampak begitu ragu.


Firo yang duduk diam itu, tiba-tiba tersenyum miring. "Mungkin ia berbohong nek... Aku tau kalau dia pasti, meminta bantuan pada pelayan. Orang saat aku pergi ketoilet, makannya aja belum jadi." ucap Firo sambil melipat kedua tangannya didada.

__ADS_1


Rima tampak berfikir dalam diam. "Hemmm." hanya terdengar gumaman dari mulutnya.


Yuna yang melihat keraguan dari Rima itu mengulas senyum dibibirnya. "Jika nenek tak percaya, nenek bisa bertanya pada pelayan rumah disini." ucap Yuna mengusul.


Vina yang mendengar itu, langsung berseru. "Oh! Benar apa kata Yuna, lebih baik kita tanyakan saja pada bibi."


"Bibi.... Bi Minah..." teriak Vina memanggil pembantu rumahnya.


Seorang pelayan paru baya, berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur, pelayan itu langsung berdiri tepat disamping Yuna.


"Ya nyonya, apa ada yang bisa saya kerjakan?" tanya Mina pembantu rumah itu.


Vina mengeleng. "Tidak, tidak... Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu saja."


"Tanya apa nyonya?" tanyanya.


"Apakah benar, jika menantuku Yuna, memasak sendiri didapur. Dan tak ada yang membantunya?" tanya Vina dengan raut serius.


Sejenak pelayan paru baya itu, melirik Yuna. Kemudian ia tersenyum, kembali menatap majikannya. "Tidak nyah... Tidak ada yang membantu non Yuna masak, saya sendiri yang melihat non Yuna masak sendiri didapur." katanya sambil tersenyum, dan merasa bangga bada majikan mudanya itu.


Vina yang mendengar itu pun, tersenyum bangga. Ia lalu melirik suaminya yang juga tengah tersenyum, sambil mengangkat dua alisnya kepadanya, yang membuat ia langsung terkekeh pelan.


"Bagaimana mah? Apakah menantuku, masih terlihat meragukan?" tanya Vina pada mertuanya, yang hanya diam sambil menatap makanan dimeja. Sepertinya wanita tua itu, dibuat diam seribu bahasa.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan Vote. Agar author terus semangat ngetiknya.... 🐨


__ADS_2