Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 48


__ADS_3

"Apakah mereka tak merasa malu, ketika melakukan itu dirumah sakit? Bagaimana jika ada orang yang melihat?" gumam Yuna, yang masih berada tepat disamping pintu ruangan Zeen.


Yuna lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak usah terlalu dipikirkan Yuna... Itu semua bukan urusanmu..." Yuna terus berusaha menekan hatinya. Dan mengusir segala macam pikiran yang datang dikepalanya itu, namun sekuat apapun Yuna, hati Yuna tak bisa dibohongi. Bagaimanapun Yuna pernah memiliki perasaan pada Zeen, dan rasa itu masih ada didalam hatinya. Tentunya, wanita mana tak merasa sakit hati ketika melihat pria yang disukainya bermesraan bersama wanita lain? Bahkan posisi Yuna saat ini pun berat, dirinya yang sebagai istri sah dari seorang Zeen Albaret itu tentu memiliki hak marah, ketika suaminya bermain api kepada wanita lain.


Namun Yuna merasa tak pantas dengan semua itu, marah kepada Zeen yang bahkan belum mengakuinnya dan menerimanya sebagai istri sahnya. Memikirkan semua itu, membuat hati kecil Yuna terasa nyeri.


"Loh? Yuna!"


Sebuah suara langsung membuat dirinya tersentak kaget, dan berhasil membuyarkan lamunya.


Yuna mengalihkan pandangannya kedepan, dimana seseorang yang tadi memanggil namanya.


"Kenapa ngelamun aja disitu?" tanyanya, dengan senyum manis yang tak hilang dari bibir tipisnya itu.


Yuna menghela nafas sejenak, lalu membalas senyuman itu. "Saya tidak melamun kok, dokter Fadli."


"Hoh? Tapi kulihat dari tadi... Kamu terdiam saja disitu." ucap Fadli, sambil mengangkat satu alisnya.


Yuna terkekeh sejenak, "Kebetulan ada yang tengah saya pikirkan tadi. Itu sebabnya saya memilih diam disini." jawab Yuna.


Fadli tertawa mendengar jawaban Yuna. "Yaampun... Lucu juga ya kamu, orang lain yang sedang melamun itu. Pasti milihnya ditempat sepi, atau yang udaranya menenangkan. Ini kamu malah milih dikoridor yang banyak orang lewat.. Ada-ada aja kamu Yuna, Yuna... " ujar Fadli sambil menggelengkan kepalanya, tak lupa dengan diiringi tawanya.


Yuna mengaruk kepalanya, sambil tersenyum kikuk."Yah... Itulah saya, berbeda dengan orang lain."

__ADS_1


Fadli kembali dibuat tertawa. "Hahahaha, beda! Dan unik diantara orang lainnya..."


Yuna yang mendengar itu pun ikut tertawa, ia sampai melupakan kejadian diruangan Zeen berkat lelucon dari dokter Fadli itu.


"Dokter Fadli bisa aja..." Yuna merasa malu.


"Hahaha, oh iya, kamu emang mau kemana sekarang?" tanya Fadli setelah meredakan tawanya.


"Hemm, saya baru mau ingin keruangan pasien. Buat ngecek perkembangan dokter." jawab Yuna yang langsung dianguki kepala oleh Fadli.


"Hem, begitu ya... Kalau begitu kita bareng aja sekalian. Kebetulan saya juga ada jadwal praktek." ajak Fadli.


"Emang tujuan kita searah dokter?" tanya Yuna.


"Emang kamu mau keruangan yang mana?"


"Hahaha, kebetulan sekali kita searah..." Fadli pun kembali tertawa. "Kok bisa begitu ya?" tanya Fadli yang lagi-lagi membuat Yuna mengaruk kepalanya merasa cangung.


"Haha, mungkin memang kebetulan dokter."


"Yasudah kalau begitu, kita jalan sekarang aja yuk." ajak Fadli.


Yuna mengangguk. "Mari..."

__ADS_1


Kemudian mereka berdua berjalan berdampingan, untuk menuju kelantai dua. Karena masing-masing memiliki tugas yang berbeda namun tujuan yang sama.


Disatu sisi, diruangan tempat Zeen berada. Kedua insan berbeda jenis itu saat ini masih diposisi yang sama. Dengan Zeen yang berusaha matian-matian menahan hasratnya, ketika Laura terus saja menggoda dirinya.


"Berhenti Laura.... Aku bilang jangan melakukan disini, nanti orang akan masuk keruangan dan melihat kita." ucap Zeen berusaha menyingkirkan tangan Laura yang tengah ingin membuka kancing kemejanya.


Namun Laura masih saja mengabaikan ucapan Zeen dan terus melanjutkan aksinya. Zeen pun dibuat frustrasi ketika ucapannya tak didengarkan oleh Laura.


Saat Zeen mulai terbuai oleh godaan itu, tiba-tiba ia langsung mendorong tubuh Laura sehingga membuat wanita itu terduduk dilantai, akibat dorongan Zeen yang terlalu kencang.


"Zeen.." teriak Laura mengeram.


Zeen terdiam sejenak ketika mendengar suara Yuna yang berada diluar ruangan, dirinya kalut jika Yuna masuk kedalam ruangan dan melihat dirinya dengan Laura tengah bermesraan entah kenapa ia merasa malu jika hal itu terjadi, dan ia tak ingin sampai kepergok oleh Yuna.


"Ada apa denganku..." gumam Zeen menerka-nerka.


"Ada apa denganmu sih, Zeen... Kenapa kau mendorongku..." ucap kesal, yang baru saja berdiri dari jatuhnya itu.


Zeen masih terdiam, ia pun langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu untuk melihat, apakah benar adanya Yuna diluar.


Ia pun membuka pintu itu, namun tak ada orang disana. Kemudian ia mencoba mengedarkan pandangannya dikoridor, sejenak matanya memicing ketika melihat punggung Yuna yang berjalan bersama seorang pria berbadan tinggi nan tegap. Dan tentu saja Zeen tau siapa orang itu.


Ada raut lesu ketika melihat Yuna yang berjalan bersama pria lain selain dirinya.

__ADS_1


Sedangkan Laura yang melihat tingkah aneh dari Zeen itu dibuat bingung. "Ada apa dengannya?" gumam Luara, dengan raut kesal yang mendominasi wajahnya itu.


TBC.


__ADS_2