Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 144


__ADS_3

...***...


“Jadi bagaimana dokter Andre?” tanya Zeen yang saat ini diruangan tempat dokter kandungan bekerja, dimana Andre sang pemilik ruangan itu.


Saat sampai dirumah sakit, Zeen benar-benar memeriksakan dirinya pada dokter kandungan. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi padanya, bahkan saat Papanya menjelaskan jika ia tengah mengalami kehamilan simpatik itu. Semakin membuat jiwa kepo Zeen meronta-ronta.


Dokter Andre mendudukan dirinya tepat dihadapan Zeen, rekan kerja sekaligus teman dekatnya. “Saya menjelaskan sebagai seorang dokter? Atau sebagai seorang teman?” ucap Andre bertanya pada Zeen.


Zeen tampak menyatukan kedua alisnya, “Sebagai seorang teman saja. Aku tak terbiasa ketika harus mendengarmu berbicara informal begitu.” Putusnya.


Andre dibuat terkekeh mendengar ucapan itu. “Hahaha, memang benar-benar seorang Zeen Albaret.” Pujinya yang terselip nada menggoda.


“Baiklah aku akan menjelaskannya secara rinci tentang keadaanmu sekarang. Tentang kondisi yang kau alami tadi pagi memang sudah menandakan jika kau saat ini mengalami yang namanya morning sicness atau caouvade syndrom. Kehamilan simpatik yang terjadi karena adanya ikatan simpati yang kuat dengan sang wanita.” Jelas Andre secara padat dan jelas.


“Jadi itu berarti ....”


“Ya! Sekarang posisimu menggantikan istrimu yang sedang hamil, itu berarti untuk kedepannya kamu akan merasakan yang namanya gejala-gejala kehamilan.” Jelas Andre lagi.


“Apakah gejala-gejala itu akan semakin parah? Apa tak ada obat untuk menghilangkannya?”


Kening Andre menekuk. “Kau berniat untuk menghilangkan gejala-gejala itu dan tak mau merasakan yang namanya kehamilan?”


Zeen kelagapan, “Bukan begitu ... aku hanya bertanya saja padamu, apakah gejala-gejala ini bisa dihentikan dengan meminum obat saja?”


Andre memicingkan matanya pada Zeen, “Bisa tapi kemungkinanya sedikit.” Jelasnya.


°


°


°


°

__ADS_1


°


Saat ini sudah pukul jam sebelas siang. Zeen yang sebenarnya masih ada jadwal mengecek keadaan para pasiennya sudah telat selama tiga puluh menit, padahal biasanya pria itu selalu tepat waktu ketika bekerja dan tak ada waktu hanya istirahat sejenak saja.


Zeen saat ini begitu sangat malas mengerjakan tubuhnya, dirinya sekarang hanya menelungkapkan kepalanya diatas meja kerjanya itu.


Bahkan pintu kerjanya sama ia kunci karena tak mau jika ada yang masuk dan mengganggu waktu sendirinya.


“Aku lemas ... aku tak bersemangat, aku malas, aku tak begitu senang. Ingin pulang ingin memeluk Yuna. Ingin sekali dimanja olehnya ingin sekali memakan masakkanya. Ingin sekali memakan Yuna ....”


Begitu terus ocehan tak jelas yang berasal dari pria itu. Ia bahkan tak takut sama sekali jika kelak nanti Papanya akan memarahinya karena ia yang lagi-lagi lalai pada pekerjaannya.


“Hahhh ... hanya memikirkan Yuna saja aku sangat merindukan, sampai-sampai liurku pun ikut menetes. Mungkin sekarang aku tengah mengidam Yuna.” Gumamnya ngasal.


“Ah! Lebih baik aku telfon Yuna saja, dari pada aku terus menahan rindu ini yang akan semakin membuatku menderita!”


Zeen dengan cepat mencari kontak milik Yuna, dan langsung menghubungi wanita itu tanpa babibu lagi.


“Halo sayang ....”


“Bisakah kamu datang kesini? Aku disini sangat lemas hingga tak bisa mengerakan semua bagian tubuhku. Bahkan berdiri saja aku susah,” ucap Zeen melebih-lebihkan perkataannya.


“Hah? Emang mas sakit apa? Kenapa tak diperiksakan disana?”


Terdengar suara Yuna tengah menahan kekhawatiran.


“Sudah sayang, tapi mas tetap aja lemas. Kamu bisa datang kesini gak? Mas pengen kamu datang kesini ... aku membutuhkanmu Yuna ....”


“Tapi mas ....”


“Ya, ya? Kamu datang kesini ya? Biar nanti pak sopir yang antar kamu, aku tunggu kedatanganmu sayang.” Ujar Zeen setelah itu mematikan sambungan telfonnya secara sepihak bahkan tak menyempatkan mendengar jawaban dari Yuna.


“Maafkan aku honey ... aku terpaksa melakukan ini karena sangat merindukanmu. Sebenarnya aku mau saja pulang dan menemuimu, tapi aku tahu jika Papa tak akan membiarkanku pergi begitu saja. Aku tahu pria tua itu tengah mengawasiku sekarang.” Gumam Zeen berucap santai, lalu menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya dengan senyum miring terbit dibibir tipisnya.

__ADS_1


°


°


°


°


Tepat pukul dua belas siang, pintu ruangan Zeen terbuka dan langsung menampakkan sosok Yuna yang baru saja datang dengan membawa sebuah kantong kecil ditangannya.


“Sayang ....” melihat sang pujaan sudah datang, Zeen pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju istrinya dengan tangan yang direntangkan seolah tengah meminta sebuah pelukan kepada wanita itu.


Namun bukanya mendapatkan apa yang diharapkan Yuna justru mencubit pinggang Zeen dengan sangat kencang. Alhasil perbuatannya itu membuat Zeen mengaduh kesakitan sekaligus merasa terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari Yuna itu.


“Aw sayang? Kenapa kamu tiba-tiba mencubitku?” ringis Zeen menatap istrinya dengan raut keheranan.


“Mas tadi sedang membohongiku kan tadi? Mas beralasan jika mas sedang lemas dan tak bisa berdiri sama sekali, padahal mas saat ini tengah mengurung diri dan bermalas-malasan diruangan?” jelas Yuna panjang lebar.


Zeen lantas mengaruk tengkuknya yang tak gatal, “Hehehe, maafin mas ya? Soalnya gak ada cara lagi yang mmbisa membuatmu datang kesini. Mas sungguh frustrasi tadi karena menahan kerinduan yang mendalam padamu.” Zeen menarik pelan tangan Yuna lalu membawa wanita itu duduk dikursi kerjanya. Sedangkan ia berdiri tepat disamping Yuna.


“Ya tapi kan mas? Ini kan masih jam kerja, emang mas boleh malas-malasan kayak gini? Nanti kalau mas dapat omelan lagi dari Papa gimana?” tanya Yuna secara berturut-turut.


Zeen yang mendengar itu tersenyum samar, “Eiyyy, kamu mengkhawatirkan ku ya sayang?”


Plak!


Yuna mengeplak lengan Zeen dengan kencang. “Aku serius mas! Jangan ngajak bercanda!” sungut Yuna kesal.


Zeen mengusap lenganya yang tadi dipukul keras oleh Yuna, “Sejak hamil kamu selalu memukul ku ya sayang? Dulu aja kamu gak pernah?”


Yuna langsung mendongakan kepalanya dan memberikan tatapan tajam pada Zeen. “Jadi mas gak suka?” ujar Yuna dengan raut yang nampak kesal.


“Tidak begitu kok sayang! Mas suka kok, mas suka.”

__ADS_1


'Ternyata wanita hamil itu memang sedikit menyeramkan jika sedang sensitif. Mungkinkah ini yang dirasakan oleh calon bapak-bapak pada umumnya? Dan sekarang giliranku yang merasakannya.' Zeen membatin sambil sesekali mengusap da-danya merasa bangga apa yang dialaminya sekarang.


TBC.


__ADS_2