
...***...
Dengan senyum ramahnya, Mita menjelaskan tentang kandungan Yuna dengan teliti, tentu membuat kedua pasangan suami istri itu saling mendengarkan dengan saksama tak ingin ada yang terlewatkan.
“Jadi begitu, keadaan baby twin anda berdua sangat sehat. Mungkin karena kondisi ibunya sangat terjaga dan tingkat mood makannya juga naik sehingga membuat kandungan ibu Yuna sangat kuat.” Jelas Mita.
Yuna dan Zeen yang mendengar itu tersenyum senang. Zeen pun tak tinggal diam saja pria itu segera merangkul pundak istrinya dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.
“Baby baby kita sehat sayang ....” ucap Zeen sambil mengecup telapak tangan Yuna.
Yuna tersenyum manis mendengarnya. “Ini berkat kamu yang selalu memanjakanku mas.” Jawabnya.
“Oh ya? Maca cih ....” dengan gemas Zeen menduselkan wajahnya pada wajah Yuna. Hal itu membuat Mita tersenyum canggung melihatnya.
“Ehem! Baik karena jadwal pemeriksaannya sudah selesai maka saya akan memberikan resep vitamin pada ibunya ....” jelas Mita lalu segera menuliskan sebuah resep vitamin disebuah kertas kecil dan langsung memberikannya pada Zeen.
“Ck, bilang aja mau mengusir kami,” gumam Zeen yang masih didengar Yuna yang ada disampingnya dan juga Mita yang ada didepannya.
“Mas ....” Yuna menegur suaminya lagi dengan mencubit gemas pinggang Zeen.
Yuna mengalihkan pandangannya kearah Mita dan tersenyum pada dokter cantik itu. “Terimakasih sudah memeriksa saya dok, dan juga terimakasih untuk resep vitaminnya. Kalau begitu kami permisi dulu.” Yuna bangkit dari duduknya dan diikuti Mita yang juga berdiri dari duduknya.
Mita pun membalas senyuman itu, “Sama-sama ibu Yuna, saya sangat senang bisa memeriksa anda. Lain kali jika ada keluhan anda bisa menghubungi saya lewat kartu nama saya ini.” Ucapnya dengan menyodorkan kertas persegi empat kecil itu kepada Yuna.
Yuna menerima itu dengan senang hati. “Oh! Baiklah saya akan menyimpan nomor anda dengan baik.”
“Ayo mas! Mas masih mau disini? Kalau iya aku pergi dulu aja.” Katanya sambil menatap suaminya yang masih duduk dikursi itu dengan raut tak berekspresi.
“Aku ikut sayang.”
Akhirnya setelah terdiam dengan lama, Zeen baru bangkit dari duduknya dan berjalan sedikit berlari menyusul istrinya.
Seketika Mita menghela nafas panjang, pertanda ia merasakan kelegaan yang teramat.
“Hahhh ... untung aja mereka cepat pergi dari sini, kalau tidak aku pasti akan terus menyaksikan keromantisan mereka yang membuat seorang wanita jomblo ini ingin cepat kawin.” Gerutunya sambil melesukan wajahnya.
__ADS_1
Saat Mita tengah membereskan beberapa dokumen miliknya, matanya tak sengaja melihat seorang pria yang kini tengah mengisi hati dan pikirannya itu lewat didepan ruangannya. Kebetulan pintu ruangannya sedikit terbuka itu sebabnya ia tak sengaja melihat bayangan pria itu yang tengah berjalan dikoridor rumah sakit.
Cepat-cepat Mita membereskan dokumen itu dan segera berlari keluar dari ruangan setelah menyelesaikannya dengan sembarangan.
Dengan senyum yang terbit dibibirnya, kini Mita telah berjalan tepat disamping pria tinggi itu.
“Selamat makan dokter Fadli ....” ucap Mita dengan wajah penuh keceriaan kearah pria itu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya sambil menolehkan kepalanya kesamping.
Fadli sedikit terperanjat saat mendengar sapaan itu, pasalnya ia tak tahu jika ada Mita disampingnya.
“Oh dokter Mita? Anda berkata apa tadi?” tanya Fadli bingung.
“Saya bilang- selamat makan dokter Fadli ....” jawab masih dengan tersenyum ceria.
“Puft, hahaha, selamat makan? Saya bahkan belum makan.” Katanya sambil menggeleng mendengar ucapan itu.
“Yah kan sebentar lagi kita akan makan dokter, jadi sama aja kan jika saya ngucapin sekarang?” tanyanya dengan wajah polos.
“Kita?”
Mita mengangguk langsung, “Iya, saya akan menemani anda makan siang kebetulan saya juga akan makan biar anda tak sendirian makan dikantin nanti.”
Mita yang mendengar itu sedikit kecewa, namun ia berusaha untuk tetap tak mengubah mimik wajahnya. “Oh ya?” tanyanya masih dengan tersenyum.
“Ya ... jika–”
“Dokter Fadli! Sini cepat!”
Terdengar suara teriakan dari seorang wanita membuat Fadli menghentikan ucapannya.
“Oh? Itu dia mereka, baiklah mungkin lain kali kita makan bersama dokter Mita.” Tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Fadli berjalan lebih dulu masuk kedalam kantin itu dan menghampiri rekan-rekan kerjanya yang terdiri dari enam orang disalah satu meja makan disana.
Mita menatap lesu punggung lebar itu. “Kok begini ya nasib percintaanku? Yang pertama sudah punya istri, yang ini single tapi susah didekati.” Gumamnya mengerutkan bibirnya.
“Ini juga? Dokter Fadli gak ada nawarin aku ikut gitu?” lanjutnya semakin melesukan wajahnya.
__ADS_1
Mita semakin mengerutkan bibirnya saat melihat Fadli yang begitu ramah terhadap para dokter wanita disana. Apalagi ada salah satu dokter wanita cantik yang terus bergelayut manja dilengan kekar Fadli, hal itu membuat Mita terbakar cemburu melihatnya.
“Kali ini aku tak mau menyerah gitu aja. Pokoknya aku akan kejar cintaku ini, sampai cintaku itu dibalas dan tak hanya diriku saja yang menyukai secara sepihak. Sudah cukup gagal satu kali, kali ini aku tak ingin melepaskannya begitu saja.”
Dengan penuh ketekatan, Mita berjalan penuh keangunan kearah meja makan itu idaman ada Fadli disana.
“Ehem, bolehkah saya duduk disini juga?” ucap Mita sambil tersenyum pada dokter-dokter sedikit lebih tua darinya.
Seketika semua atensi mengarah padanya, yang tadinya tengah bercanda ria kini para dokter-dokter dimeja tersebut terdiam sambil menatap Mita sejenak.
“Dokter Mita?” binggung Fadli bertanya.
Mita mengarahkan pandangannya pada Fadli, “Oh dokter Fadli. Maaf ya saya menganggu anda tengah mengobrol dengan rekan anda, saya sebenarnya tak ada teman duduk jadi ... saya berniat untuk bergabung dengan anda semua apakah boleh?” tanyanya dengan tatapan berharap.
Fadli terdiam untuk beberapa detik, namun sosok wanita yang tadi tengah bergelayut manja pada Fadli itu malah memperlihatkan tatapan tak suka pada Mita. Tentu Mita menyadari hal itu.
'Wah lihat ekspresi wanita itu? Mirip mak lampir fersi zombie.' Gumam Mita dalam hati.
“Maaf ya kamu? Kamu pasti dokter baru ya? Saya baru lihat wajah kamu hari ini. Tapi saya mau bilang sama kamu jika kursi disini sudah penuh, jadi ... kamu bisa cari meja yang masih kosong dikantin ini.” Jelasnya.
Sejenak Mata Mita mengarah pada mengarah pada tag nama yang menempel pada kemeja dokter milik wanita itu. 'Clara? Jadi mak lampir fersi zombie ini namanya Clara? Terlalu bagus untuknya, seharusnya namanya itu nenek gayung sicerewet. Baru cocok buat wajahnya yang garang itu.' Gumam Mita yang lagi-lagi didalam hati.
“Eh? Kenapa begitu Clara,” seorang dokter pria berdiri dari duduknya dan berjalan kesalah satu meja kosong kemudian mengambil satu kursi disana, dan meletakannya tepat disamping Mita.
“Kamu boleh duduk disini kok, itung-itung biar cepat akrab sama kami disini. Anak baru harus cepat akrab kan?” ucapnya dengan tersenyum manis kepada Mita.
Mita menunjukan senyum malu-malu ala dirinya kepada dokter pria itu. “Terimakasih kak ....” lalu mendudukan dirinya dikursi saat sebelumnya ia sudah meletakan kursinya didekati Fadli.
“Sama-sama,”
Mita menoleh kearah Fadli, dengan Fadli yang hanya diam sambil menunjukan raut cangunggnya tapi tak menatap kearahnya. Namun saat dirinya tengah mengamati wajah pria pujaannya, sudut matanya tak sengaja melihat wanita itu yang tadi tengah menatap tak suka kepadanya.
Dengan tatapan mata Mita, ia seolah mengatakan. 'Aku menang mak lampir!'
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa untuk komen ya Gaes, walau Author meminta pasti kalian tak akan komen😢
°Buat yang selalu komen dan yang selalu memberikan dukungan pada othor ini, Lop yuu~ Poreper😻💨