Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 122


__ADS_3


...***...


Setelah penerbangan sampai dibandara Jakarta dengan beberapa jam lamanya. Akhirnya Zeen dan Yuna saling menghirup udara dengan perasaan lega.


Mereka berdua saat ini tengah berada diluar area bandara dan sedang menunggu supir Albaret yang akan menjemput mereka.


Zeen terus melirik jam tangannya, merasa heran dengan supir Papanya itu yang sangat telat menjemput mereka. Padahal hampir satu jam mereka berdua menunggu.


“Kenapa supir Papa lama sekali datangnya ya?” gumam Zeen dengan raut sedikit kesal.


Zeen sedari tadi berjalan mondar-mandir, bak seseorang yang sudah tak tahan lagi menunggu lama. Bahkan Yuna yang sejak tadi diam duduk disalah satu kursi disana dibuat mengeleng, ia bahkan dibuat pusing melihat Zeen yang terus berjalan kesana-kemari.


“Mas ... sebaiknya mas duduk dulu, mungkin pak supir sedang terjebak kemacetan.” Ujarnya.


“Tapi Yuna ... aku sudah tak tahan lagi! Badanku gerah banget pengen cepet-cepet berendam diair es!” jawab Zeen dengan mengibas-ngibaskan tangannya pada wajahnya itu.


“Astaga? Itu yang sejak tadi mas pikirkan?” tanya Yuna merasa tak percaya.


Zeen menghentikan langkahnya, lalu menatap Yuna. “Iya dong? Apa lagi?” beo Zeen menatap Yuna dengan kening berkerut.


“Aku kira mas buru-buru karena pengen kerumah sakit ...?” Yuna sampai dibuat menganga mendengar ucapan frontal itu.


“Buat apa mikirin soal rumah sakit? Kalau masih ada Papa yang nangani?” Zeen mengangkat satu alisnya, lalu mengedikan kedua bahunya acuh.


“Astaga! Kenapa tak sekalian mandi sebalok es aja?!” gerutu Yuna merasa kesal. Ia yang biasanya selalu sabar dan tak perduli, kini juga bisa memperlihatkan ekspresi kesalnya pada pria itu. Mungkin karena sudah merasa lelah dengan tingkah usil suaminya itu.


Zeen menatap Yuna dengan mata melebar, “Nah ... ide bagus tuh! Nanti kucoba aja deh, siapa tau gerahku langsung hilang selama sebulan?” Zeen mengetuk-ngetuk dagunya seolah tengah berfikir.


Yuna pun refleks langsung menepuk jidatnya, “Aku tak tau jika pria yang awalnya selalu bersikap acuh itu, bisa menampakkan sifat menyebalkannya?” Yuna menghembuskan nafasnya seketika.


“Sayang, apa kamu nanti mau ikut aku juga? Mandi es sebalok?” tanya Zeen memandang Yuna dengan tampang tak berdosanya.


“Tidak! Tidak mas! Aku tak mau, karena aku tak sepertimu yang kegerahan seperti orang yang tengah buang air besar,” jawab Yuna dengan cepat karena tak ingin mandi bersama dengan suaminya. Alasannya bukan karena mandi dengan air es sebalok. Melainkan ia tahu jika isi kepala suaminya itu terdapat akal bulus yang sangat licik mampu membuat Yuna yang awalnya polos, kini tahu segalanya.

__ADS_1


“Kenapa tak mau?” Zeen langsung berjalan mendekat kearah Yuna. Bahkan dirinya sampai menerjang koper miliknya yang pada saat itu tepat didepanya, dan kini koper itu telah tergeletak dipingir jalan dengan naas nya.


“Kamu harus mau dong, biar mandinnya cepet gak ganti-gantian!” ucap Zeen dengan nada yang terdengar memaksa, dan kini ia telah duduk disamping Yuna.


Yuna mengangkat sebelah alisnya seketika, ia menatap Zeen dengan tatapan binggung. “Mas ... apa mas lupa? Jika dirumah mas, kamar mandi tak hanya satu?” Yuna tampak menggelengkan kepala.


“No! No! No! No! Kamar mandi khusus kita hanya satu. Yaitu kamar mandi diruangan kamar kita!” Zeen menatap Yuna dengan tatapan tajam. Bahkan Yuna yang mendapati tatapan tajam itu, hanya bisa menggeleng kepala binggung.


'Kenapa ya? Mas Zeen sejak tadi aneh banget,' batin Yuna dalam hati merasa tak mengerti.


Saat Zeen tengah berceloteh dengan Yuna, tiba-tiba suara klakson mobil membuat kedua insan itu menghentikan pembicaraan mereka. Ralat! Zeen lah yang sejak tadi berbicara, dan Yuna hanya bisa menjadi pendengar yang baik.


“Sepertinya supir Papa udah nyampe mas?” celetuk Yuna langsung berdiri dari duduknya, ketika melihat mobil berwarna hitam mengkilap berhenti didepan mereka.


Zeen pun ikut berdiri dari duduknya, namun pandangannya terus mengamati mobil mewah itu dengan pandangan binggung dan bertanya-tanya.


“Kalian berdua masih belum pulang?”


Keluarlah seorang pria tinggi dari mobil mewah itu, siapa lagi kalau bukan Fadli?


Fadli kembali mengalihkan pandangannya pada Yuna, “Oh? Kebetulan saya tadi masih disekitar sini. Dan langsung melihat kalian berdua disini.” Jelas Fadli dengan senyum terukir.


'Ngapain lagi sih, ngak dipesawat, ngak disini selalu muncul dan jadi penganggu!' gerutu Zeen hanya mampu didalam hati.


Zeen yang melihat Fadli terus memandangi Yuna, dengan kegesitanya ia langsung berpindah posisi tepat didepan Yuna dan kini Yuna berada tepat dibelakangnya.


Yuna pun sampai dibuat menyembulkan kepalanya kekiri dan kekana. Namun Zeen tetap berdiri tegak untuk menghalangi wajah Yuna agar tak dipandangi oleh dokter muda itu.


“Mas? Ada apa mas?” tanya Yuna yang sudah kualahan, dan hanya mampu melihat punggung lebar Zeen didepannya.


“Kenapa anda tak cepat kembali?” tanya Zeen pada Fadli yang mengabaikan ucapan Yuna.


Fadli tersenyum mendengar ucapan itu, “Kebetulan, karena kalian berdua masih ada disini. Saya berniat untuk memberikan tumpangan dari pada harus menunggu terlalu lama kan?”


“Tak perlu! Karena supirku akan segera datang, jadi anda bisa kembali sekarang!” tolah Zeen langsung.

__ADS_1


Sejenak Fadli menatap jam dipergelangan tangannya, “Tapi ini sudah hampir siang hari. Dan cuaca pun sangat terik, apakah anda mampu menunggu dibawah sinar matahari yang panas ini?” timpal Fadli yang membuat Zeen langsung berfikir.


“Saya lihat pun, taksi disini jarang yang lewat. Kecuali anda memesan ojek online yang biasanya akan memakan waktu yang lama jika menunggu,”


Zeen merasakan, jika Fadli tengah menyudutkannya dengan ucapan kenyataan itu.


“Jadi? Lebih baik anda menerima ajakan saya kan?” tanya Fadli sekali lagi.


'Benar juga sih apa yang dikatakannya, apalagi aku udah kegerahan banget sekarang. Sialan banget! Coba kalau musim salju disini, mungkin aku tak akan merasa kegerahan seperti sekarang!' gerutu Zeen dalam hati dengan perasaan campur aduk.


Zeen pun melirik an matanya pada Fadli, yang saat ini tengah menunggu jawabannya. Bahkan Yuna pun masih berada dibelakangnya.


Zeen yang sudah tak ada pilihan lain itu, menghela nafasnya seketika. “Baiklah! Aku–”


Brum ....


Terlihat mobil mewah berwarna putih berhenti tepat dibelakang mobil Fadli. Zeen yang merasa familiar dengan mobil itu langsung tersenyum semirk.


“Aku tak jadi menumpang dokter Fadli! Terimakasih atas bantuan anda, tapi sopir saya sudah sampai itu!” Zeen menunjukan mobil milik Papanya dengan dagu yang diangkat.


Fadli melirik mobil itu sekilas.


“Maaf tuan muda, saya datang terlambat dikarenakan ada kecelakaan dijalan raya.” Ucap sopir itu sambil berjalan tergopoh-gopoh kearah Zeen.


Zeen nampak tersenyum puas, ia bahkan sampai melupakan kekesalanya itu pada supir Papanya yang terlambat menjemput ia dibandara.


“Tak apa pak! Sebaiknya bapak segera masukan koper saya dan istri saya! Dibagasi mobil,” perintah Zeen dengan menekan kata istri dibait perkataannya itu.


“Baik tuan!” sopir itu langsung menjalani perintah Zeen, dengan mengambil dua koper milik pasutri itu.


Zeen membalikkan tubuhnya, menatap Yuna yang ada dibelakangnya, kemudian ia dengan tak tahu malunya langsung merengkuh pingang Yuna dengan gerakan posesif.


“Baiklah, kami berdua pamit dulu ya dokter Fadli! Sampai bertemu kembali.” Zeen lagi-lagi menatap Fadli dengan senyuman miring. Karena merasa sangat puas dengan keterdiaman dokter muda itu.


Fadli menatap mobil yang ditumpangi Zeen dan Yuna dengan pandangan dingin tanpa ada ekspresi apapun diwajah itu. “Yuna Saily ... apakah kau benar-benar bukan takdirku?”

__ADS_1


TBC.


__ADS_2