
...***...
Sesuai dengan ucapan Yuna, saat ini dua sepasang suami istri muda itu tengah berjalan memasuki pesawat yang akan segera lepas landas. Dan jangan lupakan jika sedari tadi Zeen terus menggenggam tangan Yuna dengan erat bahkan tak melepaskannya sama sekali hingga sampailah mereka dikursi penumpang itu.
“Hahhh ....”
Terdengar suara helaan nafas dari Zeen. Bahkan Yuna yang berada tepat disampingnya itu dibuat mengelengkan kepala, bagaimana tidak? Jika sejak tadi pria itu terus menghela nafas disetiap perjalanan menuju bandara, bahkan lelaki itu kadang-kadang juga mengerutu walau Yuna tak mendengar begitu jelas gerutuan itu. Namun Yuna merasa yakin jika pria itu tengah kesal.
“Mas ... kenapa? Kok dari tadi buang nafas terus?” tanya Yuna sambil mengelus tangan suaminya.
Zeen mengalihkan pandangannya menatap Yuna, ia lalu mengelus balik tangan itu. “Mas cuma merasa gak puas aja jalan-jalannya. Padahal Mama sama nenek menjanjikan jika pergi liburannya selama satu bulan, tapi ini bahkan belum genap sebulan.” Jelas Zeen sambil menundukkan pandangannya. Merasa lesu seketika.
“Pefftt ....”
Zeen dengan kecepatannya langsung menoleh kembali menatap Yuna. “Kenapa ketawa? Kamu seneng ya lihat aku yang sedang merasa sedih begini?” tanya Zeen dengan kening berkerut.
Yuna mengelengkan kepalanya sejenak, ia pun dengan sekuat tenaga mencoba menahan tawanya. “Bukan begitu mas. Aku cuman heran saja sama kamu, aku kira kamu kenapa kok dari tadi mukanya dilesuin begitu. Ternyata hanya gara-gara gak terpuaskan jalan-jalan di Balinya ya?”
Zeen yang mendengar penuturan itu memberengut seketika. 'Bukan soal jalan-jalannya Yuna ... tapi soal aku yang belum puas mengurung mu didalam kamar! Dan jika kita kembali kerumah makan kebersamaan kita berdua akan sedikit susah. Mengingat rumah sakit pasti lagi sibuk-sibuknya sekarang. Itu sebabnya aku belum puas memanjakanmu dikasur!' batin Zeen meronta-ronta. Dan sesekali terkekeh kecil saat menyadari ucapan konyolnya itu.
“Mas?” Yuna mengibas-ngibaskan tangannya tepat didepan wajah Zeen. Ia merasa heran kembali melihat tingkah pria itu, yang kadang-kadang mengerutu dan menghela nafas. Sekarang malah terdiam melamun.
“Ya?” Zeen yang tersadar itu kembali menoleh kearah Yuna.
“Oh! Sadar ternyata, kirain udah kesambet. Nanti kalau kesambet kan aku gak tau harus ngobatin mas pake apa?” Yuna berucap santai sambil menoleh kedepan. Dan jangan lupakan kedua tangannya yang sudah terlipat didepan.
“Apa?” Zeen tergelak mendengar ucapan itu. Ia tak menyangka jika yang ia kira Yuna adalah seorang perempuan yang pendiam. Tapi kini malah berani meledeknya, yang bahkan orang lain pasti tak akan berani.
__ADS_1
“Kamu menghina suamimu ya?” tanyanya sambil memajukan wajahnya mendekat kearah Yuna.
“Bukan menghina mas. Bedakan mana yang menghina mana yang meledek,” jelas Yuna sambil memejamkan matanya. Masih dengan posisi yang sama.
“Oh ... jadi kamu lagi ngeledek mas mu ini ya?” Zeen semakin mendekatkan wajahnya tepat dipipi Yuna. Bahkan Yuna sendiri dapat merasakan jika nafas Zeen terus menerpa wajahnya.
“Mas ... jangan mulai lagi, ini tempat umum semua orang nanti akan melihat,” ucap Yuna sambil mendorong pelan wajah Zeen agar sedikit menjauh darinya.
“Siapa yang memperdulikan itu? Kita kan seorang pasangan. Wajah dong kita bermesraan, hemm?”
Saat Zeen ingin mengecup wajah Yuna, tiba-tiba sebuah suara menghentikan pergerakannha.
“Dokter Zeen? Yuna? Kalian juga ada disini?”
Zeen dan Yuna langsung mengalihkan pandangan mereka kearah sumber suara itu.
“Oh dokter Fadli?”
'Cih! Orang ini lagi. Kenapa setiap aku melihat wajahnya rasa kesalku tiba-tiba langsung datang?' Zeen menatap Fadli dengan tatapan tajam.
“Kebetulan sekali. Dokter Fadli juga mau pulang?” tanya Yuna dengan suara ramah.
Fadli mengangguk menanggapi ucapan Yuna, kemudian dokter muda itu mendudukan dirinya dikursi tepat disamping kursi Yuna. Yang kebetulan saat itu Yuna duduk disamping kiri sedangkan Zeen duduk disamping kanan tepat dipingir jendela.
“Ya, aku kembali ke Jakarta karena mendapat tugas dari rumah sakit. Trus, kamu sendiri kenapa pulang ke jakarta Yuna?” tanya Fadli yang menghiraukan tatapan tajam dari Zeen.
“Oh, itu dokter~”
Yuna dan Fadli asyik bercerita sendiri. Bahkan mereka sampai mengabaikan Zeen yang sudah mengobarkan api kekesalan yang tak disadari oleh mereka.
__ADS_1
'Sial! Kenapa aku tadi duduk dipingir jendala sih?! Seharusnya Yuna yang duduk disini! Lebih baik aku bertukar tempat dengannya. Aku tak mau Yuna terus bercerita dengan pria itu.' Sinis Zeen mengerutu.
Zeen mulai bangkit dari duduknya, “Yuna!”
Yuna menoleh kearah Zeen, “Ya? Mas? Kenapa?”
“Bisakah kamu duduk disini?”
“Loh? Kenapa mas? Sebentar lagi mau penebrangan loh?” Yuna mengerutkan alianya bingung.
'Itu karena aku tak ingin kamu terus memandangi pria ingusan itu!' gerutu Zeen sejenak melirik Fadli dengan pandangan sinis.
“Iya dokter, benar apa kata Yuna. Sebentar lagi akan penebrangan, para penumpang dianjurkan harus siap dikursi mereka.” Timpal Fadli yang juga menatap mata Zeen dengan tatapan tajam.
'Si ingusan pake ikut-ikutan segala lagi, cih!' decih Zeen kesal.
“Aku ingin pindah karena ingin duduk disini sayang,” Zeen mengacuhkan Fadli dan beralih kembali kepada Yuna.
Yuna yang kebingungan dengan tingkah Zeen, akhirnya mengagumkan kepalanya juga. Dirinya lebih memilih mengiyakan dari pada harus berdebat.
“Yaudah mas, aku akan pindah kekursi mas.” Kata Yuna, lalu berdiri dari duduknya dan kembali mendudukan bokonya dikursi yang tadi duduki oleh Zeen.
Zeen akhirnya tersenyum puas, lalu ia juga mendudukan dirinya dikursi Yuna. Kemudian menolehkan kepalanya kearah Fadli.
Ia pun langsung tersenyum semirk menatap dokter muda itu. Senyuman itu memiliki arti yang mengisyaratkan jika ia tak akan membiarkan pria lain mendekati miliknya, karena didalam hatinya telah tertanam jika Yuna akan selamanya menjadi miliknya. Tak ada yang boleh menyentuh dan menatap wanitanya selain dirinya sendiri.
Fadli yang mendapati tatapan meremeh dari Zeen itu hanya bisa menghela nafasnya saja. Kemudian dibuat mengeleng acuh, 'Dasar orang aneh!' batin Fadli tersenyum sinis.
TBC.
__ADS_1