
Zeen yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya itu berjalan kearah lemari untuk mengambil baju yang akan ia kenakan. Ngomong-ngomong tentang kondisi Zeen, saat ini ia sudah sangat sembuh dari demam yang menimpanya pada saat ia baru saja pulang dari clup bersama dengan Laura, malam itu.
Zeen yang sudah lengkap mengenakan pakaian santainya, melirikan matanya kearah Yuna yang tengah sibuk dengan kucing kecil, yang ditemukan pada semak-semak taman milik keluarga Albaret.
Bahkan saat Zeen tengah berjalan menuju kasur matanya masih saja melirik kearah Yuna, seolah tak ada hal lain yang lebih menarik dari sosok gadis desa itu.
“Terimakasih dokter Zeen!”
Zeen terhenyak saat mendengar Yuna menyebut namanya. Ia jadi kelagapan sendiri ketika menatap wajah polos tak ada polesan makeup dari wajah Yuna. Ia seperti pencuri yang ketahuan mengambil sesuatu berharga, dari sang korban.
Zeen berdehem pelan, lalu mengatur wajah gugupnya. “Berterimakasih tentang apa?” tanyanya, dengan intonasi datar.
Sejenak Yuna mengelus bulu kucing itu, lalu setelah itu pandangannya ia alihkan pada Zeen. “Terimakasih sudah mengizinkan saya membawa kucing ini kedalam kamar anda. Saya sempat bingung sekali saat ingin menempatkan kucing ini dimana, dan saya sempat berfikir jika saya akan menempatkan kucing ini digudang yang tak tepakai.”
Yuna menjeda sejak ucapannya, “Tapi anda langsung menawarkan untuk membawa kucing ini dikamar, tentu saja saya sangat senang sekali. Terimakasih sekali lagi dokter Zeen.” Ucapnya tak lupa dengan menyelipkan senyuman pada bibir kecilnya itu. Dan ditunjukkan kepada Zeen yang tertegun melihatnya.
Zeen kembali dibuat gugup lagi, 'Sialan! Baru pertama kali aku melihat senyumnya, dan? Kenapa bisa semanis itu....?' batinya berteriak dalam hati.
“Ekhem, jika memang kau berniat untuk berterimakasih padaku. Maka lakukanlah dengan benar.” Jelas Zeen dengan wajah yang dibuat angkuh.
Yuna menautkan kedua alisnya, bingung dengan ucapan Zeen. “Maksudnya gimana dokter? Emang cara berterimakasih saya ada yang salah?” tanyanya.
“Ya!” jawab Zeen langsung, dengan nada tegas.
'Hah? Emang apanya yang salah?' batin Yuna bertanya-tanya.
“Lantas, letak mananya yang salah, dokter?” tanyanya lagi.
“Cara penyebutanmu! Kau memanggilku dengan sebutan dokter!” tekan Zeen sambil melipat kedua tangannya didada.
“Hah?” Yuna membeo, tak lupa mulut kecilnya yang terbuka sedikit.
“Perlu kujelaskan lagi?” tanya Zeen pada Yuna, yang langsung diangguki kepala oleh gadis itu.
Zeen menghela nafas sejenak, lalu melihat Yuna kembali. “Jika kau memang benar-benar berniat untuk berterimakasih denganku. Maka cobalah ulangi kata-katamu yang menyebutku dengan sebutan dokter! Kau memanggilku seperti itu berasa aku sedang jadi atasanmu saja dirumah sakit. Tak enak didengar.” ucapnya ketus, saat diakhir katanya.
Sejenak Yuna merenunggi ucapan Zeen, dia baru tahu jika kesalahan dalam mengucapkan panggilan dapat dipermasalahkan seperti itu. Entah kenapa hal itu mampu membuat perut Yuna tergelitik. Ingin rasanya tertawa sekarang juga, namun ia coba tahan karena melihat kesiriusan dari wajah Zeen membuatnya tak enak hati jika tertawa begitu saja.
“Lantas, saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?” tanya Yuna yang juga ikut serius.
__ADS_1
Zeen yang mendapat pertanyaan itu berfikir dengan keras sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. “Hemm, apa ya? Panggil sayang? Eh! Tidak-tidak jangan itu,” ia bergumam sambil mengelengkan kepala. Tanpa ia sadari wajahnya merona malu seketika.
Rasanya baru pertama kali Yuna melihat wajah keseriusan dari Zeen, biasanya ia akan dihadapkan dengan wajah datar dan acuh oleh pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Entah kenapa hal itu membuat Yuna senang.
“Panggil abang? Ayang? Eh!” matanya langsung ia arahkan kepada Yuna saat ia menyadari sesuatu.
“Loh? Kenapa harus aku yang susah-susah berfikir. Seharusnya kamu yang berfikir bukan aku.” ucap Zeen dengan raut kesal.
"Bukannya anda yang menyuruh saya untuk mengganti nama panggilan? Jadi, seharusnya anda yang menentukan? Benarkan?" tanya Yuna dengan ekspresi tenang.
Zeen membisu, sebenarnya apa yang diucapkan Yuna itu memang benar. Namun yang namanya Zeen, pasti gengsinya yang selalu didahulukan.
Zeen mempoutkan bibirnya, lalu mengalihkan pandangannya kesamping. “Aku bingung! Kau saja yang berfikir.” Katanya, tanpa mendengar jawaban dari Yuna. Ia langsung mulai memposisikan tubuhnya dan merebahkan dirinya dikasur empuk itu. Tak lupa dengan selimut yang ia tarik sampai menutupi lehernya.
Yuna mengeleng saja melihat tingkah Zeen, ia lalu beralih menatap kucingnya yang ada dipangkuanya. “Kamu disini ya manis ... tidur yang nyenyak, nanti kakak pasti nyusul kamu disini.” Ucapnya, meletakkan kucing itu pada keranjang kecil yang sudah ada gabus kecil didalamnya. Setelah selesai ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Zeen.
Mendengar suara langkah dari arah sampingnya, Zeen langsung berpura-pura tidur dan memejamkan matanya dengan sangat rapat.
“Mas ... Zeen,”
Dari balik selimut, Zeen tertegun mendengar panggilan itu. Yuna yang melihat itu tentu saja dibuat tersenyum.
“Apa penjelasan saya sudah puas dengan jawaban yang anda inginkan?” tanyanya pada Zeen, namun agaknya pria itu masih belum mau membuka matanya.
Menghela nafas sejenak, lalu ia berniat melangkah kembali menuju sofa.
Namun baru beberapa ia melangkah, sebuah tangan besar mencekal pergelangan tangannya dan membuat dirinya mau tak mau harus menghentikan langkahnya.
“Kenapa mas?” tanya Yuna ketika melihat Zeen hanya terdiam saja dikasurnya.
“Tidak.” Jawab Zeen sambil mengeleng kepala.
“Jika memang tak ada yang ingin anda katakan, maka biarkan saya pergi untuk mengistirahatkan diri disofa.” Ujar Yuna dengan suara halus.
“Tidak! Tidak perlu tidur disofa, tidurlah disini, dikasur.” Ucap Zeen dengan gamblangnya.
'Hah?' Zeen tertegun, menyadari ucapannya barusan. 'Apa yang kau katakan Zeen?' batinya dalam hati.
Yuna terdiam melirik Zeen dengan tatapan bingung. “Tapi? Bukankah anda akan merasa tak nyaman? Kita kan sedang tak dimata-matai seperti waktu itu, jadi, tak ada alasan untuk kita tidur bersama kan?”
__ADS_1
“Untuk berjaya-jaga saja,”
“Huh? Maksudnya?” tanya Yuna.
“Sudah, jangan banyak bertanya, kemari!” tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Zeen dengan santainya menarik tangan Yuna yang langsung terjatuh dikasur tepat menimpa tubuhnya namun hanya setengah.
Yuna melotot, ia ingin segera bangkit dari baringnya, namun lagi-lagi Zeen menghentikan pergerakannya dengan cara memeluk pinggangnya dari belakang.
“Sudah ... tidur saja, ini sudah malam. Besok kita harus berangkat pagi karena kita sudah absen satu hari tadi.” jelas Zeen yang masih betah memeluk Yuna dari belakang.
“Ta-tapi, bisakah anda melepaskan tangan anda?”
Pertanyaan itu langsung membuat Zeen tersadar dan refleks langsung melepaskan tangannya dari pinggang Yuna. “O-oh, sory, sory.” Zeen kelagapan dan merasa malu sendiri.
Yuna hanya diam tak menanggapi, selama beberapa menit mereka masih dengan posisi seperti itu. Dan selama menit-menit itulah Yuna tak bisa tidur walau matanya tengah terpejam, ia begitu sangat gugup ketika merasakan nafas halus dan hangat yang menerpa lehernya.
'Apa dia sudah tidur?' batin Yuna bertanya dalam hati.
Namun karena sangat penasaran akhirnya Yuna mencoba memberanikan diri dan sedikit menolehkan kepalanya kebelakang, untuk melihat, apakah Zeen sudah tertidur atau belum.
“Hah?” Yuna seketika terkejut, kala matanya langsung beradu pandang dengan pandangan mata Zeen. Rupa-rupanya lelaki itu belum tidur dan malah menatap Yuna dari belakang.
“Anda kenapa belum tidur?” tanya Yuna dengan rasa kegugupan yang melanda dirinya.
Bukannya langsung menjawab, Zeen malah semakin mendekatkan diri pada Yuna dan sampai bibirnya menyentuh rambut Yuna, sejenak Zeen menghirup aroma sampo yang dikenakan oleh Yuna. Harum dan menenangkan yang dirasakan oleh Zeen.
“Aku suka kau memangilku dengan sebutan itu,” ucapnya lirih, dan matanya langsung terpejam hanya dengan menghirup aroma dari rambut Yuna.
“Apa?” Yuna memang mendengar gumaman itu, dan mengerti arti dari perkataan Zeen.
Hening beberapa menit. Tak ada sahutan dari Zeen, Yuna dengan segala keberanianya lagi, menolehkan kepala kebelakang dan matanya langsung menangkap Zeen yang sudah terlelap dalam tidurnya.
“Sudah tidur ternyata ....,” gumamnya.
“Aku bingung, kenapa sifat dan perlakuanya berbeda ya?” gumamnya lagi, berfikir tentang Zeen yang tiba-tiba berubah lebih lembut tak kasar seperti biasanya.
TBC.
Jangan lupa tinggalkam komen dan vote🖤
__ADS_1