
...***...
“Biarkan sajalah, mungkin telfon gak penting.” Ucap Zeen acuh masih dengan posisi yang sama. Menikmati dua aset Yuna yang mampu membuatnya mabuk kepayang.
Drrttttt ....
“Ataga mas!” Yuna langsung mengangkat kepala Zeen dengan paksa, dan hal itu berhasil membuat Zeen menatap kearahnya dengan tatapan sayu namun terselip raut kesal pula.
“Apasih Yuna ...? Aku kan lagi sibuk ....” rengek Zeen sambil mempoutkan bibirnya.
“Angkat dulu telfonnya mas! Dari tadi bunyi terus, siapa tau itu telfon penting?” jelas Yuna masih menatap kedua bola mata Zeen dengan senyum tertahan. Sebab, saat ini Zeen sangat mengemaskan dimatanya. Dengan wajah yang cemberut beserta penampilan yang terbilang berantakan.
“Biarin ajalah sayang ... nangun, mas pengen lanjutin hukuman buat kamu!” kata Zeen tak lupa mengerlingkan sebelah matanya pada Yuna.
Tiba-tiba helaan nafas keluar dari bibir Yuna, ia pun memandang wajah Zeen dengan pandangan frustrasi, bagaimana tak frustrasi? Jika pria yang ada didepannya itu sangat keras kepala jika diberitahu atau dinasehati.
“Angkat dulu telfonnya mas. Baru lanjut lagi, nanti kalau Mama yang nelfon gimana?”
“Biarin aja sayang, paling juga nanti nanyain kapan jadi cucunya?” jawab Zeen dengan terkekeh pelan.
“Mas!!” Yuna menatap Zeen dengan pandangan garang, jangan lupakan kedua tangannya saat ini tengah menempel dikedua sisi pinggangnya.
Zeen yang melihat itu, hanya bisa mendengus kesal, “Iya ya. Mas angkat nih!” ucap Zeen lalu mengambil hpnya yang ada pada meja kecil dekat dengan kasur itu.
Zeen menatap hpnya yang tadi berbunyi, dan melihat nama Papanya dilayar pipih itu.
“Papa?” gumam Zeen sambil mengerutkan alisnya binggung.
“Halo Pa?”
“Zeen, bisakah kamu besok kembali?”
“Kembali kemana Pah?” tanya Zeen kembali dibuat binggung.
“Ya balik kerumah dong Zeen! Kamu mau kembali kerahim Mama mu lagi?”
Terdengar suara helaan nafas dari Albaret, sambil berdecak kesal saat mendengar pertanyaan bodoh dari putra satu-satunya itu.
“Ya enggak mau lah Pah! Yakali balik kerahim Mama. Ada-ada aja Papa nih!” Zeen ikut berdecak kesal mendengar ucapan dari Papanya.
__ADS_1
“Ya makanya ... kalo nanya ya jangan aneh begitu,”
“Ya Zeen bingung Pah ... Zeen kan lagi liburan sekarang, jadi bingung lah, dikasih pertanyaan pulang sekarang! Zeen pikir mau dipulangkan ke paris sambil honymoon sama Yuna.” Jelas Zeen panjang lebar. Tak lupa tawa yang langsung keluar dari mulutnya.
“Kegeeran kamu! Honymoon di Bali sudah cukup, nanti honymoon lagi kalau urusan dirumah sakit udah selesai.” Jelas Albaret. Mampu membuat Zeen kembali mengerutkan alisnya bingung.
“Rumah sakit? Jadi Papa nyuruh Zeen pulang, gara-gara rumah sakit?” tanya Zeen lagi yang sudah dibuat penasaran.
“Ya putraku sayang! Papa mu ini nyuruh kamu pulang hanya untuk urusan rumah sakit kebanggaan Papa mu ini! Sekaligus Mama mu sudah kangen sama menantunya, Mama bilang khawatir sekali sama Yuna, takut Yuna jatuh sakit gegara kamu gempur terus dikasur.”
Terdengar suara tawa mengelegar dari sambungan telfon itu. Dan hal itu mampu membuat Zeen langsung menjauhkan hpnya, dikarenakan suara Papa nya yang membuat telinganya berdengung seketika.
Sedangkan Yuna? Tahukah kalian jika wanita itu sudah kepalang malu ketika mendengar ucapan Papa mertuanya yang membahas tentang ranjang walau hanya menyebut tempatnya saja.
“Astaga Papa ...!! Papa tega sekali, masa telfon Zeen hanya ada maunya saja? Gak ada bilang kangen sama Zeen nih? Masa Mama kangennya sama menantunya saja,” gerutu Zeen kesal. Namun didalam hatinya menghangat saat tau jika istrinya begitu disayang oleh keluarga besarnya. Ya walau pun hanya tantenya saja yang membenci Yuna. Namun Zeen tak mempermasalah itu karena bagi Zeen yang terpenting adalah kedua orangtuanya yang menyayangi istrinya. Disaat Yuna membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya yang telah tiada.
“Kamu itu gak perlu dikangenin, Papa sama Mama tuh udah bosen liat muka mu yang biang usil itu. Entah kamu itu nurun siapa, tapi yang pasti Papa tak seperti kamu waktu jaman muda dulu.”
“Yaampun Pah ... Papa ini kok sama anaknya sendiri tega banget!” Zeen memencak-mencakkan kedua kakinya dikasur, seperti bocah kecil yang tengah merengek pada orangtuanya.
Bahkan Yuna sampai dibuat mengeleng melihat tingkah aneh dari suaminya.
Zeen yang merasa ditatap begitu dalam oleh Yuna, langsung segera menetralkan raut wajahnya menjadi datar dan cool.
“Sudah jangan bahas itu lagi Zeen, Papa telfon kamu, cuman minta ... besok kamu pulang dan langsung kerumah sakit Papa. Sebenarnya Papa pengen nyuruh kamu pulang sekarang karena dirumah sakit kita tiba-tiba kekurangan tenaga medis, dikarenakan para dokter disini pada Minta cuti alasannya karena ada urusan. Tapi karena sekarang sudah malam jadi kamu pulang saja besok pagi.”
Jelas Albaret panjang lebar.
“Tapi Pah? Apa gak ada jalan lain apa? Zeen disini masih beberapa hari lagi honymoon nya ... jadi bisa gak Pah, kalau pulangnya setelah sebulan liburan di Bali?” tanya Zeen dengan suara berharap.
“Gak bisa Zeen! Ini mendadak banget, terjadi kecelakaan beruntun didaerah Jakarta! Dan banyak sekali korban-korban kecelakaan yang harus dioperasi. Jadi kamu harus pulang besok, titik!” tekan Albaret dengan suara tak mau dibantah.
“Yaampun Pah ....” Zeen mengusar rambutnya dengan kasar.
“Pokoknya kamu besok harus pulang! Papa gak mau tau. Harus pulang besok!”
Tutt ...!!
“Loh? Pa? Halo? Papa?!!” Zeen berteriak saat sambungan telfon tak ada jawaban, dan langsung mengeram kesal saat melihat sambungan itu diutus secara sepihak oleh Papanya.
__ADS_1
“Astaga Papa benar-benar! Gak bisa apa? Biarin Zeen seneng-seneng dulu disini?” gerutu Zeen sambil mencengram hpnya dengan kuat.
Ia bahkan tak menyadari, jika Yuna terus memperhatikannya. Mungkin Zeen lupa jika masih ada Yuna disampingnya.
“Kenapa mas?” tanya Yuna memberanikan diri disaat melihat Zeen masih mengerutu kesal. Bibirnya sendiri sudah gatal ingin mengetahui apa yang membuat pria itu kesal seperti itu.
“Eh? Sayang? Kamu masih ada disini?” tanya Zeen yang langsung terkejut mendengar suara Yuna. Ia pun langsung menggeser duduknya dan mendekati wanita itu.
“Iya dong mas! Dari tadi aku juga ada disini, masa mas sampai lupa kalau ada aku disini?” tanya Yuna yang sudah terheran-heran.
Zeen langsung mengaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa malu sendiri dengan tingkahnya. “Maaf sayang hehe ....” jawab Zeen cengegesan.
“Hemm, mas tadi aku tanya, emang mas tadi kenapa? Kok marah-marah habis telfonan sama Papa?”
“Oh? Yang tadi?” Zeen langsung merubah rautnya menjadi lesu. “Papa nyuruh mas buat pulang besok pagi ... padahal kan kita belum puas liburan disini.” Jelas Zeen mempoutkan bibirnya sampai kedepan.
'Ya jelas belum puas lah, orang kamunya aja diajak keluar gak mau.' gerutu Yuna hanya mampu didalam hati.
“Emang ada masalah dijakarta mas? Sampai Papa nyuruh kita pulang?”
“Iya sayang, ada masalah dirumah sakit, katanya rumah sakit Papa lagi membutuhkan tenaga medis. Dikarenakan beberapa dokter disana minta cuti sama Papa.” Jelas Zeen kembali melesukan wajahnya.
“Emmm,” Yuna memanut-manut mengerti, “Kalau begitu kita siap-siap tidur sekarang aja mas. Besok kita harus bangun pagi-pagi biar gak telat penerbangan nanti.” Timpal Yuna langsung memposisikan dirinya dikasur dan menutup tubuhnya menggunakan selimut tebal itu.
“Tapi sayang!” cegah Zeen.
“Kenapa lagi mas? Cepat tidur sekarang mas. Aku udah ngantuk banget ini,”
“Tapi kan kita belum melanjutkan yang tadi ....” Zeen rasanya ingin menangis sekarang, dikarenakan juniornya yang masih belum terpuaskan dan masih setengah berdiri sekarang.
Yuna yang mendengar perkataan itu, lebih memilih pura-pura tidur agar Zeen tak lagi mengempurnya, karena tubuhnya saat ini benar-benar remuk dirasa.
Zeen yang melihat Yuna menutup rapat mata dan selimutnya itu hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. 'Sial! Ini semua gara-gara Papa. Gara-gara Papa, bikin junior Zeen nya jadi tertunda!' gerutu Zeen benar-benar terbakar kesal.
Ia kesal karena lagi-lagi harus menuntaskan miliknya dengan bermain solo kembali.
TBC.
Yang komen jadi makin sepi :( apa gara-gara novel Author gak seru ya?
__ADS_1