
Saat langkah kaki itu sampai pada tujuan, Zeen menghentikan langkahnya tepat pada pintu ruangan.
"Sayang... Kamu tunggu didalam aja ya? Nanti aku nyusul kamu kedalam, setelah antar Yuna keruangan papa." ujar Zeen pada Laura, tak lupa ia mengeluh pipi kekasihnya itu.
"Hemm, yaudah deh kalo gitu. Aku masuk dulu ya, muach.."
Laura mengecup pipi Zeen sekilas dan berlalu masuk kedalam ruangan itu, yang bisa dikatakan jika itu ruangan pribadi milik Zeen.
Setelah melihat Laura masuk kedalam ruangannya, ia lalu membalikkan tubuhnya dan menghadap pada Yuna dan memasang wajahnya menjadi datar.
"Ikuti aku, kita keruangan papa." ucap Zeen pada Yuna, ia tak menunggu respon dari Yuna dan memilih melangkahkan kakinya lebih dahulu.
Yuna terdiam sejenak, kemudian ia melangkahkan kakinya dan mengikuti langkah kaki Zeen dari belakang.
Saat sudah sampai pada ruangan papanya, Zeen mengetuk pintu ruangan itu dan dijawab oleh papanya dari dalam ruangan.
"Masuk!"
Gagang pintu itu dibuka dan memperlihatkan papanya yang tengah fokus pada dokumen yang ada ditangannya itu.
"Pah.." ucap Zeen dan membuat papanya mengalihkan pandangannya kearah putranya itu.
"Oh? Kenapa Zeen?" tanyanya.
"Kemarin papa nyuruh Yuna untuk datang kerumah sakit."
"Oh, iya papa hampir lupa!" ucap Albaret seketika menepuk keningnya.
Zeen menghela nafas, "Yasudah kalau gitu Zeen pamit dulu Pah, masih ada pasien yang harus Zeen periksa." ucap Zeen pada papanya.
"Gak mau nunggu dulu?"
"Apanya yang mau ditunggu? Zeen juga sibuk pah..."
"Yasudah kalau itu maumu, pergi aja sana, hus.. Hus.." ucap Albaret ketus dan menyuruh anaknya segera keluar dari ruanganya, namun terkesan seperti mengusir.
Zeen mendengus melihat tingkah papanya itu, ia tak mau menjawab dan lebih memilih untuk keluar dari ruangan itu. Sebelum Yuna menghentikan langkahnya.
"Tunggu, dokter Zeen!" cegat Yuna.
__ADS_1
Zeen melirik sinis kearah Yuna. "Apa lagi?" tanyanya ketus.
Yuna mengambil sesuatu dari tas yang agak kebesaran itu, kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak makanan dan diberikanya pada Zeen.
"Ini bekal buat dokter, biar pas istirahat bisa dimakan." ucap Yuna yang langsung memberikan kotak bekal itu ditangan Zeen.
"Kenapa kau repot-repot membawakanku ini?" ucapnya sambil menenteng kotak itu setinggi kepala Yuna.
"Zeen!"
Suara bariton itu berasal dari papanya.
"Yang sopan kalo ngomong, kalo dikasi istrinya itu ya harus diterima dong... Kalo papa yang jadi kamu. Papa mungkin langsung bersyukur menerimanya, mama aja loh yang dirumah aja gak pernah tuh ngasi papa bekel. Tapi ini Yuna yang juga ikut kerja masi nyempetin buat bekel, untuk diberikan pada suaminya." oceh Albaret yang terus menyindir putranya itu.
Zeen lagi-lagi mendengus sebal kala mendengar ocehan dari papanya itu. Ia lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dengan keadaan kesal.
Pintu ruangan itu ditutup agak keras dan sedikit menimbulkan suara debuman pada pintu itu.
Albaret yang melihat tingkah putranya itu hanya bisa mengelengkan kepalanya.
"Maafin putra papa itu ya Yun... Zeen emang kadang-kadang bersikap kekanak-kanakan, jadi kamu yang sabar-sabar aja ya Yun.." jelas Albaret.
Albaret menghela nafas, "Syukurlah kalau begitu, mari, jangan berdiri aja disana. Duduk disini didepan papa." ucap Albaret menyuruh menantunya untuk duduk dikursi depan, tepat didepan meja kerjanya itu.
Yuna menganguk, dan berjalan kearah kursi itu dan mendudukinya.
"Oh iya pah... Yuna juga bawa bekal buat papa, kebetulan Yuna bawa tiga kotak." ujar Yuna sambil mengeluarkan kota bekal yang agak besar dan diberikan pada ayah mertuanya itu.
"Wah... Papa juga dapat nih? Gede lagi kotaknya, tadi papa liat kotak punya Zeen agak kecil. Wah... Papa merasa seperti diistimewahkan, hahahaha..." ucap Albaret diiringi tawanya.
Yuna ikut tertawa mendengar celetukan ayah mertuanya itu. "Bener kata papa, yang lebih tua harus diistimewahkan."
Albaret yang mendengar itu merasa terharu, walau hanya seorang menantu. Yuna sudah ia anggap seperti putrinya sendiri, seperti halnya dengan istrinya. Ia melihat jika gadis yang sudah jadi menantunya ini memiliki hati yang lembut dan baik hati, ia merasa tak salah jika menjodohkan putranya dan menikahkannya pada seorang Yuna itu. Yuna memang hanya gadis desa, namun gadis desa itu memiliki keistimewaan dan pesona tersendiri, dan hanya orang tertentu yang bisa melihat keistimewaan itu.
"Papa jadi terharu dengannya, makasih ya Yun... Bekalnya nanti pasti papa makan."
Yuna menganguk senang, dan lagi-lagi memperlihatkan senyum manisnya itu.
"Oh iya pah... Yuna nanti kerja dibagikan mana?" tanya Yuna pada Albaret.
__ADS_1
Albaret tampak berfikir. "Kata Zeen dirumah sakit ini kekurangan anggota. Papa pengen kamu jadi asisten Zeen buat ngebantu dia ngurusin pasienya, gak papa kan Yun?" tanyanya.
"Iya pah, Yuna gak papa."
"Hemm, papa mau tanya, dulu Yuna kerja didesa jadi perawat juga? Perawat langsia ya?" tanya Albaret lagi.
"Iya pah, Yuna jadi perawat langsia. Tapi Yuna ngerasa seneng karena Yuna ngerasa kayak ngerawat nenek Yuna sendiri. Tapi Yuna kadang juga ngerawat pasien lain, selain pasien langsia." jelas Yuna, yang dianguki kepala oleh Albaret.
"Oke, kalau begitu, papa putuskan kamu jadi perawat langsia sebagian dan jadi asisten Zeen ketika dia membutuhkan. Bagaimana Yun? Kamu setuju?"
Yuna menganguk antusias, "Iya pah... Yuna setuju."
"Good, mantu papa pinter!" ucap Albaret yang langsung mengundang gelak tawa oleh Yuna.
🍂🍂
Disisi lain, Zeen yang baru saja keluar dari ruangan papanya itu masih menyimpan kekesalnya. Ia menghentikan langkahnya dan melihat kotak bekal yang ia bawa. Seketika ia menjadi kesal kembali ketika melihat kotak itu.
"Hei kamu!" teriak Zeen memanggil seorang Ob yang sedang mengepel lantai itu.
Ob itu menengok kearah Zeen dan berjalan kearahnya.
"Iya dok? Dokter memanggil saya?" tanya Ob itu.
"Iya, nih... Buat kamu sarapan. Ini saya kasi kekamu." kata Zeen menyerahkan kotak bekal itu pada Ob.
Ob itu kebingungan. "Beneran ini dok?"
"Iya, jangan banyak tanya! Jika tidak mau, kamu bisa membuangnya ketempat sampah." ucap Zeen.
"Eh? Enggak dok. Biar saya makan saja, sayang kalau dibuang nanti mubazir.."
Zeen melirik bekal itu sekilas. "Yasudah, kembali bekerja sana!"
"Iya dok, kalau begitu saya permisi." ucap Ob itu dan meninggalkan Zeen disana.
"Bodo amat lah... Mending samperin Laura." ucap Zeen acuh, dan melanjutkan langkahnya kembali menuju ruangannya.
TBC.
__ADS_1