
...***...
“Bangsad!”
Tanpa aba-aba, Zeen yang baru saja siuman dari pingsanya itu langsung memberikan bogeman mentah pada sepupunya.
Hal itu membuat Firo tersunkur dari tempatnya karena belum siap menahan bogeman itu. Tentu saja tak siap, dirinya saja tak tau jika Zeen akan memukulnya begitu saja. Bahkan pukulan itu terasa sangat keras hingga membuat hidungnya langsung mengeluarkan darah yang membuatnya syok saat melihatnya.
“Anj***! Lo, tega-teganya muka tampanku dijadikan samsak! Dasar bab* gila!” teriak Firo yang mengeluarkan sumpah serapahnya karena merasakan kesal dan emosi secara bersamaan. Biasanya ia akan santai saja menghadapi tingkah sepupunya itu, tapi jika menyangkut wajahnya ia tak akan tinggal diam.
Bisa dilihat saat ini Firo langsung berdiri dari duduknya, dan berjalan kearah Zeen dengan wajah datar. Kemudian tanpa aba-aba ia membalas pukulan Zeen dengan tak kalah kerasnya.
Tentu saja Zeen yang mendapati itu langsung tersunkur, namun bedanya ia tersunkur dikasur yang empuk tak seperti Firo yang tersunkur dilantai yang keras itu.
Firo mendengus seketika. “Shit! Seharusnya aku memukulnya sampai ke wc, biar wajah menyebalkanya itu tertimpun taik!” sungut Firo mengebu-gebu.
Sementara itu Zeen yang masih terbaring dikasur itu terdiam dengan tatapan kosong, dan sesekali memegang bibirnya yang terasa nyeri dan sedikit mengeluarkan darah.
Hingga beberapa detik kemudian terdengar suara pintu terbuka, dan menampakkan para keluarga langsung mengumpul dikamar itu karena mendengar suara agak keras dibawah sana. Akhirnya kamar itu menjadi sedikit riuh, karena disana sudah ada Paman dan bini Yuna serta putra mereka Yudas. Juga ada kedua orangtua Yuna yang pada saat itu memaksa untuk pulang karena mendengar kabar buruk mengenai putri pertama mereka yang kembali diculik untuk kedua kalinya.
Diana pun juga ada disana, karena dia juga bertugas untuk menjaga Sigit dan Eva yang masih belum sembuh total. Begitupun dengan Albaret yang langsung menghentikan pekerjaannya ketika mendengar menantunya diculik, tentu membuatnya khawatir setengah mati. Apalagi saat ini Yuna tengah berbadan tiga sang penerus keluarga yang tengah terancam nyawanya.
Saat ini mereka tengah berada dikamar Zeen, yang mana juga merupakan kamar milik Yuna.
Rima yang juga ikut masuk itu langsung berjalan tergopoh-plgopoh menghampiri sang cucu. Kemudian tanpa aba-aba wanita tua itu menjewer telinga Firo yang mana membuat sang embun berteriak seketika.
“Aw! Aw nek? Kenapa dijewer sih? Apa salah Firo?” pekik Firo sambil memeganggi telinganya yang dijewer itu, bahkan jewerannya terasa sakit apalagi rasa sakit bogeman dari Zeen belum mereda. Jadilah berlipat ganda.
“Malah gak ngaku kamu?” Rima dibuat mengeleng kepala. “Kamu buat apa itu kakakmu? Sampai berdarah-darah? Dia baru bangun dari pingsan malah kamu ajak gelud? Dasar anak muda ....” Rima semakin menambah ritme jewerannya sedikit keras. Alhasil hal itu membuat telinga Firo memerah.
“Dia yang duluan nek! Apa nenek gak lihat? Wajah tampan cucumu ini. Baru saja dipukul sama kak Zeen! Bahkan sampe berdarah hidungku, sungguh tragis sekali, nenek lebih menyayangi kakak sepupu dari pada aku yang selalu menemani nenek.”
Dengan ucapan yang dibuat mendramatis, Firo mula mengerucutkan bibirnya merasa menyesal menolong Zeen yang berunjuk dirinya mendapat omelan dari sang nenek tersayang.
__ADS_1
Rima yang mendengar itu langsung berdehem kuat dan melepaskan jeweranya dari telinga cucunya itu.
“Kamu sendiri gak mau bilang, ya nenek gak ngertilah,” elak Rima tanpa merasa bersalah. “Kenapa kamu juga balas pukulan kakakmu itu? Padahal kamu tau sendiri dia baru siuman.”
“Firo akan membalas siapapun itu yang berusaha merusak wajah ketampananku!” jawab Firo dengan gaya angkuhnya. Yang mana membuat Diana yang melihat itu semakin berteriak histeris didalam hatinya.
'Kyaaaahaha! Akang ganteng kalo lagi marah makin ganteng pisan euy, bikin neneng guelis ini makin terpesona!' batin Diana dalam hati, berteriak dengan kesenanganya.
Bahkan sampai membuat Eva keheranan, karena secara tak sengaja Diana menarik lengan baju Mamanya sehingga membuat kelakuan absurdnya ketahuan.
“Kenapa kami Diana?” bisik Eva.
Diana tersadar, lantas menatap sang Mama dengan menyengir kuda. “Kagak Mah, tadi Diana gak sengaja lihat malaikat tampan lewat didepan Diana.” Ucap Diana ngasal yang membuat Eva mendengar itu kebingungan.
Kembali lagi diposisi Zeen yang saat itu sudah mendudukan dirinya, namun masih dengan ekspresi yang sama, ekspresi yang sulit dibaca dengan tatapan kosongnya.
Melihat itu, Vina sebagai seorang ibu merasa iba melihat putranya seperti itu. Dia tau jika saat ini putranya tengah mengalami kebingungan ketika sang istri dan anak yang masih didalam kandungan diculik, apalagi didepan matanya sendiri.
Hal itu pasti akan berdampak pada mental dan pikiran Zeen, yang tentu akan menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa melindungi istri dan kedua calon anaknya.
“Kenapa sayang? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Vina dengan lembut.
Zeen yang tertunduk itu mengalihkan pandangannya pada sang Mama, kemudian tanpa sadar matanya mulai berair.
“Yuna Mama ... Yuna, i-istriku, anakku! Bagaimana bisa aku membiarkan mereka pergi? Aku merasa lemah menjadi seorang suami. Aku merasa tak becus menjaga mereka.” Lirih Zeen yang tak bisa membendung kesedihanya. Apalagi jika ia berhadapan dengan Mamanya yang membuat emosi ya pasti akan meluap-lupa dan ia keluarkan begitu saja.
“Ssst ....” Vina langsung meraih kepala putranya, dan diletakanya kepala itu dipundaknya sambil mengelus kepala itu untuk menyalurkan sebuah ketenangan.
“Jangan menyalahkan dirimu sayang ... ingat ini musibah, kita tidak tahu kan? Jika musibah akan datang begitu saja? Maka jangan menyalahkan dirimu.”
Zeen tak menjawab, pria itu malah semakin menengelamkan kepalanya dicerukuk leher sang Mama, dan menumpahkan rasa sedihnya tanpa henti.
Para keluarga yang melihat kerapuhan Zeen terdiam, bahkan Firo yang tadi paling rewel juga ikut terdiam. Jika kakak sepupunya seperti itu, ia tak akan berani mengusilinya. Tentu ia tak akan melakukannya mengingat neneknya pasti akan menguliti dirinya hidup-hidup.
__ADS_1
Tiba-tiba Albaret yang sedari tadi diam itu, berjalan menghampiri putra dan istrinya. Kemudian saat berada dekat dengan mereka ia langsung menephk pundak Zeen agak keras.
“Hei anak muda! Papa sudah mengajarimu dulu sejak kecil kan? Jika ada masalah hadapi dengan kelelakian! Kau anak laki, tak sepantasnya bertingkah cengeng seperti ini.” Terangnya yang mana membuat sang istri melotot kearahnya.
“Papa ....” tegur Vina yang diabaikan oleh Albaret.
“Ayo Zeen! Jangan seperti ini, kau membuatku malu saja didepan kedua besanku! Putraku yang gagah jadi lembek seperti ini,” dengus Albaret sambil melipat kedua tangannya didepan.
Dalam pelukan sang Mama, Zeen langsung menghentikan tangisnya, kemudian menolehkan wajahnya kedepan dimana semua orang tengah menatapnya.
“Hiiiii ada ingusnya!” cibir Firo yang langsung mendapati cubitan dari sang nenek.
“Nakal ya kamu?” geram Rima.
Kemudian giliran Yudas maju mendekati Zeen. “Tunjukkan kegigihanmu! Saat mendapatkan hati Yuna dirumah kami dulu. Disini kami juga merasa kehilangan peri kecil kami.” Tutur Yudas.
“Iya Zeen, kami sebagai orangtua kandung Yuna pun merasa sangat sedih, ketika lagi-lagi putri kami diculik. Itu sebabnya kita harus tetap tegar untuk mencari Yuna.” Timpal Eva yang tengah memeluk suaminya.
“Dengar Zeen! Kau tak sendiri. Kami ada untukmu dan Yuna, dan kami akan selalu membantu,” sangah Bram yang dianguki kepala oleh Winda sang istri.
“Benar itu! Jangan cengeng lagi. Kau tak sendiri kakak ipar, ada aku juga yang akan memberantas penjahat-penjahat tengik itu!” teriak Diana dengan berdiri tegak nan beraninya.
Sampai Zeen yang diam mengamati itu, mengulum senyum sendiri, dirinya merasa terharu melihatnya.
Albaret yang melihat itu, kembali menepuk pundak putranya. “Sekarang kita akan mulai manjalankan misi kita! Apakah kita harus membuat nama geng ini?”
Zeen terkekeh, dan hanya mengeleng-geleng saja menanggapi.
Tiba-tiba Diana maju sambil mengangkat sebelah tangannya dan melompat-lompat bagai anak kecil. “Aku! Aku! Aku tau harus menamai geng ini apa!” pekik Diana yang membuat semua orang menatap kearahnya dengan tatapan bingung.
Diana sejenak tersenyum semirk. “The geng master limba! Nyiiiihaaaa ....”
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa komen yang buanyak💛 lup lup epribadeh!