Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 19


__ADS_3

Jam sudah menuju 07:15, yang artinya hari sudah menjelang pagi. Setelah selesai dari ritual bersih-bersihnya, Yuna membuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur dimana disana sudah ada sang mertua yang tengah memasak.


"Pagi bu.." sapa Yuna, membuat wanita berkepala empat seusai tantenya itu menoleh kearahnya.


"Eh? Yuna... Pagi sayang." jawab Vina dengan senyum ramahnya.


"Kok udah bangun pagi-pagi? Gak istirahat dulu aja Yun... Ini masih pagi loh, kalau masih ngantuk gak papa. Pasti kamu kecapean kemarin, gara-gara tamu kemarin banyak yang berdatangan. Mama aja udah ngerasain gimana capenya jadi pengantin baru." ujar Vina, namun tangannya masih sibuk mempersiapkan makanan. Karena makan pagi itu merupakan kebiasaan dikediaman itu.


Yuna mengeleng pelan,"Ngak kok mah... Yuna udah seger. Kemarin malam istirahatnya udah sangat cukup bagi Yuna." jawab Yuna lalu, mendekat kearsh sang mertua.


"Mau dibantuin gak mah?" tanya Yuna.


"Eh? Gak usah biar mama aja yang masak, kamu istirahat dulu aja dikamar. Nanti kalau udah jadi sarapannya mama panggil kamu." ucap Vina.


"Yuna gak mau ngerepotin mah... Yuna kan udah jadi mantu dirumah ini. Masa mertuanya masak, Yuna malah enak-enakan tidur dikamar." jawab Yuna terkekeh.


Vina yang mendengar itu ikut terkekeh. "Yaudah terserah kamu aja deh.... Tapi asal kamu tau ya, mertua mu ini bukan mertua yang seperti ada didrama-drama. Nyuruh mantunya ini itu, trus bersikap kejam layaknya nyonyah dirumah. Ngak yaa... Mama ngak seperti itu." ucap Vina dengan nada yang dibuat manja.


Yuna yang mendengar ucapan mertuanya itu sungguh dibuat tertawa."Iya, iya mah.... Yuna percaya kok." setelah itu mereka saling tertawa, dan tanpa terasa masakan yang mereka buat itu telah jadi. Dan siap untuk dihidangkan dimeja makan, sebenarnya ada pembantu dikediaman itu. Namun pembantu itu hanya bertugas membersihkan rumah atau halaman, sedangkan soal masak memasak, semua itu adalah urusan Vina.


Yuna dengan telaten meletakkan piring-piring berisi masakan dimeja itu, dengan tatanan yang sungguh rapi dan sempurna. Yuna yang melihat tatan itu bangsa pada dirinya sendiri.


"Wahh... Cepet banget ya kalau ada yang bantuin. Kamu juga cekatan banget kalau lagi masak, mantu mama memang bener-bener debes deh." puji Vina pada Yuna, dengan perasaan kagum.


"Mama bisa aja, kan sebagian yang masak semuanya mama yang masak. Yuna mah cuman bantu-bantu dikit." ucap Yuna merasa malu mendapat pujian yang terlalu berlebihan untuknya.


Vina berjalan mendekat, dan merangkul bahu Yuna. "Engak sayang... Sepertinya masakkan kamu lebih banyak dari mama, mama aja yang lihat langsung berdecak kagum. Bahkan masakan kamu aja lebih enak dari masakkan mama." puji Vina yang membuat Yuna makin merasa malu.


"Mama jangan puji Yuna terus dong... Yuna kan malu jadinya." cicit Yuna sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan pipinya yang sudah merah itu.


"Yaampun.... Mantu mama kok lucu banget sih... Mama jadi gemes deh liatnya, ih pengen cubit." sangking gemasnya, Vina mencubit pipi Yuna sampai membuat pipi yang agak cuby itu melar seketika.

__ADS_1


Yuna hanya bisa mengaduh dalam diam, walau cubitan itu terasa sakit dipipinya.


"Wah, wah... Lagi apa nih... Kayaknya seru banget." ucap suara bariton itu berasal dari Albaret yang baru saja keluar dari kamarnya, Albaret sudah rapi dengan setelah jasnya. Ngomong-ngomong soal pekerjaan Albaret, Albaret merupakan dokter bedah yang terkenal dikota Jakarta. Ia bekerja dirumah sakit miliknya sendiri, rumah sakit itu ia rintis ketika Zeen masih berumur dua tahun dan sampai saat ini rumah sakit itu masih berdiri, ditengah-tengah kota besar, Jakarta.


Tentu saja Zeen sebagai anaknya mengikuti jejak papanya.


"Eh papa? Mau berangkat sekarang pah?" tanya Vina yang langsung menghampiri suaminya.


Albaret merangkul pundak Vina dengan mesra. "Iya sayang... Papa ada jadwal operasi soalnya." ucap Albaret pada istrinya.


Yuna yang melihat kemesraan itu, ikut terbawa suasana. Ia pun tersenyum dan merasa ikut bahagia ketika melihat keharmonisan yang diciptakan oleh kedua mertuanya itu. Dalam hati Yuna, ia berdoa agar pernikahannya bisa seperti itu dikemudian hari, ditahun depan. Atau dimasa depan nanti, Yuna hanya berdoa saja semoga hal itu terjadi mengingat jika pernikahannya hanya didasari perjodohan saja, tak ada kata cinta terucap walau Yuna tau jika dirinya lah yang mencintai pria secara sepihak.


"Oh iya, tadi papa tanya. Mama lagi apa tadi sama Yuna? Kok kayak seneng banget." tanya Albaret yang masih merangkul istrinya itu.


"Ooo itu... Tadi mama sama Yuna masak bareng. Trus mama kasi pujian sama Yuna, tapi reaksi Yuna itu lucu banget loh pah. Itu sebabnya mama gemes jadi tanpa sadar cubit pipi dia." jelas Vina. Yang membuat Yuna malu seketika.


Albaret terkekeh pelan, "Ooo gitu to... Kirain lagi apa."


"Yuk sarapan aja yuk... Cobain masakan Yuna pah, pasti papa langsung ketagihan." ucap Vina yang langsung menggiring suaminya untuk duduk dikursi yang sudah disediakan itu.


"Ayo, ayo.. Mama ambilin, kamu juga Yuna kita makan bareng-bareng. Lebih enak makan bareng dari pada makan sendiri." tutur Vina langsung menggiring tubuh Yuna untuk duduk tepat didepan Albaret.


Yuna sempat ingin menolak tapi tak bisa, karena dirinya sudah duduk tepat dimeja makan itu.


"Oh iya Yuna... Zeen dimana? Kok papa gak liat dari tadi." tanya Albaret yang baru mengingat jika Zeen diantara mereka.


"Iya Yun, mama baru sadar Zeen kok gak keliatan ya dari tadi." ucap Vina.


Yuna berdehem pelan. "Yuna juga gak tau mah... Tadi malam dokter Zeen keluar, sampai sekarang belum pulang." ujar Yuna dengan jujur.


Kedua orangtua itu langsung melihat kearah Yuna.

__ADS_1


"Emang Zeen gak bilang sama kamu sayang, kemana dia pergi?" tanya Vina.


Saat Yuna ingin menjawab, tiba-tiba Zeen datang dan membuat pandangan mereka teralihkan menatap kearah Zeen.


Zeen yang baru pulang itu nyelonong begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Padahal disana ada kedua orangtuanya.


"Zeen!" panggil Albaret menghentikan langkah Zeen.


"Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang!" tekan Albaret.


Zeen kemudian berbalik dan menghadap kearah papanya.


"Urusan rumah sakit pah.." jawab Zeen berbohong.


"Jangan bohong kamu Zeen, papa sudah kasi kamu ijin cuti dua minggu yang lalu sampe sekarang. Jadi papa tau jika kamu tidak ada jadwal untuk kerumah sakit." lagi-lagi nada itu penuh dengan penekanan.


Zeen menghela nafas panjang, "Gak usah ngajak debat pagi-pagi deh pah... Zeen capek, pengen istirahat." ucap Zeen langsung berlalu pergi meninggalkan meja makan itu.


"Zeen!" teriak Albaret yang malah diabaikan oleh putranya itu.


"Dasar anak itu." geram Albaret sambil mencengkram sendok yang ia pegang.


"Udah sayang... Jangan emosi terus..." ucap Vina mencoba menenangkan sang suami.


"Anak kamu itu mah... Bikin darah tinggi papa naik terus." gerutu Albaret.


"Anak kamu juga loh sayang... Udah ya, mending kita lanjutin makan aja. Kamu juga Yun, makan yang banyak ya.."


Yuna menganguk. "Iya mah..."


Pikiran Yuna saat ini tengah berkecamuk, ia bingung dengan keadaan penampilan Zeen yang bisa dikatakan berantakan itu. Saat ini pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif, ia berfikir jika mungkin saja Zeen menemui kekasihnya dan bermalam disana. Yuna seketika mengelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran aneh itu.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa untuk selalu dukung author ya.. Dengan cara Vote, like atau komen. Biar author ini tambah semangat ngetiknya🐭 dukungan kalian itu tentu sangat ngaruh loh sama semangat author ini🐹


__ADS_2