Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 202


__ADS_3

...°°~°°...


Selama dua jam Zeen mengurung Yuna didalam kamar, bahkan Yuna sampai tak boleh beranjak dari tempat tidur sedikit pun oleh Zeen.


Padahal jam masih menunjukkan angka 14:30, tapi Zeen tetap saja mengempur istrinya yang tak tahu waktu. Dimana pada hari itu matahari masih terik-teriknya yang mana membuat keduanya bermandikan keringat ditubuh keduanya.


Yuna terus terengah-engah saat sang suami masih setia mengerakkan pingulnya dengan gerakan cepat. “S-sudah mas... aku capek....” ungkap Yuna.


“Sebentar lagi sayang, mas janji ini yang terakhir....” balas Zeen yang masih terus melanjutkan kegiatannya.


Saat Yuna merasakan jika sang suami akan segera mencapai puncaknya, Yuna pun dengan erat-erat memegangi seprai dikasurnya. “Ma-mas... jangan dikeluarin didalam... keluarin–”


Perkataan Yuna terpotong, saat dirinya merasakan jika cairan panas milik suaminya sudah menyembur didalam perutnya. Yuna pun seketika dibuat lemas tak berdaya.


Zeen langsung membaringkan tubuhnya disamping istrinya, lalu ia memeluk tubuh Yuna dengan erat. Tentu Yuna yang mendapati itu segera melepaskan diri dan ingin turun dari kasur, namun pergerakannya itu tentu langsung dihentikan oleh Zeen dengan mencekal tangan Yuna.


“Mau kemana sayang? Disini aja dulu, kita kan baru selesai berolahraga, pasti tubuh kamu capek kan? Sini istirahat dulu biar tubuh kita terisi energi!” ucap Zeen sambil menepuk-nepuk kasur yang berada disisinya.


“Aku mau mandi mas, gerah banget rasanya....” jelas Yuna.


Zeen langsung bangkit dari baringnya dan memeluk istrinya dari belakang. “Yaudah, kita mandi bareng yuk!” celetuk Zeen dengan suara girang.


Yuna kembali melepaskan diri dari pelukan itu, namun tak bisa lepas karena pelukan Zeen begitu erat. “Gak mau mas, aku mau mandi sendiri. Mandi sama kamu nanti lama banget....”


“Kenapa? Mandinya pasti cepet kok....” ucap Zeen sambil tersenyum menyerigai.


Yuna yang mendengar itu tiba-tiba langsung bangkit dari duduknya, dan menatap sang suami dengan tatapan tajam sambil berkecak pinggang.


“Alasannya saja! Pasti nanti ujung-ujungnya mas ngajakin main lagi, mas tau gak? Aku udah bilang sama mas jangan keluarin didalam. Nanti kalau aku hamil gimana mas? Mas kan akhir-akhir ini selama bermain selalu keluarin didalam. Udah banyak mungkin tak terhitung! Pasti didalam nanti sudah jadi butiran-butiran mas itu!” cerocos Yuna mengeluarkan semua unek-uneknya.


“Butiran-butiran apa sih sayang? Butiran-butiran debu?” tanya Zeen dengan senyuman menggoda.


“Mas! Aku serius!” pekik Yuna melipat kedua tangannya didepan.

__ADS_1


Zeen terkekeh sejenak melihat tingkah lucu istrinya, ia kemudian merengkuh pinggang Yuna dan kembali membawanya kedalam pelukannya.


“Emang kenapa sih sayang, hem? Kalau nanti kamu hamil lagi ya malah bagus dong? Pasti para nenek dan para kakek pada seneng kalo dikasi cucu lagi!” ungkap Zeen sambil mengelus-elus perut datar Yuna. Hal itu membuat benda sakralnya kembali menegang hanya karena menghirup aroma istrinya yang sangat memabukan.


“Mas lupa apa? Aku kan sudah bilang jauh-jauh hari, kalau putra-putra kita sudah berumur sepuluh tahun baru kita bisa memiliki anak kembali. Nanti kalau aku hamil lagi pasti soal mengurus anak akan terbagi-bagi, aku takut mas jika aku gak bisa jadi mommy yang baik bagi anak-anak nanti....” ungkap Yuna dengan wajah sendu.


Hal itu membuat Zeen merasa bersalah dibuatnya. Ia lalu berdiri dan mensejajarkan dirinya dengan Yuna, kemudian tanpa aba-aba ia mengecup kening, pipi, hidung dan terakhir bibir yang membuatnya kencanduan itu. Bibir manis yang membuat dirinya langsung menghentikan kebiasaannya minum-minum saat dirinya kelelahan.


“Kamu jangan khawatir sayang....” ucap Zeen ketika melepaskan pangutan bibirnya itu, ia kemudian mengelus lembut perut sang istri. “Jika disini memang sudah ada dedek bayinya, maka aku yang akan mengurusnya kelak biar kamu gak kecapean! Dan aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku itu!” tegas Zeen dengan mengebu-gebu.


Seketika Yuna langsung mengeplak lengan kekar suaminya. “Ya tentu harus bertanggung jawab lah mas! Siapa lagi kalau bukan kamu? Kamu kan bapaknya!” jelas Yuna sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


Zeen dibuat cengegesan, “Iya sayang! Iya... yaudah yuk! Karena aku nanti yang akan bertanggung jawab mengurus baby berikutnya, kita lanjut main lagi yuk!” ajak Zeen yang langsung mengiring istrinya menuju kamar mandi.


“Engak mau mas! Aku mau mandi sendiri aja!” pekik Yuna mencoba melepaskan diri dari jeratan mesum suaminya.


“Hais... mandi bareng itu sunnah sayang. Lebih seru kalo mandi bareng suami....” alibi Zeen terus mendorong punggung istrinya menuju kamar mandi.


Belum sampai masuk kedalam kamar mandi, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar, namun suara ketukan itu makin lama makin keras.


Dok! Dok! Dok! Dok! Dok!


Begitulah bunyi suara ketukan pintu itu, yang mana membuat kedua pasutri itu mau tak mau menghentikan langkah kaki mereka. Dan tentu berhasil mengagalkan rencana mesum Zeen.


“Siapa itu yang ketuk pintu keras banget? Gangu orang beromantisme aja!” gerutu Zeen mencebik kesal.


“Mungkin mama yang ketuk pintu mas, biar aku yang buka pintunya!” ujar Yuna yang ingin menuju pintu namun kembali dihalangi oleh Zeen.


“Biarkan saja sayang, kita mandi dulu aja. Katanya kamu lagi gerah? Yuk mandi aja!” ajak Zeen berusaha mengabaikan suara ketukan itu.


“Tapi mas....”


Belum selesai Yuna melanjutkan perkataannya, tiba-tiba sebuah suara teriakan kembali membuat mereka terdiam.

__ADS_1


“Mommy! Daddy...!! Buka pintunya...!!”


Teriak dua bocil yang berada diluar kamar mommy dan daddynya.


“Suara anak-anak mas!” pekik Yuna langsung berlari untuk membuka pintu, tak lupa Yuna juga sudah membungkus dirinya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang bulat itu.


Zeen pun dibuat menghela nafas panjang ketika melihat istrinya yang lebih mementingkan kedua anaknya dari pada dirinya, yang masih membutuhkan belaian hangat dari istrinya.


“Itu sebabnya aku selalu pulang cepat, karena kalau malam aku tak bisa memadu kasih dengan istriku! Bagaimana bisa memadu kasih jika dua bocil itu ikut tidur mommy dan daddynya setiap malam?” gumam Zeen mengerutu kesal. “Sepertinya dua anak itu harus cepat-cepat disapih!” gumamnya lagi yang memikirkan sebuah cara, untuk memisahkan anak-anaknya itu yang selalu menempeli mommynya dimana pun berada.


Zeen pun ikut menghampiri dua putranya yang ada diluar kamarnya, dengan masih telanjang dada dan hanya memakai celana boxer saja.


Saat Yuna susah membuka pintu kamarnya itu, dua putranya itu terlihat langsung menyembul dan menghambur memeluk mommy tercintanya.


“Anak mommy sudah pulang, bagaimana sekolahnya?” tanya Yuna sambil mengelus kepala, kedua putranya.


Dua akan laki-laki itu tak langsung menjawab, keduanya malah mendongakan kepala dan menatap sang mommy dengan tatapan sendu.


“Mommy kenapa gak jemput kami tadi? Gak biasanya mommy cuti saat jemput kami kesekolah?” tanya si sulung.


“Iya mommy... kita jadi khawatir jika mommy sakit, karena tak biasanya mommy tak menjemput kami....” balas si bungsu dengan memanyunkan bibirnya.


Yuna yang tak tahu harus menjawab apa, lebih memilih melirikan matanya menatap sang suami yang sudah berdiri disampingnya.


Zeen yang tau apa arti tatapan itu langsung tersenyum menyerigai.


“Kalian mau tau kenapa mommy kalian tak menjemput kalian tadi?” tanya Zeen kepada kedua putranya.


Kedua putranya itu bersama saling mengangguk, menangapi ucapan sang daddy.


“Mommy kalian ini sedang membuat adik untuk kalian bersama daddy!” celetuk Zeen yang membuat Yuna langsung melotot kearahnya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2