Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 178


__ADS_3

...***...


Hari sudah menjelang malam, kini para keluarga tengah berkumpul diruang tengah untuk merundingkan rencana yang akan mereka susun untuk menemukan Yuna. Walau diwajah mereka nampak tenang, namun siapa yang tahu jika dihati mereka tengah menahan gelisah yang memburu karena teringat keadaan Yuna yang entah sekarang ada dimana.


Mereka memikirkan, apakah Yuna saat ini sudah makan? Apakah Yuna istirahat dengan nyaman? Mengingat wanita itu yang sangat suka makan dan juga sangat suka tidur diwaktu yang tak tertentu. Tentu semakin menambah kekhawatiran dipikiran mereka.


Apalagi Zeen yang sebagai seorang suami. Tentu sangat merindukan istrinya itu, karena biasanya dijam begini ia pasti sudah membawa istrinya kekasur dengan mengelus-elus perut istrinya dengan sayang. Memikirkan itu saja sudah membuat batin Zeen merindu.


“Apakah kita perlu meminta bantuan komisaris polisi?” usul Bram, yang saat ini ikut bergabung dengan para lelaki, sedangkan para perempuan tengah menyiapkan sebuah camilan dan kopi.


“Ini bahkan belum sampai 24 jam! Mana bisa kita memberikan laporan kehilangan orang?” timpal Albaret.


Mendengar itu, para pria langsung mendensah. Tidak terkecuali dengan Zeen yang hanya diam merenung.


“Bagaimana Zeen?” kini semua mata mengarah pada Zeen yang hanya memasang wajah datarnya saja.


Sejenak Zeen menghela nafas panjang. “Aku sudah memikirkannya! Mungkin aku akan meminta bantuan dari pasukan dektetif dari Rafli! Dia orang yang sangat handal dan terpecaya, Rafli adalah orang yang cekatan. Dia pasti akan menemukan keberadaan istriku dengan cepat!” jelas Zeen dengan tegas.


“Aku juga akan meminta bantuan kepada temanku yang kebetulan adalah mantan ketua gangster! Dan juga pernah membangun sebuah kelompok mafia dikanada!” lanjutnya lagi yang membuat para lelaki disana tercengang mendengarnya.


“Wow! Kakak sepupu, aku baru tahu jika kau memiliki teman seorang penjahat? Kukira kakak akan berteman dengan para wanita saja?” ucap Firo meledek.


Zeen seketika melempar bantal kearah sepupunya itu. “Aku tak sepertimu yang hanya memikirkan wanita saja dan mengoleksinya hingga sampai ratusan!” cibir Zeen menatap Firo dengan sinis.


Firo mengedikan bahunya acuh, “Ya! Ya! Ya, seengaknya aku tak pernah memakai kelelakianku pada wanita manapun! Walau aku seorang playboy!” sindir Firo sambil tertawa mengejek.


Zeen yang mendengar itu tentu ingin sekali menonjok wajah sepupunya untuk kedua kalinya, jika saja ia tak diperingati oleh Papanya.


“Sudah! Sudah! Jangan membahas yang tak penting, sekarang yang penting itu adalah menantuku yang sekarang tengah membawa dua orang cucuku!” tegur Albaret sambil mengelengkan kepalanya.


Lalu para lelaki kembali terdiam, sampai suara memekikan dari Diana membuat mereka langsung membuyarkan lamunnya.


“Helo! Helo ... epribaday! Inces Diana datang membawa kofi nih ....” teriak Diana yang langsung mendapat pelototan dari sang Papa, namun Diana hanya terkekeh saja menanggapi itu.

__ADS_1


“Ini untuk Papaku tersayang,” ucap Diana sambil meletakan gelas kopi itu didepan Sigit. Setelah itu bergilir pada Yudas, Zeen, Bram dan Albaret.


“Ini itu om yang super kece baday!”


Albaret tertawa mendengar itu. “Jiwa anak muda yang sangat mengelora! Patut dicontoh untuk anak-anak muda jaman sekarang,” ucapnya yang membuat Diana ikut tertawa.


Kemudian satu kopi tersisa dinampan itu, membuat dirinya melirik kearah Firo dengan senyum penuh arti. Kopi itu sangat spesial dibuat dengan penuh cinta, sekaligus gelas yang paling berbeda dari gelas yang lain. Gelas itu berupa gelas bergambar dora emon yang dimana sangat lucu jika dipandang.


Diana dengan berjalan pelan mendekati Firo, lalu meletakan gelas itu didepan pria itu.


“Ini kofi untuk Aa tampan! Semoga setelah meminum kofi ini semangat Aa akan bertambah,” ucapnya sambil menunjukan senyum terbaiknya pada lelaki itu. Hingga gigi gingsul yang sama persis dengan Yuna nampak terlihat sehingga membuat pipi tembabnya itu ikut mengembang.


Firo sampai dibuat mengangkat sebelah alisnya karena dibuat kebingungan. Lantas saat melihat gadis itu menjauh darinya ia kemudian mengarahkan pandangannya pada gelas kopi itu, yang dimana langsung membuatnya mendelik tajam.


“Apa-apaan ini? Kenapa gelasku jelek begini? Ini sangat kuno! Emang aku seorang bayi apa?” pekik Firo langsung menyingkirkan gelas itu kekiri.


“Jangan dibuang! Mubasir tau! Minum saja, hanya gelas saja kau begitu heboh,” ucap Albaret menggeleng melihat tingkah aneh keponakannya. Lalu memberikan kembali gelas itu kehadapan pria itu.


“Dah minum saja!” sela Albaret mengacuhkan sang keponakan.


Akhirnya Firo lebih memilih mengalah, lantas kemudian ia menatap kembali gelas itu dengan tatapan nanar. Ada rasa geli dihatinya ketika melihat gelas berlogo dora emon itu.


“Mana gadis aneh itu,” gumam Firo menelisik kesepenjuru ruangan namun ia tak mendapati sosok gadis itu. Kemudian samar-samar dipendengaranya terdengar suara celotehan dari arah dapur yang bisa dipastikan gadis yang ia cari tengah berada disana.


“Dasar gadis aneh!” gerutunya, kemudian ia mulai mengangkat gelas itu dan menghirupnya sejenak. “Gak ada ramuan anehnya kan? Jangan-jangan ada jampi-jampinya?” gumamnya lagi mulai was-was. Dan sedetik kemudian ia memilih untuk tak meminumnya dan meletakan gelas itu kemeja.


Bersamaan dengan itu, Diana datang dan langsung duduk disamping Firo yang mana membuat sang empun kaget terhua-hua.


“Kenapa gak jadi diminum akang ganteng?” katanya sambil menepuk bahu Firo.


“Bangs– kau mengagetkanku gadis aneh!” pekik Firo menatap tajam Diana.


“Wah? Akang ganteng kalo kaget makin ganteng ya?” ceplos Diana dengan wajah polosnya yang tentu membuat Firo menganga.

__ADS_1


Firo mulai bergedik ngeri, lantas dirinya langsung menjauhkan diri dari Diana.


Diana yang ingin mendekati Firo kembali tak jadi, pasalnya Mamanya datang sambil menepuk bahunya.


“Diana, kamu ini gak bisa diam ya? Kenapa kamu godain sepupu kakak ipar mu?” bisik Eva memlototi putrinya.


Sedangkan Diana nyengir saja mendengar itu, “Abisnya ganteng banget sih Mah orangnya,” ucap Diana yang juga ikut berbisik.


Eva terdiam sejenak seperti mengingat sesuatu. “Jangan bilang itu orang yang bikin kamu kesurupan?”


“Astaga Mama ya gak gitu juga kali perumpaanya,” gerutu Diana mencebikan bibirnya.


“Bener itu orangnya?” pekik Eva namun masih berbisik, ia lantas menutup mulutnya merasa tak percaya.


Diana tak menjawab, ia malah kesem-sem sendiri dengan wajah malu-malunya.


“Ehem!” Albaret berdehem kuat untuk mengkondisikan keadaan yang menjadi riuh akibat Firo dan Diana itu. “Kita akan lanjutkan pembahasan! Tolong kali ini kita harus serius agar kita bisa secepatnya menemukan Yuna!” ucap Albaret dengan tegas membuat keadaan menjadi hening.


Kemudian Albaret mengalihkan pandangannya kearah putranya. “Jadi Zeen? Apa rencanamu selanjutnya? Bukankah memanggil temanmu yang ada dikanada harus menunggu waktu yang lama?”


Zeen merenung sejenak, “Tidak Pah! Kebetulan temanku ada diindonesia, baru saja aku bertegur sampai dengannya kemarin!” jelas Zeen.


“Wah! Bagus dong itu, sekarang kau bisa panggil temanmu kesini! Agar kita bisa mempermudah menyusun rencana,” ujar Albaret.


“Baiklah, aku akan menghubunginya sekarang.”


Namun saat Zeen akan membuka menu panggilan, tiba-tiba terdengar notive pesan dari WhatsAppnya itu.


Zeen membukanya karena merasa penasaran, dengan nomor pengirim yang asing baginya.


Ia mulai mengerutkan keningnya saat pesan itu berupa vidio. “Apa ini?” gumam Zeen lantas membuka vidio itu karena dirinya merasakan hal aneh pada vidio. Dan benar saja, dirinya dibuat terkejut kala melihat isi vidio itu adalah sosok istrinya yang ia cari tengah diikat dikursi dan nampak tak sadarkan diri disana. Bahkan keadaan wanita hamil itu tampak mengenaskan karena penampilan Yuna yang berantakan sekaligus wajah yang pucat disertai pipi yang bengkak, seperti habis ditampar.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2