Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 138


__ADS_3


...***...


“Oh? Ternyata benar ya ... kukira itu hanya gosip belaka,” ujar Fadli sambil tersenyum paksa.


Zeen mengangkat sebelah alisnya, “Berarti anda berharap jika kabar bahagia ini tak pernah terjadi?” selidik Zeen.


Fadli tersenyum tipis menatap Zeen, “Anda salah paham, saya tak pernah beranggapan seperti itu? Justru saya juga ikut senang ketika mendengar kabar bahagia ini.”


'Bohong sekali! Cih, bahagia katanya? Aku tau jika ucapannya itu tak tulus sama sekali.' Batin Zeen terkekeh sinis.


“S-saya pun ikut bahagia mendengar berita ini. Karena saya sudah tahu sejak awal jika istri dokter Zeen tengah hamil saat saya memeriksanya tadi, dan saya meminta maaf pada dokter Zeen karena saya dokter Zeen jadi lambat tahu jika kakak Yuna sedang hami ....” jelas Mita sambil menundukkan kepalanya merasa malu saat berhadapan dengan Zeen.


Zeen yang mendengar itu hanya acuh saja, tak berniat untuk menanggapi.


Mita sedikit, sedikit memberanikan diri untuk melihat kedepan, dan langsung mengarahkan pandangannya kearah Yuna.


“Selamat kakak Yuna atas kehamilannya, semoga kehamilan pertama dilancarkan terus sampai hari melahirkan.” Ucap Mita memberikan selamat kepada Yuna sambil tersenyum manis.


Yuna menanggapi senyuman itu, “Iya ... terimakasih atas doanya ....” jawab Yuna dengan tutur kata yang lembut.


“Selamat Yuna atas kehamilannya,” kini giliran Fadli yang memberikan ucapan selamat pada Yuna, walau disisi hati terdalamnya sangat sesak ketika cintanya sudah memiliki buah cinta kepada pria lain dan bukan ia. Kini harapannya yang ingin mendapatkan cinta Yuna walau menangung resiko apapun itu pupus sudah. Matanya seolah dibuka ketika melihat cinta tulus kedua suami istri itu, dan dirinya juga tak akan tega ketika harus merebut Yuna dari pria yang dicintai wanita itu. Didalam diri Fadli sudah bertekad jika ia akan berusaha move on dari wanita yang sudah bersuami itu.


“Terimakasih dokter Fadli,” jawab Yuna yang memberikan senyuman tulus kepada pria itu.


Hati Fadli bahkan dibuat bergetar ketika melihat senyum tulus itu, 'Senyum itulah yang ingin diriku tak melepaskanmu Yuna. Sepertinya untuk saat ini aku tak akan bisa berhadapan denganmu ....' batin Fadli terus merasakan sesak didalam hatinya.


Tiba-tiba saja Zeen menutup wajah Yuna dengan telapak tangannya, membuat semua pandang mata tertuju kearahnya.

__ADS_1


“Sudah ya jangan terlalu lama memandang istriku. Karena sudah tidak ada lagi yang disampaikan, maka saya akan pamit undur diri dulu sebab Papa saya sudah lama menunggu diluar, Permisi!”


Setelah mengatakan itu Zeen benar-benar beranjak pergi dari sana tanpa menerima jawaban dari dua insan itu.


Sedangkan dua insan itu sama-sama menatap sendu punggung orang yang mereka kagumi dan sukai, tanpa berniat untuk mengapainya lagi.


“Mari dokter Fadli.” Ajak Mita dengan senyum cangung.


“Ah? Ya, mari.” Jawab Fadli dengan senyum kikuk.


🍂🍂


Sesampainya diparkiran, Albaret yang baru turun dari mobil itu segera menghampiri mereka dan jangan lupakan senyum menggoda yang ditunjukkan oleh pria paru baja itu.


“Loh? Kalian kok sudahan? Papa kirain bakalan lama kalian didalam sana?” tanya Albaret sambil terkekeh kecil.


Zeen memutar bola matanya malas. “Buat apa lama-lama dirumah sakit Pah? Lebih enakan dirumah gak perlu mikirin beban soal pekerjaan dirumah sakit.” Seru Zeen langsung mendapat tonyoran kepala dari sang Papa.


“Suka kok Pah ... suka ....” Zeen dengan hati-hatinya menurunkan Yuna dan mendudukan wanitanya itu dikursi penumpang tepatnya dimobil miliknya. “Tapi ... Zeen lebih sukanya tak bekerja dan hidup melajang dengan elegannya. Agar Zeen bisa terus berduaan dengan Yuna tanpa memikirkan pekerjaan.” Seloroh Zeen berkecak pinggang sambil tersenyum angkuh.


Albaret tentu dibuat berdecak kesal, “Dasar anak durjana, kau mau membiarkan Papa mengurusi rumah sakit sampai kakek-kakek? Ingat Zeen! Suatu saat nanti jika Papa sudah tak ada maka rumah sakit ini akan menjadi milikmu. Begitu pula denganmu yang nantinya anakmu lah yang akan meneruskan pekerjaanmu itu.” Jelas Albaret tak kalah angkuhnya.


Setelah mengatakan itu, Albaret kembali menuju mobilnya namun tiba-tiba ia kembali menghentikan langkahnya. “Ingat itu baik-baik Zeen! Ingat!” dengan suara yang dikeraskan Albaret terus mengulang perkataannya dan seolah memberi ancaman pada anaknya itu.


Zeen dibuat mengeleng melihat tingkah Papanya.


“Ayo kita pulang! Jangan ngelama-lamain lagi kamu Zeen! Mama sama nenek sudah nungguin kita dirumah!” teriak Albaret lagi saat mobil yang ia tumpang sudah berjalan dan lebih dulu keluar dari area rumah sakit itu.


“Ataga ...? Papanya siapa sih itu?” gumam Zeen kembali mengelengkan kepala.

__ADS_1


°


°


°


°


Sesampainya dikediaman Albaret, ketiganya saat ini memasuki rumah besar itu secara bersama dan tentu langsung disambut hangat oleh orang rumah yaitu sang nyonya kediaman dan ibu mertua (Rima), juga para pelayan-pelayan yang sudah bertahan-tahun lamanya kerja dikediaman itu.


“Selamat ya sayang ....” Vina langsung memeluk menantunya dengan mengelus surai rambut itu. Ia ikut senang ketika suaminya mengabari jika ia akan diberikan cicit, bahkan sampai kesenangannya ia sampai berteriak heboh disepenjuru rumah besarnya dan meriaki para pelayan yang tengah bekerja bahwa menantunya akan menghadirkan seorang penerus dikediaman Albaret selanjutnya. Tentu para pelayan langsung bertepuk tangan heboh dan saling berpelukan karena merasakan kebahagiaan apa dirasakan oleh majikannya.


“Terimakasih Mah ....” Yuna membalas pelukan Mertua yang sudah ia anggap Mama kandung sendiri dengan tak kalah hangatnya.


Setelah melepaskan pelukan itu, kini Yuna beralih pada wanita yang tak lain adalah Rima yang sudah lama menanti-nanti kabar bahagia tersebut.


Namun yang mengherankan bagi Yuna, wanita tua itu tak menunjukan ekspresi bahagia sama sekali, malah menunjukan ekspresi datar yang sama sekali tak bisa dibaca.


Yuna sampai membatin, apakah wanita tua itu tak senang jika dirinya tengah hamil? Tapi kemarin-kemarin wanita tua itu selalu menanyakan perihal kehamilanya? Mungkinkah pikiran seseorang itu bisa berubah dalam sekejap?


Yuna sampai takut-takut saat ingin mendekati wanita tua itu.


“Yuna!” panggil Rima tiba-tiba membuat Yuna terlonjak seketika.


“Y-ya nek?”


“Kenapa kau diam saja disitu? Sini.” Rima menepuk-nepuk sofa disebelah kirinya agar Yuna segera duduk disampingnya.


“Ah ... iya ....” cicit Yuna lalu berjalan kembali mendekati sang nenek, setelah sampai ia langsung mendudukan diri disofa itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2