
...***...
Elena tampak terdiam sambil menukikan alisnya menatap pria yang ada didepanya. Namun keterdiaman itu kemudian diganti dengan suara tawa yang mengelegar, membuat Zeen yang melihat menjadi bertanya-tanya.
“Kenapa dokter Elena malah tertawa?” tanya Zeen bingung.
“Saya tertawa karena kau dokter Albaret yang terhormat!”
Zeen mencebik kesal, “Bukan Albaret! Tapi Zeen! Biasakanlah panggil nama depan bukan nama belakang bu dokter!” kesal Zeen.
“Ah itu sama saja.” Elena mengabaikan kekesalan Zeen dan lebih memilih mengalihkan pandangannya pada Yuna. “Apakah kamu juga tidak tahu tentang perut kamu yang sudah terlihat membuncit ini?” tanyanya pada Yuna dengan menunjuk perut Yuna.
Yuna langsung mengeleng. “Tidak dokter, karena saya pikir jika perut membesar ini karena saya yang terlalu makan banyak.” Jawab Yuna.
“Hemm,” Elenak tampak memandangi kedua pasutri itu, lalu kemudian menghela nafas karena mencoba untuk menahan tawa. “Tak apa. Memang wajar bagi kalian yang baru mengetahui hal tersebut karena kalian baru merasakan menjadi orangtua.”
Yuna dan Zeen seketika saling berpandangan.
“Apa maksudnya itu dokter Elena? Kenapa anda tak menjelaskan kami dengan sesuatu yang mudah dipahami?” tanya Zeen lagi yang sudah kepalang bingung.
“Oke, oke saya akan menjelaskanya secara rinci.” Sejenak dokter Elena mengamati layar panjang yang ada didepanya, lalu kemudian pandangannya ia alihkan kembali kepada kedua pasutri itu.
“Anda tadi menanyakan tentang, mengapa perut istri anda sedikit membuncit? Mungkin anda berdua menduga perut membuncit itu disebabkan oleh faktor nafsu makan yang sedang tinggi-tingginya namun itu sudah biasa bagi orang yang belum mengetahui fakta itu.” Sejank Elena menghentikan penjelasannya.
“Namun yang sebenarnya, perut buncit yang sedang dialami oleh ibu Yuna adalah dikarenakan ada dua kantung bayi dirahim ibu Yuna.”
Penjelasan terakhir itu membuat keduanya terdiam membisu sambil melirikan mata mereka secara bersamaan.
“Maksud d-dokter? Jika saya saat ini sedang hamil kembar?” tanya Yuna yang tangannya saat ini sudah sangat bergetar hebat.
Elena mengangguk, “Ya! Anda sedang hamil anak kembar sekarang ibu Yuna. Dan selamat untuk anda!” jawab Elena dengan tersenyum manis.
Yuna seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dirinya merasa tak percaya sekaligus bahagia secara bersamaan.
Yuna menoleh kesamping dimana suaminya masih terdiam ditempatnya. “Ma-mas? Aku hamil kembar mas ...?”
Zeen pun ikut menolehkan kepalanya kesamping, menatap Yuna dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah itu dirinya langsung memeluk istrinya dengan perasaan campur aduk.
“Iya sayang ... kamu hamil kembar dan itu sangat membahagiakan bagi mas. Tuhan baik sekali kepada kita yang melimpahkan kebahagiaan yang ganda seperti sekarang, rasanya aku ingin memberi tahu keseluruh dunia jika istriku sedang mengandung dua manusia kembar, dan itu hasil kegigihanku selama ini.”
Mendengar kata terakhir dari perkataan Zeen, membuat Yuna melunturkan senyumanya dan langsung melepaskan diri dari pelukan itu.
__ADS_1
Kemudian Yuna menatap tajam Zeen dan tak lupa kini tangannya sudah setia dipingang pria itu yang mana artinya tengah mencubit kulit pria itu.
“Aw! Sayang?” Zeen memekik kesakitan saat lagi-lagi menerima cubitan dari wanita kesayangannya itu.
“Ngomong yang aneh lagi tanganku ini kupastikan tak akan aku lepaskan!” ancam Yuna dengan raut kesalnya.
“Eh? Iya, iya sayang gak lagi ngomong yang aneh-aneh lagi.” Ujar Zeen sambil mengangkat dua jari didepan Yuna.
Yuna langsung melepaskan cubitan itu dan beralih memalingkan wajahnya.
'Harus hati-hati ketika berbicara Zeen! Kau tahu sendiri jika ibu hamil itu sangat menyeramkan.' Gumam Zeen sambil meneguk ludahnya dengan kasar.
Elenak yang sejak tadi mengamati interaksi mereka dibuat cekikikan sendiri, dirinya asyik menonton drama secara live membuat rasa kebosanan yang tadi melanda kini mereda seketika.
Zeen yang tau jika Elena tengah menertawainya itu mendengus kesal, lalu langsung berdiri dari duduknya dan mengambil tangan istrinya untuk ia gengam.
“Karena urusan saya disini sudah selesai maka kami pamit undur diri dulu. Terimakasih atas pekerjaan anda yang sangat berjasa itu,” dengan perasaan kesal Zeen menarik Yuna dari sana dan membawa istrinya pergi tanpa mendengar jawaban dari sang empun.
Elena kembali dibuat mengelengkan kepala melihat tingkah kedua pasutri itu. “Dasar anak muda.”
🍂🍂
Disepanjang koridor nampak Zeen terus memancarkan senyumanya bahkan Yuna sampai dibuat keheranan ketika melihat itu.
Zeen menengok kearah Yuna kemudian ia mengengam tangan wanita itu, “Aku tersenyum karena sangat bahagia jika kita bukan hanya punya satu bayi. Tapi melainkan dua?” Zeen mengangkat tangannya membentuk huruf v.
Yuna nampak tersenyum ketika mendengar itu. “Aku juga bahagia mas ... Mama, Papa dan nenek pasti juga ikut bahagia jika kita memberikan berita ini.”
Zeen menganguk mengiyakan ucapan Yuna. “Ya ... kamu benar sayang, orang rumah pasti akan merasa bahagia ketika mendengar kabar ini.” Zeen langsung merangkul pundak istrinya lalu mengecupi seluruh wajah istrinya.
“Mas ... sudah, malu disini masih banyak orang.” Yuna mencoba mendorong kepala Zeen yang berada diwajahnya.
“Biarkan saya kita kan suami istri yang sah.” Jawab Zeen acuh.
“His ....” Yuna kembali mencubit pinggang Zeen sehingga membuat pria itu refleks menjauh.
“Aw sayang? Kamu lagi-lagi mencubitku?”
Yuna tampak acuh mendengar itu. “Biarkan saja, itu senjata andalan biar mas sadar dari kelakuan mas tadi. Yaudah mas sebaiknya aku pulang atau menemani mas disini?”
Sejenak Zeen mengusap perutnya yang tadi terkena cubitan. “Pulang saja sayang. Soalnya kalo kamu nemenin aku disini pasti kamu akan merasa kebosanan dan lelah.”
__ADS_1
“Hem,” Yuna mengganggu mengiyakan. “Yaudah kalau begitu mas, kalau begitu aku pulang dulu.”
“Ya aku akan mengantarmu pulang.”
“Loh? Gak papa mas biar aku sendiri saja kan masih ada sopir Mama didepan?”
“Udah ... biarkan aku mengantarmu sampai rumah, aku merasa tak tenang jika tak melihatmu sampai dengan selamat didepan rumah.” Jelas Zeen lalu menggiring istrinya menuju parkiran.
“Tapi mas? Bagaimana dengan pekerjaan mas?”
“Itu gampang sayang ... gak perlu dipikirin. Yuk kita pulang sekarang.”
Tampak Yuna menghela nafasnya pasrah. “Yasudah deh aku ikut mas aja.”
°
°
°
Kini Yuna dan Zeen sudah berada dijalankan tengah menuju kediaman rumah Albaret. Sejak tadi Zeen terus mengusili Yuna yang mengajak wanitanya itu untuk bermesraan terus dengannya padahal masih ada orang lain diantara mereka. Namun yang namanya Zeen jika menyangkut tentang keadaan sekitar ia akan mengabaikannya.
“Mas ....” panggil Yuna.
“Ya sayang?” jawab Zeen namun masih memejamkan matanya dipundak Yuna.
“Kamu masih ingat dengan tantangan yang mas buat kemarin kan?” tanya Yuna.
“Tantangan yang mana?” kini giliran Zeen yang bertanya.
“Itu loh yang mas bilang jika perut Yuna yang membesar ini karena kekenyangan. Trus mas buat tantangan jika siapa yang memenangkan tantangan ini maka akan menuruti semua keinginannya.” Jelas Yuna panjang lebar.
“Hemm,” Zeen mengangukan kepala saat mengingat ucapan itu.
“Karena kamu yang memenangkan tantangan ini, maka aku akan mengabulkan semua permintaanmu.”
“Benarkah?” tanya Yuna dengan antusias.
“Ya ... apa permintaanmu sayang?” tanya Zeen.
Nampak Yuna tersenyum miring diam-diam, “Nanti aku akan memberitahu mas setelah mas pulang dari rumah sakit nanti.”
__ADS_1
TBC.