Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 179


__ADS_3

...***...


“Damn!!”


Zeen berdiri dari duduknya yang saat itu hendak ingin melempar hpnya, namun langsung saja para keluarga berteriak menghentikan aksinya.


“Hei Zeen apa yang kau lakukan! Disuruh nelfon temenmu malah mau banting hp? Anaknya siapa sih kamu?” pekik Albaret menatap heran anaknya.


“Ya anak kamu lah Papa, masa anaknya semut? Yakali Pah? Orang kamu yang bikin sendiri,” jawab Vina dengan spontannya yang mana membuat mereka terkikik geli. Kecuali Albaret yang hanya mengaruk kepalanya merasa malu dengan ucapan istrinya.


“Jangan bicara begitu Mah! Kita kan yang bikin, bukan aku saja yang bikin,” bisik Albaret yang kebetulan istrinya berada didekatnya.


Kemudian Vina membalas bisikan suaminya. “Siapa yang bilang aku gak ikut bikin Pah? Orang Mama tau sendiri kalau Papa mainnya kasar banget kok,” bisiknya sambil menatap sang suami dengan senyum miring.


Albaret yang kepalang malu itu lebih memilih diam tak menjawab. Dan kembali melirik para keluarga yang tengah asyik sendiri entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti dirinya merasa lega ketika tak ada yang menyadari ucapan sang istri, jika itu terjadi maka matilah dia.


Albaret menetralkan dirinya sejenak, lalu berdehem kuat dan mulai menseriuskan dirinya kembali. “Jadi, kenapa kau seperti itu Zeen? Apakah ada yang menganggu? Sampai-sampai hpmu itu mau kau banting?” tanyanya pada putranya.


Zeen tak menjawab, ia lebih memilih menyerahkan hpnya pada Papanya. Dirinya saat ini tengah berusaha meredam emosinya walau sepertinya hanya 1% saja.


Albaret bingung melihat tingkah putranya, ia memilih untuk tak bertanya kembali dan mulai membuka hp Zeen, karena penasaran tentang apa yang menganggu putranya sampai terbakar emosi seperti itu.


Seketika Albaret terbelalak ketika mendapati hal tak mengenakan dari apa yang ia lihat itu.


“Sepertinya kita tak usah tidur malam ini! Secepatnya kita akan merancang sebuah rencana yang matang! Agar kita bisa menemukan Yuna dan membebaskan menantuku itu dari jeratan penjahat! Kita tak bisa menunda-nunda waktu lagi!” jelas Albaret dengan sangat tegas.


Hal itu membuat sekeluarga kebingungan.


“Kenapa Papa jadi seperti itu? Apa ada masalah Pah? Apa ada kabar tentang Yuna?” serentetan pertanyaan dari Vina, karena dirinya sudah kepalang penasaran ketika melihat dua prianya menjadi emosi seperti itu.


“Lihat vidio ini!” Albaret memberikan hp Zeen untuk memperlihatkan vidio pada mereka.


Mereka pun melihatnya dengan serius, setelah melihatnya ekspresi mereka tentu langsung berubah, seperti ekspresi Zeen yang berubah menjadi syok dan geram.


“Sepertinya kita memang tak boleh beristirahat malam ini! Tapi khusus para wanita bisa beristirahat terlebih dahulu malam ini, karena pekerjaan ini sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama,” timpal Yudas yang juga ikut serius.

__ADS_1


“Terkecuali aku! Aku tak ingin tidur, aku ingin ikut disebuah rencana yang menegangkan ini,” pekik Diana girang seperti bocah yang baru dikasi permen.


“Diana ....” tegur Sigit sang Papa, yang saat ini tengah menatap tajam putrinya itu. “Kamu gak boleh ikut Diana, kamu kan baru sampai dikota. Jadi kamu gak boleh banyak begadang!”


Diana mengerucutkan bibirnya seketika. “Elah Pah! Soal begadang Mah Diana tahan, jadi Diana ikut ya? Plisss ....” Diana mulai menunjukan pupy eyesnya.


Sigit mendengus saja, lantas dirinya langsung menatap sang istri dan memberinya sebuah kode.


Eva yang ditatap seperti itu tentu paham, dirinya pun langsung berdiri dari duduk dan menatap Vina dengan senyuman. “Jeng Vina, disini masih ada kamar kosong kan?” tanyanya.


“Oh! Tentu ada dong jeng! Disini masih ada banyak kamar kosong!” jawab Vina.


“Apakah diizinkan saya menginap disini untuk sementara?”


Vina tersenyum sejenak mendengar itu. “Tanpa jeng bertanya pun, saya akan menyuruh anda sekeluarga menginap disini.”


“Oh ya! Saya akan mengantar jeng kekamar,” timpal Vina lagi.


“Terimakasih jeng Vina! Jadi banyak ngerepotin saya.”


Vina langsung mengeleng, “Tidak! Saya tidak merasa direpotkan kok. Justru saya senang ada yang menginap dirumah ini, secara rumah ini sangat besar jadi butuh diisi orang banyak biar rame.”


“Eh? Loh? Kok aku dibawa-bawa sih Mah?” ucap Diana yang berusaha melepaskan diri dari sang Mama. Namun Mamanya itu tentu tak akan membiarkannya.


Dan Eva lebih memilih mengacuhkan ocehan putrinya.


“Baiklah jeng Eva, saya akan mengantar jeng sekarang!” sejenak Vina menatap para pria disana. “Kami tidur dulu ya? Walau kami mungkin tak akan bisa tidur tapi kami akan mengumpulkan tenaga kami, agar bisa ikut bergabung dengan kalian para lelaki yang sedang menyusun rencana.”


Para lelaki itu mengangguk, menanggapi ucapan Vina.


Lantas Vina dan Eva serta Diana yang dipaksa diseret itu meninggalkan tempat itu ,dengan ocehan yang terus keluar dari mulutnya.


Saat kepergian para wanita, ruangan seketika nampak hening. Namun keheningan itu tak bertahan lama karena tiba-tiba ponsel milik Zeen berdering dengan nada dering hp yang disetel agak keras.


“Nomor asing ini lagi? Mungkinkah ini ada kaitannya dengan Yuna?” gumam Zeen yang dapat didengar oleh para keluarganya.

__ADS_1


“Nomor asing itu lagi Zeen?” tanya Yudas yang dianguki kepala oleh Zeen.


“Orang ini menelfonku!”


Semua orang nampak terkejut saat mendengar itu.


“Angkatlah! Dan nyalakan sipeker.” Usul Albaret.


Zeen menurut saja dan kemudian mengangkat panggilan itu, yang sudah berhasil membuatnya emosi tadi.


“Halo Zeen sayang ... apakah kau mengingat suara ku? Pasti ingatlah, karena aku yang **** ini pasti akan membuatmu sulit untuk melupakanku!”


“Siapa dia Zeen?” tanya Albaret menatap putranya dengan tatapan bingung.


Zeen terdiam saja, dan lebih memilih untuk mendengar suara dari hanponenya itu.


“Sepertinya kau tak megenal–”


“Tak usah berbasa-basi! Sekarang katakan padaku, dimana Yuna berada! Jika kau menyakitinya! Maka kupastikan kau tak akan bisa berkeliaran selayaknya lagi.”


“Oh! Sepertinya kau sudah menyadarinya ya? Ups, aku sangat kecewa mendengar dirimu jauh lebih perhatian dengan istrimu! Bahkan kau tak berbasa-basi hanya sekedar menyapaku?”


“Berhentikan membicarakan hal omong kosong!” teriak Zeen langsung mengebrak meja yang ada didepannya. “Sekarang beritahu aku! Dimana istriku? Cepat jawab!” Zeen kembali tak bisa mengontrol emosinya. Dan para keluarga hanya bisa menatap nanar dengan pandangan frustrasi.


Dibalik telfon, terdengar suara kekehan Iblis dari seberang sana, “Well ... sepertinya aku harus memberimu alamat ya? Baiklah aku akan memberimu keringanan!”


Tutt!!


Telefon diputus sepihak oleh sosok misterius itu, kemudian bersamaan dengan itu bunyi notiv muncul dipesan. Zeen pun langsung membukanya dan melihat isi dari pesan itu.


Datanglah digedung tua!


Dan hanya sendiri saja! Jika kau ingin menyelamatkan istri tercintamu dengan selamat!


Begitu isi pesan itu, yang membuat Zeen berpikir dengan serius.

__ADS_1


TBC.


Mohon maaf jika ada typo bertebaran ya gaes....


__ADS_2